Humankind: Is Humankind Truly Kind?

Bagikan Artikel
image: cover Rutger Bregman, Humankind

“Saya mencium adanya pergeseran Roh Jaman – tidak lagi Sinisme, melainkan soal Harapan,” tulis Rutger Breman.

Kalimat sederhana yang dialihbahasakan suka-suka dari ‘I sense a shift in the zeitgeist – cynicism is out, hope is in’ ini menampilkan 3 asumsi dasar yang mengelitik.

Epistemologi dalam diksi ‘I Sense’

Pertama, Rutger bicara soal ‘Sense‘. Artinya, ini soal epistemologi: Rutger menyadari. Rutger mengetahui. Rutger merasakan. Sepintas, intinya Rutger Tahu bahwa akan ada sesuatu. Makna ‘Tahu’ yang dimaksudkan di sini didapat Rutger dari kacamata empirisme ala David Hume, bukan rasionalisme Cartesian. Makanya, Rutger memilih diksi ‘I sense‘ alih-alih ‘I know‘ atau ‘I realize‘.

image David Hume and Rene Descartes

Empirisme Hume-ian ini mau ngomong bahwa rasio kita berasal dari pengalaman inderawi. Rasio kita digerakkan oleh ‘Aku’ yang bisa kedinginan di dalam kamar ber-AC, ‘Aku’ yang bisa sakit terpapar virus, bukan ‘Aku’nya Cogito Ergo Sum yang mandiri-berdiri-sendiri; yang bisa-bisanya bicara ke tubuh AKU, “Woi, meski ACnya 20°C, AKU tidak boleh kedinginan ya!” Dan, mendadak, rasa dingin itu sirna. Efek empirisme ini jadi begini: Kausalitas ditangguhkan dulu. Frasa ‘I sense’ milik Rutger mau bicara bahwa tidak semua kejadian berurutan itu otomatis-langsung punya hubungan sebab-akibat. Istilahnya, post hoc sed non propter hoc – jika setelah bebersih rumah aku kelaparan, aku yang merasa lapar bukan karena habis beresin rumah. Ini gampangannya. ‘I sense‘-nya Rutger mau mengatakan bahwa gagasan-gagasan di dalam buku Humankind bukanlah Pengetahuan 100%, masih memuat probabilitas.

Justru karena memuat probabilitas ini, isi buku Humankind menarik untuk dikupas – bukan dikaji! Sebab, Rutger tidak memaksakan seluruh gagasan soal Harapan itu Benar 100%. Dengan pendekatan narasinya, Rutger mengawali tulisaannya dengan data-data realitas yang masuk melalui pancaindera. Rutger membaca soal Nazi, lalu tergeraklah hatinya. Rutger penasaran tentang cerita Lord of the Flies, yang dengar-punya-dengar, sungguh terjadi. Sekelompok anak-anak sekolah yang kabur dari sekolah untu berpetualang dengan kapal. Sayangnya, kecelakaan terjadi dan mereka terhempas di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Benar-benar mirip seperti yang diceritakan William Golding dalam novelnya, Lord of the Flies. Rutger pun mencari tahu sendiri tentang kejadian ini, bahkan mewawancarai salah satu anak yang akhirnya selamat. Namun, alih-alih kisah sedih dan prihatin membayangkan anak-anak terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni ini, Rutger malah menemukan fakta unik: anak-anak ini begitu bahagianya dan sesehat-sehatnya sebagai manusia dari perspektif biomedikal.

image Lord of the Flies

Dan, penasaran Data-data ‘a posteriori‘ ini ditangani Rutger untuk mengawali argumen yang dibangunnya sepanjang 397 halaman sampai tips terakhir: Be Realistic! Semua narasi-narasi historis diolah Rutger dari jenis Pengalaman menjadi Pengetahuan. Bahasa kerennya, sinneewahrnehmung (inderawi) ke verstand (akal budi) – ga penting untuk dihapal kok!

Baca Juga :  10 Buku Paling Dicari September 2021 (Part 2)

Yang menarik di sini nih! Rutger mengatur pengetahuan-pengetahuan yang ada di kepalanya untuk sampai ke Ide Keseluruhan – Sejarah bicara soal Harapan! Dalam bahasa Kantian, Humankind itu sampai di titik Intelek (Vernunft) yang dipimpin oleh Ide Jiwa-Dunia-Tuhan. Ringkasnya, Rutger meneliti suara batinnya (Ide Jiwa) yang muncul setelah melihat hal-hal lahiriah (Dunia) – lantas, diendapkan guna mendapatkan “Semua ini tentang apa sih sebenarnya?” (Tuhan – bukan konsep Tuhan dalam agama ya?).

Semangat Umum Kekininan

Inilah mengapa Rutger meneruskan kalimatnya dengan ‘ … a shift in the Zeitgeist, …’. Masuklah kita ke asumsi kedua. Zeitgeist anggaplah semacam Semangat Umum Kekininan yang berpengaruh pada perilaku dan pandangan hidup.

Diksi Zeitgeist ini sengaja dipilih Rutger mungkin untuk menjelaskan bahwa gagasan-gagasan yang dibangunnya ada di tingkat Intelek, tidak hanya soal inderawi, dan juga akal budi. Zeitgeist‘nya Rutger memang harus dituangkan dalam ratusan halaman agar argumen dan idenya tidak sesat pikir.

Zeitgeist ini selalu diangkat dalam ragam istilah dan frasa yang membantu pemahaman secara umum, misalnya soal optimisme, pentingnya solidaritas, nilai kerjasama begitu kental dituliskan untuk kita hidupi, keyakinan bahwa semua humankind itu kind!

Juga, termasuk gagasan mengenai krisis-krisis yang terjadi dalam sejarah justru membuktikan bahwa masyarakat itu tidak tunduk pada struktur kekuasaan, melainkan BERANI mengambil langkah inisiatif untuk memulai sesuatu. Bagi sad boys dan sad gerls, yakinlah bahwa ini saat yang tepat untuk membuktikan Hal Terhebat Dalam Dirimu alih-alih hanya meratapi diri bersama tembang-tembang (alm.) Pakdhe Didi Kempot:

Ora ngiro saikine cidro
Wes sak’mestine ati iki nelongso
Wong seng tak tresnani mblenjani janji
Opo ora eling naliko semono
Kebak kembang wangi jeroning dodo
Kepiye maneh iki pancen nasib ku
Kudu nandang loro

(Tak kusangka sekarang aku terluka
Demikianlah, hatiku merana
Diingkari janji oleh dia yang kucinta
Saat-saat indah dulu yang terlupa
Saat bunga-bunga begitu harum di dalam dada
Bagaimana lagi hidupku ini?
Sebegitu pantas harus tersakiti)

Image: Cidro Didi Kempot

Sinisme yang berteman dengan Harapan

Ketiga, adanya konsep Sinisme dan Harapan dihadapkan – bukan berlawanan – melainkan bergantian: “cynicism is out, hope is in.” Ini menarik karena keduanya seperti bukit dan lembahnya gelombang transversal – tidak saling meniadakan. Bak roda kehidupan, kadang di atas, kadang di bawah. Baik sinisme maupun harapan tidak perlu dipertentangkan. Gelap dan terang tidak saling meniadakan – habis gelap ya terbit terang.

Baca Juga :  The Man Who Died Twice

Maksudnya, Rutger tidak mencaci soal sinisme dengan segala keburukan, kegelapan, atau kegelisahannya. Sinisme ya sinisme, bukan optimisme. Lha wong sinisme itu erat kaitannya dengan kisah Diogenes, muridnya Antistenes, cucu muridnya Sokrates. Diogenes tinggal di dalam tong besar seperti hidup si anjing. Anjing, dalam bahasa Yunani, adalah ‘kynos‘. Dalam bahasa Latin, jadi ‘canis‘. Berkembang menjadi ‘kynikos‘ yang menjadi akar untuk istilah sinis. Sinis macam anjing – kerjanya nyalak mulu!

Pandangan Diogenes boleh dikata ‘naturalis’ pada jamannya: Yang Baik adalah yang menanggalkan rasa puas diri dan kesenangan duniawi. Agak gila memang, sampai dia tidak peduli pada adat istiadat masyarakat yang begitu tidak alamiah. Masyarakat disetir oleh bagaimana agar hidup makmur dengan bekerja agar mendapat uang untuk mencari makan, rumah yang layak, pasangan yang OK punya, barang yang supreme semua, dll. Padahal baginya, rasa lapar dan ketidaknyamanan itulah yang menumbuhkan moral manusia.

Kisahnya menginspirasi Nietzsche yang mencuplik demikian:

“Ada orang gila siang-siang pergi ke pasar sambil membawa lampu dan berkoar-koar bahwa Tuhan telah mati! Tuhan telah mati! Manusia yang membunuhnya!”

image: Nietzsche

Intinya, sinisme itu tidak seburuk prasangka kita. Maknanya jadi eufemisme sejak kekaisaran Roma menganggap orang-orang dari mazhab Sinisme hanyalah orang-orang tukang salak dan koar yang frustasi karena tidak punya kedudukan dan kuasa. Makin ke sini, sinisme dipandang makin ‘negatif’.

Yang ditekankan Rutger kurang lebih begini: “Sudahlah, saatnya berkoar-koar dan protes disudahi dulu. Coba ganti kacamata.” Nah, kacamata yang dimaksudkan adalah kacamata Harapan. Dalam bahasa Inggris, ‘Hope‘. Dekat dengan kata ‘Hop‘ yang berarti melompat. Dalam bahasa Latin, ‘Spes‘ terhubung dengan kata Desperado-nya Antonio Banderas dan Salma Hayek, yang kental dengan nuansa Spes yang di-DE-kan. Atau, harapan yang diusik-usik.

Nah …

Buku ini memang cocok bagi para pembaca yang sungguh-sungguh ingin melihat perjalanan tentang konsep kemanusiaan dalam lintasan jurnalistik, perseteruan politik, penelitian, dan pembuktian beberapa mitos-mitos. Atmosfer situasi pandemi yang membuat banyak hal serba tidak pasti, kabur dan terlalu rapuh pun juga menjadi latar belakang yang pas dalam membaca buku ini. Para pembaca akan terbantu untuk memahami: Benarkah Humankind itu beneran Kind? Rutger akan menunjukkannya lewat rangkumnan optimisme Harapan sepanjang masa-masa krisis umat manusia sebagai Roh Jaman.

image: CTA Human Kind