Think Like a Monk

Bagikan Artikel
Think Like A Monk

Apa yang spontan terlintas di benak Anda saat membaca atau mendengar kata “rahib”? Jika pertanyaan ini diajukan kepada saya, dengan mudah saya memberi jawab: Takuan Soho. Saya mengenal Takuan tentu saja dari Musashi karya Eiji Yoshikawa. Baru kemudian saya ketahui bahwa Takuan dan Musashi adalah tokoh nyata dari Jepang yang hidup sekitar abad ke-16. Takuan, dalam kisah Musashi, digambarkan sebagai biksu Zen aliran Rinzai yang gemar mengembara. Ia dikenal berjiwa bebas dan tidak terlalu mengikatkan diri pada aturan-aturan. Takuan pula yang pertama kali menangkap Musashi muda—kala itu ia masih dikenal sebagai Shinmen Takezo—yang saat itu diburu oleh orang-orang di desanya.

Oleh banyak percakapan dan perjumpaan dengan Takuan, Musashi pelan-pelan membentuk dirinya dari anak muda berjiwa “binatang” yang dipenuhi kemarahan menjadi seorang seniman, tidak hanya dalam jalan pedang, namun juga dalam bidang seni rupa, sastra, strategi pertarungan, dan juga kehidupan itu sendiri. Takuan, sang rahib, dalam kisah Musashi karangan Eiji Yoshikawa layaknya manusia-nyaris-paripurna. Ia memiliki mata yang batin yang mampu melihat “kebinatangan” dalam diri Takezo akan terasah oleh waktu dan bertransformasi menjadi “sesuatu.”Lalu, apa yang khas dari seorang rahib? Jay Shetty, dalam Think Like A Monk (2020) memberikan uraian apa dan bagaimana cara memiliki pola pikir seorang “rahib.” Shetty muda yang kala itu berumur 18 tahun dan tengah menempuh kuliah dalam bidang bisnis di London, diajak seorang kawan untuk menghadiri ceramah seorang rahib. Awalnya, ia menolak. Kawan Shetty bersikukuh. Shetty melunak dan mengajukan syarat: “Asalkan kita lanjut ke sebuah bar sepulang dari sana, aku ikut.” (hlm. ix)

Singkatnya, Shetty justru tergugah oleh apa yang diungkapkan oleh rahib tersebut. Tema yang dibicarakan kala itu adalah pengorbanan tanpa pamrih. Shetty kemudian menemukan bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia modern orang perlu belajar dari para rahib. Apa yang perlu kita pelajari dari para rahib? Menurut Shetty, “[p]ara rahib sudah terbiasa menghadapi berbagai godaan, menahan kecenderungan selalu mengkritik, berdamai dengan rasa sakit dan kecemasan, menenangkan ego, dan menjalani kehidupan yang penuh tujuan dan makna.” (hlm. xii) Pada akhirnya, Shetty pun masuk ke sebuah biara dan menjalani kehidupannya sebagai seorang rahib untuk beberapa waktu. Pengalaman menjadi rahib di sebuah biara kemudian ia olah. Setelah keluar dari kehidupan seorang rahib, Shetty lalu menjadi seorang influencer dan kreator konten dalam media sosialnya. Ia membagikan inspirasi dalam mengembangkan hidup melalui pengalamannya menjadi seorang rahib.

Baca Juga :  Don't Make Me Think
Think Like A Monk

Hal lain yang menarik dan disajikan di awal buku adalah kontras yang dibuat oleh Shetty tentang dua model pola pikir: pola pikir monyet (monkey mindset) dan pola pikir rahib (monk mindset). Pola pikir monyet selalu berpindah-pindah dari pikiran satu ke pikiran yang lain tanpa tujuan. Jika menghadapi tantangan-tantangan, pola pikir monyet hanya berpindah-pindah tanpa menyelesaikan satu tantangan pun. Di sisi lain, pola pikir rahib berorientasi pada bagaimana kita menggali diri kita hingga sampai pada akar dari apa yang sebenarnya kita inginkan. Dari sinilah kita kemudian dapat membuat langkah-langkah untuk terus bertumbuh, menyingkirkan kebingungan dan menemukan tujuan, makna, dan arah yang jelas dalam hidup kita.

Untuk melatih diri agar memiliki pola pikir layaknya seorang rahib, Shetty meminta kita untuk mulai dari bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Meminjam gagasan yang dikemukakan Charles Horton Colley, Shetty menulis, “Saya bukanlah diri saya sebagaimana yang saya pikirkan, dan saya bukanlah apa yang Anda pikirkan tentang diri saya. Saya adalah apa yang saya pikir Anda pikirikan. [….] Identitas kita terbungkus oleh apa yang orang lain pikirkan tentang kita—atau, lebih tepatnya, apa yang kita pikirkan tentang kita.” (hlm. 3) Setelah menemukan identitas sejati diri kita, Shetty kemudian mengajak kita untuk mengelola hal-hal yang sifatnya negatif, ketakutan, serta menemukan intensi sejati yang ada di dalam diri.

Think Like a Monk sendiri terbagi menjadi tiga bagian besar: Let Go, Grow, dan Give. Bagian pertama secara umum mengajak kita untuk menemukan cara-cara melepaskan diri dari beragam pengaruh eksternal. Selain itu, kita juga diajak untuk mengelola berbagai ketakutan yang merintangi kehidupan. Gagasannya adalah kita perlu membersihkan diri dulu dari hal-hal yang bisa menjadi potensi gangguan untuk bertumbuh. Pada bagian kedua, Shetty memberikan bantuan bagaimana memahami betapa rutinitas memiliki kekuatan yang membuat kita bisa tumbuh sebagai seorang pribadi. Bagian kedua ini juga membahas bagaimana mengendalikan emosi, pikiran, dan ego yang kita miliki. Kelompok terakhir dari buku ini mengajak kita untuk melihat dunia dari sudut pandang di luar diri kita. Shetty secara khusus mengajak untuk mensyukuri kehidupan dan hubungan yang terjalin di dalamnya.

Baca Juga :  Maye Musk: Woman Makes A Plan

Sebagai buku pengembangan diri, Think Like a Monk dilengkapi dengan langkah-langkah praktis. Di setiap akhir bab, kita dapat menemukan latihan-latihan meditasi. Selain itu, gaya tulisan Shetty yang renyah dan mudah dipahami ini dilengkapi dengan ilustrasi dengan gaya corat-coret sehingga mempermudah memahami gagasan-gagasan yang ditawarkan. Fitur Try It yang terdapat dalam buku ini menambah sisi praktis dari buku pengembangan diri. Melalui buku ini, perjalanan ke dalam diri bisa Anda mulai dan praktikkan dari hari ke hari, layaknya seorang rahib.

Melalui buku ini, Shetty tidak ingin mengajak kita menjadi seorang rahib. Ia sepenuhnya mengajak kita untuk hidup melakukan perubahan-perubahan kecil dalam hidup. Harapannya, dengan perubahan tersebut, kita sendiri dapat merumuskan apa yang menjadi tujuan hidup kita. Jay Shetty menjelaskan ini dalam sebuah artikel tulisan Sam Wolfson yang dimuat dalam The Guardian.Shetty mengutip Marthin Luther King, Jr., “Mereka yang mencintai perdamaian perlu belajar mengatur diri mereka sendiri seperti mereka yang mencintai perang.” Kemudian, ia melanjutkan, “Terkadang, ketika kita percaya pada cinta dan kasih sayang, itulah yang membuat kita menjadi tidak teratur, karena kita hanya berpikir bahwa cinta dan kasih sayang akan menyelesaikan segalanya. Kita membutuhkan ketulusan dan strategi yang mengubah dunia. Jika seseorang memiliki ketulusan namun tidak strategis, tidak akan terjadi perubahan. Jika seseorang bersikap strategis, namun tanpa ketulusan, perubahan terjadi meskipun tidak membawa kebaikan yang lebih besar. Inilah keseimbangan yang kita perlukan. Seandainya kita memiliki keduanya […] dunia akan berubah.”

Andriyan Permono,

Penikmat buku