The Scientists in the Making

Bagikan Artikel

Sewaktu masih kanak-kanak, para ilmuwan tidak berbeda dengan kebanyakan dari kita. Mereka memiliki hobi dan mainan; juga bertindak seperti anak-anak pada umumnya.  

Charles Darwin (1809-1882) senang sekali mengumpulkan aneka jenis kumbang; sedangkan Thomas Alva Edison (1847-1931) suka bermain-main dengan yang serba mekanik. Pada usia 4 tahun Jane Goodall (lahir 1934) malah membuat panik orangtuanya. Jane dikira hilang. Beberapa lama kemudian dia diketemukan di kandang ayam. Jane penasaran tentang dari mana asal telor ayam; dan begitu terpesona ketika melihat sendiri bagaimana ayam bertelur di kandang!

Keterpesonaan dan keingintahuan merupakan roda yang sangat membantu bertumbuhnya jiwa-ilmuwan dalam diri seseorang. Sayang sekali, seiring dengan bertambahnya usia pada sebagian besar dari kita kemampuan itu seolah menjadi tumpul dan kurang berkembang.

Keterpesonaan dan Keingintahuan

Kita mesti meluruskan kesalah-pahaman. Sains bukan pertama-tama tentang angka dan data. Itu pasti akan sangat membosankan. Melalui metodologinya, sains membantu kita memahami dunia dengan cara yang lebih masuk akal. Sains membantu kita menemukan jawaban-jawaban kecil atas keingintahuan kita.

Sains dengan pesat bisa berkembang. Mengapa? Karena sains sangat terbuka terhadap koreksi. Artinya, bila ada ‘ketidak-sesuaian’ antara teori yang selama ini diterima dengan hasil eksperimen, maka terbuka kemungkinan untuk lebih mengeksplorasinya lebih lanjut melalui temuan-temuan baru lainnya. Bahkan ada kemungkinan akan lahir teori baru. Tidak ada penjelasan yang bersifat absolut dan final dalam sains. Selalu ada yang di luar tapal-batas pengetahuan kita, yang mengundang untuk dieksplorasi lebih lanjut. Inilah yang membuat orang terpesona.

Dengan atmosfir yang kondusif, keterpesonaan dan keingintahuan tersebut akan saling menjaga dan menumbuhkan. Semakin orang terpesona pada sesuatu, semakin dia ingin-tahu bagaimana-nya dan/atau kenapa-nya. Semakin dia menemukan jawaban atas keingintahuannya, dia pun dibikin semakin terpesona karena selalu ada hal-hal yang melampaui batas-batas pengetahuannya.

Baca Juga :  PROSPER: Kisi-kisi untuk Student Wellbeing

Memelihara Keterpesonaan dan Keingintahuan

Memelihara keterpesonaan dan mengembangkan keingin-tahuan Anak adalah salah satu tugas kita sebagai Guru maupun Orangtua. Dengan melatih keterampilan Anak untuk mengamati, memrediksi, mencatat, membanding-bandingkan serta mengomunikasikan hasil pengamatan; kita membantu Anak memahami prinsip dasar ini: dalam sains, kegagalan (eksperimen) dapat diterima. Bahkan melalui kegagalan tersebut pembelajaran baru dapat dikembangkan. Karena mau belajar dari “kegagalan” demi “kegagalan” dalam eksperimen, misalnya, akhirnya Thomas Alva Edison menemukan cara yang paling tepat untuk menyalakan lampu pijar (serta beribu cara yang tidak tepat lainnya!).

Kalau Guru/Orangtua memiliki sikap terbuka, juga terhadap kesalahan dan kegagalan yang bisa saja terjadi, dia membantu Anak untuk selalu berani mencoba dan mencoba lagi. Setiap kali dia belajar dari pengalaman gagal sebelumnya. Evaluasi dan refleksi atas kegagalan dalam eksperimen semakin memerkaya dan melengkapi prior-knowledge yang dia miliki sebelumnya.

Dalam hal ini Guru/Orangtua tidak harus mengetahui segala sesuatu tentang sains. Anak-anak sudah tahu bahwa Google tahu jauh lebih banyak informasi daripada kita. Sikap yang diharapkan dari kita adalah keterbukaan untuk bekerja sama dengan anak-anak mencari jawaban. Pada titik tertentu kita diharapkan membantu mereka membuat koneksi pelbagai informasi yang relevan untuk memerdalam pemahaman mereka atas realitas alam, termasuk ketika mesti menghubungkannya dengan disiplin ilmu yang lain.

Singkatnya, kita berperan sebagai fasilitator dan mentor bagi “para ilmuwan belia” yang kita dampingi.

Macmillan Education Webinar

Ada webinar dari Macmillan Education yang kiranya membantu kita, Guru maupun Orangtua, untuk memelihara keterpesonaan dan keingintahuan dalam diri Anak seperti diuraikan di atas.

Dengan mengangkat tema how to teach in the classroom and at home to achieve the same outcomes in primary science, Debbie Roberts akan memergunakan contoh-contoh praktis yang bisa dipergunakan di kelas maupun di rumah. Hasil pembelajaran sebagaimana diharapkan bisa diperoleh melalui model pembelajaran campuran (blended learning).

Baca Juga :  Multatuli: Belajar sejarah Politik dari Max Havelaar

Mari kita belajar dari Debbie, seorang guru sains dan trainer yang luar biasa. Dia adalah konsultan pendidikan yang sangat berpengalaman dan telah memberikan pelatihan mengenai sains di seluruh penjuru dunia. Sebagai seorang penulis, ia pun telah menerbitkan lebih dari 80 buah buku.

Free Webinar tersebut akan dilaksanakan pada

Hari Rabu, 17 November 2021

Pukul 17:00 WIB

Regitrasi bisa dilakukan melalui tautan berikut ini:

The Scientists in the making

Umumnya kita mengetahui para ilmuwan setelah mereka terkenal. Kita mengenal Charles Darwin karena teori evolusinya yang kontroversial pada zamannya. Kita tahu perihal Thomas Alva Edison karena temuan bohlam lampu, fonograf dan sederet temuan lainnya. Kita pun mendengar perihal Jane Goodall sebagai primatolog karena banyak ditayangkan di media bagaimana dia mencintai dan menekuni dunia primata (simpanse, gorila, dan lain-lain). Demikian juga dengan para ilmuwan-ilmuwati lainnya.

Kalau ketika masih kanak-kanak dulu para ilmuwan itu juga bertingkah-laku seperti kanak-kanak pada umumnya, kira-kira apa yang membuat benih keterpesonaan dan bibit keingintahuan mereka masih terpelihara meskipun mereka beranjak dewasa, ya?  Seperti dikatakan oleh Marie Curie (1867-1934), penemu radio-aktif dan dua-kali penerima Hadiah Nobel: “A scientist in his laboratory is not a mere technician: he is also a child confronting natural phenomena that impress him as though they were fairy tales.” (Ilmuwan yang bekerja di laboratorium bukan semata-mata tekhnisi. Dia adalah juga seorang anak yang terpesona oleh fenomena alam di hadapannya, seolah itu adalah kisah indah dari Negeri Dongeng).

Apakah kita juga berani memandang anak-anak kita serta meyakini dalam hati bahwa mereka pun adalah scientists in the making? Bagaimana kita memelihara keterpesonaan dan keingintahuan dalam diri para “ilmuwan belia yang sedang bertumbuh” itu?