Bagaimana Mengidentifikasi dan Mengatasi Kesalahpahaman dalam Sains

Bagikan Artikel

Sudahkah Anda dilahirkan pada  tanggal 11 Juni 1983? Kalau sudah lahir, masih ingatkah fenomena alam yang sempat membuat heboh waktu itu? Benar. Ada Gerhana Matahari Total (GMT). Dan, ini semua terkait dengan kesalahpahaman dalam sains.

Pada pukul 11:00 siang (WIB) beberapa wilayah berikut mengalami GMT: Yogyakarta, Semarang, Solo, Kudus, Madiun, Kediri, Surabaya, Makassar, Kendari, dan Papua. Pada waktu matahari tertutup sempurna oleh bulan, selama lebih-kurang 6 menit suasana menjadi gelap seperti malam hari. Ayam-ayam kembali pulang ke kandang. Burung-burung kembali ke sarang. Lalu, berangsur-angsur ada sinar matahari lagi karena bulan bergerak/bergeser.

Mengapa GMT kala itu bikin heboh? Karena berhari-hari sebelumnya ada peringatan dari Pemerintah (Orde Baru) melalui radio maupun TVRI (Televisi Republik Indonesia). “Jangan sekali-sekali menatap gerhana matahari!” demikian kira-kira bunyi peringatan tersebut. Konon, menatap langsung GMT bisa membuat mata kita buta. Lebih lagi, kebutaan karena GMT tak bisa disembuhkan. Mengerikan.

Yang mengerikan, yang menggelikan

Apabila mengenangkan kembali peristiwa GMT tersebut, apa yang dulu dirasa mengerikan kini berubah menjadi menggelikan.

Sebagai anak desa yang masih culun dan mudah “diakalin”, tentu saya tidak memiliki argumen ilmiah untuk menolak himbauan yang bersifat perintah tersebut. Karena guru-guru di sekolah pun turut menjadi “corong” untuk memeringatkan kami para murid. Saya masih ingat, bagaimana kami dianjurkan untuk menutup semua genting kaca dan setiap celah cahaya yang masuk ke dalam rumah. Rumah harus tertutup rapat. Kami pun taat.

Fast forward ke beberapa tahun kemudian, saya baru sadar bahwa ternyata ada puluhan ilmuwan dari mancanegara yang berdatangan secara khusus untuk meneliti fenomena GMT tersebut. Ada yang dari Jepang, Amerika, Jerman, India dan sebagainya. Mereka berantusias meneliti fenomena tersebut dan sekaligus menikmati pemandangan yang luar biasa: Korona Matahari! Ketika matahari tertutup sempurna, maka yang tampak adalah piringan hitam gelap. Nah, di sekeliling piringan hitam tersebut ada pendaran sinar yang sangat sangat indah, yang hanya bisa dilihat bila terjadi GMT. Fenomenal! Karena seperti mahkota maka disebut korona (Lat. corona).

Baca Juga :  Welcome to COLLINS DAY 2021!

Tentunya banyak ilmuwan dan/atau cerdik-pandai di Indonesia ya ketika terjadi fenomena GMT pada tahun 1983 itu. Saya punya kesan kurang ada edukasi yang memadai untuk masyarakat luas. Memadai dalam arti netral dan masuk akal. Apakah karena pada era tersebut orang tidak boleh berbeda pendapat dengan Pemerintah (Orde Baru)? Meski masih merasa geli, saya juga masih merasa gagal paham.

Salah paham, salah kaprah

Ketika GMT terjadi, samar-samar saya masing ingat suara kentongan maupun lesung yang ditabuh bertalu-talu. Ada mitos bahwa GMT terjadi karena matahari sedang dimakan oleh Batara Kala. Dengan pukulan bertubi-tubi pada lesung atau kentongan (ukuran besar), orang berkeyakinan bahwa matahari akan dimuntahkan kembali.

Nicolaus Copernicus (1473-1543) mengungkapkan bahwa bumi dan benda-benda langit lainnya mengelilingi matahari.

Mirip dengan mitos, ajaran agama yang secara harafiah ditelan mentah-mentah juga memengaruhi kesalah-pahaman mengenai fenomena alam. Ketika dengan teleskopnya Galileo Galileo (1564-1642) berhasil membuktikan kebenaran teori heilosentris dari Nicolaus Copernicus (1473-1543), dia malah dituduh membuat ajaran sesat. Gereja Katolik masih mengajarkan bahwa Bumi adalah pusat alam semesta. Benda-benda langit mengitarinya. Maka Galileo dijatuhi hukuman kurungan rumah oleh Gereja Katolik. Dibutuhkan sekitar 3,5 abad untuk Gereja Katolik mengakui bahwa Galileo benar adanya.

Tidak perlu mencela Gereja Katolik. Sadar atau tidak kita pun masih memakai pola pikir geosentris ketika berujar: Matahari terbit di Timur dan terbenam di Barat.

Mitos adalah cara para leluhur kita mencoba mengerti fenomena alam dan menjelaskannya dengan bahasa tutur (narasi) sehingga lebih mudah ditangkap. Sadar atau tidak, kadang kita pun masih membawa-bawa pemahaman ketika kita masih kanak-kanan sampai saat ini. Ada sederet anggapan, yang sebenarnya kurang tepat tetapi juga sudah terlanjur dianggap benar. Salah kaprah, istilahnya.

Mari kita check, apakah Anda akan membenarkan setiap pernyataan berikut ini atau tidak:

  1. Semua bakteri membuat kita sakit.
  2. Hanya ada 3 keadaan materi, yaitu padat, cair dan gas.
  3. Petir tidak pernah menyambar benda (atau titik) yang sama sampai 2x atau lebih.
  4. Manusia memiliki 5 indera (saja).
  5. Manusia berevolusi dari kera.
  6. Cacing tanah yang terpotong dua akan meregenarasi diri menjadi 2 ekor cacing.
  7. Banteng akan marah bila melihat warna merah.
  8. Bintang Kejora adalah bintang yang paling terang.
  9. Dalam Sistem Tata Surya, Pluto adalah planet yang terjauh letaknya dari matahari.
Baca Juga :  BACK TO SCHOOL: Webinar Series for Teachers from Macmillan

Kalau menurut Anda pernyataan itu tidak benar, bagaimana seharusnya yang benar?

Collins Webinar

Heidi Foxford mengajak kita untuk mengritisi setiap kesalah-pahaman dan kesalah-kaprahan dalam Sains. Heidi akan mengajak kita mengeksplorasi alasan-alasan terjadinya kesalah-pahaman dan  kesalah-kaprahan. Dia bahkan mengajak kita untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan memerhitungkan adanya kesalah-pahaman/kesalah-kaprahan tersebut. Ada beberapa strategi yang ditawarkannya untuk mengidentifikasi dan mengatasinya sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif.

Heidi adalah seorang konsultan sains independent. Dia juga penulis sains yang berpengalaman. Heidi memberikan pelatihan kepada para guru tentang pengajaran dan pembelajaran sains yang efektif untuk Sekolah Menengah. Dia juga ikut menulis beberapa publikasi pendidikan sains, termasuk buku-kerja sains untuk SMP (Collins Cambridge).

Webinar tidak berbayar ini akan dilaksanakan pada

Hari Rabu, 24 November 2021

Pukul 17:00 WIB

Registrasi bisa dilakukan melalui tautan berikut ini:

Edukasi yang memadai jauh lebih berguna

Kita pantas bersyukur bahwa orang semakin cerdas dan arif dalam menyikapi fenomena GMT. Orang tidak lagi mau ditakut-takuti ataupun dibodohin. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya Sains maka Edukasi yang memadai kiranya jauh lebih berguna. Kehebohan yang malah membuat orang makin bodoh tidak dibutuhkan.

Semoga webinar bersama Heidi Foxford membantu kita mengidentifikasi kesalah-pahaman dan kesalah-kaprahan yang ada, dan kita pun tahu secara bagaimana mesti mengatasinya.

Sampai jumpa!