Hubungan Kita dengan Waktu: Bermenung di Penghujung Tahun

0
Share
Foto oleh wirestock di freepik.com.

Pernahkah terbayang di pikiran tentang hubungan kita dengan waktu atau pernyataan klise, yang bunyinya kurang lebih begini: “Apakah ada bedanya antara 31 Desember 2023 dan 1 Januari 2024?” Pengujung tahun dan awal tahun. Seperti dua sisi sekeping koin mata uang, keduanya sebelah menyebelah. Namun, tentu saja ada sekat yang berdiri di antara keduanya.

Sepotong kisah di masa kecil

Ketika berumur 9 atau 10 tahun, saya pernah berpikir, “Apa yang membedakan hari kemarin, hari sekarang, dan hari besok?” Ada kejadian yang membuat saya berpikir seperti ini. Suatu kali, sebagai seorang bocah, saya bangun pagi-pagi. Setelah mencuci muka, tanpa menggosok gigi, saya keluar rumah. Gang di rumah nampak biasa. Matahari bersinar dari timur. Langit cerah. Lalu, saya masuk kembali ke dalam rumah, sejenak melirik kalender, dan secara tiba-tiba berkata kepada ibu, “Bu, ini sudah tahun baru, lho. Sekarang tanggal satu Januari.” Ibu saya hanya tersenyum dan menyuruh saya sarapan pagi.

Sejak saat itu, saya merasa ada yang aneh ketika berpikir tentang waktu. Rasa aneh tersebut bertambah ketika menonton serial Mahabharata versi 1988 di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada waktu itu. Pada menit-menit awal serial tersebut terdapat monolog soal waktu. Monolog itu kurang lebih bercerita begini, “Aku adalah waktu, sekarang aku akan menceritakan epos abadi Mahabharata…Hanya aku satu-satunya yang bisa menceritakan kisah ini, karena aku sendiri yang telah melihat bagaimana sejarah tercipta…Aku sekaligus Duryudana, juga Arjuna, bahkan akulah Kurusetra—tempat pertempuran itu berlangsung.”

Kenapa waktu bisa bercerita tentang Mahabharata? Apakah waktu adalah seseorang? Jika waktu adalah seseorang, mengapa ia mendaku diri sebagai Duryudana atau Arjuna? Malahan, ia bisa mendaku diri sebagai Kurusetra, sebagai tempat! Sungguh membuat kepala pening!

Pemahaman akan waktu

Lepas dari masa bocah, waktu merupakan bahan baku penting dalam mata pelajaran Fisika di sekolah menengah. Saya bukan penikmat mata pelajaran eksakta, tapi saya senang saat membaca buku di perpustakaan tentang bagaimana ilmuwan Albert Einstein mengubah pandangan orang tentang waktu. Einstein memperkenalkan konsep ruang-waktu (spacetime). Waktu dan ruang itu bagaikan sepasang kekasih yang kasmaran, tak terpisahkan. Melepaskan waktu dari ruang tidak akan menghasilkan pemahaman yang menyeluruh dan utuh. Di sini, waktu memiliki sifat relatif. Misalnya saja, dua jam untuk menunggu keberangkatan pesawat yang tertunda akan terasa membosankan. Namun demikian, berbeda ceritanya dengan dua jam yang terasa cepat ketika dihabiskan untuk nongkrong di fly-over Buaran bersama pacar yang belum lama jadian.

Ternyata, waktu dipahami secara berbeda-beda dalam beberapa kebudayaan. David Cycleback dalam artikel singkatnya, What is Time (2021) menguraikan setidaknya, pemahaman akan waktu dibagi menjadi tiga aliran besar. Mereka yang terpengaruh oleh agama-agama Abrahamik cenderung memahami waktu sebagai garis lurus yang hanya bergerak maju, tidak bisa diulang. Artinya, waktu dipahami secara linear. Di lain sisi, kebudayaan Inca, Maya, Hindu, Buddha, dan Jainisme memahami waktu bergerak melingkar seperti spiral. Umumnya, pemahaman ini didasarkan pada budaya masyarakat agrikultural yang menggantungkan keberlangsungan hidup mereka pada “putaran” musim dalam satu tahun. Sementara itu, beberapa suku Indian di Amerika dan Aborigin di Australia, juga kaum Yahudi-Kabala, meyakini bahwa waktu bersifat abadi. Artinya, masa lalu dan masa sekarang selalu terhubung, sehingga sejarah masa lalu dan roh-roh leluhur juga hadir di masa sekarang.

Hubungan kita dengan waktu

Kembali ke pokok persoalan. Jika pemahaman akan waktu ternyata sedemikian ruwet, mengapa kita masih merayakan tahun baru? Padahal, seperti terungkap di atas, rasanya tidak ada yang berbeda antara 31 Desember 2023 dan 1 Januari 2024. Matahari akan tetap terbit dari timur di kedua tanggal tersebut. Mawar masih akan tetap memiliki wangi yang sama. Batu yang dilempar ke atas tetap jatuh ke bawah terkena gravitasi Bumi. Para caleg yang wajah, nama, dan kiprahnya tidak betul-betul kita kenal juga akan tetap berlomba menuju Senayan. Eh…

Saya menemukan jawab yang masuk akal dari tulisan N. Driyarkara, SJ. Ada dua hal yang patut dicatat dari renungan dalam tulisan tersebut. Pertama, manusia adalah makhluk yang “berada dalam waktu, terkurung dalam waktu.” Kita “tunduk” di hadapan waktu. Kita bertambah tua. Belum lagi, kesadaran kita selalu terhubung oleh waktu. Pertanyaan yang dilontarkan om atau tante saat acara keluarga besar, “Kapan nikah?” adalah bukti bahwa kesadaran manusia terikat oleh waktu. Padahal, pilihan seseorang menikah atau tidak menikah tidak akan membuat matahari tebit dari barat, bukan?

Akan tetapi, di balik pertanyaan “Kapan nikah?” sebenarnya terselip asa: semoga, hidupmu menjadi lebih membahagiakan di masa mendatang. Tentu saja, untuk orang-orang tertentu, pernikahan tidak perlu diidentikan dengan kebahagiaan. Namun demikian, adalah menarik ketika memahami bahwa ada orang lain selain diri kita mengharap kebaikan dalam hidup kita di masa mendatang. Dan inilah kekhasan lain manusia dalam hubungannya dengan waktu. Manusia memiliki kemampuan untuk “mengatasi waktu.” Berbeda dengan singkong atau cacing, manusia dapat merenungkan waktu. Kesadaran bahwa kita pernah hidup di masa lalu, hidup di masa sekarang, dan akan hidup menyongsong masa mendatang, itulah bukti bahwa kita bisa melampaui waktu.

Waktu memungkinkan manusia untuk memiliki harapan dalam hidupnya. Tentu saja, harapan ini dilambungkan demi kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Mengapa harapan baik menjadi penting dalam hidup manusia? Jawabannya sederhana: dalam hidupnya, manusia selalu mengejar kebahagian! Soal kebahagiaan, bisa sangat beragam betntuknya. Ada yang merasa kebahagiaannya tergantung pada harta dan kekayaan. Ada juga yang menjadikan penerimaan orang lain sebagai takaran kebahagiaan. Namun, ada pula yang merasa kesempatan untuk bangun di pagi hari menatap matahari yang terbit dari timur sebagai standar paling tinggi kebahagiaannya. Dan, kesemuanya sah-sah saja, asal tidak mengorbankan orang lain untuk meraih kebahagiaannya sendiri.

Ah, bualan Perimin tentang menyambut tahun baru sudah sebegini panjang. Ingat, kita berhak dan layak untuk mencari kebahagiaan. Mungkin, inilah alasan paling sahih mengapa kita berada di dunia ini. Tentu saja, akan ada banyak pertanyaan ketika merenungkan alasan mengapa kita berada di dunia. Menyitir syair kelompok musik pertengahan 1990-an yang tidak terlalu panjang eksistensinya, Ndok, “Hanya waktu, yang akan memberi jawabnya.” Waktulah nanti yang akan membukakan jawaban. Termasuk jawaban siapakah yang terpilih jadi Presiden Indonesia 2024 nanti. Eh…

Untuk sekarang, mari kita melambungkan harapan terbaik untuk masa depan. Selamat tahun baru 2024, Bibliobesties! Semoga, yang terbaik yang kita dapat di tahun depan—meskipun saya sendiri sadar, hidup akan bergulir begini-begini saja.

Jika Bibliobesties hendak membaca curhatan-curhatan Perimin lainnya, temukan di sini.