9 Buku Pilihan Pemenang Penghargaan

0
Share
9 Buku Pilihan Pemenang Penghargaan

Perempuan penyanyi internasional, Dua Lipa, dalam sebuah ajang penghargaan buku pernah membagikan pengalaman personalnya tentang membaca. Sejak kecil di Inggris, ia telah akrab dengan karya-karya seperti Roald Dahl dan Malorie Blackman. Bacaan-bacaan itu, menurutnya, memberi “mutiara kebijaksanaan kecil” yang menemaninya bertumbuh. Ketika pada usia 11 tahun ia kembali ke Kosovo, ia mulai membaca Ismail Kadare untuk memperdalam bahasa Albania—dan sekaligus memahami sejarah serta semangat perlawanan bangsanya. Melalui pengalaman itu, Dua Lipa menyadari satu hal sederhana: betapa banyak “hadiah” yang sebenarnya diberikan para penulis kepada pembacanya.

Dari pengalaman itulah, kita bisa beranjak pada satu pertanyaan yang lebih luas: mengapa penghargaan buku terus dibuat dan dirayakan, baik dalam skala nasional maupun internasional? Salah satu jawabannya terletak pada fungsi penghargaan sebagai penanda—bukan hanya tentang mana yang dianggap terbaik, tetapi tentang apa yang sedang dianggap penting dalam suatu zaman. Tentu saja, penghargaan tidak pernah sepenuhnya netral. Ia lahir dari pertimbangan, perdebatan, dan sudut pandang para juri. Namun, justru di situlah nilainya: sebagai titik awal untuk mengenali buku-buku yang layak diperhatikan, dibaca, dan dipikirkan lebih jauh.

Melalui kurasi ini, Periplus ingin mengajak BiblioBesties melihat lebih dekat—membaca, dan memikirkan kembali kehidupan di era sekarang lewat buku-buku pemenang berbagai penghargaan. Sembilan buku pilihan berikut—baik fiksi maupun nonfiksi—dipilih karena kemampuannya membuka cakrawala tentang isu-isu yang membentuk zaman kita. Semoga, rekomendasi ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membantu kita memahami dunia dengan cara yang sedikit lebih jernih.

1. Prophet Song

Dalam novel ini, masa depan terasa terlalu dekat untuk diabaikan. Paul Lynch membayangkan sebuah Irlandia yang perlahan tergelincir ke dalam rezim otoriter—bukan melalui ledakan besar, tetapi melalui perubahan-perubahan kecil yang nyaris tak terasa. Cerita bergerak melalui sudut pandang seorang ibu yang berusaha menjaga keluarganya tetap utuh di tengah dunia yang runtuh. Ada ketegangan yang sunyi, tetapi terus menekan. Tidak mengherankan jika novel ini mendapat pengakuan luas, termasuk sebagai pemenang Booker Prize 2023—ia tidak hanya bercerita tentang krisis, tetapi tentang bagaimana manusia bertahan ketika kebebasan mulai menghilang.

2. Trust

Bagaimana kita mempercayai sebuah cerita—terutama ketika ia ditulis oleh mereka yang berkuasa? Trust memainkan pertanyaan itu dengan cerdas. Hernan Diaz menyusun novel ini dalam beberapa lapisan narasi yang saling bertentangan, mengungkap bagaimana kekayaan, kekuasaan, dan reputasi dapat dibentuk melalui cerita yang berulang-ulang diceritakan. Berlatar dunia finansial Amerika awal abad ke-20, buku ini terasa sangat kontemporer. Kekuatan naratifnya diakui luas, hingga meraih Pulitzer Prize for Fiction 2023, dan mengajak pembaca tidak hanya mengikuti kisahnya, tetapi juga meragukan setiap versi kebenaran yang disajikan.

3. The Seven Moons of Maali Almeida     

Di antara hidup dan mati, Maali Almeida masih punya urusan yang belum selesai. Dalam tujuh “bulan” yang tersisa, ia mencoba mengungkap kebenaran di balik kematiannya sendiri—di tengah kekacauan perang saudara Sri Lanka. Premisnya terdengar gelap, tetapi novel ini justru dipenuhi humor, ironi, dan energi yang tidak terduga. Karunatilaka menulis dengan keberanian yang membuat sejarah terasa hidup, tidak sebagai catatan, tetapi sebagai pengalaman yang kacau dan penuh suara. Pengakuan itu kemudian mengantarkannya sebagai pemenang Booker Prize 2022, sebuah penanda atas keberanian naratifnya.

4. The Vegetarian

Novel ini bergerak pelan, tetapi meninggalkan jejak yang dalam. Ketika seorang perempuan memutuskan berhenti makan daging, keputusannya memicu reaksi berantai yang mengungkap tekanan sosial, tubuh, dan kehendak pribadi. Han Kang menulis dengan bahasa yang tenang, hampir dingin, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Cerita ini tidak menawarkan jawaban yang mudah—ia lebih seperti ruang sunyi yang memaksa pembaca bertahan di dalamnya. Karya ini mendapat pengakuan internasional melalui International Booker Prize 2016, menegaskan kekuatan suaranya dalam sastra dunia.

5. The Rediscovery of America: Native Peoples and the Unmaking of U.S. History  | Ned Blackhawk

Sejarah Amerika Serikat sering kali dituturkan dari satu sudut pandang yang dominan. Buku ini mengajak kita melihat ulang cerita tersebut dengan menempatkan masyarakat pribumi sebagai bagian sentral, bukan sekadar latar belakang. Ned Blackhawk menunjukkan bahwa perjalanan Amerika tidak bisa dipahami tanpa peran aktif Native peoples dalam membentuknya. Hasilnya adalah narasi yang terasa lebih luas, sekaligus lebih jujur. Pendekatan ini mendapat pengakuan luas, termasuk National Book Award for Nonfiction 2023, sebagai kontribusi penting dalam penulisan sejarah.

6. The Coming Wave: AI, Power and Our Future

Teknologi tidak lagi bergerak perlahan—ia datang seperti gelombang yang sulit dibendung. Mustafa Suleyman, yang berada di dalam ekosistem pengembangan AI, menulis dari posisi yang unik: antara optimisme dan kewaspadaan. The Coming Wave tidak hanya menjelaskan perkembangan teknologi, tetapi juga mempertanyakan dampaknya terhadap kekuasaan, keamanan, dan masa depan masyarakat. Kehadirannya dalam daftar buku terbaik yang dirilis New York Times memperkuat posisinya sebagai salah satu bacaan kunci untuk memahami era baru yang sedang terbentuk.

7. Chip War: The Fight for the World’s Most Critical Technology

Di balik perangkat yang kita gunakan setiap hari, ada persaingan global yang nyaris tak terlihat. Chip War membuka lapisan tersebut dengan jelas dan sistematis, menunjukkan bagaimana semikonduktor menjadi pusat kekuatan ekonomi dan geopolitik modern. Chris Miller menuturkan sejarah ini dengan gaya yang mudah diikuti, tanpa kehilangan kompleksitasnya. Buku ini mendapat pengakuan luas, termasuk Financial Times Business Book of the Year 2022, yang menegaskan relevansinya dalam memahami dunia hari ini.

8. Material World: The Six Raw Materials That Shape Modern Civilization

Apa yang sebenarnya membangun dunia modern? Ed Conway menjawabnya melalui enam material dasar yang sering luput dari perhatian: dari pasir hingga logam langka. Dengan pendekatan yang hampir seperti perjalanan, ia mengajak pembaca melihat bagaimana bahan-bahan ini menghubungkan ekonomi, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari. Buku ini terasa konkret sekaligus luas—mengingatkan bahwa di balik setiap kemajuan, ada sumber daya yang menopangnya. Masuk dalam berbagai daftar singkat buku terbaik British Academy Book Prize 2024, Material World memperkuat posisinya sebagai bacaan penting tentang fondasi peradaban.

9. The Anxious Generation: How the Great Rewiring of Childhood Is Causing an Epidemic of Mental Illness

Ada sesuatu yang berubah dalam cara generasi muda tumbuh—dan perubahan itu terasa semakin nyata. Jonathan Haidt mencoba memetakan fenomena ini dengan melihat peran teknologi, media sosial, dan perubahan pola kehidupan anak-anak. Buku ini tidak sekadar mengangkat kekhawatiran, tetapi juga menyusun argumen yang sistematis tentang bagaimana “rewiring” masa kanak-kanak terjadi. Tanpa bergantung pada penghargaan formal, buku ini mendapat perhatian luas dan cepat menjadi bagian dari percakapan global tentang kesehatan mental generasi muda—menjadikannya salah satu bacaan paling relevan untuk memahami lanskap sosial hari ini.

***

Penghargaan buku mungkin menghadirkan daftar nama dan judul yang akan dikenang dalam waktu lama. Namun, seperti yang terlihat dari buku-buku pemenang penghargaan di atas, membaca tidak pernah hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang diakui. Ia juga berbicara tentang gagasan, pengalaman, ingatan, dan cara kita memahami dunia yang terus berubah. Semoga rekomendasi ini dapat menemani Bibliobesties dalam menemukan bacaan yang tidak hanya penting, tetapi juga bermakna—sebagai bagian dari perjalanan memahami kehidupan hari ini.