K-pop adalah Proses, maka Ikutilah!

0
Share

Industri kultur K-pop

Korsel pada awal dekade kedua abad ke-21—sekitar dua dekade kelahiran K-pop yang ditandai oleh kemunculan Seo Taiji and Boys—diciri sebagai salah satu “jantung” budaya pop dunia. Dari negara semenanjung itu, kita bisa melihat deretan film dan serial peraih penghargaan level regional maupun internasional selain denyut industri musik yang mengentak. Pun, dari sana kita juga tahu industri fesyen dan kecantikan mutakhir yang mashyur di segala penjuru dunia.

Namun, apa yang kita lihat sekarang ini sungguh berbeda saat kita memutar mundur waktu. Sekitar tiga-empat puluh tahun lalu, Korsel adalah sebuah bangsa yang baru saja mengalami karut-marut politik dalam negeri. Belum lagi, mereka juga mengalami persoalan terkait dengan sensor pemerintah sehingga yang kita temukan pada waktu itu hanyalah musik balada tradisional Korea dan sesekali musik trot—akarnya tentu dari musik foxtrot—yang kolot dan nggak up-to-date.

Lee Soo-man
Lee Soo-man mendirikan SM Entertainment.

Selang sekitar dua dekade kemudian, muncul gelombang budaya pop baru yang diusung oleh MTV. Lee Soo-man, salah seorang tokoh penting dalam peta K-pop juga pendiri SM Entertainment, mengungkapkan bahwa ketika mengambil studi magister dalam bidang ilmu komputer, perhatiannya sangat nempel pada jaringan televisi musik itu. Pada waktu itu, setidaknya kita boleh menyebut dua bintang yang mencuat, Michael Jackson dan Madonna. Keduanya, seperti kita tahu, adalah superstar yang memiliki paket komplet—baik dari sisi kualitas musikal dan visual.

Lee Soo-man lalu membawa pulang visi bagaimana membangun industri musik Korsel, terinspirasi dari industri musik dan budaya pop di A.S. Empat tahun setelah kepulangannya kembali ke tanah airnya, pada 1989 ia mendirikan SM Entertainment. Bersama dengan dua korporasi lainnya, JYP Entertainment—yang didirikan oleh “raksasa” industri musik Korsel, Park Jin-young—dan YG Entertainment—perusahaan yang didirikan mantan personel Seo Taiji and Boys, Yang Hyun-suk—SM Entertainment merajai industri musik populer Korsel.

Ketiga perusahaan gigantik dalam industri musik populer Korsel ini menerapkan formula yang sama untuk membangun jalan kesuksesan para artis mereka. Ketiganya mempersiapkan calon bintang K-pop dari usia 12 tahun. Setelah anak-anak itu pulang sekolah, sekitar pukul 3 sore, mereka akan mulai berlatih hingga menjelang tengah malam. Pada beberapa kasus tertentu, seperti BTS misalnya, tersedia pula asrama yang disediakan oleh perusahaan bagi calon bintang tersebut.

Tahap selanjutnya adalah saat para calon bintang itu berumur sekitar 15—16 tahun, perusahaan itu bereksperimen dengan membongkar-pasang kelompok calon bintang hingga formula kebintangan di antara mereka memancar semakin kuat. Umumnya, band yang dibentuk memiliki tiga stereotipe: anak bandel, penyair melankolis, dan anggota paling muda a.k.a adek-adekan (maknae). Maknae inilah yang biasanya lalu di atas panggung maupun di media sosial jadi sasaran untuk digoda dan dimanja para hyung (abang, kakak laki-laki) dan unnie (empok, kakak perempuan).

Boy bands typically have a ‘bad boy’and a moody poet type and a maknae, the Korean word for the younger member of any group, who onstage and in social media is by turns spoiled and teased by the band’s hyungs or unnies (big brothers or sisters).

TIME Magazine Collector’s Edition
Pages: 1 2 3 4 5 6