
Menjadi aktor bisa jadi cita-cita begitu banyak anak. Rasa-rasanya, cita-cita itu masuk akal belaka. Seorang aktor sudah barang tentu dikenal banyak orang. Wajahnya akan menghias media. Tempatnya adalah di atas panggung. Suaranya yang lantang didengar. Perhatian orang sudah pasti ada dalam genggaman. Aktor, dalam teater imajinasi orang kebanyakan, adalah pusat perhatian. Ialah pusat tata surya dalam semesta pertunjukan.

Black Bag by Luke Kennard
ISBN-13: 9781399826129
Aktor Tanpa Panggung
Luke Kennard menawarkan imajinasi lain tentang seorang aktor. Melalui Black Bag (2026), novel yang masuk daftar pendek The Booker Prize 2026, Kennard menghadirkan sosok aktor yang berkebalikan dengan apa yang dibayangkan orang kebanyakan. Aktor yang dihadirkan Kennard tidak berada di pusat semesta. Ia adalah tokoh tanpa nama. Usianya 37 tahun—usia ketika, dalam imajinasi tentang kesuksesan tadi, seorang aktor semestinya telah menikmati kegemilangan dan kemasyhuran. Alih-alih tampil di atas panggung, ia justru menerima pekerjaan yang mengharuskannya “tampil” di dalam sebuah tas karung hitam berukuran besar, sebagai bagian dari eksperimen psikologis.
Tentu saja, pekerjaan ganjil itu bukan cita-citanya. Tokoh utama kita memang seorang aktor yang sedang menganggur. Karena desakan keuangan, ia menerima pekerjaan yang ganjil. Tugas keaktorannya terdengar sederhana, sekaligus menggelikan. Ia hanya perlu datang ke kelas profesor psikologi selama jam perkuliahan, membiarkan para mahasiswa bereaksi dengan keberadaannya. Pertanyaannya, apa yang terjadi ketika seseorang yang tidak diketahui identitasnya hadir di tengah ruang sosial yang begitu akrab?
Dari premis yang nyaris menyerupai lelucon inilah Kennard membangun sebuah novel yang jauh lebih rumit daripada kelihatannya. Penulis Inggris yang juga dikenal sebagai penyair ini bukan pendatang baru dalam dunia sastra. Kumpulan puisinya, Notes on the Sonnets, memenangkan Forward Prize for Best Poetry Collection pada 2021. Dalam Black Bag, kepekaannya terhadap absurditas menemukan bentuk yang menarik: sesuatu yang mula-mula mengundang tawa perlahan berubah menjadi pertanyaan tentang manusia dan keberadaannya.
Dikenal, Meski Tak Terlihat
Barangkali, hal paling menarik dari eksperimen tersebut adalah bagaimana Kennard membongkar imajinasi kita tentang keaktoran. Selama ini, seorang aktor dianggap berhasil ketika ia mampu menghadirkan dirinya di hadapan orang lain. Tubuh, wajah, suara, dan gerak menjadi perangkat untuk memperoleh pengakuan. Namun, tokoh utama Black Bag justru menjalankan peran yang mengharuskannya meniadakan hampir seluruh perangkat tersebut. Ia dibayar untuk tidak memperlihatkan dirinya.
Anehnya, justru ketika identitasnya menghilang, keberadaannya semakin menarik perhatian. Ia menjadi sesuatu yang ingin diamati, dibicarakan, bahkan didekati. Seorang profesor lain mulai tertarik kepadanya, sementara sahabat sekaligus teman serumahnya melihat peluang untuk mengubah situasi ganjil itu menjadi sesuatu yang dapat menghasilkan uang. Tas hitam tersebut tidak lagi sekadar perlengkapan eksperimen. Ia menjelma menjadi identitas baru, bahkan mungkin identitas yang lebih menarik daripada kehidupan pemiliknya sendiri.
Di sinilah muncul paradoks yang menjadi salah satu kekuatan novel ini. Apakah seseorang harus terlihat agar dapat diakui keberadaannya? Atau, jangan-jangan, manusia memang selalu membutuhkan semacam peran agar kehadirannya berarti bagi orang lain? Sang aktor mungkin kehilangan wajahnya di balik tas hitam, tetapi ia tidak pernah benar-benar berhenti berakting. Bahkan ketika ia tidak melakukan apa-apa, orang lain tetap memberikan makna pada kehadirannya.
Persoalan tersebut menjadi semakin getir ketika kita mengingat keadaan hidupnya. Ia bukan aktor ternama yang sedang bereksperimen dengan bentuk pertunjukan baru. Ia seorang laki-laki yang kesulitan mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidup. Dalam masyarakat yang kerap mengukur keberhasilan melalui pekerjaan, penghasilan, dan kedudukan sosial, kegagalan semacam itu bukan perkara kecil. Namun, Kennard menghadirkan ironi yang lebih tajam. Ketika sang aktor akhirnya mendapatkan pekerjaan dan mulai menarik perhatian orang lain, semua itu justru terjadi karena ia tidak lagi menampilkan dirinya sendiri. Ia mendapatkan pengakuan dengan menjadi seseorang yang tidak dikenali.
Permainan Peran
Di sinilah Black Bag juga membuka persoalan tentang krisis maskulinitas. Bagaimana seorang laki-laki memahami dirinya ketika ukuran-ukuran keberhasilan yang selama ini dipercayainya tidak lagi dapat diandalkan? Bagaimana pula ia mempertahankan harga diri ketika pengakuan yang diperolehnya justru bergantung pada penghilangan identitasnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada persoalan lain yang tak kalah penting: kesepian dan kebutuhan untuk diterima. Sebab, mendapatkan perhatian orang lain tidak selalu berarti dikenal, apalagi dipahami. Di balik segala kelucuannya, Black Bag menghadirkan manusia yang bukan hanya ingin dilihat, tetapi juga ingin diterima sebagai dirinya sendiri.
Mungkin itulah sebabnya Black Bag terasa menarik sekaligus mengusik. Kennard tidak menawarkan jawaban sederhana tentang siapa kita sebenarnya. Ia justru mengajak pembaca mempertanyakan betapa banyak identitas yang kita kenakan setiap hari: sebagai pekerja, sahabat, pasangan, atau seseorang yang ingin dianggap berhasil. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita pun terus memainkan berbagai peran, menyesuaikan diri dengan harapan orang lain, bahkan sesekali menyembunyikan sesuatu dari diri kita sendiri?
Pada akhirnya, boleh jadi kejanggalan terbesar dalam Black Bag bukanlah seorang aktor yang bersedia menghabiskan waktunya di dalam tas karung hitam. Yang lebih mengherankan adalah bagaimana sebuah tas dapat membuat seseorang memperoleh perhatian yang tak pernah didapatkannya ketika tampil sebagai dirinya sendiri. Melalui absurditas tersebut, Kennard mengajak kita memasuki sebuah pertunjukan yang mempertemukan keinginan untuk dilihat dengan kebutuhan untuk dikenal. Dan barangkali, setelah mengenal aktor tanpa nama itu, kita akan mulai bertanya-tanya: siapakah sebenarnya yang sedang memainkan peran—manusia di dalam tas karung hitam, atau kita yang berada di luarnya?
Jika Bibliobesties hendak membaca ulasan lainnya, temukan di sini!
