The Vegetarian: “Perayaan” Kekerasan dalam Tiga Babak

0
Share
9781846276033 Review The Vegetarian

Pada akhir 2025 hingga awal 2026, media sosial kembali diramaikan oleh perdebatan sengit antara mereka yang mempromosikan pola makan vegan dan mereka yang menolaknya. Perdebatan itu tidak lagi sekadar soal selera makan, melainkan menyentuh persoalan etika, lingkungan, bahkan hakikat manusia sebagai makhluk pemakan daging. Di satu sisi, kaum vegan menyoroti penderitaan hewan dan dampak ekologis industri peternakan; di sisi lain, para pemakan daging menanggapi dengan nada defensif, bahkan ejekan. Tubuh, yang semula tampak sebagai wilayah paling personal, tiba-tiba menjadi medan pertempuran moral.

Dalam kehidupan sehari-hari, pilihan untuk menjadi vegan dan bukan vegan diyakini sebagai preferensi individu. Kita mengandaikan hal ini sebagai hak yang melekat pada kebebasan masing-masing orang. Namun, apakah kita benar-benar berhak dan mampu menentukan siapa dan mau jadi apa diri kita sendiri?

Kekerasan dalam The Vegetarian

Satu pertanyaan inilah yang ternyata disodorkan oleh Han Kang melalui The Vegetarian (2015). Dalam novel ini, Han Kang mengangkat peristiwa yang tidak biasa, meskipun terkesan sederhana. Seorang perempuan, berkat mimpinya, memutuskan untuk berhenti makan daging. Ia menjadi seorang vegetarian. Masalah muncul secara beruntun dan memuncak pada keputusan lain yang tak terbayangkan. Perempuan itu merasa dirinya adalah sebuah tumbuhan. Premis ini tentu akan mengingatkan kita pada karya-karya Gabriel Garcia Marquez atau Haruki Murakami, yang membawa absurditas dan unsur magis ke dalam penceritaan. Namun, Han Kang akan memberikan nuansa yang lebih gelap, sunyi, cukup traumatis, dan cenderung politis.

Han Kang memiliki ingatan yang erat dengan tragedi Gwangju. Ia lahir dan tumbuh di sana, tempat yang pada Mei 1980 menjadi medan berdarah bagi warga sipil Korea Selatan yang menuntut demokrasi. Pada 1979, Presiden Park Chung-hee dibunuh, sehingga militer di bawah Jenderal Chun Doo-hwan mengambil alih kekuasaan. Mahasiswa dan rakyat biasa turun ke jalan. Kondisi ini membuat militer bertindak secara brutal. Situasi ini menyebabkan lebih dari seribu orang menjadi korban.

Keluarga Han Kang pindah dari Gwangju ke Seoul tidak lama setelah kejadian tersebut. Bagi Han Kang dan generasi sebelumnya, tragedi ini menjadi luka kolektif warga Korea Selatan. Han Kang sendiri menyadari bahwa kekerasan adalah bagian inheren dalam diri manusia. Namun, mengapa manusia bisa setega itu satu sama lain? Dalam berbagai kesempatan wawancara, Han Kang mengungkapkan refleksinya: bagaimana manusia bertindak sedemikian brutal terhadap sesamanya?

Refleksi terhadap kekerasan antarmanusia ini ditulis Han Kang dalam Human Acts (2016). Karya ini sendiri mencoba merefleksikan bagaimana negara menggunakan kekerasan terhadap warga biasa. Sementara itu, dalam The Vegetarian, kekerasan ditarik ke dalam ruang personal. Kekerasan dihadirkan dalam hubungan antarpersonal dalam lingkup sosial terkecil, keluarga. Bahkan, lebih mendetail dari itu, kekerasan telah merembes pada taplak meja makan sampai seprei rumah sakit untuk gangguan mental.

Di dalam hal yang sedemikian subtil, kekerasan justru dipandang sebagai bagian dari koridor kenormalan. The Vegetarian bisa dibaca sebagai cara kekerasan menjadi masuk akal, dalam tataran yang sangat personal. Dengan latar kesadaran semacam itu, kekerasan dalam The Vegetarian tidak lagi terasa sebagai peristiwa kecil dalam rumah tangga, melainkan gema untuk pertanyaan moral yang lebih luas tentang tubuh dan kuasa.

The Vegetarian ditulis sebagai novel dengan tiga babak. Dalam babak pertama, Han Kang menyajikan kisah bagaimana tokoh utama cerita, Yeong-hye, memutuskan untuk mengubah pilihan hidupnya. Berkat sebuah mimpi yang mengerikan, Yeong-hye memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian. Menariknya, narator bagian ini adalah Mr. Cheong, suami Yeong-hye. Babak kedua penceritaan berfokus pada suami In-hye, kakak Yeong-hye, yang memiliki obsesi estetis pada bercak Mongol yang ada di tubuh Yeong-hye. Babak ketiga beralih pada In-hye, kakak perempuan Yeong-hye, yang mengalami hidupan yang tragis akibat pilihan adiknya sendiri. Pada babak kedua dan ketiga, penceritaan dilakukan oleh orang ketiga. Hal ini seolah ingin menegaskan betapa tokoh-tokoh yang bergulat dalam cerita tidak benar-benar memiliki suaranya sendiri. Semakin cerita berjalan, penceritaan justru semakin menjauh dari tokoh-tokohnya.

Babak pertama: Tubuh yang bungkam

Sebelum masuk kepada persoalan artikulasi, marilah kita lihat terlebih dahulu apa yang terjadi dalam The Vegetarian. Han Kang menyodorkan seorang perempuan yang mengambil keputusan cukup drastis dalam kehidupannya. Ialah Yeong-hye, yang mendeklarasikan dirinya sebagai vegetarian setelah bermimpi pada suatu malam. Di dalam mimpi-mimpinya—yang berulang—Yeong-hye melihat wajah-wajah yang tak dikenalnya, gudang gelap, genangan darah, hingga rasa menta-anyir dari daging. Sejak saat itu, Yeong-hye membuang segala jenis bahan makanan dari binatang. Keputusan ini mengganggu suaminya, Tuan Cheong.

Han Kang memang tidak memberikan nama diri pada suami Yeong-hye. Hal ini menarik, karena dalam tradisi penamaan Korea, orang biasanya menggunakan dua unsur: nama keluarga yang ditempatkan di depan, diikuti oleh nama pribadi. Dalam bab pertama The Vegetarian, Mr. Cheong justru tampil sebagai narator utama. Ia menceritakan perubahan istrinya, baik dari segi identitas—keputusannya untuk menjadi vegetarian—maupun dari segi fisik. Pilihan itu membuat berat badan Yeong-hye menyusut secara signifikan.

Hubungan Mr. Cheong dan Yeong-hye digambarkan dingin dan formal. Dalam masyarakat patriarkal, suami berposisi sebagai kepala keluarga yang tidak mengekspresikan emosi secara terbuka. Pernikahan dipandang sebagai bagian dari penopang kelangsungan masyarakat—sebuah struktur sosial yang lebih mengutamakan stabilitas daripada kedalaman emosional. Fragmen tentang jamuan makan malam menggambarkan situasi tersebut. Mr. Cheong—yang memiliki posisi baik dalam pekerjaannya—mengajak Yeong-hye menghadiri jamuan makan malam atasannya. Dalam kesempatan itu, Yeong-hye secara terbuka menyatakan pilihannya menjadi vegetarian. Penolakan terhadap hidangan daging dianggap tidak sopan dan memalukan, sehingga menimbulkan kemarahan tersembunyi dalam diri Mr. Cheong.

Mr. Cheong memang tidak menunjukkan kekesalannya melalui kekerasan fisik. Sepanjang kisah, ia tidak pernah memukul istrinya. Konflik paling tajam pada sepertiga awal cerita terjadi ketika orang tua Yeong-hye datang membawakan daging rusa agar ia kembali makan daging, setelah Mr. Cheong mengadukan “keanehan” istrinya kepada keluarga. Orang tua Yeong-hye, In-hye dan suaminya, serta adik laki-laki dan istrinya, berkumpul untuk menengok keadaannya. Fragmen ini memuncak ketika ayah Yeong-hye, seorang veteran Perang Vietnam, menamparnya. Bahkan, ia menjejalkan daging babi yang telah ditumbuk halus ke mulut Yeong-hye. Yeong-hye melawan sekuat tenaga, meskipun kalah. Pada akhirnya, ia meraih pisau buah dan menyayat pergelangan tangannya.

Pada sepertiga awal The Vegetarian, Yeong-hye digambarkan sebagai subjek yang lesap. Ia berbicara tentang mimpi—itu pun dalam teks kursif yang terkesan seperti sisipan dalam narasi suaminya. Meskipun diberi ruang untuk bersuara, suaranya tetap terbingkai oleh sudut pandang Mr. Cheong. Ia hadir bukan sebagai subjek yang utuh, melainkan sebagai tubuh yang dinilai dan diartikulasi oleh orang lain.

Fragmen tentang jamuan makan malam bernada serupa. Yeong-hye, yang juga memutuskan untuk tidak lagi memakai bra, dianggap melampaui norma kesopanan. Padahal, ia meyakini bahwa payudara adalah bagian tubuhnya yang tidak mungkin digunakan untuk melakukan tindak kekerasan (Can only trust my breast now. I like my breasts, nothing can be killed by them…). Dalam kutipan ini, Yeong-hye membedakan payudaranya dari anggota tubuh lain yang ia anggap sebagai “senjata.” Tubuhnya terbelah antara bagian yang berpotensi melukai dan bagian yang ia yakini tak berbahaya. Tubuh tidak lagi sekadar bersifat biologis, melainkan menjadi ruang etis—tempat pertimbangan tentang kekerasan dan ketidakbersalahan berlangsung.

Gagasan tentang kekerasan ini semakin tegas melalui tamparan dan paksaan yang dilakukan sang ayah. Kekerasan hadir secara telanjang dalam satu gerakan tangan. Tamparan itu datang ketika Yeong-hye bersuara: “Father, I don’t eat meat.” Ayah Yeong-hye adalah seorang veteran Perang Vietnam. Sejarah mencatat bahwa keterlibatan militer Korea Selatan di Vietnam tidak lepas dari tuduhan kekerasan terhadap warga sipil. Dalam konteks ini, figur ayah dapat dibaca sebagai simbol maskulinitas militer yang memandang kekerasan sebagai alat koreksi.

Sekali lagi, tubuh Yeong-hye menjadi medan pertempuran yang harus ditundukkan. Han Kang tampaknya ingin menunjukkan bagaimana kekerasan dapat hadir dalam hubungan paling intim, yakni keluarga. Kita juga melihat kontras antara dua figur laki-laki: suami dan ayah. Suaminya menjalankan kekerasan secara normatif-modern—melalui rasa malu, tekanan sosial, dan pembingkaian naratif—sementara ayahnya menggunakan kekerasan langsung yang bersifat militeristik. Mr. Cheong bersikap dingin dan menyimpan frustrasi; ayah Yeong-hye menampar dan memaksa. Keduanya berbeda dalam bentuk, tetapi sama-sama bekerja atas tubuh yang bukan sepenuhnya milik Yeong-hye.

Babak kedua: Tubuh adalah citraan

Dengan demikian, bagian pertama The Vegetarian hendak menggambarkan bagaimana tubuh Yeong-hye tidak benar-benar menjadi miliknya. Tubuh itu menjadi ruang tempat orang lain, norma sosial, dan prinsip maskulinitas bekerja—menentukan apa yang dianggap normal dan apa yang dinilai menyimpang. Beranjak dari gagasan ini, bagian kedua The Vegetarian berkisah tentang bercak Mongol (congenital dermal melanocytosis; Mongolian mark) yang terdapat pada tubuh Yeong-hye. Pembaca akan dihadapkan pada eksploitasi bercak Mongol di bagian belakang tubuh Yeong-hye oleh suami In-hye, seorang seniman video.

Suami In-hye yang tengah mengalami kebuntuan dalam berkarya secara tidak sengaja mendengar bahwa Yeong-hye memiliki bercak Mongol seukuran ibu jari yang tidak memudar hingga usia dua puluh tahunan. Menurut In-hye, bercak tersebut berbentuk seperti kelopak bunga kebiruan. Hal ini tidak lazim, mengingat pada umumnya bercak Mongol akan memudar dan hilang seiring bertambahnya usia bayi.

Suami In-hye secara naluriah melihat jalan keluar dari kebuntuan estetis yang tengah dialaminya. Namun, intensinya lambat laun bergeser—dari obsesi estetis menuju penghasratan yang semakin erotis. Ia memang mengakui bahwa istrinya lebih cantik jika dibandingkan dengan Yeong-hye. In-hye, yang bekerja di bidang kecantikan, telah menjalani prosedur bedah plastik—pada kelopak mata dan hidungnya—untuk menyempurnakan penampilannya.

Di dalam teks, Han Kang menggambarkan persepsi suami In-hye terhadap Yeong-hye demikian: “Everything about her sister pleased him—her single-lidded eyes; the way she spoke, so blunt as to be almost uncouth, and without his wife’s faintly nasal inflection; her drab clothes; her androgynously protruding cheekbones. She might well be called ugly in comparison with his wife.” Kutipan ini memperlihatkan bahwa daya tarik Yeong-hye justru terletak pada apa yang secara konvensional tidak dianggap cantik. Suami In-hye menyadari bahwa meskipun kakak-beradik ini memiliki banyak kemiripan, perbedaan-perbedaan subtil di antara mereka menghadirkan kontras yang menentukan.

Para pembaca yang cukup saksama akan menemukan bahwa Han Kang menyodorkan dua konstruksi tentang perempuan melalui In-hye dan Yeong-hye. In-hye digambarkan sebagai sosok perempuan yang matang dan stabil. Keputusannya menjalani operasi plastik untuk memperindah diri memberi kesan bahwa ia adalah pribadi yang menyerap pengaruh dunia sekaligus bersikap pragmatis terhadapnya. Sebagai pemilik toko kecantikan, operasi plastik—terutama dalam masyarakat Korea Selatan modern—dapat dipandang sebagai bagian dari norma sosial untuk membangun citra diri yang positif. In-hye adalah perempuan yang berhasil membangun bisnisnya sendiri; ia hadir sebagai figur dewasa yang dibentuk dan sekaligus menyesuaikan diri dengan kenyataan hidup yang melingkupinya.

Sebaliknya, Yeong-hye yang memutuskan menjadi vegetarian tampak pucat dan rapuh. Dua tahun setelah peristiwa penyayatan pergelangan tangan, ia sedang menjalani perceraian dengan suaminya. Kerapuhan itu memberi kesan bahwa Yeong-hye tengah mundur dari dunia sosial yang sebelumnya mengikatnya. Ia tidak lagi sepenuhnya selaras dengan ritme dan tuntutan lingkungan di sekelilingnya. Bercak Mongol yang masih tersisa di tubuhnya semakin menegaskan kesan itu—sebuah tanda yang secara simbolik mengingatkan pada sesuatu yang belum sepenuhnya larut dalam kedewasaan sosial. Yeong-hye tampak seperti sosok yang hidup dalam dunianya sendiri, bergerak menjauh dari konstruksi kemapanan. Justru dalam keadaan demikianlah, suami In-hye merasakan daya tarik yang sulit ia jelaskan: Yeong-hye memancarkan energi layaknya “pohon gersang yang sendiri di alam liar” ([…] she radiated energy like a tree that grows in the wilderness, denuded and solitary).

Pada bagian kedua The Vegetarian, Yeong-hye seolah hendak melepaskan dirinya dari kemanusiaan yang selama ini mengikatnya. Ia terputus dari tatanan sosial, terutama setelah bercerai dari suaminya. Yeong-hye juga digambarkan mengalami kemunduran kondisi mental ketika berdiri telanjang sambil menggenggam seekor burung—layaknya sebatang pohon yang tegak sendirian—di tengah taman rumah sakit, saat ia dirawat setelah melukai pergelangan tangannya sendiri.

Dalam situasi ini, suami In-hye datang menawarkan sebuah proyek video, didorong oleh obsesinya terhadap bercak Mongol di tubuh Yeong-hye. Ia berencana melukis tubuh Yeong-hye dengan motif bebungaan, bersama seorang model laki-laki bernama J. Menariknya, Yeong-hye menyetujui proyek tersebut. Namun rencana itu mengalami hambatan ketika J menolak untuk bersetubuh dengan Yeong-hye demi mewujudkan visi estetis yang diinginkan. Pada sesi berikutnya, suami In-hye menyewa P—seorang model perempuan yang pernah memiliki hubungan intim dengannya—untuk berpose bersama Yeong-hye. Hal ini semakin menegaskan bahwa proyek tersebut berangkat dari dorongan estetis yang kuat. Namun, dalam perkembangannya, tubuh Yeong-hye perlahan bergeser dari objek estetis menjadi objek erotisme bagi suami In-hye.

Sampai di titik ini, sebagian pembaca mungkin akan menarik simpati sepenuhnya dari suami In-hye yang tampak gagal mengendalikan dorongan seksualnya. Namun, rasanya kita perlu membaca bagian kedua The Vegetarian dengan lebih subtil. Pada fase awal, suami In-hye memahami Yeong-hye terutama sebagai kesan visual yang sarat simbol: tubuh yang kurus dan rapuh, bercak Mongol yang terkesan purba, serta kepasifan yang menjauhkannya dari pola perilaku manusia “normal”. Ketiga aspek ini menumbuhkan imajinasi estetis dalam diri suami In-hye sebelum berkembang menjadi penghasratan erotis.

Kerentanan memiliki daya tarik tersendiri; ia menciptakan ilusi bahwa sesuatu yang rapuh dapat didekati tanpa resistensi. Dalam diri Yeong-hye, suami In-hye menemukan tubuh yang tidak banyak menginterupsi tatapannya. Situasi pribadinya pun turut memperkuat daya tarik tersebut: ia menjalani pernikahan yang hambar, sementara karier seninya berada dalam kebuntuan. Di sisi lain, Yeong-hye tidak menolak lukisan bebungaan yang menghiasi tubuhnya; ia membiarkannya tetap melekat. Kepasifan ini semakin mengaburkan batas antara proyek estetis dan dorongan erotis yang perlahan tumbuh di dalam diri suami In-hye.

Dalam esainya, Visual Pleasure and Narrative Cinema (1975), Laura Mulvey menunjukkan bahwa dalam banyak struktur visual modern, perempuan kerap hadir sebagai pihak yang dilihat, sementara laki-laki menjadi pihak yang memandang. Tatapan itu tidak pernah benar-benar netral. Ia membingkai, memilih, dan perlahan membentuk cara kita memahami tubuh yang ada di hadapannya. Bagian “Mongolian Mark” terasa seperti cermin dari gagasan Mulvey. Suami In-hye, seorang seniman video, hidup dari menciptakan citra. Dalam tatapannya, Yeong-hye—yang diam, kurus, dan rapuh—tidak lagi sekadar seorang manusia, melainkan sosok yang bisa dibingkai, dilukis, dan direkam. Hasratnya tumbuh bukan semata karena dorongan seksual, melainkan karena ia terus-menerus memandang dan memaknai tubuh itu sebagai gambar. Di titik ini, lukisan dan kamera bukan hanya alat seni; keduanya menjadi cara untuk “memiliki” tanpa perlu menyentuh secara langsung. Tubuh Yeong-hye kembali menjadi ruang tempat tatapan bekerja. Jika Yeong-hye memilih untuk menanggalkan diri dari dunia sosial, maka In-hye justru berdiri di sisi sebaliknya—memikul dunia itu, dengan segala beban dan lukanya.

Babak ketiga: Transformasi tragis In-hye

Bagian ketiga The Vegetarian seolah-olah digunakan Han Kang untuk menghadirkan percabangan dalam narasi yang kelam dan tak sepenuhnya manusiawi. Han Kang menghadirkan In-hye dengan segala kompleksitas yang dihadapinya. Jika Yeong-hye memilih untuk menanggalkan diri dari dunia sosial, In-hye justru menempuh jalan yang berbeda—bukan dengan mundur, melainkan dengan tetap berdiri di dalamnya, memikul dunia itu beserta seluruh beban dan lukanya. Bagian ini bergerak lambat dengan nuansa puitis yang kelam. Kita akan melihat bagaimana kisah Yeong-hye akan dibingkai oleh situasi rumah sakit mental yang kelam dan sedikit brutal.

Pengisahan akan berfokus pada gejolak batin dan tindakan In-hye. Setelah mengetahui apa yang terjadi di antara suaminya dan Yeong-hye melalui rekaman video, In-hye melanjutkan hidupnya. Ia masih mengelola bisnis kosmetik, membesarkan anaknya, Ji-woo, yang memiliki penyakit lambung kronis, sambil menghadapi perceraian dengan suaminya. In-hye sendiri mengidap penyakit pendarahan di lambung sekaligus mengalami depresi parah. Di sela-sela itu semua, In-hye masih merawat Yeong-hye. Apa yang dialami oleh In-hye memang tidak spektakuler seperti yang dialami Yeong-hye, meskipun justru lebih sunyi, pekat, dan intens.

Kondisi adik perempuannya pun semakin parah. Berat badannya turun hingga 30 kilogram. Kondisi mentalnya tidak lebih baik. Di awal bagian ketiga, Yeong-hye diceritakan hilang dari rumah sakit. Ia kemudian ditemukan oleh staf perawat sedang berada di hutan gunung belakang rumah sakit. Dalam kondisi yang sedemikian rumit dan berat, In-hye digambarkan selayaknya seekor bagal yang piawai menanggung beban. Tidak seperti kuda, yang dipuji karena keindahan fisinya, bagal yang biasa-biasa saja justru diandalkan daya tahannya.

Sejak umur 19 tahun, In-hye meninggalkan keluarga mereka untuk bertarung dengan nasib di Seoul. Pada akhirnya, ia memang bisa membangun bisnisnya sendiri—tidak dalam skala raksasa, namun cukup untuk hidup layak dengan suaminya, seorang seniman yang tidak pernah menduduki puncak dunia seni yang ditekuninya. Meskipun demikian, In-hye tidak tampil sebagai pahlawan yang gagah dan gemilang. Ia tidak mendapat cukup simpati dari kedua orang tuanya, pun dari adik laki-laki dan istrinya. In-hye tidak bisa mengabaikan Yeong-hye begitu saja: harus ada seseorang yang membayar tagihan rumah sakit dan merawat Yeong-hye (Someone had to pay the hospital fees, someone had to act as her carer).

Semakin dalam menelusuri bagian ketiga ini, kita semakin menyadari bahwa In-hye pun memiliki luka batin dan trauma yang dimiliki Yeong-hye. Kita akan merasakan bagaimana masa lalu In-hye tidak pernah lepas dari masa lalu Yeong-hye. Namun, inilah kontras di antara kakak-beradik itu: Yeong-hye menarik diri sejauh-jauhnya hingga batas ekstrem, sementara In-hye mencoba bertahan dalam lingkungan dan struktur yang membuatnya terluka. Yeong-hye menolak dunia—bahkan menolak kemanusiaannya sendiri dengan ingin menjadi tumbuhan. Di sisi lain, In-hye menanggung bebannya—ia menjadi ibu; orang tua tunggal, merawat Yeong-hye, dan tetap menjalankan bisnisnya. Han Kang dengan tegas menulis demikian untuk menggambarkannya: Even as a child, In-hye had possessed the innate strength of character necessary to make one’s own way in life. As a daughter, as an older sister, as a wife and as a mother, as the owner of a shop, even as an underground passenger of the briefest of journeys, she had always done her best.

Hingga di sini, kita semakin bisa memahami persoalan yang ditawarkan Han Kang. Pilihan-pilihan Yeong-hye adalah penolakan radikal tentang kekerasan. Yeong-hye bergulir menuju ketiadaan—tubuhnya hanya membutuhkan air dan sinar matahari. Di sisi yang lain, pilihan-pilihan yang dibuat In-hye mengandaikan kemampuan bertahan dalam struktur-struktur yang mengandung kekerasan, bahkan dalam wujudnya yang paling halus. In-hye tetap bergulat dengan dunia yang lekat dengan kekerasan—menyajikan tuntutan dalam hubungan, ekonomi, dan kewajiban-kewajiban sebagai manusia. Namun, apakah In-hye benar-benar memiliki kebebasan ketika membuat pilihan demi mempertahankan kemanusiaannya? Bukankah sebuah pilihan idealnya dibuat tanpa paksaan dari pihak mana pun? Atau, justru sebaliknya, kebebasan hanya mungkin ketika orang mampu menanggung konsekuensi-konsekuensi atas pilihannya sendiri?

Pada bagian ketiga ini, The Vegetarian tidak lagi menyajikan kekerasan yang kasar dan telanjang, melainkan juga yang halus dan tak kentara. Ia hadir dalam pergulatan batin In-hye, dalam rupa kerentanan dirinya sendiri yang harus ditanggung tanpa diketahui orang lain. Kekerasan hadir dalam bentuk kerentanan manusia. Di sini, Han Kang menyajikan hal yang sangat subtil. Han Kang tidak menaruh jalan yang terang, bahkan hingga di akhir kisah. Kebebasan tidak hadir sebagai kemenangan pihak yang baik karena berhasil mengalahkan pihak yang buruk. Kebebasan justru diletakkan pada kemungkinan yang lain: bahwa manusia masih mampu menanggung kerentanannya.

Penutup: Tubuh yang patuh dan menggugat

The Vegetarian membingkai tubuh sebagai medan kekuasaan, yang terentang antara kutub kekerasan dan kebebasan. Di sini, kekuasaan akan selalu hadir dalam tubuh manusia. Han Kang mencoba membuat gradasi, mulai dari yang paling kentara dan keras hingga ke tahap yang paling halus dan lembut. Paksaan untuk memakan daging anjing, tamparan di pipi, proyek estetis tubuh, diagnosis dan pengawasan dalam rumah sakit jiwa, rasa malu dan kepantasan, operasi plastik, luka masa lalu dan depresi, trauma yang dipendam, pilihan-pilihan yang terbatas, hingga ketahanan menanggung kerentanan adalah bentuk kekerasan yang digambarkan dalam The Vegetarian.

Apa yang dialami oleh Yeong-hye dan In-hye senada dengan gagasan Michel Foucault tentang kuasa dan kekerasan. Kekerasan selalu terkait dengan hubungan kekuasaan, dan itu bisa bekerja dalam level paling halus melalui norma, institusi, kebiasaan, bahkan dalam pemahaman tentang hal-hal yang kita anggap “normal”. Di sini, tubuh tidak dihukum—kekerasan kasat mata—tapi diatur, dibentuk, dan dilatih agar patuh. Dalam gagasan Foucault, tubuh tidak lain dari tubuh yang patuh (docile body). Penolakan Yeong-hye untuk memakan daging bukan semata-mata bentuk penolakan terhadap makanan. Ia menolak pada mekanisme struktural yang selama ini mengatur tubuhnya: keluarga yang menentukan makanan mana yang lebih layak dimakan, suami yang menentukan apa yang seharusnya dikenakan, masyarakat yang membentuk bagaimana seharusnya istri bersikap, dan seterusnya.

Foucault juga menawarkan gagasan tentang biopolitik, ketika mengidentifikasi cara kekuasaan modern mengatur, mendisiplinkan, dan menormalkan tubuh agar tetap produktif dan dapat dikendalikan. Penolakan Yeong-hye adalah penolakan terhadap gagasan tentang tubuh yang patuh. Masalahnya, penolakan tersebut membawa konsekuensi. Yeong-hye dihukum agar kembali hidup dalam koridor kenormalan. Namun, persoalan biopolitik tidak hanya bekerja melalui penghukuman tubuh yang melakukan penolakan. Biopolitik justru semakin efektif saat bekerja melalui produktivitas dan tanggung jawab—melalui tubuh yang tetap bekerja, merawat, membayar, dan bertahan, seperti yang dijalankan In-hye.

Meskipun demikian, The Vegetarian tidak berhenti pada persoalan penolakan. Dalam diri In-hye, kita bisa menyaksikan bagaimana tubuh yang “diam” juga menerima struktur kuasa yang sama. In-hye harus bekerja, mengelola, menanggung, bahkan merawat beban yang tidak kasat mata. In-hye selalu hidup dalam tegangan. Ia tidak menolak secara radikal, tapi juga tidak dapat dikatakan bebas. Membaca The Vegetarian dengan cermat akan membawa kita menemukan pertanyaan terselubung: Apakah kebebasan terletak pada penolakan total terhadap relasi kuasa, atau justru pada kemampuan untuk bertahan menanggung struktur-struktur kekuasaan dari level yang paling kasar hingga yang paling halus?

Pertanyaan ini rasa-rasanya tidak hanya hadir untuk Yeong-hye dan In-hye. Jangan-jangan, ini adalah pertanyaan untuk kita juga tanpa pernah disadari, karena kita hidup dalam struktur relasi kuasa. Apa yang kita makan, pekerjaan yang kita kerjakan, cara kita berpakaian, cara berbicara, bahkan cara kita buang air besar dibentuk oleh norma dan aturan yang tidak kita sadari. Tubuh kita tidak pernah sepenuhnya bebas dari tatapan, harapan, atau mekanisme yang terentang di antara kata “wajar” dan “menyimpang”. Kebebasan, dengan demikian bukan perkara cara keluar dari relasi kuasa, melainkan soal bagaimana kita tersadar bahwa kita hidup di dalam batas-batas.

Han Kang tidak memberikan jalan keluar yang terang-benderang. Ia justru membawa kita bersama In-hye terjebak dalam buritan ambulans yang membawa tubuh Yeong-hye yang semakin lemah. Meskipun demikian, In-hye tetap memastikan kondisi anak lelakinya yang dititipkan kepada tetangga, sebelum melarikan Yeong-hye ke Seoul. In-hye melanjutkan perannya sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab pada anak semata wayangnya, sekaligus peran sebagai seorang kakak yang membayar tagihan perawatan adiknya.

Ambulans yang membawa Yeong-hye membelah area pegunungan berhutan. Dalam perjalanan itu, In-hye melihat pepohonan di kanan kiri seolah dipenuhi api berwarna hijau. Ia melihat pepohonan yang terbakar, seolah menyimpan gugatan dan sedikit aroma dendam pada mereka. Benarkah pepohonan itu tidak mengancam? Ia tidak tahu jawaban apa yang akan didapatkan dari pertanyaan itu. In-hye sadar sepenuhnya bahwa ia tidak sedang bermimpi. Sebelum berangkat, In-hye sempat berbisik pada Yeong-hye bahwa mereka harus tetap terbangun dan sadar, meskipun mereka tidak paham alasan apa yang tepat untuk menjelaskannya. Barangkali, itulah yang ditawarkan Han Kang melalui The Vegetarian. Cerita ini bukan tentang bagaimana memilih tercabut dari dunia, tapi tentang bagaimana tetap terjaga di dalamnya.

***

Jika Bibliobesties hendak membaca ulasan Perimin lainnya, simak di sini!