Ketika mendengar kata “horor”, hal pertama yang terlintas di benak kita mungkin adalah hantu dan monster yang mengerikan. Namun, kengerian tak selalu hadir dalam wujud supernatural. Sebagian justru berakar pada kenyataan yang kita kenal: ketidakadilan, ekspektasi sosial, kekerasan, hingga amarah yang lama terpendam.
Menyambut Halloween, Perimin merangkum tujuh novel horor dan thriller psikologis yang menelusuri sisi gelap pengalaman perempuan. Mulai dari norma gender yang mengakar hingga berbagai bentuk ketimpangan yang kerap dianggap lumrah, kisah-kisah ini menghadirkan kengerian yang tak selalu membutuhkan sosok monster untuk terasa nyata. Melalui ketegangan, rahasia, dan pergulatan batin para tokohnya, novel-novel ini mengajak kita melihat lebih dekat ketakutan yang tumbuh dari ketimpangan gender dan tuntutan masyarakat terhadap perempuan. Yuk, simak selengkapnya!
Keywords: Night of a Thousand Hells, Intan Paramaditha, Indonesian Literature, Literary Fiction, Horror Fiction, Indonesian Folklore, Islamic Mysticism, Political Fiction, Contemporary Fiction, Family Secrets
Kehidupan Mutiara dan Maya berubah drastis setelah adik mereka, Annisa, melakukan aksi bom bunuh diri. Di tengah duka, rasa bersalah, dan pertanyaan yang belum terjawab, keduanya menelusuri rahasia keluarga, ikatan yang terputus, dan ramalan sang nenek yang memengaruhi nasib perempuan dari generasi ke generasi.
Novel yang baru saja masuk dalam finalis National Book Awards ini menghadirkan kisah kelam dengan sentuhan folklor dan tradisi okultisme Indonesia.
Intan Paramaditha memang salah satu perempuan penulis Indonesia yang dengan tajam menggugat kungkungan patriarki. Apa yang ditawarkannya dalam sebuah kumpulan cerita pendek, Apple and Knife, tidak memotret Indonesia yang indah. Wajah Indonesia dalam karya ini lebih sering memotret peristiwa sehari-hari seraya diselimuti kisah-kisah horor, mitos, dan dongeng. Membaca karya ini, kita akan menemukan hantu yang meneror Indonesia dalam rupa problematika kekerasan dan ketimpangan gender dan kuasa. Intan seolah mengajak kita untuk menggugat situasi, menelanjangi topeng kuasa dan melihat siapa saja yang harus menopang nafsu kuasa tersebut.
Novel tentang identitas tubuh dan motherhood ini mengisahkan Vivi yang mengalami proses “kelahiran kembali” dan digantikan oleh versi dirinya yang baru ketika melahirkan anaknya. Ketika proses tersebut tak berjalan sebagaimana mestinya, ia harus menghadapi tubuh yang semakin rapuh, rumah tangga yang runtuh, dan kehidupan baru bersama bayinya di tempat terpencil.
Di tengah kelelahan dan keterasingan dari dirinya sendiri, Vivi perlahan menyadari ada sesuatu yang keliru sejak hari kelahiran anaknya.
Setelah mengalami mimpi mengerikan, Yeong-hye, seorang perempuan Korea, memutuskan untuk berhenti memakan daging. Keputusan yang tampak sederhana ini perlahan menyingkap trauma, penindasan, dan ketegangan dalam keluarganya.
Melalui narasi dari tiga sudut pandang, Han Kang mengeksplorasi identitas, kendali atas tubuh, serta perlawanan terhadap kekerasan patriarki, sekaligus mempertanyakan batas antara kewarasan dan kegilaan.
Dalam dunia alternatif karya Sayaka Murata, seks dalam pernikahan dianggap tabu dan semua anak dilahirkan melalui inseminasi buatan. Amane, yang merasa terasing setelah mengetahui asal-usul kelahirannya, pindah bersama suaminya ke Eden, kota di mana semua orang disebut “Ibu”. Ketika teknologi rahim buatan memungkinkan laki-laki untuk hamil, batas-batas identitas, keibuan, dan keluarga pun semakin kabur dalam novel provokatif tentang seksualitas dan tatanan sosial.
Ellie, CFO perusahaan start-up berusia 46 tahun, terbiasa menghadapi tekanan pekerjaan dan kehidupan keluarga hingga gejala fisik aneh yang lebih dari sekadar perimenopause mulai mengganggu kesehariannya, yaitu siklus 28 hari yang membangkitkan taring, bulu serigala, dan amarah tak terbendung. Dengan memadukan satir dan horor supernatural, Buku ini menghadirkan kisah penuh katarsis tentang amarah perempuan yang lama terpendam dan berubah menjadi teror mematikan.
Di tengah persaingan dunia akademik, Nina Kaur melihat The House, perkumpulan perempuan paling bergengsi di kampus, sebagai jalan menuju masa depan gemilang. Sementara itu, Dr. Sloane Hartley berjuang menemukan kembali jati dirinya setelah menjadi ibu. Ketika keduanya terjerat dalam ritual rahasia The House, ambisi dan solidaritas perempuan berubah menjadi permainan mengerikan yang menyingkap harga mahal di balik kesempurnaan dan kekuasaan.
***
Ketujuh novel horor ini menunjukkan bahwa cerita horor juga bisa mengangkat berbagai persoalan yang dihadapi perempuan, mulai dari ketidakadilan hingga tekanan sosial. Lewat kisah para tokohnya, kita bisa melihat bagaimana hal-hal yang sering dianggap biasa ternyata dapat menjadi sumber ketakutan. Nah, dari tujuh novel horor yang Perimin rekomendasikan, mana yang paling membuat BiblioBesties penasaran?
Jika Bibliobesties hendak membaca rekomendasi buku lainnya, temukan di sini!