Berdamai dengan Kegagalan ala The Bezos Letter

0
Share

Amazon, awalnya adalah “ide gila” toko buku daring yang tidak diacuhkan banyak orang. Sewaktu Amazon dibangun pada tahun 1994, nama awalnya adalah Cadabra. Nama ini diambil dari diksi khas pesulap yang bisa menghadirkan segala sesuatu hanya dengan berkata, “Abracadabra!” Dari yang tidak ada menjadi ada. Kiranya itulah yang digagas oleh Jeff Bezos waktu itu. Namun, karena alasan etis, pengucapan cadabra yang sekilas terdengar seperti cadaver (baca: jenazah), Amazon menjadi pilihan yang lebih baik. Dan, berdamai dengan kegagalan dalam The Bezos Letter pun di mulai…

Transformasi

Perubahan tidak hanya soal nama, tetapi transformasi itu merambah ke seluruh penjuru gerakan Amazon. Visinya jelas dari logo yang dibuat, segala kebutuhan customer dari a to z akan terpenuhi melalui Amazon. Maka, toko buku online yang awalnya disepelekan orang waktu itu, kini menjadi Earth’s Biggest Bookstore dan Mega E-Commerce. Bahkan, Amazon Prime dan juga cloud Amazon Web Service membuatnya masuk dalam the big five perusahaan teknologi internasional setelah Microsoft, Google, Apple, dan Facebook.

Siapa sangka, nama besar yang diemban itu tidak seperti japa mantra pesulap di atas! Untuk bisa menjadi pilihan utama pelanggan atas kebutuhan a to z-nya, Amazon harus melewati alfabet lain dan tak jarang kembali ke a lagi, lagi, dan lagi. Justru karena mampu melalui alfabet demi alfabet itu, Amazon akhirnya mengerti makna a to z yang sesungguhnya. Bezos merangkum refleksinya begini, Nobody likes failure of course, but if you don’t fail it means you don’t take risks – which is essential for growth.

The Bezos Letter: Berdamai dengan Kegagalan

Nah, kali ini, Perimin mau berbagi mengenai insights yang didapatkan dari buku berjudul, The Bezos Letter: 14 Principles to Grow Your Business Like Amazon. Dari judulnya saja sudah terlihat arah dan tujuan buku ini dikarang oleh Steve Anderson. Utamanya adalah soal membangun dunia bisnis, namun ternyata kita juga bisa membangun hidup kita ini bak proyek bisnis di dunia.

Bab pertama buku ini adalah bagian yang sangat menarik­­­­­–paling tidak buat Perimin. Encourage “Successful Failure”. Kegagalan yang berhasil. Pertanyaan nakalnya, “Bukankah kegagalan adalah awal dari kegagalan berikutnya?” Jawabannya, “Bukan!” Bezos mengamini quotes buku tulis merk SiDu, kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Yang dibutuhkan adalah keberanian dan kesetiaan untuk terus berproses dan berinovasi.

Bezos mengatakan soal tentang kuat untuk berjuang. Kita diajak untuk terus berkarya dan tidak putus asa untuk mencipta, bahkan ketika itu adalah ide gila. Ia selalu mengajak ketika gagal, kita harus mengingat dan kembali ke hari pertama (Day 1). Alasannya, hari pertama ini adalah ketika semangat inovasi dan usaha kita sangat menggebu-gebu membangun cita-cita dan asa di masa depan. Maka, ketika putus asa, irrelevansi, penurunan yang menyiksa, bahkan kematian; kembalilah ke Day 1 untuk berdamai dengan kegagalan.

Bezos adalah orang yang sangat setia menulis surat bagi investor dan karyawannya. Tulisannya segar dan lugas, pas banget dijadikan support system kita. Nah, berikut ini beberapa quotes yang jadi tonggak untuk berdamai dengan kegagalan kita.

In short, success failure is what you learn from failure and how you apply what you’ve learned, and makes all the difference.

Menurut Perimin, kegagalan adalah kawan akrab dalam hidup kita. Ia bagaikan mobil-mobilan yang kita tali lalu kita bawa lari ke mana saja, pasti mengikuti. Bisa jadi juga, tumit kita terkadang tertabrak oleh mobil-mobilan itu. Dari situ, akhirnya justru kita belajar untuk mengulur tali lebih panjang atau menggunakan sepatu. Harapannya adalah agar tumit tidak lagi luka atau lecet. Setiap kegagalan pasti memberikan pembelajaran di dalamnya. Tugas kita ialah menggali sampai menemukannya. Kemudian, call to action-nya adalah menerapkan pembelajaran itu.

image: Periplus The Bezos Letter

“I think it (the tragedy) changed the entire attitude of who we were, and what we did, and how we progressed in the future of spaceflight.”

Bukan rahasia umum lagi bila Jeff Bezos tertarik pada bab angkasa atau antariksa. Salah satu The Bezos Letter berkisah mengenai proyek Apollo milik NASA di masa, sebuah usaha untuk menuju angkasa. Ada suatu kejadian yang membuat semua rencana tidak berjalan semestinya. Lalu, salah seorang pegawai di sana berkata bahwa melalui kegagalan itu kita belajar untuk makin mengenal diri kita dan tim itu. Mereka pun meyakini bahwa mimpi bersama untuk tetap bisa ke luar angkasa adalah bahan bakar untuk mengorbit kembali.

Bagi seorang penikmat band FSTVLST, tentu sudah akrab dengan lagu GAS! Sepenggal liriknya bernyanyi begini, “Berjalan tak seperti rencana adalah jalan yang sudah biasa, dan jalan satu-satunya, adalah jalani sebaik kau bisa.” Jadi, tak perlu lama-lama meratapi kegagalan, tetap bangkit dan lakukan lagi, lagi, dan lagi seperti semangat hari pertama.

Unfortunately, most people (and business) think of failure as something to be avoided at all costs. However, you’ll be never be able to grow like Amazon if you’re not willing to risk failure.

Dalam restu seorang tua kepada anak yang merantau, ada terlantun begini, “Semoga lancar dan terhindar dari kesulitan di tempat kerjamu, nak.” Restu adalah doa, doa pun tidak pernah salah sejauh berujung pada kebaikan. Bezos mewariskan nilai bahwa kesulitan itu bukan untuk dihindari. Memang, tidak mengalami kesulitan itu baik. Akan tetapi, berjumpa kesulitan memiliki nilai yang spesial. Kedewasaan, keberanian, dan tanggung jawab akan terbentuk ketika mampu bergumul dan mengatasi kesulitan itu.

Mungkin, ke depan doanya makin dikompleti, “Semoga kuat lalu bangkit ketika galau, susah, sakit, atau gagal.”

“In the 1979 hit song The Gambler, Kenny Rogers famously said, “You’ve got to know when to hold ‘em; Know when to fold ‘em; Know when to walk away; And know when to run.”

Sebagai pamungkas dari The Bezos Letter ini, Perimin memilih quote di atas. Lagu Kenny Roger ini cukup menjadi punch line “litani kegagalan Bezos”. Kita harus tahu kapan menahan, menutup, pergi, dan berlari kembali. Yang menentukan kita berhasil bergelut dengan kegagalan bukan bos, manajer, orang lain, pasangan, langit, semesta, atau Bezos sendiri. Mereka ada untuk menemani kita, namun keberhasilan adalah tanggung jawab kita. Hanya kita yang tahu kemampuan dan kecepatan kita sendiri. Oleh karena itu, jangan pernah takut untuk gagal. Akhirulkalam, sudah siap gagal dan kembali ke hari pertama?