Frankenstein: Menyoal Manusia, Monster, dan Tanggung Jawab

0
Share

Membaca Frankenstein akan selalu secara otomatis, entah bagaimana, membawa ingatan saya pada masa-masa duduk di SMA. Ada seorang kawan, berperawakan kurus pendek, dengan ukuran kepala yang tidak terlalu proporsional dengan tubuh dan tungkainya, mendapat julukan “Franky”, padahal namanya cukup enak didengar telinga: Giovanni. Untung saja, pada waktu itu, pertengahan 2000, gagasan tentang kesehatan mental belum menjamur seperti sekarang. Kami menganggapnya hal biasa saja, karena setiap orang akan mendapat julukan yang aneh-aneh.

Setiap dari kami hanya punya dua pilihan. Pertama, menerima julukan itu dengan legowo, hati yang rela dan ikhlas. Atau, menentangnya habis-habisan, menegaskan bahwa nama yang diberikan orang tua adalah anugerah terbaik. Namun, tentu saja ini hanya akan berlangsung sementara waktu, karena nama julukan yang aneh-aneh tersebut adalah bentuk “cinta dan sayang” yang asing dari teman-teman baru. Maklum saja, kami akan hidup bersama dalam asrama hingga empat tahun di tingkat SMA. Pilihan kedua ini akan membawa yang bersangkutan memilih pilihan pertama, dengan pemaknaan yang baru tentang hidupnya.

Kedua, nama baru Mas Franky ini tentu saja dikaitkan secara erat pada satu nama: Frankenstein. Rupa-rupanya, kaitan asosiatif tersebut luput. Hal ini baru saya pahami belakangan ketika mendapatkan tugas membaca buku berbahasa Inggris. Memang, buku yang saya baca semasa SMA tersebut sekadar saduran singkat dari novel Frankenstein (1818) karya Mary Shelley (1797—1851). Panjang novel tersebut, seingat saya juga tidak sampai seratus halaman. Meskipun begitu, berkat membacanya saya jadi tahu bahwa selama ini orang banyak salah mengira, bahwa monster menyeramkan yang dibuat dari menyatukan bagian-bagian tubuh orang yang telah meninggal yang dibangkitkan dengan daya listrik dari petir itu rupanya tanpa nama. Nama Frankenstein justru nama keluarga pencipta si Monster.

Di tengah membaca versi utuh Frankenstein, saya semakin melihat bahwa kisah ini bukan tentang monster yang diciptakan, melainkan tentang manusia yang gagal bertanggung jawab atas ciptaannya. Gambaran tentang monster memang menawarkan visualisasi rasa takut yang lebih mudah kita mengerti, namun demikian, bukankah tidak ada yang lebih mengerikan dari ketidakmampuan manusia untuk menangani hasil ciptaan tangannya sendiri?

Salah kaprah nama dan ikon budaya pop

Dialah Victor Frankenstein, pemuda yang semula terpikat pada filsafat kuno, namun kemudian beralih pada ilmu alam modern yang mampu membedah rahasia kehidupan. Meskipun Mary Shelley tidak menyebutkan nama ilmuwan spesifik di dalam teksnya—meskipun Shelley menyebut tokoh-tokoh pseudosains dan alkimia kuno, seperti Cornelius Agrippa, Paracelsus, dan Albertus Magnus—pembaca sezamannya tentu langsung teringat pada fenomena Galvanisme. Jauh sebelum dunia mengenal jenius listrik seperti Nikola Tesla (1856—1943), sejarah telah mencatat nama Luigi Galvani (1737—1798) dan keponakannya yang kontroversial, Giovanni Aldini (1762—1834). Nama terakhir bahkan pernah menggemparkan London dengan mempertontonkan bagaimana arus listrik mampu memaksa kelopak mata mayat terbuka. Hal ini merupakan sebuah “pertunjukan kematian” yang rasa-rasanya menjadi ruh utama dalam laboratorium sunyi Victor di Ingolstadt.

Adalah budaya populer yang menyebabkan salah kaprah soal nama Frankenstein. Film Frankenstein (1931) karya James Whale menjadikan makhluk ciptaan Victor sebagai pusat perhatian. Lewat riasan ikonik rancangan Jack Pierce dan akting Boris Karloff, sosok monster berkepala kotak dengan baut di leher itu menancap kuat dalam imajinasi publik. Sejak saat ini, Frankenstein tidak lagi hadir sebagai teks, namun juga pengalaman visual; ia tidak lagi dibaca, namun dilihat. Penggambaran riasan monster karya Jack Pierce bahkan digunakan juga sebagai karakter dalam film, animasi, komik, mainan, gim video, hingga industri makanan dan minuman. Sosok Victor Frankenstein sendiri menjelma menjadi arketipe ilmuwan modern—sebagaimana dalam karakter Doctor Moreau ciptaan H.G. Wells hingga para ilmuwan dalam laboratorium teknologi di abad ke-21—yang selalu berdiri di batas ambang inovasi baru dan kemungkinan untuk mereduksi manusia.

Film karya Guillermo del Toro yang dirilis belum lama ini memang mendapatkan tanggapan yang hangat dari penikmat dan kritikus film. Guillermo del Toro berhasil menjaga kesetiaannya pada teks asli Mary Shelley—setidaknya pada versi 1818—namun dengan tafsir yang menghadirkan visualisasi dan nuansa gotik yang megah dan memikat mata. Si Monster digambarkan memiliki sisi melankolis dan penderitaan batin yang dalam berkat hubungannya yang sangat kompleks dengan Victor Frankenstein. Si Monster juga digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kemampuan belajar dan kecerdasan, fasih berbicara, dan bergulat dengan krisis eksistensial tentang keberadaannya di dunia. Hal-hal inilah yang membuat karya del Toro berhasil menghidupkan teks Mary Shelley yang telah berumur lebih dari satu abad menjadi sajian visual yang relevan dengan penonton era kiwari.

Del Toro mencoba mengembalikan suara asli Frankenstein di antara sekian banyak adaptasi yang menonjolkan sosok visual yang menyeramkan. Namun justru di sinilah paradoks itu muncul: semakin kuat citra visualnya, semakin kabur pula gugatan moral yang menjadi jantung kisah Shelley. Monster menjadi pusat tontonan; Victor dan beban moralnya perlahan menghilang dari percakapan. Padahal, dalam teks aslinya, yang mengerikan bukanlah rupa makhluk itu, melainkan kegagalan penciptanya untuk mengasihi dan mengakui ciptaannya. Sementara budaya populer memberi kita wajah, Shelley memberi kita cermin.

Horor modern lahir pada tahun tanpa musim panas

Mary Shelley telah menciptakan cetak biru bagi cerita horor modern. Sebelum Frankenstein diterbitkan, kisah-kisah horor selalu ditulis dalam aroma gotik yang mengedepankan hantu, kutukan kuno, atau iblis yang mengganggu kehidupan manusia. Frankenstein diyakini telah mendobrak kecenderungan ini dengan menampilkan seorang pemuda yang begitu terpesona dengan ilmu hayat dan hendak melampaui kedukaan mendalam yang dialaminya. Frankenstein telah menjadi satu ikon budaya populer. Namun demikian, jangan-jangan kita hanya menikmati “catatan-catatan kaki” atasnya belaka, tanpa pernah benar-benar mencicipi “teks asli”-nya? Bukankah jika demikian halnya, takaran literasi kita tidak lain dari seorang yang demikian menggemari caffè latte tanpa pernah menyecap betapa segarnya secangkir kopi tubruk. Betul, tidak ada yang salah dengan selera. Namun, setidak-tidaknya, atas nama pengalaman dan pengetahuan, baiklah untuk mengenal akar orisinalnya. Sampai di sini, rasanya kita perlu mengenal Frankenstein sebagai teks yang menyimpan lapis-lapis kerumitan, baik dari aspek biografis, sosiologis hingga filosofis. Pun, dari segi naratif yang diusungnya.

Mary Shelley menulis Frankenstein tidak sekali jadi. Menariknya, cerita awal bagaimana Frankenstein ditulis masih ada hubungannya dengan peristiwa alam yang terjadi di Nusantara. Saya tidak membual. Pada saat itu, Eropa sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Letusan gunung api Tambora pada April 1815 di Hindia Belanda—saat ini Indonesia—yang memuntahkan abu vulkanik dahsyat membuat hari-hari pada 1816 di Eropa, Asia, hingga sebagian Amerika Utara berlalu tanpa musim panas. Aliran Sungai Yangtze meluap. Salju berwarna merah pun turun di Italia. Bencana kelaparan menyapu wilayah Moskow hingga ke New York, berkat udara dingin yang membekukan biji-bijian dan membuat jagung menjadi layu.

Mary Godwin Wollstonecraft—nama gadis Mary Shelley—bersama kekasihnya, penyair Percy Bysshe Shelley yang sudah beristri, berlibur ke Eropa. Percy Shelley sendiri adalah kenalan baik ayahnya, seorang jurnalis dan pemikir dalam bidang politik, William Godwin (1756—1836). Keduanya kemudian disponsori oleh George Gordon Byron, seorang penyair Inggris sekaligus tokoh besar di Era Romantik. George Gordon Byron ini lebih dikenal di dunia sastra sebagai Lord Byron. Lord Byron sendiri merupakan kawan baik dari Percy Shelley—kekasih Mary, selain menaruh minat hubungan asmara pada Claire Jane Clairmont yang adalah saudara tiri Mary Shelley. Sesungguhnya, Mary Wollstonecraft, Percy Shelley, dan Lord Byron adalah nama-nama yang mengundang kasak-kusuk tidak sedap, bahkan ada yang menyebut kelompok ini dengan Liga Inses (the League of Incest)

Mary memilih untuk mempertahankan cintanya pada Percy Shelley. Hubungan cinta terlarang ini juga membuat Mary melahirkan bayi perempuan prematur. Sayangnya, bayi tersebut meninggal hanya dalam usia beberapa minggu. Keputusan Mary ini membuat William Godwin berang, sehingga keduanya lari ke Eropa daratan demi mempertahankan cintanya. Dengan demikian, retaklah hubungan ayah dan putri antara William dan Mary. Percy dan Mary kemudian menikah setelah kematian istri Percy, pada akhir 1816.

Hubungan Mary dengan ayah dan ibu kandungnya sendiri tidak kalah ruwet dan berbelit-belit, dalam kadar dan arti yang tertentu. Mary Shelley memang tidak terlahir dalam keluarga yang biasa-biasa saja. Ibunya, Mary Wollstonecraft, bukan orang sembarangan. Mary Wollstonecraft (1759—1797) adalah pemikir perempuan yang dikenal sebagai pionir feminisme. Karya Wollstonecraft, A Vindication of the Rights of Woman (1792) mengungkapkan argumentasi bahwa kaum perempuan secara tidaklah secara alami memiliki derajat alamiah lebih rendah dari kaum laki-laki. Sayangnya, Mary Wollstonecraft meninggal dunia sebelas hari setelah melahirkan putrinya akibat infeksi pascamelahirkan. Peristiwa ini ternyata menjadi beban psikologis yang ditanggung Mary Shelley sepanjang hayatnya, seolah-olah kelahirannya adalah penyebab utama kematian sang ibu.

Setelah kepergian istrinya, William Godwin membuat kesalahan fatal. Dengan niat memberi penghormatan, ia menerbitkan sebuah memoar yang justru secara blak-blakan mengungkap aib Mary Wollstonecraft. Godwin mengungkap bahwa mendiang istrinya telah memiliki anak dari hubungan di luar pernikahan. Godwin sendiri membesarkannya bersama dengan Mary Shelley. Ironisnya, ia meninggal setelah dengan sadar menenggak laudanum (opium) dalam jumlah besar. Saudari tiri Mary meninggalkan surat dan di dalamnya tertulis bahwa inilah satu-satunya cara agar ia mampu mengakhir kisah hidupnya yang penuh kesialan. Sebagai anak tiri yang lahir di luar pernikahan dan dibesarkan oleh ayah tirinya, ia selalu merasa sebagai orang asing dalam kehidupan keluarga yang membesarkannya sendiri. Belum lagi, kenyataan bahwa ibu kandungnya meninggal saat melahirkan adik tirinya. Situasi ini sangat memukul dan membebani perasaan Mary Shelley.

Segala persoalan itu—aib ibunya, hubungan yang retak dengan ayahnya, perselingkuhannya dengan Percy Shelley, serta kehilangan orang-orang yang dikasihinya—membuat Mary merasa terbuang dari lingkungannya. Belum lagi, hujatan yang diterima orang-orang yang cenderung konservatif. Kematian, pengucilan sosial, dan relasi yang retak membentuk lanskap batin Mary muda. Dalam pusaran pengalaman inilah Frankenstein lahir. Kisah tentang pencipta yang menolak ciptaannya, tentang makhluk yang terbuang dan tanpa nama, bukan sekadar fantasi gotik, melainkan gema dari pengalaman kehilangan, rasa bersalah, dan keterasingan yang begitu nyata dalam hidup pengarangnya.

Anonimitas dan kontroversi

Kembali lagi ke proses kreatif Frankenstein. Di tengah liburan yang dikepung oleh cuaca badai dan bunyi petir di sana-sini, kelompok kecil ini memang membicarakan kisah-kisah seram Jerman untuk mengisi waktu. Lord Byron menantang kelompok kecil yang disponsorinya untuk menulis cerita. Adalah Villa Diodati di Swis yang menjadi saksi proses kreatif kelompok ini. Mungkin, agak janggal untuk kita yang sudah terbiasa membuang-buang waktu atau menghabiskan liburan dengan berburu kuliner atau berkunjung ke tempat-tempat keriaan. Namun, kita harus ingat bahwa kelompok kecil ini terdiri dari sastrawan era romantik yang pilihan-pilihan hidupnya cukup eksentrik dan tidak terlalu selaras dengan pandangan orang kebanyakan. Salah satu orang yang hadir di dalam kelompok ini adalah dokter pribadi Lord Byron, John Polidori yang menulis draf cerita seram yang nantinya dikenal dengan judul “The Vampyre”. Kisah ini sendiri di kemudian hari dijadikan salah satu inspirasi Bram Stoker untuk menulis kisah Dracula (1897).

Mary mengawali draf kisahnya dengan satu kalimat penggambaran yang cukup menyeramkan: “Pada suatu malam November yang muram, ketika kusaksikan sosok itu telah genap mewujud dengan sempurna.” (It was on a dreary night of November that I beheld my man completed.) Begitu membaca draf halaman pertama kisah ini, Percy Shelley mendorong Mary untuk menulis karya yang lebih panjang, dari cerita pendek menjadi sebuah novel. Mary Shelley menggubah draf tersebut selama kurang lebih dua tahun. Pada Januari 1818, Shelley menerbitkan Frankenstein. Sayangnya, penjualan novel debut Shelley tersebut melempem, sehingga Mary Shelley disebutkan tidak menerima hak royalti sebagai penulis. Belum lagi, ada pula fakta yang menyingkap bahwa Frankenstein terbit secara anonim. Pembaca modern saat ini yang berselang dua abad setelah Frankenstein pertama kali terbit tentu menyelipkan pertanyaan besar tentang hal ini.

Ada beberapa hal yang layak mendapat perhatian terkait dengan “anonimitas” Frankenstein. Kita perlu mengingat fakta keras bahwa Frankenstein diterbitkan pada fajar abad ke-19 di Inggris. Mary Shelley adalah seorang perempuan, belum 20 tahun, yang memiliki kisah asmara penuh skandal dan berasal dari keluarga “ningrat” intelektual. Satu hal ini saja sudah memancing kecenderungan reaksi yang tidak mengenakkan dari masyarakat yang konservatif. Kita perlu juga menyadari bahwa nama “Nyonya Shelley” yang berasal dari nama suaminya, Percy Shelley, bukanlah nama yang sembarangan. Percy Shelley adalah nama besar era romantik. Percy memberi kata pengantar pada Frankenstein dan ini membuat pembaca awal yakin bahwa karya monumental tersebut ditulis oleh Percy, bukannya oleh Mary. Belum lagi, ide yang dibawanya dalam novelnya adalah sesuatu yang mengejutkan. Bagaimana caranya seorang ilmuwan yang terobsesi dan memiliki kerentanan psikologis menciptakan kehidupan baru? Apa jadinya jika moralitas—Tuhan dikalahkan oleh seorang ilmuwan ambisius—diobrak-abrik? Dalam masyarakat yang cenderung konservatif-religius, bukankah pertanyaan-pertanyaan di atas akan hadir untuk menghakimi si penulis dan karyanya secara habis-habisan?

Tepat pada titik inilah, anonimitas penulis menjadi benteng teguh yang bisa melindungi Shelley dari serangan-serangan masyarakat terhadap kewarasan mentalnya. Memang, Frankenstein sudah mengandung sekaligus mengundang kontroversi sedari mulanya. Namun demikian, kita tentu bisa mengajukan satu pertanyaan: jika demikian halnya, bagaimana Frankenstein bisa menjadi satu ikon budaya populer dan bahkan menobatkan Mary Shelley sebagai ibu dari kisah-kisah horor modern? Mary Shelley, mungkin berutang pada satu nama, Richard Brinsley Peake (1792—1847), seorang drawaman yang sangat produktif dari Inggris. Pada 1823, Peake menulis naskah drama berjudul Presumption; or, the Fate of Frankenstein yang merupakan adaptasi dan alih media dari Frankenstein. Peake berhasil memberikan wujud visual terhadap teks karya Shelley, sehingga pertunjukannya menjadi sangat populer. Imbasnya, Frankenstein dicetak ulang. Dalam suratnya kepada Leigh Hunt, Shelley menceritakan keterkejutannya. Mary baru saja pulang dari Italia untuk kemudian menemukan kenyataan bahwa dalam poster-poster pertunjukan tersebut tertera namanya. Satu pertanyaan mungkin bisa muncul: Bagaimana hal ini terjadi, padahal novel terbitan 1818 ditulis secara anonim?

Setidaknya, ada dua faktor utama yang membuat nama Mary Shelley bocor ke wawasan khalayak ramai. Pertama, terbitan 1818 didedikasikan penulisnya kepada William Godwin. Orang tentu saja mengarahkan dugaan kepada lingkaran dekat keluarga Godwin. Selain itu, Percy Shelley, yang memberi pengantar terbitan pertama dalam tiga volume itu, tidak jarang mempromosikan Frankenstein yang ditulis kekasih hatinya kepada lingkaran literasi di sekitarnya. Akibatnya, para kritikus dan sastrawan melirik pada sosok Mary Shelley. Kedua, Richard Brinsley Peake sendiri bukanlah orang baru dalam dunia teater. Ia juga memiliki akses pada lingkaran yang menyokong ekosistem teater London. Dengan mudah, tentu saja, Peake menggali informasi yang tidak diungkap ke publik terkait buku-buku yang populer pada masa itu. Ketika English Opera House mengetahui bahwa Peake sedang mengadaptasi drama dari Frankenstein, mereka memanfaatkan kontroversi dan daya tarik tersebut sebagai bagian dari taktik pemasaran, untuk mendongkrak popularitas pertunjukan Peake.

Situasi ini pula yang kemudian disambut oleh William Godwin. Ayah kandung Mary Shelley inilah yang kemudian memanfaatkan situasi ini dan menghubungi penerbit. Pada gilirannya, Godwin melihat situasi ini sebagai peluang untuk mengamankan hak cipta dan keuntungan finansial yang mengikuti kepopuleran Frankenstein. Pada terbitan 1823, Frankenstein diterbitkan menjadi dua jilid, seraya mencantumkan nama Mary Shelley sebagai penciptanya. Mary sendiri menulis: “Frankenstein menangguk kesuksesan di atas panggung… [Ayah] mengambil inisiatif untuk mencantumkan namaku sebagai pengarangnya… Aku melihat (poster) ‘Presumption; or the Fate of Frankenstein’ di dinding—dan namaku tertera di situ sebagai pengarangnya.” Menariknya, di poster asli pertunjukan Peake, nama Mary Shelley ditulis sebagai “Ny. Shelley”. Hal ini tentu saja merujuk pada kontroversi yang menyertai kehidupan Percy Shelley, sekaligus hendak secara sangkil dan mangkus menunjukkan kepada publik bahwa penulisnya adalah seorang perempuan. Kehidupan Mary Shelly memang “dilengkapi” oleh hubungan yang retak selain tanggung jawab yang gagal ditegakkan, sehingga Frankenstein tidak sekadar hadir dari kekosongan imajinatif. Frankenstein adalah pengalaman otentik Shelley sebagai seorang anak manusia yang telah mencecap kehilangan, pengabaian, dan hubungan yang tidak mungkin dipulihkan.

Prometheus modern

Sebagai sebuah teks, Frankenstein memang mampu secara luwes diadaptasi menjadi media yang lebih hidup daripada sekadar teks, seperti pentas teater dan film. Selain Peake, kita sudah menyinggung bagaimana budaya populer membentuk dan menghidupkan ulang Frankenstein. Namun sesungguhnya, dalam bentuk asalinya, apa yang hendak diwartakan oleh Mary Shelley melalui Frankenstein? Sebelum beranjak lebih jauh mengenai novelnya sendiri, rasanya layak untuk memberi perhatian pada sebuah detail yang menggambarkan keresahan dasar zaman ketika Mary Shelley hidup dan berkarya. Itu adalah sub judul yang berbunyi “…or, The Modern Prometheus”. Mereka yang cukup waktu mengakrabi mitologi Yunani tentu saja mampu menebak ke manakah arah wacana yang ditawarkan Mary Shelley dalam Frankenstein.

Prometheus adalah Titan yang dipercaya menciptakan manusia dari tanah liat, menurut mitologi Yunani kuno. Didorong rasa iba melihat ciptaannya hidup dalam kegelapan, ia memberanikan diri mencuri api dari Gunung Olympus untuk diberikan kepada manusia. Tindakan ini memicu kemurkaan Zeus, yang kemudian menghukumnya secara kejam, dengan merantai Prometheus di puncak Gunung Kaukasus. Setiap hari, seekor elang raksasa mencabik jantungnya yang selalu tumbuh kembali secara abadi. Prometheus dianggap sebagai simbol perkembangan peradaban, namun ia juga menjadi lambang tentang ambisi yang mendatangkan hukuman. Api yang dicurinya merupakan perlambangan pengetahuan dan teknologi yang membebaskan manusia dari penderitaan, meskipun tindakan itu menyebabkan penderitaan abadi pada dirinya sendiri.

Secara ringkas, inilah tesis yang diajukan oleh Mary Shelley melalui Frankenstein. Ia menampilkan seorang ilmuwan muda, Victor Frankenstein, yang begitu terpikat oleh kemajuan ilmu hayat, sekaligus terkungkung oleh kematian ibunda yang dicintainya. Di tengah ratapan kehilangan, ia memupuk ambisinya dalam bidang ilmu pengetahuan. Dari Jenewa, ia menempuh studi di Universitas Ingolstadt. Victor bekerja keras melalui studi tentang ilmu alam dan alkimia, lengkap dengan filsafat ilmu hayat. Ia melakukan penelitian tentang anatomi dan proses pembusukan pada makhluk hidup. Pada satu malam bulan November, setelah dua tahun penuh kerja keras, Victor berhasil memercikkan pijar nyawa ke dalam makhluk berupa potongan-potongan tubuh yang dikerjakan di loteng tempat tinggalnya. Di dalam teks, Mary Shelley tidak pernah menggambarkan mesin-mesin dalam laboratorium yang dialiri pendar-pendar cahaya petir untuk membangkitkan makhluk ciptaannya. Imaji tersebut muncul berkat imaji visual dari alih medium teks yang ditawarkan Shelley. Sebaliknya, alih-alih pendar kilatan yang menyilaukan mata dan spektakuler, Frankenstein justru bekerja dalam senyap dan berkanjang diri dalam kesunyian.

Masalah muncul, ketika Frankenstein sendiri merasa jijik terhadap makhluk yang diciptakannya sendiri. Shelley menggambarkan di dalam teks bagaimana Victor berusaha mengumpulkan “bahan-bahan” terbaik untuk membuat makhluk tersebut: rambut hitam yang berkilau, gigi seputih mutiara. Belum lagi, Victor membuat makhluk tersebut memiliki tubuh yang menjulang tinggi—sekitar 2,4 meter—dengan bentuk tubuh yang proporsional. Meskipun demikian, justru kengerian yang dialami oleh Victor ketika percikan kehidupan telah membangkitkan makhluk ciptaannya. Dalam teks, Mary Shelley menulis betapa “segala kemewahan raga itu justru membentuk kontras yang mengerikan, dengan matanya yang kusam berair, hampir sewarna dengan kelopak keputihan kotor tempatnya berada, parasnya yang kisut layu, pun bibirnya yang kehitaman dan berupa garis lurus.” Alih-alih menciptakan keindahan, usaha Victor justru berbuah kengerian. Bahkan, bagi dirinya sendiri makhluk tersebut adalah aib yang hanya patut disesali dan ditinggalkan. Ironisnya, sebagai seorang pencipta, Victor bahkan enggan memberikan nama atas makhluk yang diciptakannya.

Di sana-sini, dalam teksnya, Shelley menggunakan beragam kata ganti untuk menyebut makhluk yang diciptakan Victor. Secara objektif, untuk memenuhi aspek deskripsi yang menggambarkan kondisinya, Shelley menggunakan kata ganti “makhluk”, “ciptaan”, dan “si Jahanam”. Kata “makhluk” (the being) sendiri digunakan Victor pada masa-masa awal penciptaan, ketika masuk ke tahap perencanaan. Sementara itu, kata “ciptaan” (the creature) adalah sebutan paling umum yang digunakan di seluruh novel. “Si Jahanam” secara khusus digunakan Victor untuk menyebut makhluk ciptaannya dengan nuansa untuk menciptakan kengerian yang ditimbulkannya. Pada fase berikut, ketika makhluk ciptaannya menebar teror dalam kehidupannya, Victor menggunakan sebutan yang penuh kutuk, seperti “monster”, “iblis” (daemon), “setan” (fiend), “entitas menjijikkan” (abhorred entity), hingga “serangga hina” (vile insect).

Mary Shelley memang menggambarkan makhluk ciptaan Frankenstein ini memiliki kecerdasan, kemampuan belajar, hingga sisi emosional yang begitu puitis. Shelley juga dengan begitu cerdas menyelipkan istilah subtil dengan nada religius ketika makhluk tersebut mencandrakan dirinya sendiri. Adalah “Malaikat yang Terpuruk” (the fallen angel), merujuk Paradise Lost, puisi gubahan John Milton tentang kejatuhan Adam dan Hawa pada dosa yang berujung pada pengusiran keduanya dari Taman Eden. Kemudian, ada pula sebutan “Adam” ketika makhluk tersebut bertemu kembali dengan Victor di Pegunungan Alpen setelah masa penciptaan. Mary Shelley juga menyebut istilah “monster yang sengsara” (a miserable monster) yang digunakan oleh makhluk ciptaan Frankenstein pada dirinya sendiri untuk menegasakan penderitaan batin dan kengerian yang dialaminya sendiri. Dengan meniadakan nama bagi makhluk tersebut, Shelley ingin menggambarkan kesepian dan kesendirian yang mencekam, hingga pada level eksistensial. Keberadaan dirinya pun mendapatkan penolakan oleh penciptanya sendiri. Bahkan, nama yang secara sederhana menyimbolkan pengakuan akan kehadirannya pun tidak diberikan oleh sang pencipta.

Persis inilah yang hendak diungkapkan oleh Mary Shelley melalui Frankenstein. Dalam beberapa sumber biografis yang mengangkat sisi psikologis Shelley, para komentatornya memandang bahwa Frankenstein mengungkapkan sisi psikologis Shelley muda yang mengalami penolakan oleh ayahnya karena proses perkawinannya berada di luar norma umum, peminggiran oleh masyarakat karena pilihan hidupnya, kehilangan orang-orang yang dicintainya—ibu, anak, suami, hingga diabaikan oleh ayahnya sendiri—selain kesendiriannya sebagai perempuan yang dikelilingi oleh para lelaki jenius. Frankenstein adalah sebuah gugatan akan kewajiban moral-eksistensial. Victor enggan mengakui konsekuensinya sebagai seorang pencipta, seorang “ayah”—tanpa keberadaan sosok ibu, sebagaimana pula yang dialami oleh Mary Shelley muda—bagi makhluk ciptaannya sendiri! Persoalan tentang pengabaian kewajiban moral inilah yang dimanfaatkan Shelley untuk menjadi kanvas lukisannya atas kehidupan. Shelley secara cerdas menggunakan bingkai kisah horor untuk mengungkapkan kegelisahan jiwanya yang pada waktu itu berumur tidak lebih dari dua puluh tahun. Dan, sebagaimana kita tahu, Shelley berhasil dengan gemilang.

Keberhasilan Shelley ini rupa-rupanya menjadi fajar baru bagi kisah horor modern. Sebelum Frankenstein, fantasi kengerian selalu ditempatkan pada mistisisme, kutukan, atau roh-roh jahat yang datang dari luar diri seseorang. Shelley berhasil menggeser kompas penulisan cerita horor dan menempatkan sains dan ambisi ilmiah menjadi pusat dari sumber rasa ngeri dan ketakutan. Bahkan, lebih jauh lagi, Shelley berhasil meliuk-liuk ke dalam labirin psikologi manusia. Menariknya, hal ini dilakukan Shelley jauh sebelum Sigmund Freud (1856—1939)—bapak pendiri ilmu psikologi—membedah trauma dan rasa ngeri terhadap “yang asing” (the uncanny). Lewat Frankenstein, Shelley terlebih dulu melihat hubungan yang sedemikian toksik antara ambisi dan kehilangan, yang digambarkannya melalui hubungan yang terentang antara Victor dan monster ciptaannya. Kengerian yang ditawarkan Shelley tidak dihadirkan melalui kegelapan malam yang pekat, namun semata-mata dari persoalan psikologis yang tak pernah rampung.

Alpen dan Artik: dialektika tentang kehampaan

Pada akhirnya, pembaca Frankenstein akan digiring pada pertanyaan dialektis: siapa sebenarnya yang menjadi monster? Namun sebelum sampai ke sana, layaklah kita menelisik terlebih dahulu makna kata “monster” itu sendiri. Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Latin monstrum, yang berakar pada kata kerja monere, “memperingatkan” atau “menasihati”. Dalam pengertian awalnya, monstrum bukanlah makhluk seram, melainkan sebuah “tanda” atau “pertanda” yang dikirim para dewa sebagai peringatan atas penyimpangan moral atau kosmik. Baru kemudian, dalam perkembangan bahasa Latin dan Prancis Kuno (monstre), maknanya bergeser menjadi kelahiran ganjil atau makhluk abnormal yang menyimpang dari keteraturan alam. Dengan demikian, sejak awal, “monster” sesungguhnya adalah sesuatu yang menunjukkan—yang menegur—yang memperingatkan. Jika demikian halnya, maka dalam kerangka ini, makhluk ciptaan Victor bukan sekadar sosok mengerikan, melainkan sebuah peringatan yang hidup atas ambisi yang kelewat batas.

Shelley membangun dialektika filosofis dengan nada eksistensial ini dengan bingkai dua peristiwa. Peristiwa pertama terjadi di Pegunungan Alpen ketika si Monster menceritakan perjalanan setelah Victor mengabaikannya. Pada bagian ini, kepada para pembacanya, Shelley menyematkan puja-puji terhadap kemegahan alam Pegunungan Alpen yang menawan. Berlatar hamparan es Mer de Glace, si Monster berkisah bagaimana dia belajar berbahasa, mencicipi beberapa buku sastra, hingga mempelajari sifat-sifat dasar manusia yang diamatinya. Si Monster bukan lagi sekadar makhluk berdaging dan bernyawa yang mengerikan dan buruk rupa. Ia telah mengalami transformasi sebagai subjek yang mencoba meraih aras “manusiawi”. Si Monster menyadari siapa dirinya, keterpurukannya, dan hal apa yang paling dibutuhkannya untuk melanjutkan hidup. Dalam kisahnya, pembaca yang sensitif tentu akan dengan mudah menangkap kengerian yang dialami oleh si Monster: pengabaian yang berujung pada kesepian eksistensial. Maka, sebagai penawar bagi keterpurukannya, si Monster memohon kepada Victor untuk menciptakan seorang teman yang sejenis dengannya. Permintaan ini dengan terpaksa dituruti oleh Victor, meskipun hatinya dihinggapi rasa ngeri yang tak terperikan.

 Menimbang kengerian yang bakal terjadi, Victor pada akhirnya tidak bisa mengabulkan permintaan si Monster, meskipun hal ini berujung pada kehilangan lebih banyak orang yang dicintainya di tangan si Monster. Inilah yang membuat Victor merasakan dendam kesumat dan melakukan pengejaran hingga ke daratan Arktik yang dingin di bagian Bumi paling utara. Pengejaran ini membuat jiwa dan raga Victor habis-habisan. Victor yang sekarat pada akhirnya bertemu dengan Robert Walton, seorang kapten kapal yang berambisi menemukan rute pelayaran baru menuju Samudra Atlantik dan mengungkap misteri tentang magnet bumi. Kepada Kapten Walton, Frankenstein mengungkapkan kisah yang mengerikan ini. Bahkan, detik-detik akhir kehidupannya pun disaksikan oleh Walton. Begitu Victor meninggal, si Monster mendatangi kapal Walton dan di hadapan jasad penciptanya si Monster tanpa nama menceritakan segala yang dialaminya. Pada akhirnya, si Monster mengungkapkan perasaan yang begitu penuh gejolak. Ia mencecap kegembiraan demi melihat kematian Victor, sekaligus kesedihan yang teramat sangat karena melihat kepergian penciptanya dan harapan untuk mendapatkan teman yang tak kesampaian. Si Monster pergi, memeluk kehampaan Kutub Utara dalam kesendirian yang dingin. Pada akhirnya, ia menyadari betapa nyala amarah besar yang ada dalam dirinya akan sirna dalam kematiannya sendiri.

Begitu menyelesaikan bagian terakhir Frankenstein, Shelley seolah-olah dengan sengaja membawa para pembacanya untuk menepi dalam sunyi, sebagaimana latar lautan Arktik di akhir pengisahan. Kepada kita, Shelley mengajukan pertanyaan abadi: Apakah artinya menjadi manusia? Apakah yang membedakan antara monster dan manusia? Bukankah di dalam diri kita selalu terdapat “monster” yang tak kita sadari? Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, Shelley mengantar kita pada satu gagasan, bahwa cinta kasih dan tanggung jawab tak dapat dipisah. Dua hal inilah yang kiranya membuat kata “manusia” memiliki arti yang sedemikian sublim.

Tetap relevan di zaman akal imitasi

Setiap orang tentu memiliki hasrat, atau kebutuhan, untuk mendapatkan cinta, kasih sayang, dan perhatian. Jika kebutuhan tersebut bisa terpenuhi, ia akan tumbuh pula menjadi pribadi yang memiliki belas kasih. Sebab, dengan belas kasih itulah dunia yang semakin manusiawi memiliki kemungkinan sangat besar untuk terwujud. Di dalam Frankenstein, Shelley menggambarkan bagaimana ketidakmampuan Victor sebagai pencipta si Monster memenuhi kewajibannya. Ambisi dan pengetahuan yang mumpuni saja rupa-rupanya tidak mencukupi untuk membuat dunia menjadi lebih manusiawi. Cinta kasih dan kepedulian ternyata menjadi fundamental sebagai fondasi etis yang bisa kita pikul demi menjadi semakin manusia. Inilah kegagalan yang ditampakkan melalui Frankenstein, sehingga pembaca bisa melihat betapa Victor adalah refleksi simetris si Monster, karena kegagalan keduanya untuk mengemban tugasnya, menerima dan mengampuni satu sama lain sebagai subjek yang layak dikasihi.

Dua puluh lima tahun sudah terentang sejak saya bertemu Mas Franky alias Giovanni. Jika monster ciptaan Victor mengalami guncangan eksistensial karena pengabaian dan alpanya nama, Giovanni justru sebaliknya. Kami menyematkan “nama baru” berdasarkan penampakan fisiknya. Kami, teman-temannya, juga mengalami hal yang kurang lebih sama. Masalahnya, tidak semua orang bisa dengan cepat berdamai dengan pelabelan seperti ini. Hingga sekarang, kami masih saling memanggil satu sama lain dengan julukan yang muncul sejak SMA itu. Secara umum, kami merasa justru itulah bentuk perhatian, kepedulian, dan kedekatan hubungan. Kami seangkatan pernah memiliki dinamika, rasa persahabatan, hingga meraih cita-cita yang sama di SMA. Dan, itu bergaung hingga sekarang dalam jalan hidup kami sendiri-sendiri.

Kini, saya sudah menjadi seorang ayah dengan satu putri. Membaca kembali Frankenstein membuat diri saya menyadari bahwa saya adalah kreator bagi kehidupan putri saya. Sebagai seorang bapak, secara naluriah, ia akan menjaga dan merawat kehidupan anaknya sebaik-baiknya. Kadang-kadang, hal ini juga membuat resah. Situasi dunia yang semakin modern, dengan kecanggihan teknologi yang dilekati ambisi—media sosial, telepon pintar, akal imitasi (AI), dan entah apa lagi nantinya—bisa menipiskan lapis-lapis kemanusiaan zaman ini. Sebagaimana Victor, Sang Prometheus Modern, manusia zaman ini bisa jadi menciptakan “monster” yang bakal berkembang di luar kesiapan etis kita. Jika demikian perkaranya, ini bukan lagi soal kemampuan manusia untuk mereka-cipta, namun ada pada kemampuan manusia untuk memikul konsekuensi etis atas tindakannya sendiri. Pada titik inilah, Frankenstein yang ditulis Mary Shelley lebih dari seabad lalu justru menemukan lagi relevansinya. Dan, mungkin justru karena ini semua Frankenstein masih layak dibaca, juga ditafsir dan diproduksi kembali. Mungkin, itulah sebabnya Frankenstein tidak pernah benar-benar mati. Bukan karena monster yang terus dihidupkan ulang,
melainkan karena kita terus menciptakan—dan terus belajar, atau malahan gagal belajar, menanggung beban etis atas apa yang kita ciptakan.

Jika Bibliobesties hendak membaca ulasan buku-buku lainnya, temukan di sini!