
Menilik Jiwa Seni Wayang di Asia Tenggara Melalui Buku “A Life in Shadows” Karya Constantine Korsovitis
Dunia seni pertunjukan tradisional senantiasa menyimpan daya magis yang melintasi batas negara. Salah satu akar narasi tertua yang terus hidup di Asia Tenggara adalah teater bayangan, atau yang lebih akrab kita sebut sebagai seni wayang. Seorang fotografer asal Australia, Constantine Korsovitis, mempersembahkan sebuah karya visual berjudul A Life in Shadows: Shadow Theatre in Southeast Asia. Buku ini bukan sekadar rekaman lensa biasa, melainkan sebuah apresiasi dan refleksi mendalam terhadap kompleksitas kebudayaan dan dedikasi murni para pembuatnya.
Sejak tahun 1999, Korsovitis telah mengembara ke empat negara: Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Perjalanan panjang selama lebih dari dua dekade ini didorong oleh rasa cintanya yang mendalam pada dunia pewayangan. Menariknya, benang merah yang menyatukan tradisi teater bayangan di keempat negara ini adalah penggunaan epik Hindu, Ramayana dan Mahabharata, sebagai sumber utama penceritaan. Di balik perbedaan bahasa dan corak visual, esensi spiritualitas yang ditawarkan tetaplah sama.

Buku yang dirilis pada Oktober 2024 ini membedah dimensi pewayangan secara menyeluruh. Korsovitis tidak hanya menangkap kemegahan aksi sang dalang di balik kelir pertunjukan, tetapi juga menyoroti realitas kehidupan sehari-hari para seniman tradisional. Banyak dari para maestro ini menjalani kehidupan ganda; mereka adalah petani, nelayan, guru, atau buruh pabrik saat matahari terbit, dan bertransformasi menjadi penjaga malam yang menghidupkan karakter dewa-dewi ketika kegelapan tiba.
Seni teater bayangan menuntut keahlian yang luar biasa rumit. Seorang dalang harus mampu memahat karakternya sendiri, menguasai berbagai instrumen musik, menghafal teks panjang dalam bahasa jawa tempoe doeloe, hingga melantunkan macapat atau tembang suci selama berjam-jam. Bagi Korsovitis, wayang bukan sekadar hiburan visual yang memukau, melainkan sebuah kompas moral sekaligus peta jalan spiritual yang mengajarkan batasan antara kebajikan dan keburukan.
Melalui pendekatan personal yang intim, Korsovitis berhasil memotret sisi paling humanis dari para legenda, termasuk momen hangat mendiang Ki Manteb Soedharsono saat bermain dengan cucunya. Pendekatan inilah yang membuat setiap helai foto dalam buku ini terasa begitu bernyawa dan emosional.
Periplus mengajak kita sekalian untuk menyelami lebih dalam labirin pemikiran, tantangan, dan spiritualitas seni tradisi ini. Jangan lewatkan kesempatan berharga untuk hadir dalam agenda Book Talk eksklusif bersama Constantine Korsovitis. Mari duduk bersama, membedah helai demi helai kisah inspiratif di balik layar, dan memahami mengapa denyut nadi tradisi ini harus tetap dirawat di era modern.
