Multatuli: Belajar sejarah Politik dari Max Havelaar

Bagikan Artikel
periplus max havelaar book
Beli bukunya disini!

Bulan Agustus kemarin, sempat ramai dengan baliho merah bertuliskan “Kepak Sayap Kebhinekaan” yang tersebar di berbagai daerah. Dengan ukuran yang tidak main-main, pasti pengertian kalimat tersebut juga tidak main-main. Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pemenangan Pemilu, Bambang Wuryanto atau yang sering dipanggil dengan Bambang “Pacul”, menerangkan arti “kepak sayap” yang merupakan kepakan berirama di burung garuda. “Burung yang terbang pasti ada kerja sama sayap kiri dan kanan, kepaknya berirama. Seandainya burung garuda, di sana ada Bineka Tunggal Ika. Kebinekaan maknanya persatuan. Kita terdiri dari berbagai suku bangsa, bagaimana kebhinekaan hidup dengan kerja sama,” kata Bambang dalam keterangan yang diterima detikcom, Jumat (6/8/2021).

“Belanda–Indonesia Merdeka” dalam buku Max Havelaar

Mengapa rangkaian kata-kata mewarnai gerak politis Indonesia sampai saat ini? Menarik garis ke belakang pada masa kolonial, ada sebuah buku yang menginspirasi sosok besar sejarah Indonesia, termasuk Ir. Soekarno dan RA. Kartini. Buku roman politika itu berjudul Max Havelaar, sebuah mahakarya Multatuli alias Eduard Douwes Dekker. Multatuli lahir Amsterdam pada tahun 1820. Roman politika itu merupakan buku yang sangat berpengaruh bagi pemimpin-pemimpin Indonesia kala itu. Buku yang terbit 15 Mei 1860 ini menjadi sorotan di masa kolonial, karena membahas eksploitasi dan penindasan terhadap rakyat Indonesia. Ia merupakan orang Belanda yang pertama menyuarakan suara orang pribumi yang diperlakukan dengan buruk dan memberi inspirasi kepada bangsa Indonesia untuk merdeka. Maka, masuk akal alasan Eduard memakai nama pena Multatuli, sebab dalam bahasa Latin, “multatuli” berarti “aku sudah banyak menderita”.

Dalam Max Havelaar, Multatuli yang merupakan salah satu pegawai negeri Belanda di Jawa yang menceritakan kembali pengalamannya secara gamblang tentang kemunafikan oknum-oknum yang mengeruk keuntungan dari perdagangan kopi yang sangat korup. Multatuli melihat kolonial Belanda yang memperlakukan rakyat Indonesia secara tidak adil dalam kesejahteraan. Kobaran semangat dalam menulis ini bertujuan untuk mengakhiri perlakuan buruk dan penindasan yang dilakuakan terhadap penduduk di Jawa.

Baca Juga :  Literasi Digital & Etika Komunikasi (16 April 2021)

Setelah diterbitkan 1860, buku tulisan Multatuli melebarkan kepakan sayapnya untuk membakar semangat juang rakyat Indonesia. Buku tersebut akhirnya sampai di tangan para aktivis nasional dan politis sosialis Belanda. Mereka kemudian menuntut perubahan nasib rakyat jajahannya. Bahkan,efek buku ini juga mengilhami gerakan fair trade sampai hari ini.

Tulisan membangun bangsa

Max Havelaar merupakan buku yang tepat untuk dibaca pada saat ini, apalagi sambil menyesap kopi khas Jawa. Kita semua tahu bahwa Douwes Dekker sangatlah berjasa bagi bangsa Indonesia. Tulisannya mengubah sistem besar yang hampir mendarah daging selama 300-an tahun saat penjajahan Belanda. Max Havelaar mengubah kebijakan pemberian pendidikan kepada penduduk negeri jajahan di bawah konsep Politik Etis. Pemuda Indonesia hari ini tidak akan bisa mendapatkan pendidikan senyaman sekarang ini tanpa tulisan Multatuli.

Buku itu juga menginspirasi R.A. Kartini dalam memperjuangkan pendidikan untuk wanita pribumi. Selain itu perjuangan yang sama pun dilakukan oleh rekan satu tim Douwes Deeker, yaitu Soewardi Soerjaningrat. Soewardi berjuang membangkitkan semangat pendidikan di bangsa sendiri dengan membangun Taman Siswa. Ia sangat berjasa karena mencetuskan metode pendidikan yang terus berkembang sampai saat ini. Indonesia mengenal Soewardi sebagai Ki Hadjar Dewantara.

 “Seoarang politikus yang tidak mengenal Multatatuli praktis tidak mengenal humanisme, humanitas secara modern. Dan politikus yang tidak mengenal Multatuli bisa menjadi politikus kejam. Pertama, karena dia tidak mengenal sejarah Indonesia, kedua karena dia tidak mengenal perikemanusiaan, humanisme secara modern, dan bisa menjadi kejam.”

–Pramoedya Ananta Toer

Baca juga : Memaklumkan Ki Hadjar Dewantara sebagai Pahlawan

Bahasa warisan

Dalam usaha meresapi semangat Soewardi, tentu saja tidak jauh dari perjuangannya mempertahankan bahasa “asli” Nusantara­­—Bahasa Indonesia. Ada sesuatu yang menarik juga selain perjuangan pahlawan kita ini. Setelah membaca sepintas Max Havelaar, ada kata-kata yang sepertinya tidak asing dibaca dalam bahasa Indonesia maupun Jawa. Ternyata “bahasa” memiliki beberapa kesamaan dengan vokal maupun konsonan bahasa Belanda (Dutch). Menariknya, secara tak sadar pun kita sering memakainya hingga sekarang ini. Hal ini pasti terjadi, karena Indonesia tidak hanya sebentar bergumul dengan orang-orang “Negeri Kincir Angin”. Tak heran juga banyak orang negara Belanda yang juga bisa berbicara ‘Bahasa’. Akhirnya, perimin mencari apasaja Bahasa Indonesia yang pelafalannya sama dengan bahasa Belanda. Simak lebih lengkapnya kata-kata berikut: 

Baca Juga :  BATIK YANG MEMESONA GENERASI MUDA
Persamaan kata dalam bahasa Belanda dan Indonesia
Kata-kata serapan ini diambil dari beberapa blog yang membahas kebudayaan belanda. Gambar diambil dari detiknews

Selain itu, ada juga Bahasa Jawa yang diserap dari bahasa Belanda. Berikut ini adalah beberapa yang bisa dicatat:

  • 1. Pit (fiets) = Sepeda
  • 2. Plesir (plezier) = Tamasya
  • 3. Sadel (zadel) = Jok sepeda
  • 4. Sepur (spoor) = Kereta cepat
  • 5. Serbet (servet) = Kain lap
  • 6. Setrap (straf) = Hukuman semasa sekolah
  • 7. Potlot (potlood) = Pensil

Persamaan pelafalan inilah yang membuat perimin tertarik sekaligus ingin mendalami budaya Belanda. Mengutip cerita saudara yang sudah menjadi warga negara Belanda, faktanya masyarakat Belanda sangat akrab dengan warga Indonesia. Bahkan, jalan di daerah Amsterdam pun ada beberapa yang diberi nama pulau-pulau atau daerah dari Indonesia. Hal tersebut bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan antara Belanda dan Indonesia. Selain itu, monumen dan museum Multatuli juga dibangun di kedua negara untuk mengenang sejarah pahlawan pemersatu bangsa tersebut, tepatnya di Amsterdam (Belanda) dan Rangkasbitung, Lebak, Banten (Indonesia).

Sebagai penutup, cuplikan cerita sejarah politik Indonesia dari Multatuli. Kita semua tahu bahwa kaum muda berperan besar dalam pembangunan sejarah. Mungkin, dalam situasi saat ini para pemuda politik ingin menciptakan sejarah sendiri dalam membangun politik praktisnya. Ada yang memanfaatkan media sosial sebagai alat kampanye yang bisa mempromosikan dirinya secara gratis. Ada juga yang memanfaatkan kekuatan saudara atau kerabat di dalam mempromosikan secara besar-beasaran. Sebenarnya, boleh-boleh saja semua hal tersebut dilakukan. Tapi, masyarakat lebih rindu akan suara mereka yang berbobot dan berdampak signifikan di dalam pembangunan serta kesejahteraan bangsanya dimasa pandemi ini.