
Then we shall all, philosophers, scientists, and just ordinary people, be able to take part in the discussion of the question of why it is that we and the universe exist. If we find the answer to that, it would be the ultimate triumph of human reason—for then we would know the mind of God.
Stephen Hawking, dalam A Brief of History of Time (1988)
Malam cerah, tidak berawan, bulan penuh, dan langit dihiasi bintang-bintang. Situasi seperti ini telah berkali-kali dimanfaatkan para pecinta seni untuk berekspresi tentang keindahan, juga sesekali tentang hal-hal romantis. Walaupun demikian, pernahkah kita menyadari bahwa cahaya yang memancar dari bintang-bintang memerlukan waktu untuk dapat kita lihat? Cahaya itu menempuh jarak sangat panjang sebelum terlihat. Sebenarnya, apa yang kita amati dengan mata telanjang dari bintang-bintang yang bersinar di malam cerah adalah “arsip waktu”. Bintang yang kita lihat belum tentu seperti adanya saat itu, namun sebagaimana ia pernah ada. Sebab, ada jarak waktu yang harus ditempuh cahaya bintang untuk kita lihat. Cahaya bintang, dengan demikian, adalah pembawa pesan dari masa lalu.
Dari Oxford menuju pencarian hukum-hukum alam
Apa yang kita lihat sebagai hal yang biasa-biasa saja ini, sesungguhnya menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan rumit tentang alam semesta. Mengapa ada begitu banyak bintang di angkasa? Bagaimana alam semesta berawal? Pertanyaan-pertanyaan ini selama beberapa dekade telah menjadi perhatian salah seorang penafsir alam semesta paling cemerlang, Stephen William Hawking. Lahir di Oxford, tepat 300 tahun setelah kematian Galileo Galilei, Hawking memiliki akar akademis yang kuat. Ayah dan ibunya sama-sama lulusan Oxford, salah satu perguruan tinggi paling prestisius di muka Bumi.
Pada mulanya, sang ayah meminta Stephen belajar untuk menjadi dokter, sebagaimana keluarga ibunya. Meskipun demikian, Stephen memilih jalur akademis lain. Stephen lebih tertarik belajar matematika, atau mengaplikasikan matematika pada perhitungan fisika. Di bangku sekolah, Stephen adalah bocah yang cerdas, meskipun tidak selalu menonjol di dalam kelasnya. Stephen sangat tertarik pada pertanyaan-pertanyaan yang mendalam. Ia ingin mengetahui bagaimana dunia bekerja, atau apa yang ada di balik hukum-hukum alam. Rasa ingin tahu yang sedemikian besar membawa Hawking ke Universitas Oxford. Di salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia itu, Hawking belajar fisika. Dalam biografinya, Stephen mengaku bahwa ketika belajar di Oxford, dirinya bukanlah mahasiswa yang tekun. Pada waktu itu, awal 1960-an, ada budaya umum yang berkembang dalam dunia mahasiswa Oxford.
Model pertama adalah mereka yang “dari sananya” brilian, sehingga tidak perlu belajar keras untuk meraih kesuksesan akademis. Model kedua adalah mereka yang tidak terlalu brilian, namun bisa “menikmati” dinamika kampus dan menerima nasibnya. Model pertama selalu dianggap keren. Model kedua masih diterima oleh para mahasiswa. Sementara itu, model ketiga adalah para “gray man”, mahasiswa yang biasa-biasa saja, tidak menonjol, dan tanpa bakat alami dalam hal akademis, namun bekerja keras mati-matian untuk mendapat prestasi akademis. Golongan ketiga ini, pada waktu itu, justru dikucilkan karena tradisi Oxford yang tidak menghargai kerja keras.
Perubahan arah hidup Hawking
Arah hidup Stephen Hawking seolah-olah berbalik arah sejak Natal 1962, tahun terakhir di Oxford. Suatu kali, ia merasa gerakan tubuhnya menjadi canggung. Hal ini berlanjut sampai ia menjalani semester pertama di Cambridge. Setelah ibunya mendesak untuk menemui dokter, Stephen didiagnosis menderita penyakit neuron motorik yang menghilangkan kendali atas otot-otot tak sadar dalam tubuhnya. Penyakit ini umum dikenal sebagai Amytrophic Lateral Sclerosis (ALS). Masalahnya, penderita penyakit bisa berujung kematian. Hawking divonis tidak akan berumur panjang, padahal ia baru berumur 21 tahun.
Hawking sempat mengalami keputusasaan, karena kondisi fisiknya. Menyadari keterbatasan fisik yang dimilikinya, Hawking justru melecut dirinya sendiri. Ia berhasil menyelesaikan program doktoral yang ditempuhnya. Hawking mengalami transformasi dalam memandang waktu. Waktu dipahami sebagai batasan, sehingga ia harus menggunakannya seefisien mungkin. Hawking lebih fokus dan serius pada pekerjaannya sebagai seorang ilmuwan. Jika sebelumnya ia hanyalah mahasiswa yang tidak ingin terikat pada disiplin akademis yang ketat, kini kerja intelektual menjadi fondasi kehidupannya. Belum lagi, ia mulai berkencan dengan Jane Wilde. Dalam My Brief History, Hawking menggambarkan situasi ini. “Jika nanti kami menikah, saya harus bekerja, maka saya harus menyelesaikan Ph.D. Oleh karenanya, saya mulai bekerja—pertama kali dalam hidup saya. Mengejutkan, saya menyukainya. Sehingga, rasanya tidak adil menyebutnya sebagai pekerjaan.”
Stephen Hawking bekerja dengan menggunakan penalaran matematis yang ketat. Ia menelusuri konsekuensi teori relativitas yang dirumuskan Albert Einstein. Bersama Roger Penrose, Hawking membuat formulasi matematis yang memberi kemungkinan bahwa alam semesta memiliki awal dan akhir. Sebelumnya, para ilmuwan mengira bahwa singularitas hanyalah kekeliruan dalam perhitungan matematis Einstein. Melalui pengamatan astronomi, para ilmuwan memahami bahwa galaksi saling menjauh. Artinya, alam semesta sedang mengembang. Hawking dan Penrose membayangkan, jika waktu diputar ulang alam semesta pasti mengecil dan memadat. Menggunakan perhitungan matematis, keduanya membuktikan bahwa jika terus mundur ke masa lalu, alam semesta—materi, energi, ruang, dan waktu—akan terkompresi ke dalam satu titik dengan kepadatan tak terhingga. Titik inilah yang disebut sebagai singularitas.
Singularitas, Big Bang, dan upaya membuka kosmos bagi publik
Awal proses mengembangnya alam semesta inilah yang dipahami sebagai peristiwa Dentuman Besar (Big Bang). Gambaran sederhananya seperti balon yang ditiup. Ketika balon ditiup, permukaannya akan melar. Jika memberi titik-titik di permukaan balon, maka jarak titik-titik tersebut akan menjauh karena balon sedang mengembang. Istilah Big Bang sebenarnya dipopulerkan oleh Fred Hoyle, seorang astronom Inggris, dalam siaran radio BBC pada 1949. Hoyle sendiri sebenarnya lebih setuju dengan teori bahwa alam semesta berada dalam keadaan yang tetap, bukan mengembang. Namun demikian, perhitungan matematis yang dikerjakan Hawking bersama Penrose lebih mendukung gagasan bahwa alam semesta tengah mengembang. Apa yang ditunjukkan melalui perhitungan ini bukan hanya asal-usul alam semesta, tetapi juga batas kemampuan manusia untuk membayangkan awal dari segala sesuatu.
Sebagaimana alam semesta yang mengembang, sebagai ilmuwan pun Hawking mengalami proses perkembangan. Dari aspek fisik, kesehatan Hawking memburuk akibat ALS. Awalnya, Hawking berjalan dibantu dengan tongkat, kemudian beralih ke kursi roda manual, hingga beralih menggunakan kursi roda elektrik. Akan tetapi, sisi intelektualnya berkembang berbanding terbalik dengan kondisi fisiknya. Menggunakan perhitungan matematis, Hawking mencoba menguak asal mula alam semesta. Sisi ilmuwan astrofisika Hawking telah menceritakan “rahasia” alam semesta menggunakan persamaan matematis yang hanya bisa dipahami kalangan terbatas.
Kosmologi yang menjadi penyelidikan Hawking seumur hidupnya memang cenderung “berbicara” dengan bahasa yang tertutup: simbol, rumus matematis, dan struktur abstrak. Dengan demikian, ada rentang jarak yang tak terjembatani tentang pemahaman alam semesta di antara para ahli kosmologi dan orang biasa. Rupanya, Hawking menyadari hal ini, sebagai bagian dari perkembangan intelektualnya. Ia tidak hanya mencoba menjawab persoalan bagaimana memahami alam semesta, namun sebagai seorang ilmuwan, ia tidak ingin hanya berhenti di sana. Ia ingin membagikan pemahamannya tentang alam semesta kepada sebanyak mungkin orang.
Namun demikian, sisi manusiawi Hawking ingin menawarkan persoalan kosmik sebagai “milik” setiap orang. Langkah ini mencapai bentuknya yang paling nyata ketika ia menulis A Brief History of Time (1988). Melalui buku tersebut, ia tidak sekadar memaparkan teori, tetapi menyusun sebuah narasi tentang alam semesta—tentang awal, tentang waktu, dan tentang batas-batas pengetahuan manusia. Apa yang sebelumnya hanya dapat diikuti melalui perhitungan matematis, kini dihadirkan dalam bentuk yang lebih terbuka, meskipun tetap menuntut perhatian dan kesabaran dari pembacanya. Dalam arti tertentu, Hawking tidak hanya menjelaskan kosmos, tetapi mengundang manusia untuk mendekatinya. Ia menunjukkan bahwa memahami alam semesta bukanlah hak istimewa segelintir orang, melainkan kemungkinan yang dapat diupayakan oleh siapa saja yang bersedia untuk bertanya dan mencoba mengerti.
Cahaya gagasan yang melintasi waktu
Setelah keberhasilan A Brief History of Time, Hawking tidak berhenti menulis untuk publik. Dalam karya terakhirnya, Brief Answers to the Big Questions (2018), ia merangkum pertanyaan-pertanyaan yang selama ini paling sering diajukan manusia: tentang asal-usul alam semesta, kemungkinan kehidupan di luar Bumi, masa depan umat manusia, hingga keberadaan Tuhan. Namun, yang menarik bukan hanya daftar pertanyaannya, melainkan cara Hawking menanggapinya. Ia tidak menawarkan jawaban yang final atau menutup perdebatan, melainkan membuka ruang berpikir yang lebih luas. Dalam buku ini, Hawking tampil bukan hanya sebagai ilmuwan yang menjelaskan, tetapi sebagai penulis yang mengajak pembaca untuk ikut bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan besar—sebuah usaha untuk mendekatkan kosmos kepada kesadaran manusia, tanpa menghilangkan kompleksitasnya.
Menariknya, upaya Hawking untuk menjembatani kosmos kepada manusia tidak berhenti pada buku-buku ilmiah populer. Ia juga menunjukkan sisi lain dari dirinya yang jarang dibicarakan: kemampuan untuk “bersenang-senang” dengan gagasan yang ia miliki. Stephen Hawking beberapa kali tampil dalam budaya populer, seperti dalam serial Star Trek: The Next Generation dan The Simpsons, bukan sekadar sebagai cameo, tetapi sebagai simbol bahwa sains dapat hadir dalam ruang hiburan tanpa kehilangan kedalaman. Ia bahkan pernah merasakan pengalaman tanpa gravitasi melalui penerbangan simulasi hampa udara—sebuah momen yang secara ironis membebaskannya dari keterbatasan fisiknya, meskipun hanya untuk sesaat. Di sisi lain, bersama putrinya, Lucy Hawking, ia menulis seri buku anak tentang petualangan kosmos, memperkenalkan konsep-konsep ilmiah kepada pembaca muda. Dalam semua ini, kita melihat bahwa Hawking tidak hanya ingin dipahami, tetapi juga ingin mengajak—membawa sains keluar dari ruang yang tertutup, dan menjadikannya bagian dari pengalaman manusia yang lebih luas, termasuk kegembiraan dan rasa ingin tahu.
Jika kita kembali pada langit malam yang menjadi awal perenungan ini, maka bintang-bintang yang kita lihat tidak lagi sekadar keindahan yang jauh dan diam. Ia menjadi jejak waktu, sekaligus pengingat bahwa apa yang tampak sederhana sering kali menyimpan kedalaman yang luar biasa. Dalam hidupnya, Stephen Hawking tidak hanya berusaha memahami kedalaman itu, tetapi juga menuliskannya agar dapat dipahami oleh orang lain. Ia menunjukkan bahwa keterbatasan manusia tidak selalu menghalangi pencarian makna, melainkan justru dapat memperjelasnya. Seperti cahaya bintang yang menempuh perjalanan panjang sebelum sampai ke mata kita, gagasan-gagasan Stephen Hawking akan terus bergerak melintasi waktu—membawa pesan tentang semesta, sekaligus tentang kemungkinan manusia untuk memahami tempatnya di dalamnya.
Jika Bibliobesties hendak membaca ulasan Perimin lainnya, temukan di sini!

