Of Mice and Men: Kisah Wong Cilik dan Hancurnya “Kita”

0
Share
Review Buku Of Mice and Men

Guys like us got no fambly. They make a little stake an’ then they blow it in. They ain’t got nobody in the worl’ that gives a hoot in hell about ’em—

—John Steinbeck, Of Mice and Men

Satu ujaran menarik pernah saya dengar: “Jika kamu mau mengenal suatu bangsa, lihatlah orang-orang di pasarnya.” Saya lupa pernah mendengar atau membaca kalimat itu di mana dan kapan. Pasar yang dirujuk oleh ungkapan ini tentu saja pasar tradisional, yang bisa dilihat sebagai miniatur sosiologis sebuah bangsa. Di sana, kita bisa melihat kebiasaan sehari-hari, interaksi sosial, lapis-lapis kelas ekonomi, hingga kejujuran—dan ketidakjujuran. Temperamen orang-orang yang melakukan transaksi ekonomi di pasar tradisional juga menarik untuk diamati. Ada bangsa yang dikenal tenang. Ada pula yang dikenal meledak-ledak.

Tidak jauh dari tempat saya tinggal, ada sebuah jalan yang membelah lapangan sepak bola dan masjid. Di jalan yang hanya sepanjang lima puluh meteran itu, ada pasar tumpah setiap akhir pekan. Setelah olahraga pagi, saya cukup sering mampir ke pasar itu untuk membeli bahan makanan. Menariknya, saya menemukan cukup banyak orang sepuh yang berjualan hasil kebun mereka sendiri. Mereka menggelar dagangan begitu saja, cukup beralaskan karung bagor. Tentu saja, mereka tidak mengenal jurus-jurus pemasaran atau moda-moda pembayaran canggih. Apa yang mereka lakukan sederhana saja. Mereka membawa hasil kebun, menumpuknya di keranjang bambu yang dipasang di boncengan sepeda ontel, menunggu peminat datang, lalu menerima pembayaran kontan. Semua tahapan berjualan ini berlangsung dalam sunyi: kebisuan.

Sindhunata, dalam Ratu Adil: Ramalan Jayabaya & Sejarah Perlawanan Wong Cilik, menulis dengan tegas siapa itu wong cilik: ia adalah subjek yang bisu. Rumusan ini mengganggu pikiran. Bukankah subjek seharusnya memiliki suara? Bukankah subjek adalah ia yang dapat berkata “aku”, menyatakan kehendak, dan ikut menentukan arah hidupnya sendiri? Jika ada yang lebih mudah kita bayangkan sebagai bisu, barangkali itu justru objek: sesuatu yang dikenai tindakan, dipindahkan, dinilai, dipakai, atau disingkirkan. Namun, justru di situlah ketajaman rumusan Sindhunata. Wong cilik tetaplah subjek karena ia hidup, bekerja, berharap, takut, dan bermimpi. Tetapi, ia menjadi bisu karena dunia di sekitarnya tidak sungguh memberi ruang bagi suaranya untuk didengar.

George dan Lennie dalam pusaran malaise

Dalam situasi kebatinan yang demikian, saya membaca Of Mice and Men (1937), karya John Steinbeck. Pasangan utama novela ini, George Milton dan Lennie Small, tentu bukan wong cilik dalam alam pikir orang Jawa per se. Keduanya adalah buruh migran di California yang berpindah dari satu lahan pertanian-peternakan (ranch) ke tempat kerja lain. Steinbeck menempatkan kisah mereka di sekitar Soledad, wilayah agraris yang subur, tetapi kesuburan tanah itu justru berhadapan secara kontras dengan nasib para buruh miskin yang bekerja di sana.

George dan Lennie diperkenalkan sebagai sepasang buruh yang sedang mencari pekerjaan baru setelah melarikan diri dari Weed. Mereka baru saja tertimpa masalah karena Lennie membuat seorang perempuan bergaun sutra merah ketakutan. Saking takutnya, perempuan muda itu menjerit, sehingga buruh tani mengira Lennie melecehkannya. Lennie diburu, sehingga menyeret George ke dalam pelarian. Setelah bersembunyi hingga malam, keduanya melanjutkan perjalanan dan tiba di sebuah area terbuka dekat Sungai Salinas, beberapa kilometer di utara Soledad.

Latar sosial novela ini tidak bisa dilepaskan dari Amerika Serikat setelah Great Depression. Ambruknya Wall Street pada 1929 mengguncang ekonomi, membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan, dan memaksa banyak orang bertahan hidup dari hari ke hari. Pada masa yang sama, bencana Dust Bowl memperparah keadaan: kekeringan dan badai debu membuat banyak keluarga petani kehilangan lahan dan bergerak ke Barat, termasuk California, untuk mencari harapan. Steinbeck kemudian merefleksikan persoalan migrasi keluarga petani ini secara lebih luas dalam The Grapes of Wrath (1939).

Namun, George dan Lennie mewakili bentuk ketercerabutan yang sedikit berbeda. Mereka bukan keluarga petani Dust Bowl, melainkan buruh ranch keliling: laki-laki yang berpindah dari satu tempat kerja ke tempat kerja lain, hidup dari upah sementara, dan nyaris tanpa ikatan sosial yang tetap. Lembah Salinas memang kampung halaman Steinbeck, tetapi dalam Of Mice and Men, wilayah itu bukan sekadar lanskap subur. Ia adalah dunia kerja agraris yang keras, tempat para buruh tinggal di barak, bekerja dengan upah rendah, dan hampir mustahil membangun rumah, keluarga, serta masa depan yang stabil. Jika menilik latar sejarah dan masyarakatnya, Steinbeck ingin menawarkan kisah ironi: tanah yang subur, justru ditinggali oleh manusia-manusia yang rentan dan tercabut dari akarnya.

Manusia-manusia kesepian

George dan Lennie yang datang berdua ke sebuah ranch bukan hal yang lazim. Para pekerja di lahan semacam itu umumnya hidup dalam kesendirian. Mereka harus berpindah, mengikuti perubahan musim panen, demi mendapatkan penghasilan. Secara umum, para buruh tani migran ini pergi sendiri-sendiri. Pekerjaan musiman yang berlangsung sementara waktu membuat ikatan sosial menjadi rapuh. Akibatnya, para buruh tersebut harus memutuskan ikatan dengan rumah atau tempat mereka berasal. Para buruh migran seperti George dan Lennie hanya memiliki barak pekerja (bunkhouse) sebagai tempat singgah.

Faktor lain yang membuat kehidupan buruh migran sepi adalah mobilitas dan upah kerja yang rendah. Mereka selalu terlibat dalam relasi kerja yang mekanistis: datang, bekerja, menerima upah, lalu tidak lama kemudian pergi. Barak pekerja jelas bukan “rumah”. Di sana, tidak ada kenyamanan dan kehangatan. Barak itu tidak lebih dari tempat untuk mengistirahatkan tubuh-tubuh yang bergelut dengan kerja kasar. Memang, mereka tidur dalam satu barak, bekerja di lahan yang sama, dan sama-sama makan dari dapur pekerja. Namun, mereka bukan satu unit sosial dengan ikatan yang sama. Meskipun hidup bersama, pada akarnya mereka tetap terserak-serak.

Dengan latar belakang seperti ini, kebersamaan George dan Lennie adalah kejanggalan. George dan Lennie datang bersama, bahkan lari dari tempat kerja sebelumnya bersama-sama. Tidak hanya itu, George dan Lennie memiliki impian bersama: “Someday—we’re gonna get the jack together and we’re gonna have a little house and a couple of acres an’ a cow and some pigs and—”. Kalimat George ini kemudian disambung oleh Lennie: “An’ live off the fatta the lan’.” (h. 16) George dan Lennie bermimpi untuk hidup dari tanah yang akan mereka beli sendiri. Apa yang mereka kerjakan sebagai buruh tani keliling diarahkan untuk memenuhi mimpi tersebut. Mereka membayangkan suatu saat nanti memiliki rumah kecil, sebidang tanah, seekor sapi, dan beberapa ekor babi. Juga—seperti yang selalu diimpikan Lennie—beberapa ekor kelinci. Impian ini sebenarnya sederhana saja dalam konteks kehidupan buruh migran pada masa itu.

Masalahnya, untuk meraih impian yang tidak muluk-muluk itu, George dan Lennie harus bahu-membahu bekerja keras di dunia ranch yang tidak selalu manusiawi. Mereka harus berhadapan dengan sistem kerja yang membuat kebersamaan mereka tampak janggal. Kejanggalan itu bahkan disadari oleh George sendiri. Dalam dunia yang dibangun oleh kesendirian, ia berkata kepada Lennie, “Guys like us, that work on ranches, are the loneliest guys in the world. They got no family. They don’t belong no place.” (h. 15) Demikian kata George kepada Lennie, ketika mereka meributkan tikus mati yang disimpan di kantong Lennie. Hidup sebagai buruh ranch keliling membuat mereka nyaris selalu berada dalam sepi. Kesepian yang dipotret Steinbeck ini bukan melulu persoalan psikologis. Lebih dari itu, kesepian yang ingin diungkapkan di sini adalah kesepian struktural.

Kesepian dalam Of Mice and Men hadir akibat sistem kerja yang membuat para buruh tercerabut dari akar mereka. Para buruh yang datang ke lahan itu tidak lebih dari tenaga sementara yang menjual kekuatan tubuhnya. Kesementaraan inilah yang membuat hubungan antarmanusia yang mendalam dan sewajarnya menjadi sulit tumbuh. Jika melihat lebih detail apa yang diungkapkan George kepada Lennie, pilihan frasa “guys like us” mencerminkan golongan mereka. Para buruh dalam novela ini sesungguhnya tetap manusia biasa yang membutuhkan hubungan sosial yang sewajarnya. Steinbeck menggambarkan itu dalam hubungan antara George dan Lennie. Meskipun demikian, hubungan manusia yang sewajarnya pun menjadi janggal. Pola kerja yang berpindah-pindah menghasilkan golongan yang pada akhirnya mengalami kesepian secara struktural.

Namun demikian, George dan Lennie bukan tokoh satu-satunya yang rentan masuk ke dalam persoalan ini. Crooks, misalnya, adalah buruh kulit hitam yang terpisah dari kehidupan barak pekerja kulit putih. Kesepian ini diungkapkan Crooks kepada Lennie, yang tertarik mengunjungi ruangannya yang terpisah dan diterangi cahaya lampu. Crooks awalnya menolak Lennie karena ia sendiri disingkirkan atas dasar warna kulit. Namun, Crooks melihat “perbedaan” yang dimiliki Lennie, sehingga ia menakut-nakutinya dengan kemungkinan bahwa George tidak akan kembali. Hingga, pada akhirnya, Crooks berbicara soal kesendirian yang dialaminya: “A guy needs somebody—to be near him … A guy goes nuts if he ain’t got nobody. I tell ya, … I tell ya a guy gets too lonely an’ he gets sick.” (h. 72)

Di samping Crooks, Steinbeck menampilkan pula tokoh-tokoh lain yang mengalami kesepian dalam rupa berbeda. Candy, misalnya, adalah pekerja tua yang hidup bersama anjing tuanya. Kesepiannya bukan hanya kesepian seorang buruh yang kehilangan teman, melainkan juga kesepian seseorang yang mulai menyadari bahwa tubuhnya tidak lagi sepenuhnya berguna bagi sistem kerja. Anjing tua yang menemaninya selama bertahun-tahun menjadi bayangan masa depannya sendiri. Istri Curley mengalami bentuk kesepian yang lain. Ia sering berkeliling mencari percakapan dengan para buruh, tetapi kehadirannya lebih cepat dibaca sebagai gangguan, godaan, atau ancaman daripada sebagai suara manusia yang ingin didengar. Ia bahkan tidak diberi nama. Identitasnya melekat pada Curley, seolah-olah dirinya tidak cukup untuk hadir sebagai subjek yang utuh.

Sementara itu, Curley dan Carlson memperlihatkan wajah lain dari dunia ranch yang keras. Pada Curley, rasa tidak aman berubah menjadi agresi dan kecurigaan. Pada Carlson, dunia kerja tampil dalam bentuknya yang paling dingin: yang mengganggu harus segera disingkirkan. Dari sini, kesepian dalam Of Mice and Men bergerak menuju persoalan yang lebih keras, yaitu martabat tubuh pekerja. Sebab, di dunia ranch, manusia tidak hanya kesepian; ia juga terus-menerus dinilai dari daya guna tubuhnya.

Martabat tubuh pekerja dan logika kegunaan

Mari kita menyibak persoalan mendasar yang masih terkait dengan kesepian struktural, yaitu martabat tubuh para pekerja. Dalam dunia ranch yang tergambar pada Of Mice and Men, tokoh-tokoh sentral selalu muncul sebagai “tubuh yang bekerja”. Logika yang dipakai untuk mengukur tubuh tersebut adalah kekuatan fisik, kepatuhan, efektivitas, dan produktivitas. Dalam logika ranch ini, Steinbeck secara getir menggambarkan tubuh sebagai sesuatu yang bisa dipisahkan dari kedirian. Lebih buruk lagi, pada akhirnya, tubuh tidak lebih dari sarana tukar dalam hubungan kerja.

Lennie adalah tokoh paling kuat untuk menggambarkan paradoks logika ketubuhan. Dengan badannya yang besar dan kuat, Lennie sangat berharga bagi lahan pertanian-peternakan. Ia bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar dan berat dengan efektif. Walaupun begitu, ketidakmampuan Lennie mengontrol kekuatan tubuhnya sendiri menjadi sumber ketakutan dan kecurigaan. Maka, Lennie selalu memerlukan George untuk mengingatkannya agar menjauhi masalah.

Logika kegunaan yang melingkupi kondisi ranch yang brutal tercermin dalam situasi Candy dan anjingnya. Candy adalah buruh pertanian-peternakan yang sudah tua. Kondisi ini semakin berat karena ia kehilangan satu tangan dalam sebuah kecelakaan kerja. Candy memang masih dipekerjakan. Namun, ia tahu bahwa dalam hitungan kasar dunia ranch, kekuatan tubuhnya mungkin tinggal seperempat. Ia masih berguna, tetapi kegunaannya sudah dibaca sebagai sisa. Ironisnya, gambaran tentang Candy juga ditegaskan oleh nasib anjing tuanya yang malang.

Anjing tua milik Candy dirasa mengganggu karena berbau menyengat. Carlson, sesama buruh tani, mengungkapkan persoalan ini. Tidak berhenti di situ, Carlson bahkan menyarankan Candy untuk mengakhiri penderitaan anjing itu: “He ain’t no good to you, Candy. An’ he ain’t no good to himself.” (h. 45) Di mata Carlson, anjing tua itu tidak lebih dari gangguan. Namun, untuk Candy, anjing tua itu adalah teman. Candy sendiri menyadari bahwa anjing itu dipelihara sejak kecil. Meskipun begitu, Candy tidak berdaya mengoreksi usulan Carlson yang menganggap anjing tuanya sebagai pengganggu.

Carlson, yang mewakili logika produktivitas dalam ranch, menawarkan diri menggantikan Candy menyingkirkan anjing tua itu. Candy seolah tidak bisa menentang keinginan Carlson. Langkah ini kemudian disesali oleh Candy sendiri. Ia mengungkapkannya pada George, “I ought to of shot that dog myself, George. I shouldn’t ought to of let no stranger shoot my dog.” (h. 61) Untuk Candy, ada logika lain yang berkebalikan dari logika Carlson untuk dihidupi: logika ikatan.

Candy yang kehilangan sebelah tangannya karena kecelakaan kerja mendapat imbalan $250. Sekilas, uang ganti rugi bisa terbaca sebagai bentuk tanggung jawab dalam sistem kerja. Namun, jika membaca lebih dalam, ganti rugi itu justru secara telanjang menggambarkan dunia ranch memahami tubuh pekerja. Tangan yang putus dihitung sebagai kompensasi transaksional. Namun, yang tersisa dari Candy adalah kecemasan. Ia sadar bahwa sebagai pekerja tua dengan satu tangan pasti kalah cekatan dari pekerja lain.

Nasib Candy dan anjing tuanya adalah cara Steinbeck menggambarkan betapa kerasnya dunia kerja di ranch. Kekerasan tidak hadir dalam tindakan besar, tetapi justru dalam cara menilai tubuh dalam logika produktivitas. Inilah kekerasan yang telanjang sekaligus dingin. Pada akhirnya, Candy tidak hanya kehilangan anjing tuanya. Ia bahkan kehilangan kesempatan terakhir untuk membela makhluk yang selama ini menjadi kawannya.

Tentang impian

Candy menemukan pintu menuju impian George dan Lennie setelah kehilangan itu. Setelah anjing tuanya disingkirkan, ia mendengar percakapan George dan Lennie tentang rumah kecil, sebidang tanah, dan hidup yang tidak lagi bergantung pada belas kasihan pemilik ranch. Bagi George dan Lennie, impian itu sudah lama menjadi semacam cerita penghiburan. Namun, kehadiran Candy mengubah bobot impian itu. Candy bukan hanya ikut percaya; ia membawa sesuatu yang membuat impian tersebut tampak lebih dekat dengan kenyataan: uang kompensasi dari kecelakaan kerja yang dialaminya.

Di sinilah posisi Candy menjadi penting. Uang $250 yang sebelumnya menjadi tanda kehilangan tubuh kini berubah menjadi kemungkinan untuk membeli masa depan. Tubuhnya memang telah dikurangi oleh sistem kerja, tetapi dari kehilangan itu Candy mencoba membuka jalan keluar. Ia ingin ikut dalam rencana George dan Lennie, “S’pose I went in with you guys. Tha’s three hundred an’ fifty bucks I’d put in. I ain’t much good, but I could cook and tend the chickens and hoe the garden some.” (h. 59) Tawaran ini dibuat Candy bukan atas dasar keserakahan, melainkan karena ia tahu bahwa dunia ranch tidak lagi menyediakan masa depan yang aman bagi tubuh tua seperti dirinya. Jika ia tetap tinggal dalam sistem kerja itu, ia hanya menunggu saat ketika dirinya dianggap tidak cukup berguna. Lalu, dengan mudah ia disingkirkan.

Dengan masuknya Candy, Steinbeck menulis bahwa sesuatu yang sebelumnya nyaris tidak sungguh mereka percayai kini terasa mulai menjadi kenyataan: “This thing they had never really believed in was coming true.”  (h. 60) Kalimat ini penting karena Steinbeck tidak menghancurkan impian kosong. Ia lebih dahulu membuat impian itu tampak mungkin, agar kehancurannya nanti terasa jauh lebih pahit.

Maka, impian George dan Lennie tentang tanah kecil tidak lagi menjadi impian dua orang saja. Ketika Candy masuk ke dalamnya, impian itu berubah menjadi ruang perlindungan bagi mereka yang tersisih: buruh migran yang kesepian, tubuh besar yang sulit dikendalikan, dan pekerja tua yang mulai kehilangan nilai guna. Impian itu menjadi lawan dari logika ranch. Jika dunia ranch menilai manusia dari kekuatan tubuh dan produktivitasnya, rumah kecil yang mereka bayangkan menawarkan kemungkinan lain: manusia dapat hidup bukan karena ia paling kuat atau paling berguna, melainkan karena ia menjadi bagian dari sebuah ikatan.

Itulah sebabnya impian dalam Of Mice and Men tidak bisa dibaca sebagai lamunan sentimental belaka. Impian itu adalah cara para tokoh kecil membayangkan martabat. Mereka ingin memiliki tempat yang tidak menjadikan tubuh semata-mata alat kerja. Mereka ingin bekerja untuk hidup mereka sendiri, bukan sekadar menjual tenaga kepada orang lain. Mereka ingin berhenti berpindah, berhenti dicurigai, dan berhenti menunggu hari ketika tubuh mereka tidak lagi dibutuhkan.

Bagi Lennie, impian itu mengambil bentuk yang sangat sederhana: kelinci. Ia ingin merawat sesuatu yang lembut. Dalam dunia yang keras, kasar, dan penuh ancaman, kelinci menjadi bayangan tentang kelembutan yang bisa disentuh tanpa rasa takut. Bagi George, impian itu adalah kemungkinan keluar dari siklus buruh migran: bekerja, menerima upah, menghabiskannya, lalu kembali menjadi orang yang tidak punya tempat. Bagi Candy, impian itu adalah perlindungan dari masa tua. Ia tidak ingin berakhir seperti anjingnya: disingkirkan ketika dianggap tidak lagi berguna.

Karena itu, impian tentang rumah kecil dan sebidang tanah adalah jantung moral novela ini. Ia mempertemukan orang-orang yang sama-sama terluka oleh dunia kerja, lalu memberi mereka bahasa untuk mengatakan bahwa hidup bisa disusun secara lain. Mereka tidak bermimpi menjadi kaya. Mereka hanya ingin memiliki tempat di mana suara mereka didengar, tubuh mereka tidak semata-mata dihitung, dan keberadaan mereka tidak bergantung pada ukuran produktivitas.

Takdir wong cilik

Saat Candy memutuskan untuk bergabung dengan George dan Lennie, peluang untuk keluar dari sistem tampak terbuka. George, Lennie, dan Candy tidak hanya bermimpi di siang bolong. Dengan usaha tambahan, mereka bertiga berani bermimpi. Mimpi mereka ini bukan pula tanpa pijakan. Mereka memiliki sebagian besar uang. Tanah dan rumah yang akan dibeli pun sudah tersedia. Mereka juga punya rencana untuk menjadikan impian mereka nyata. Namun, apakah impian mereka bertiga akan terwujud? Rupanya, Steinbeck menyajikan tragedi dan kepahitan untuk ketiganya.

Lennie menjadi pusat dari tragedi itu. Tubuhnya besar dan kuat, tetapi ia rapuh dalam memahami akibat dari tindakannya. Pembaca yang jeli akan melihat pola berulang yang dibangun Steinbeck sejak awal. Lennie selalu memiliki kebutuhan untuk menyentuh sesuatu yang lembut. Di Weed, ia membuat seorang perempuan ketakutan karena tidak melepaskan gaun lembut yang disentuhnya. Dalam pelarian, ia menyimpan tikus mati karena ingin membelai bulunya. Di ranch dekat Soledad, ia mendapat anak anjing yang bisa disentuh dan dirawat. Namun, karena ia tidak mampu mengendalikan kekuatan tubuhnya sendiri, kebutuhan akan kelembutan itu terus-menerus berakhir sebagai malapetaka.

Di sini, Steinbeck memperlihatkan ironi yang menyakitkan. Lennie menginginkan kelembutan karena dunia di sekitarnya terlalu keras. Namun, tubuhnya sendiri justru membuat kelembutan itu mudah rusak. Apa yang ia cari sebagai rasa aman berubah menjadi sumber bahaya. George selalu hadir sebagai pengingat. Ia mengatur, memperingatkan, dan menjaga Lennie agar tidak kembali terlibat masalah. George tahu bahwa di dunia ranch yang keras, tubuh Lennie akan lebih cepat dibaca sebagai ancaman daripada sebagai kerapuhan yang perlu dilindungi.

Kecemasan George makin besar karena dunia di sekitar mereka memang tidak memberi banyak ruang bagi kesalahan. Curley, anak pemilik ranch yang bertubuh kecil dan agresif, sejak awal tidak menyukai lelaki bertubuh besar seperti Lennie. Ia mudah curiga, cepat tersulut, dan selalu ingin menegaskan kuasanya. Maka, ketika tragedi terakhir terjadi, George memahami bahwa tidak ada lagi ruang aman bagi Lennie. Para pekerja akan memburunya. Curley akan menuntut pembalasan. Dunia ranch tidak akan melihat Lennie sebagai manusia rapuh yang tidak sepenuhnya memahami tindakannya, melainkan sebagai tubuh berbahaya yang harus dihentikan.

Bagian paling menyayat hati novela ini bukan hanya soal impian yang hancur-lebur. Di tepi Sungai Salinas, tempat novela ini berawal, George dan Lennie kembali berbicara tentang impian mereka. Rumah kecil, tanah, beternak sapi, babi, dan ayam, lalu ada kelinci permintaan Lennie muncul dalam percakapan itu. Lennie mendengarkan George, dalam suasana yang menenangkan batin. Lennie lagi-lagi mengalami malapetaka setelah secara tidak sengaja menyebabkan kematian istri Curley. Padahal, Lennie hanya ingin membelai rambut istri Curley yang lembut. Kecelakaan ini membuat Curley mengamuk dan mencari Lennie bersama dengan para pekerja lain untuk menuntut balas.

Dalam keadaan yang genting itu, George tidak membiarkan Lennie larut dalam rasa takut. Saat ditanya Lennie apakah ia marah, George hanya menjawab, “No, Lennie. I ain’t mad. I never been mad, an’ I ain’t now. That’s a thing I want ya to know.” (h. 104) Namun demikian, George mengalami pergolakan batin yang begitu pahit. Ia harus membuat pilihan dilematis. Pilihannya hanya dua, dan keduanya bukan pilihan bagus. George harus memutuskan apakah ia akan membiarkan Lennie jatuh ke tangan Curley dan para pekerja yang memburunya. Atau, ia sendiri yang harus mengakhiri penderitaan Lennie dengan tangannya sendiri. Dan, George tidak ingin mengulang “kesalahan” Candy. George mengakhiri semuanya sendiri.

Memahami artinya “kita”

Pada mulanya, Of Mice and Men diberi judul Something That Happened: sesuatu yang terjadi. Judul itu terasa dingin. Seolah-olah, tragedi George dan Lennie bukan akibat satu tokoh jahat, melainkan rangkaian peristiwa yang bergerak tanpa belas kasihan. Namun, judul akhirnya—yang diambil dari puisi Robert Burns—memberi gema yang lebih pahit. Rencana terbaik tikus dan manusia bisa melenceng, bahkan hancur, justru ketika terasa paling dekat dengan kenyataan. Steinbeck menggemakan dua baris puisi Burns: The best-laid schemes o’ mice an’ men / Gang aft agley yang terasa tepat menggambarkan novela ini.

Di sinilah akhir Of Mice and Men menjadi begitu menyayat. Yang remuk bukan hanya impian tentang rumah kecil, tanah, dan kelinci. Yang hancur adalah kata “kita”. Hubungan George dan Lennie tidak bisa dibaca satu arah, seolah-olah hanya Lennie yang bergantung pada George. Memang benar, Lennie membutuhkan George untuk berjalan, bekerja, berbicara dengan orang lain, dan menjauhi bahaya. Namun, George juga dibentuk oleh Lennie. Tanpa Lennie, George mungkin hanya akan menjadi buruh migran biasa: bekerja, menerima upah, menghabiskannya, lalu berpindah lagi. Lennie membuat George menjadi seseorang yang mengayomi, bertanggung jawab, dan masih mampu membayangkan hidup bersama di tengah dunia yang memaksa para buruh hidup sendiri-sendiri.

Maka, ketika Lennie tiada, George tidak hanya kehilangan sahabat yang selama ini ia jaga. Ia kehilangan orang yang membuat impian itu terus diucapkan. Ia kehilangan pendengar paling setia dari cerita tentang rumah kecil, tanah, dan kelinci. Ia kehilangan alasan untuk berkata “kita”. Sejak awal, George tahu bahwa orang-orang seperti mereka adalah orang-orang paling kesepian di dunia. Namun, selama Lennie berjalan di sisinya, George masih memiliki seseorang. Ia masih memiliki cerita bersama. Ia masih memiliki alasan untuk tidak sepenuhnya menjadi bagian dari kesepian itu. Kehilangan Lennie membuat George seperti ditarik kembali masuk ke sistem yang hampir saja ditinggalkannya.

Di titik inilah takdir wong cilik dalam novela ini terasa paling getir. Mereka bukan tidak bekerja. Mereka bukan tidak berusaha. Mereka bahkan bukan tidak bermimpi. Yang menghancurkan mereka adalah dunia yang terlalu sempit untuk menampung tubuh yang rapuh, suara yang kecil, dan impian yang sederhana. George dan Lennie hampir berhasil membayangkan hidup yang lain. Namun, seperti banyak wong cilik yang suaranya tidak cukup kuat untuk mengubah nasibnya, impian mereka akhirnya kembali dikalahkan oleh dunia yang lebih keras daripada mereka.

Barangkali, itulah sebabnya kisah George dan Lennie terasa begitu dekat. Nasib wong cilik tidak hanya tinggal di Amerika pada era Great Depression. Gemanya masih tampak pada para penjaja hasil kebun di pasar tumpah dekat rumah saya: tubuh-tubuh yang bekerja dalam sunyi, suara-suara kecil yang jarang masuk ke percakapan besar, dan impian sederhana untuk hidup dengan sedikit martabat.

Jika Bibliobesties hendak membaca ulasan lainnya temukan di sini.