Voice To Care: Bela Rasa terhadap Anak-anak Penderita Kanker

0
Share
Voice to Care

Sebagai bentuk dukungan dan solidaritas pada perdamaian dunia serta anak-anak penderita/penyintas kanker, Periplus hendak mengadakan sebuah acara dengan tajuk Voice To Care: Bela Rasa terhadap Anak-anak Penderita Kanker. Secara khusus, kami mengundang Bibliobesties sekalian yang menaruh perhatian pada anak-anak pejuang kanker untuk menghadiri Voice To Care pada 16 Februari 2024, pukul 16.00-18.00 WIB di Hall Atrium, Grand Indonesia.

Kisah Sadako Sasaki

Sadako lahir di Hiroshima, Jepang, pada 7 Januari 1943. Ketika pasukan Sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, Sadako baru berumur dua tahun. Sadako kecil, kakak lelakinya, ayah, dan ibunya selamat dari bencana perang itu. Bahkan, Sadako kecil tidak menderita luka sama sekali. Setidaknya, itu yang tampak di mata penyintas lain.

Sadako tumbuh sebagai gadis kecil periang. Dia tidak mengalami gangguan fisik setelah peristiwa pengeboman di Hiroshima. Sadako menyukai olah raga atletik. Saat duduk di kelas lima, ia adalah pelari tercepat di kelasnya. Sadako mampu menempuh 50 m hanya dalam waktu 7,5 detik! Guru wali kelas Sadako mendaftarkan Sadako dalam tim lari estafet kelasnya untuk Festival Olah Raga Musim Gugur. Berkat kerja keras Sadako, kelas mereka mendapatkan juara pertama.

Malapetaka datang dalam kehidupan Sadako beberapa hari setelah perlombaan. Ia merasakan sakit kepala dan kelelahan yang sangat. Rupanya, Sadako terjangkit “penyakit bom atom” (bomb disease). Ia terkena dampak pengeboman Hiroshima saat masih berusia dua tahun. Di zaman modern, “penyakit bom atom” dikenal sebagai leukemia. Pada 1955, saat Sadako sakit, harapan hidup orang yang terjangkit leukemia sangatlah tipis.

Suatu kali, seorang perawat di rumah sakit membawa untaian origami bangau kertas. Menurut ayah Sadako, bangau yang adalah hewan suci di Jepang bisa hidup hingga seribu tahun. Jika seseorang yang sedang menderita penyakit membuat origami bangau kertas, ia bisa mendapat kesembuhan. Maka, orang Jepang jamak

Meskipun mengalami rasa sakit yang luar biasa, ia dengan tekun membuat seribu origami bangau kertas. Ia bahkan tidak pernah mengeluhkan rasa sakit yang dideritanya. Ia berharap ia bisa sembuh. Di rumah sakit itu, Sadako semakin dikenal sebagai pasien yang menyenangkan dan senang membantu pasien lain. Ia juga terkenal suka meminta kertas pada orang yang ditemuinya agar bisa membuat seribu origami bangau kertas.

Latar Belakang Acara

Sadako Sasaki adalah simbol dari harapan. Di tengah penderitaan akibat leukemia, ia masih berharap kesembuhan. Seribu bangau kertas yang dilipat oleh Sadako menjadi bukti betapa dirinya mencintai kehidupan.

Kisah kehidupan Sadako Sasaki dikisahkan dalam buku The Complete Story of Sadako Sasaki and the Thousand Paper Cranes (2020). Buku ini ditulis oleh Sue DiCicco, seorang ilustrator yang sempat bekerja di perusahaan animasi paling moncer sedunia, Disney. Selain itu, apa yang membuat buku The Complete Story of Sadako Sasaki sangat spesial adalah peran Masahiro Sasaki sebagai penulis rekan DiCicco. Masahiro Sasaki adalah kakak kandung Sadako Sasaki.

Apa yang tertuang dalam kisah hidup Sadako Sasaki adalah betapa jahatnya peperangan. Maka, kita patut belajar bagaimana mempertahankan kedamaian. Selain itu, kisah Sadako juga membuat kita belajar arti solidaritas. Kata “solidaritas” sendiri memiliki akar kata yang berarti “satu kesatuan” atau “tak terpisahkan.” Artinya, jika kita memiliki solidaritas dengan orang lain, khususnya mereka yang menderita, maka kita memiliki “ikatan perasaan” yang sama. Saat melihat orang lain yang menderita, kita juga bisa merasakannya. Harapannya, kita bisa meringankan penderitaan para penderita. Bagi, mereka yang menderita, pengertian dan ikatan perasaan inilah bahan bakar untuk menjalani hidup dengan lebih ringan. Atas kesadaran inilah, acara “Voice To Care: Bela Rasa terhadap Anak-anak Penderita Kanker”. Acara ini juga diselenggarakan bertepatan dengan Hari Kanker Sedunia yang jatuh pada Sabtu, 11 Februari 2024. 

Skema Acara

Voice To Care menghadirkan tiga inti acara, di antaranya sebagai berikut:

Pembacaan cerita Sadako Sasaki

Periplus, sebagai sebuah jenama toko buku yang menaruh perhatian pada literasi dan perkembangan rasa-intelektual generasi muda hendak mengapresiasi karya Sue DiCicco dan Masahiro Sasaki, The Complete Story of Sadako Sasaki and the Thousand Paper Cranes. Buku ini berkisah tentang perjuangan hidup Sadako Sasaki yang terpapar kanker berkat radiasi bom atom yang jatuh di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 semasa Perang Dunia II.

Sadako yang awalnya adalah gadis kecil periang dan sehat harus menjalani hari-harinya di rumah sakit karena penyakit kanker yang dideritanya. Meskipun Sadako tahu bahwa dirinya sakit, ia tetap berusaha tegar melawan penyakit dengan membuat origami bangau kertas. Bagi Sadako, bangau kertas adalah simbol keajaiban dan harapan bahwa suatu saat nanti ia akan sembuh dari penyakitnya.

Kelas origami

Meskipun dihadapkan pada penyakit yang mematikan, Sadako tidak menyerah untuk menyuarakan harapannya melalui kertas origami. Seribu bangau kertas yang dilipat oleh Sadako menjadi bukti betapa dirinya begitu mencintai kehidupan. Kisahnya yang mengharukan telah menjadi simbol harapan bagi umat manusia, terutama anak-anak penyintas kanker.

Terinspirasi dari kisah Sadako Sasaki, dalam kelas origami ini kami hendak mengajak para peserta untuk melipat kertas origami sebagai simbol harapan, kesembuhan, dan perdamaian. Melalui proses ini kita juga dapat memaknai dan merefleksikan perjuangan serta ketabahan Sadako Sasaki dalam menghadapi kanker. Seperti Sadako yang terus melipat bangau kertas meskipun dalam kondisi sakit, peserta kelas origami diajak untuk mengingat bahwa harapan dan kekuatan dapat ditemukan bahkan di tengah-tengah kesulitan terbesar.

Penampilan Paduan Suara Anak

Voice To Care sendiri adalah pementasan sekaligus puncak dari serangkaian program donasi: Fold to Care dan Shop to Care. Pada acara puncak ini kelompok paduan suara mengangkat kepedulian terhadap anak-anak penderita kanker.  Dengan menggabungkan keindahan seni suara dan semangat perjuangan melawan kanker, “Voice To Care” menjadi panggung yang memperkuat ikatan solidaritas dan kepedulian dalam menciptakan dunia yang lebih baik bagi anak-anak yang menderita kanker. 

Sebagai bagian dari program ini, paduan suara anak-anak akan menjadi pengingat bahwa pesona resonansi juga dapat menjadi sumber harapan dan kekuatan yang tak tergoyahkan dalam menghadapi cobaan kehidupan. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, kami menggandeng kelompok Paduan Suara Yakobus, Santa Ursula, dan Trust Chorus dari Trinitiy Youth Symphony Orchestra untuk bergabung dalam acara Voice To Care: Bela Rasa Terhadap Anak-anak Penderita Kanker. Harapannya,, melalui lagu-lagu yang dibawakan kita dapat  bersatu dalam satu irama menjadi simbol kebersamaan dalam setiap perjuangan. 

***

Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada pihak Grand Indonesia atas dukungan dan fasilitas yang telah disediakan demi terselenggaranya acara Voice To Care. Kehadiran Grand Indonesia sebagai mitra dalam upaya acara kemanusiaan ini merupakan contoh nyata dari komitmen mereka untuk mendukung kegiatan sosial yang berdampak positif bagi masyarakat. Kami berharap kerjasama ini tidak hanya menjadi awal dari kemitraan yang berkelanjutan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi orang lain untuk terlibat dalam upaya kemanusiaan dan perdamaian.