Memaklumkan Ki Hadjar Dewantara sebagai Pahlawan

Bagikan Artikel
Ki Hadjar Dewantara pada masa tuanya. Sumber: kompas.id

Membayangkan pahlawan, sebagai seorang bocah Sekolah Dasar (SD), yang muncul di benak saya ada seorang gagah yang membuat musuh jatuh. Entah dengan kepandaiannya bertarung, atau entah dengan senjata paling ampuh. Namun demikian, pahlawan tidak selalu identik dengan orang gagah. Ada pahlawan yang berjuang dengan pemikirannya melalui pena dan tulisan. Ternyata, kadar kepahlawanan yang biasa saya kenal sejak kecil rupanya tidak jauh-jauh dari luapan testoteron atau adrenalin yang menggejolak.

Superman dan Gatotkaca

Maka dari itu, tidak ada yang aneh jika Superman digambarkan bisa terbang tinggi, layaknya seekor burung atau malah sebuah pesawat terbang. Ia punya pancaran mata laser dan nafas sedingin udara kutub. Ringkasnya, pahlawan harus gagah, harus jagoan! Jika boleh mencari pembanding Superman, saya mengajukan jawara lokal, Gatotkaca. Gatotkaca yang punya nama kecil Tetuka ini manusia super. Bapaknya orang terkuat di klan Pandawa, Wrekudara, juga sering disebut Bima(sena). Ibunya raksasa wanita sekaligus putri mahkota kerajaan Pringgandani, Arimbi.

Saat masih bayi, Batara Narada menceburkan Tetuka kecil ke dalam kawah Candradimuka. Dalam sekejap saja, bayi Tetuka menjadi lelaki dewasa yang sakti mandraguna. Ia lalu menggunakan nama Gatotkaca.

Dalam benak bocah saya, kerap terbayang pertarungan antara Superman dan Gatotkaca. Saat Superman menyerang menggunakan pancaran laser dari matanya, Gatotkaca menahannya menggunakan caping Basunanda. Ketika Superman meluncur terbang menghindari hantaman bogemnya, Gatotkaca akan terbang mengejar menggunakan kutang Antakusuma. Dan seterusnya, pertarungan tersebut akan selalu berimbang. Sebab, keduanya adalah pahlawan bagi saya di masa kecil.

Dalam benak bocah saya, kerap terbayang pertarungan antara Superman dan Gatotkaca.

Lukisan karya Basoeki Abdullah yang menggambarkan pertempuran antara Gatotkaca dan Antasena. Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Pahlawan kok gitu?

Seiring bertambahnya umur, saya semakin sadar. Superman dan Gatotkaca sama-sama pahlawan. Keduanya sama-sama kuat, meskipun keduanya punya kelemahan. Superman lemah di hadapan batu kryptonite yang dimiliki oleh Lex Luthor. Di lain sisi, kedigdayaan Gatotkaca sudah ditakdirkan untuk luluh lantak di hadapan Kunta Wijayadanu yang dimiliki oleh Karna di pihak Kurawa.

Lho, pahlawan kan harus jagoan. Jagoan kok punya kelemahan? Bukannya pahlawan selalu punya kekuatan super sehingga bisa dengan muda mengalahkan lawan-lawannya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas memang wajar muncul saat berbicara soal pahlawan, terutama dalam dunia fiksi. Tapi, belum tentu juga sih, pandangan bahwa pahlawan juga memiliki kelemahan sudah ada dalam mitologi Yunani kuno. Di sini, kita bisa mengingat kisah tentang Achilles.

Achilles adalah seorang pejuang yang mitosnya dapat kita temukan pada Illiad, karya pujangga Yunani kuno, Homer. Homer sendiri menulis wiracarita berbentuk puisi ini pada kisaran 720 S.M. Di sana, dikisahkan bahwa Achilles adalah orang gagah yang turun bertempur dalam Perang Troya. Ayahnya adalah Peleus, raja Myrmidons yang tak kenal takut dan ibunya Thetis, seorang dewi laut.

Berkat ibunya, Achilles menjadi orang gagah yang tak terkalahkan. Thetis membakar Achilles setiap malam lalu mengolesi luka-lukanya dengan salep ambrosial yang hanya dimiliki dewa-dewi. Selain itu, Thethis menenggelamkan tubuh Achilles ke dalam Sungai Styx yang telah dimantrai para dewa sehingga bisa memberi kekebalan kepada mereka yang mencelupkan diri. Akibatnya, Achilles menjadi kebal dari senjata. Hanya saja, pergelangan kaki Achilles selalu dipegang erat Thetis saat mencelupkan bayi Achilles ke dalam Sungai Styx. Inilah yang menjadi kelemahan Achilles. Ia gugur karena pergelangan kakinya terluka parah.

Raut teduh wajah Soewardi

Kepahlawanan di Indonesia begitu nyata jika kita bicara soal perjuangan kemerdekaan. Secara umum, gerak perjuangan ini ditandai dengan semangat memutus rantai kolonialisme yang membelenggu. Pada bangsa kita, proses ini berlangsung lama. Proses tersebut juga berjalan seiring dengan gagasan kebangsaan Indonesia.

Tanpa maksud mengabaikan kepahlawanan putra-putri Indonesia pada masa perjuangan kemerdekaan, sosok Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (1889—1959) akan selalu menarik. Soewardi dilahirkan dari keluarga bangsawan Yogyakarta. Berkat status kebangsawanannya, Soewardi dapat bersekolah di Europeesche Lagere School (Sekolah Dasar Belanda). Masa pendidikan dasar ini dihabiskan selama 7 tahun di Kampung Bintaran, Yogyakarta.

Setamat pendidikan dasar, Soewardi melanjutkan pendidikan ke Kweekschool (sekolah guru) di Yogyakarta. Kesempatan mengenyam pendidikan juga dilanjutkan hingga ke jenjang STOVIA (School tot Opleiding Van Indische Artsen) berkat beasiswa yang didapatkannya. Sayangnya, karena masalah kesehatan, Soewardi tidak dapat menyelesaikan pendidikan di sekolah dokter Jawa ini. Namun, selain masalah kesehatan tersebut, Soewardi juga menemui kendala politis setelah ia dituduh mengobarkan pemberontakan terhadap pemerintah Hindia-Belanda akibat membacakan sebuah sajak.

Lepas dari STOVIA, Sowardi menjadi wartawan. Ia malang melintang di beberapa surat kabar, antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Soewardi dikenal sebagai penulis yang andal. Hasil tulisannya khas, komunikatif, tajam, dan patriotik.

Baca Juga :  Bijaksana Bukan Bajaksana atau Bajaksini

Keberanian Soewardi dalam pergerakan politis demi mencapai kemerdekaan Hindia Belanda. Ia bergabung dengan Raden Mas Tjipto Mangunkusumo dan Ernest François Eugène Douwes Dekker—yang juga dikenal sebagai Setiabudi—dan mendirikan Indische Partij. Ketiganya terkenal sebagai Tiga Serangkai. Bersama dengan Boedi Oetomo, Indische Partij menjadi organisasi politik yang hendak melepaskan diri dari belenggu penjajahan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Wajah teduh Soewardi, sangat mungkin dipengaruhi oleh latar belakang keluarganya yang bangsawan, rupanya berbanding terbalik dengan semangat perjuangannya.

Wajah teduh Soewardi, sangat mungkin dipengaruhi oleh latar belakang keluarganya yang bangsawan, rupanya berbanding terbalik dengan semangat perjuangannya. Soewardi bahkan menanggalkan gelar kebangsawanan yang dimilikinya demi menghidupi semangat kesetaraan dalam perjuangan kemerdekaannya. Selain itu, kegarangan pena dan kata Soewardi dalam memperjuangkan nasib Indonesia sangat kental. Dalam tulisannya yang berjudul “Seandainya Saya Seorang Belanda”(Als ik een Nederlander was) Soewardi mengungkapkan pendiriannya yang tegas. Tulisan ini terpampang dalam surat kabar De Expres milik Indische Partij (IP) pada 13 Juli 1913.

Di dalam tulisan bergaya satir itu, Soewardi mengajukan kritik sekaligus kemarahan dengan sangat elegan. Soewardi marah karena Pemerintah Kolonial Hindia Belanda ingin mengutip pajak dari para penduduk Hindia Belanda demi merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda. Akibat “kekurangajaran” Soewardi, Dewan Hindia Belanda pusing tujuh keliling dibuatnya. Akhirnya, pada 18 Agustus 1913, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Alexander Willem Frederik Idenburg mengambil keputusan untuk membuang Tiga Serangkai ke Negeri Belanda.

Konferensi Pendidikan Seluruh Indonesia di Yogyakarta pada Oktober 1949. Ki Hadjar Dewantara memberikan sambutannya di depan peserta yang hadir dalam Konferensi Pendidikan Seluruh Indonesia di Yogyakarta. Sumber: https://anri.sikn.go.id/

Ki Hadjar berganti haluan

Masa pembuangan selama 6 tahun di Negeri Belanda (1913—1919) dihabiskan Soewardi untuk berfokus pada bidang pendidikan. Pada masa ini, Soewardi bersentuhan erat dengan gagasan-gagasan para pendidik dunia, misalnya Friederich Frobel (1782—1852), Maria Montessori (1870—1952), dan Rabindranath Tagore (1861—1941). Di Negeri Belanda, Soewardi pun tetap terlibat dalam kegiatan dan pergerakan kemerdekaan melalui Perhimpunan Hindia, yang kemudian banyak melahirkan tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.

Meskipun Soewardi bergaul erat dengan pemikiran Barat, namun kadar nasionalisme dalam darahnya tetap kental. Hebatnya, Soewardi juga pernah mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu pembicara dalam Kongres Pengajaran Kolonial di Den Haag pada 1916. Pada kesempatan tersebut, ia mengajukan sebuah prasaran tentang kedudukan bahasa-bahasa asli dan bahasa Belanda dalam pengajaran.

Minat Soewardi pada persoalan pendidikan menekankan corak kepribadian dan potensi anak-anak peserta didik.

Menurut Soewardi, bahasa-bahasa asli perlu tetap dilestarikan. Sebab, tidak ada jaminan bahwa pemerintahan kolonial akan berlangsung lama. Untuk itu, tidak ada alasan untuk menjadikan bahasa penjajah sebagai bahasa umum demi alasan kesetaraan. Secara khusus, sebagaimana diungkapkan oleh Kenji Tsuchiya dalam Democracy and Leadership (1987), minat Soewardi pada persoalan pendidikan menekankan corak kepribadian dan potensi anak-anak peserta didik.

Ada satu catatan menarik lain dari masa pembuangan di Negeri Belanda. Soewardi memantapkan hatinya untuk terjun ke dalam pendidikan berkat keterlibatannya dalam Kongres Pengajaran Kolonial di Den Haag. Niatnya semakin mantap setelah kelahiran Asti, putri pertamanya pada 24 Agustus 1915. Pertumbuhan Asti sebagai anak tidak berjalan dengan normal. Asti berpikiran lemah. Kondisi ini diduga didasarkan pada dua hal. Pertama, kedekatan hubungan darah antara Soewardi dan Soetartinah, istrinya, yang masih saudara sepupu. Kedua, ketika berumur tiga tahun, Asti juga pernah menderita tifus yang membuatnya dirawat selamat 42 hari. Peristiwa ini pada akhirnya membuat Soewardi mengikuti jejak awal Montessori yang memulai karirnya dengan merawat anak-anak yang lemah pikiran.

Sekembalinya dari pengasingan, Soewardi mencoba melanjutkan perjuangan dalam bidang politik. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang membuat ia berseberangan pandang dengan rekan-rekan perjuangannya dan merosotnya semangat nasionalisme. Maka, sejak 1921, Soewardi Soerjaningrat mengubah haluan perjuangannya, dari bidang politik kepada bidang pendidikan. Bersamaan dengan situasi ini, lahir anak ketiga Soewardi, yang kemudian dinamai Ratih Tarbiah. Nama ini sengaja dipilih sebagai pengenang saat Soewardi terjun ke lapangan perjuangan baru. Kata “tarbiah” sendiri berarti “pendidikan.”

Ki Hadjar membidani Taman Siswa

Peranan sang istri, Soetartinah, dalam perubahan haluan perjuangan Soewardi rupanya tidak sedikit. Soewardi dan Soetartinah sering kali berdiskusi tentang perubahan arah haluan perjuangan ini. Menurut Soetartinah, Soewardi sebenarnya tidak cocok berjuang dalam bidang politik. Hal ini tidak lain disebabkan oleh sifat emosional yang tidak mudah dikendalikan. Akibatnya, Soewardi sering jatuh ke dalam perangkap dan jebakan lawan-lawan politiknya, terutama Pemerintah Kolonial Belanda. Selain alasan di atas, pada masa ini sebagaimana dicatat oleh Moh. Yamin, Soewardi melihat bahwa jalur politik tidak mampu mengubah keadaan bangsa Indonesia. Politik hanya akan membawa kekisruhan, sejauh belum ada penguatan di bidang pendidikan.

Baca Juga :  Notes on Grief: Ngozi Adichie

Perlu disampaikan pula bahwa perubahan haluan Soewardi ke bidang pendidikan juga dipengaruhi oleh dua peristiwa. Peristiwa pertama adalah pergaulannya dengan lingkungan Puri Pakualaman Yogyakarta. Lingkungan baru Soewardi ini sering mengadakan sarasehan setiap Selasa Kliwon. Kelompok ini diketuai oleh Ki Ageng Soerjomentaram, adik dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Peristiwa kedua yang membuat Soewardi mengubah haluan perjuangannya adalah pengalamannya mengajar di sekolah Adi Darma, Yogyakarta. Bersama beberapa rekan seperjuangan, ia mendirikan perguruan yang bercorak nasional. Pada 3 Juli 1922, perguruan itu pun resmi berdiri dengan nama Perguruan Nasional Taman Siswa (Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa).

Lewat kelompok sarasehan Selasa Kliwon itu pula muncul nama Ki Hadjar Dewantara. Singkatnya, Ki Soetatmo Soerjokoesoemo yang juga anggota Boedi Oetomo menyilakan sepupunya tersebut untuk berpendapat. Ia menyapanya Soewardi—yang juga adik sepupunya—dengan sapaan Ki Hadjar. Hal ini tidak lain disebabkan oleh keahlian Soewardi dalam bidang pendidikan. Kebiasaan ini kemudian juga diikuti oleh Ki Ageng Soerjomentaram. Nama yang awalnya kelakar itu pada akhirnya digunakan secara resmi oleh Soewardi. Sejak 3 Februari 1928, sesudah 6 tahun Perguruan Nasional Taman Siswa berdiri, ia berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara.

Perguruan Nasional Taman Siswa kemudian tumbuh dan berkembang menjadi organisasi pendidikan yang berorientasi pada semangat nasionalisme. Ki Hadjar Dewantara memberi penekanan sungguh pada kemerdekaan berpikir para peserta didik. Ki Hadjar Dewantara percaya bahwa pada saatnya nanti pendidikan akan membawa peserta didik pada kemerdekaan yang lebih utuh. Pada prinsip inilah dapat dilihat sebagai usaha integral dari proses kemerdekaan Indonesia.

Dalam pidato rapat umum Taman Siswa di Malang, 2 Februari 1920, Ki Hadjar Dewantara bahkan menegaskan bahwa Taman Siswa adalah organisasi yang berupa satu badan perguruan. Perguruan Nasional Taman Siswa sendiri dibangun selaras dengan kepentingan dan keperluan rakyat, yang tidak lain adalah memperjuangkan kemerdekaan. Tidak hanya itu, Ki Hadjar Dewantara pun menegaskan bahwa para guru dari Taman Siswa datang dari kalangan anak bangsa sendiri dan bersedia menyerahkan diri untuk keperluan rakyat dalam bidang pengajaran. (Ki Hadjar Dewantara, 2013: 9—10)

Berkat jasanya, setelah Indonesia merdeka, Ki Hadjar Dewantara dipercaya Presiden Soekarno untuk menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama. Dengan demikian, perjuangan Ki Hadjar Dewantara di bidang pendidikan tetap berlanjut. Pada 1957, Ki Hadjar Dewantara diberi gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada berkat perjuangan panjangnya merintis pendidikan di Indonesia. Pada 28 April 1959, Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia. Ia dimakamkan di Yogyakarta. Beberapa bulan setelahnya, Ki Hadjar Dewantara ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional, tepatnya pada 28 November 1959.

Perguruan Nasional Taman Siswa kemudian tumbuh dan berkembang menjadi organisasi pendidikan yang berorientasi pada semangat nasionalisme. Ki Hadjar Dewantara memberi penekanan sungguh pada kemerdekaan berpikir para peserta didik. Ki Hadjar Dewantara percaya bahwa pada saatnya nanti pendidikan akan membawa peserta didik pada kemerdekaan yang lebih utuh. Pada prinsip inilah dapat dilihat sebagai usaha integral dari proses kemerdekaan Indonesia.

Jadilah kaum antirebahan

Zaman telah berubah. Tantangan kita, anak muda zaman now mungkin bukan lagi soal memperjuangkan kemerdekaan melawan penjajah. Tantangan kita justru meningkatkan mutu manusia Indonesia. Caranya? Banyak dan bermacam-macam. Sebagai pelajar, ya harus belajar dengan baik. Sebagai mahasiswa, ya harus kuliah dengan baik. Sebagai karyawan atau wirausahawan, ya bekerja sebaik-baiknya. Pokoknya, mengusahakan hal-hal baik. Detailnya bisa berbagai rupa dan ragam.

Satu yang pasti: tidak perlu merasa rendah diri atas apa yang kita lakukan dan kerjakan. Tidak terlalu penting memikirkan tindakan kita rumit atau sederhana. Toh, tidak melulu Superman berhadapan dengan penjahat-penjahat berkekuatan super. Tidak melulu Superman harus berjibaku mengangkat pesawat terbang yang hampir celaka atau mendorong bongkahan meteroit yang hendak menghantam bumi. Sesekali, Superman juga menyelamatkan seekor anak kucing yang tidak bisa turun dari sebuah cabang pohon.

Cerita pembukaan pada komik Superman #713. Di situ, Superman dikisahkan menyelamatkan seekor anak kucing yang kesulitan turun dari sebuah pohon. Sumber: comicsalliance.com

Pokoknya, kemerdekaan yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan terlalu sia-sia jika hanya dihabiskan dengan rebahan. Kita harus selalu bersemangat mengisi kemerdekaan Indonesia. Sebagai penutup, rasanya kita perlu mengingat dua bait pertama single baru Mr. Jarwo, Anti Rebahan.

Teman saatnya srapat sruput/

Dah terang masih slimutan/

Ingat kata orang dulu/

Kesiangan rejeki dipatok ayam//

Matahari telah berseri/

Sinarnya tembus kabut pagi/

Waktu tak kan menunggumu/

Kalau kau terus saja rebahan gitu//

Merdeka!