Quantum Marketing: Raja Rajamannar

Bagikan Artikel
image: cover buku Quantum Marketing: Raja Rajamannar
Quantum Marketing: Raja Rajamannar

Judul: Quantum Marketing: Mastering the New Marketing Mindset for Tomorrow’s Customers
Penulis: Raja Rajamannar
ISBN: 9781400223954
Penerbit: HarperCollins Leadership
Tahun: 2021 Halaman: 240 hlm.

Raja Rajamannar, Chief Marketing Officer (CEO) Mastercard, berbagi terobosan strategis terdepan  untuk mengatasi tantangan yang dihadapi marketers melalui Quantum Marketing: Marketing Mindset for Tomorrow’s Customers (2021).

Perkembangan dunia bisnis dewasa ini sangatlah cepat. Dampaknya jelas, yakni ragam disrupsi yang sebelumnya tak pernah terjadi. Perkembangan teknologi yang sangat cepat dalam beberapa dekade terakhir membuat strategi pemasaran harus berubah.

Rajamannar percaya bahwa telah terjadi proses evolusi pemasaran dari zaman kuno ke era algoritma. Ia menawarkan lima paradigma evolusi strategi pemasaran. Dan, yang terakhir bukan sekadar evolusi yang prosesnya lambat, namun sungguh sebuah revolusi yang berlangsung cepat.

Dalam tulisannya, Rajamannar sendiri menulis demikian, “Paradigma kelima akan terasa seperti dunia baru bagi marketers. Kemajuan teknologi yang sangat cepat dan masif akan mengubah lanskap pemasaran secara total, dan marketers harus memikirkan kembali strategi, struktur, dan bakat mereka.” (h. 19)

Mari kita lihat lebih dekat satu per satu.

Paradigma pertama adalah Logika.

Paradigma ini bersifat literal, rasional, dan hampir seluruhnya berpusat pada produk. Asumsinya adalah bahwa konsumen membuat keputusan pembelian mereka secara rasional dan logis. Jika Anda menghasilkan produk terbaik, konsumen akan berbondong-bondong ke sana. Jadi, marketers memiliki tujuan yang pasti dan strategi sederhana. Jadikan produk Anda lebih baik dari pesaing Anda.

Paradigma kedua, Emosi.

Pada proses selanjutnya, marketers menyadari bahwa orang membuat keputusan secara emosional, alih-alih rasional atau logis. Bahkan, dalam banyak kasus, sepenuhnya emosional! Oleh karena itu, mereka mulai memasukkan emosi ke dalam kampanye iklan mereka. Periode ini menyangkut fase ketika televisi muncul. Iklan di televisi lebih menarik sisi emosional pemirsa, daripada sisi logis mereka.

Paradigma ketiga, Internet dan Data.

Setelah televisi, internet adalah disrupsi teknologi pemasaran utama berikutnya. Sebelumnya, data hanya dimiliki oleh kalangan terbatas seperti teknisi, ekonom, peneliti, dan sejenisnya. Kini, data menemukan sang empunya yang baru. Inilah paradigma ketiga, Internet dan Data. Marketers menemukan kekuatan data dan melihat lonjakan efektivitas yang dapat dihasilkannya. Fokus baru adalah penggunaan data untuk menciptakan pemasaran yang lebih berfokus pada target. Akibatnya, meminimalkan pemborosan, menekan biaya, dan sangat meningkatkan laba atas investasi (return on investment/ROI) perusahaan. Paradigma ini melihat munculnya ilmuwan data dan marketers yang memahami cara kerja data di dunia komersial. Dengan internet, marketers kini memiliki kemampuan luar biasa untuk menjangkau, berkomunikasi, dan mengesankan prospek dan pelanggan mereka yang belum pernah ada sebelumnya—dalam skala, dengan ekonomi dan presisi.

Baca Juga :  Maye Musk: Woman Makes A Plan

Paradigma keempat

Ponsel pintar (smartphone) menjadi penanda paradigma keempat. Ponsel, khususnya ponsel pintar, dengan segala aplikasinya benar-benar mengubah lanskap konsumen. Ponsel menjadi perpanjangan dari tubuh manusia. Konsumen pergi tidur dan bangun dengan itu. Sekarang, marketers memiliki media yang tersedia untuk menjangkau konsumen kapan saja. Bila seseorang membuat website, dia akan mengutamakan tampilan mobile, daripada tampilan web. Sebab, tampilan mobile akan lebih banyak diakses oleh pelanggan dan calon pelanggan.

Paradigma Kelima

Paradigma terakhir sepenuhnya berkutat pada persoalan brand (merek, jenama). Brand akan menciptakan kegembiraan, keterlibatan, dan inspirasi untuk produk dan layanan mereka menggunakan teknologi, media, kerangka kerja, dan wawasan baru. Konsumen tidak hanya mengharapkan produk dan pengalaman hebat, tetapi mereka akan menuntut marketers menggunakan semua sumber daya yang tersedia untuk membuat perbedaan positif bagi masyarakat, baik dengan membantunya menjadi lebih adil dan merata atau agar planet ini menjadi lebih langgeng.

Rajamannar menjelaskannya dengan gamblang: “Bagi para pelanggan, paradigma kelima akan menjadi labirin konten, pesan, visual, perangkat baru, otomatisasi; semua akan terjadi pada level dan intensitas yang tinggi. Pertemuan beragam hal baru ini akan menciptakan ruang pemasaran yang sangat ramai. Inilah paradigma kelima.” (h. 20)

Di dalam paradigma kelima – quantum marketing – ini, Rajamannar memberi tekanan pada empat hal. Keempat hal tersebut terkait dengan perkara: (1) membangun brand, (2) manajemen reputasi, (3) mendorong pertumbuhan bisnis, dan (4) menciptakan platform unuk keuntungan yang berkelanjutan. Sekali lagi, mari kita tengok satu per satu.

Quantum Marketing

Membangun branding. Di zaman sekarang ini, brand tidak hanya sacral, tetapi juga penting untuk diferensiasi, persepsi nilai, dan keunggulan kompetitif. Membangun brand yang kuat sangat penting untuk perkembangan jangka pendek, menengah, dan panjang perusahaan. Marketers adalah pelayan brand dan perlu membangunnya untuk masa depan, terlepas dari apakah mitra bisnis mereka dapat sepenuhnya menghargainya atau tidak.

Baca Juga :  "How To Avoid A Climate Disaster" karya Bill Gates: Saat Ahli Peranti Lunak Bicara Iklim

Manajemen reputasi. Di banyak perusahaan yang berkembang, pemasaran dan komunikasi/PR telah bersatu. Bagaimanapun, mereka adalah satu kesatuan. Pemasaran adalah brand yang berbicara tentang dirinya sendiri. PR membuat orang lain membicarakan brand secara positif. Marketers Quantum benar-benar perlu memiliki rencana untuk mempertahankan brand mereka dan melindungi reputasi mereka dan tidak membiarkan kepercayaan konsumen terkikis.

Mendorong pertumbuhan bisnis. Pemasaran harus dilakukan bukan untuk kepentingan pemasaran, tetapi untuk membantu mendorong pertumbuhan bisnis yang menguntungkan. Pemasaran kinerja membantu mendorong pertumbuhan bisnis secara keseluruhan. Sejujurnya, apa gunanya membangun brand yang luar biasa jika tidak mendorong pertumbuhan bisnis yang menguntungkan? Marketers harus membantu mendorong pertumbuhan bisnis, baik itu dalam mandat formal mereka atau tidak.

Menciptakan platform untuk keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Pilar keempat Quantum Marketing adalah tentang membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan melalui platform, kemitraan, kekayaan intelektual (intellectual property), dan sebagainya. Quantum Markerts membangun keunggulan kompetitif yang signifikan dengan membangun platform yang memanfaatkan aset pemasaran dan properti pemasaran, dan IP yang menyertainya, untuk membedakan brand dan mempertahankan perbedaan secara berkelanjutan dan berkelanjutan untuk jangka panjang.

Rajamannar mengajak pembacanya untuk memahami evolusi pemasaran dan bagaimana menjadi yang terdepan dalam perubahan di masa depan. Pembacanya juga mendapatkan penjelasan tentang strategi dan taktik pemasaran yang tepat di tengah industri yang terus berkembang. Ia juga mengajak pembacanya mencapai terobosan dalam pemikiran inovatif untuk bersaing dalam bisnis sekarang ini.

Quantum Marketing direkomendasikan untuk semua pebisnis yang berusaha memahami seberapa cepat pemasaran berkembang, apa yang dilakukan oleh beberapa orang terpandai dalam disiplin ini untuk bersiap menghadapi perubahan dramatis ini, dan seperti apa dunia baru bagi perusahaan, konsumen, dan masyarakat luas sebagai perlombaan untuk mengembangkan strategi pemasaran revolusioner mencapai tingkat yang sama sekali baru.

Buku ini dapat dibeli di periplus.com.


Buku-buku seru lainnya juga bisa dilihat di bawah ini.