Aneka Minuman Tradisional Indonesia

Cendol, Es Doger, Es Pisang Ijo, dan Bir Pletok adalah salah satu bukti nyata kekayaan khazanah kuliner di Indonesia. Meskipun sejumlah negara mungkin telah mencoba mengklaim keberadaan minuman ini, namun sejarah dan akar budayanya jelas berasal dari Nusantara. Aneka Minuman-minuman ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi dan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, dengan berbagai variasi dan cerita menarik yang menyertainya.

Pada kesempatan ini, Perimin akan membahas lebih dalam tentang kelezatan dan sejarah minuman-minuman tradisional ini, serta bagaimana mereka menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari serta tradisi makanan di Indonesia. Sembari menyusuri perjalanan rasa dan cerita di balik cendol dan es doger, perlu kita sadari bahwa minuman-minuman tradisional ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari khazanah kuliner Indonesia.

Es Cendol

CNN Travel, pada 2018 yang lalu, melansir lis 50 Hidangan Penutup Terbaik di Dunia. Yang menarik adalah masuknya cendol ke dalam daftar tersebut, namun dengan merujuk Singapura sebagai asal-usul hidangan manis-legit yang menyegarkan itu. Kontan, hal ini menuai reaksi hangat dari masyarakat Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Meskipun CNN Travel menambahkan keterangan bahwa cendol juga dapat ditemukan di negara Asia Tenggara lain. Reaksi hangat yang muncul dari polemik cendol ini memancing Ming Tang dari program Food Fight dari CNA Insider Singapura menelusuri asal-usul cendol.

Tualang rasa minuman tradisional Es Cendol (Sumber: kompas.com)

Ringkas cerita, Ming menemui pakar kuliner senior Indonesia, William Wongso. Menurut William, cendol memiliki “saudara” kembar yang disebut “dawet.” Merujuk pada Serat Centhini yang sudah ada 300—400 tahun silam, kata William, dawet sudah disebut di dalamnya. Bahkan, buku resep masakan terbitan East Indies Cookbook pada 1866, mencantumkan cara membuat cendol atau dawet dalam bahasa Belanda dengan judul “Tjendol of Dawet.” Hipotesis bahwa cendol sejatinya berasal dari Indonesia diperkuat oleh temuan ahli sejarah, Fadly Rahman. Fadly mengungkapkan bahwa cendol sejatinya berasal dari Pulau Jawa dan hal ini tercantum dalam naskah Jawa kuno, Kakawin Kresnayana karta Mpu Triguna bertarikh abad ke-12 dari Kerjaan Kediri yang sekarang wilayahnya masuk di Jawa Timur.

Konon, minuman segar yang bernama dawet sudah dikenal di Nusantara sejak lama. Dawet adalah minuman khas dari Desa Jabung, Ponorogo, Jawa Timur. Awalnya, dawet dibuat tanpa warna. Fakta ini diketahui melalui Prasasti Taji Ponorogo yang dibuat pada abad ke-10. Waktu berlalu, dawet menyebar di kota-kota di Jawa dan memiliki banyak variasi. Namun demikian, bisa dikatakan bahwa pada prinsipnya, dawet adalah minuman berisi cendol, santan, dan tambahan gula, baik merah maupun putih, sebagai pemanis rasa.

Kita mengenal Dawet Ayu yang khas Banjarnegara di Jawa Tengah dengan cendol beras berwarna hijau dengan tambahan irisan nangka. Ciri khas lain dawet ayu Banjarnegara adalah pada gerobak penjual terdapat dua tokoh wayang, Semar dan Gareng. Di Kecamatan Butuh, Purworejo, Jawa Tengah, terdapat varian dawet ireng karena cendolnya berwarna hitam—dihasilkan karena mencapur abu jerami padi pada adonan cendolnya. Ada pula es dawet selasih juga dapat dijumpai di Pasar Gede, Solo. Es dawet selasih menggunakan isian cendol hijau, tapai ketan, bubur sumsum, dan biji selasih, serta sirup gula pasir sebagai pemanis, alih-alih siraman sirup gula merah.

Bergeser ke arah utara, di Semarang terdapat dawet semarangan yang khas dengan tambahan durian, tapai ketan, dan potongan nangka. Sementara itu, es dawet mantingan, yang khas dari kota Jepara di Jawa Tengah, memiliki tampilan mirip dawet ayu Banjarnegara dengan tambahan pelengkap berupa alpukat, durian, sari kelapa, dan nangka. Bergeser ke wilayah Jawa Timur, di kota Blitar, ada es dawet grandul ketan. Sajian dawet yang satu ini menambahkan grandul atau candil dan bubur ketan hitam. Mungkin, inilah varian yang paling unik, dawet sambel yang hanya bisa ditemukan di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dawet sambel dibuat dengan cendol tanpa warna dan menambahkan sambal kacang, kecambah, irisan tahu, dan bawang goreng.

Es Doger

Tualang rasa minuman tradisional Es Doger (Sumber: herstory.co.id)

Konon, sajian pencuci mulut yang manis dan menyegarkan ini berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Namun demikian, es doger sangat populer di Jakarta. Meskipun demikian, ada pula orang yang percaya bahwa es doger berasal dari Bandung dan dibawa para pedagang ke Jakarta. Popularitas es doger terlihat dalam berbagai acara, mulai dari resepsi pernikahan, khitan, hingga syukuran tujuh bulanan. Ada dua versi yang berkisah tentang asal-usul nama es doger. Versi pertama merujuk pada kesenian doger dari wilayah “Dermasuci” (akronim dari Dermayon atau Indramayu, Subang, dan Cirebon). Doger di wilayah tersebut sama dengan sebutan untuk penari ronggeng perempuan. Istilah es doger muncul karena makanan penutup yang manis dan segar ini sering dijual saat digelar pertunjukan doger. Pandangan kedua muncul karena keyakinan bahwa istilah doger adalah akronim dari “dorong gerobak.” Pada awalnya, diyakini para penjual es doger menjajakan dagangannya dengan cara dipikul. Lama-kelamaan, muncul ide menggunakan gerobak untuk menjajakan es doger, seiring dengan jamaknya penggunaan sepeda dan gerobak.

Ada banyak variasi dalam resep es doger. Meskipun demikian, pada umumnya isian es doger berupa tape singkong, pacar cina, potongan roti tawar, ketan hitam, serutan kelapa muda, dan alpukat, dengan tambahan kental manis. Kesegaran es doger tentu saja ada pada es batu yang diserut. Nemun demikian, di akhir abad ke-19, es batu hanya bisa dinikmati oleh kaum bangsawan dan orang kaya. Di Batavia sendiri, pada waktu itu hanya ada dua pabrik es di Molenvliet (Jl. Gajah Mada dan Jl. Hayam Wuruk sekarang) dan kawasan Petojo. Dengan demikian, es doger memiliki dua keunikan. Selain sejarah penamaannya memiliki dua versi, kuliner pencuci mulut ini melumerkan batasan kelas sosial karena es batu yang pada masa kolonial hanya dapat dinikmati kaum elite, saat ini menjadi sajian rakyat banyak.

Es Pisang Ijo

Periplus Foto Es Pisang Ijo
Tualang rasa minuman tradisional Es Pisang Ijo (Sumber: kompas.com)

Konon, menurut legenda, hidangan penutup yang segar ini muncul dari kreativitas koki kerajaan di Sulawesi yang hampir dihukum pancung. Ijo, nama koki itu, melakukan kesalahan sehingga masakannya tidak enak. Ijo memutar otak dan muncullah hidangan menyegarkan dari bahan dasar pisang. Raja merasa senang hingga menamai hidangan yang dibuat Ijo dengan “Es Pisang Ijo.” Namun demikian, informasi di atas rasanya hanya sebatas legenda, karena dalam naskah-naskah dan lontara kuno, hanya bisa ditemukan kata “pisang” belaka, bukan “es pisang ijo.”

Jika menyelisik sejarah, tanaman pisang sudah jamak dikonsumsi oleh masyarakat di Asia Tenggara. Selain Pulau Jawa, wilayah Sulawesi Selatan juga dikenal sebagai penghasil pisang. Catatan kedua adalah tentang es batu yang berasal dari Delmas, musafir Prancis yang mengunjungi Batavia pada 1895. Pada saat itu, es adalah barang mewah karena harus diimpor dari Boston, Amerika Serikat. Baru pada awal abad ke-20, mulai banyak pabrik es di Pulau Jawa. Masuknya es batu ke Makassar tidak lepas dari interaksi pedagang dan pelayar Jawa dan Makassar. Belum lagi, pemerintahan kolonial menetapkan Makassar sebagai pelabuhan dagang.

Es pisang ijo pun konon berkembang. Dahulu, kuah es pisang ijo dibuat dari santan dan tepung beras, sehingga terasa kurang enak. Baru kemudian kuah es pisang ijo dibuat dari campuran santan, maizena, dan sirup. Campuran inilah yang rupanya membuat es pisang ijo terasa nikmat. Saat ini, es pisang ijo menjadi hidangan khas Makassar yang merakyat, bahkan dengan mudah ditemukan di seluruh penjuru Indonesia.

Bir Pletok

Periplus Foto Bir Pletok
Tualang rasa minuman tradisional Bir Pletok (Sumber: shutterstock.com)

Meskipun mengandung kata “bir,” minuman ini sama sekali tidak mengandung alkohol. Meskipun demikian, minuman ini diyakini memiliki fungsi yang sama dengan minuman beralkohol, yakni menghangatkan badan. Bir pletok, minuman khas Betawi ini memang terinspirasi dari kebiasaan orang-orang Barat meminum anggur merah, wine. Namun, karena kebanyakan orang Betawi adalah muslim, alkohol adalah pantangan. Sebagai pengganti, diciptakanlah bir pletok yang berwarna merah.

Ramuan bir pletok terbuat dari jahe, serai, lada, kapulaga, daun jeruk, daun pandan, kayu manis dan cengkeh. Warna merah bir pletok berasal dari kayu secang. Gula pasir bisa ditambahkan sebagai pemanis minuman yang bisa dinikmati hangat maupun dingin ini. Kata “pletok” kabarnya punya beberapa versi. Bunyi pletok berasal dari suara “pletok” yang terdengar saat membuka botol anggur. Kedua, bunyi pletok dihasilkan dari guncangan es batu untuk mendinginkan minuman tersebut. Dan, terakhir, bunyi pletok karena kulit kayu secang yang menjadi bahan untuk membuat bir pletok.

Kampanye tagar #TualangRasa dan #FlavorEscapade

Untuk memahami lebih dalam hubungan antara kuliner dan identitas bangsa, Perimin mengajak Bibliobesties untuk mengkampanyekan #TualangRasa dan #FlavorEscapade di media sosial. Dengan menjelajahi kekayaan kuliner Indonesia, kita dapat merasakan sejarah dan nilai-nilai yang membentuk jati diri kita. Dengan kampanye #TualangRasa dan #FlavorEscapade, mari berbagi pengalaman dan pengetahuan khazanah kuliner Indonesia sembari menjaga warisan leluhur!

Bersamaan dengan ini, Perimin juga mengajak Bibliobesties untuk memaknai dan meresapi aneka kuliner di Indonesia. Kalian bisa tekan di sini untuk menuju halaman Ayam Taliwang. Tekan di sini untuk menuju halaman Nasi Tumpeng. Tekan di sini untuk menuju halaman Gudeg. Dan tekan di sini untuk menuju halaman Aneka Minuman.