Seorang Pembaca yang Jatuh Cinta pada Bukunya

Bagikan Artikel

Awal caturwulan ketiga tahun 2014 lalu, Agus Noor mematrikan namanya di rubrik Cerita Pendek harian Kompas, tepatnya Minggu 21 September 2014. Tulisan sepanjang 6 kolom halaman koran itu ia beri judul, “Penyair yang Jatuh Cinta pada Telepon Genggamnya”. Judulnya sangat nyentrik dan membuat pembaca budiman bertanya-tanya kisah surealis apa lagi yang mau digelaktawakan oleh Agus Noor.

image: Agus Noor: Penyair yang jatuh cinta pada telepon genggamnya.
Sumber Gambar: indonesiakaya.com

Pria yang membaptis diri sebagai Pangeran Kunang-kunang di akun Twitternya ini berasal dari Yogyakarta. Diasumsikan tanpa dasar bilamana kata-kata manisnya bisa jadi dipengaruhi oleh gudeg yang ia makan. Sekilas, cerpen Agus Noor ini mirip-mirip dengan apa yang terlukis dalam cerita pendek Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma. Cerpen Agus itu bermuara pada “kritik social” atas fenomena yang terjadi pada kehidupan kali ini, di mana hati bertemu hati tidak lagi sejati dan penting. Yang kian marak adalah kehidupan virtual yang bisa jadi penuh bias dan tak lagi murni. Unik, tetapi ini terjadi.

Jatuh cinta pada pandangan pertama

Bicara soal jatuh cinta dan berkaca pada uraian di atas, romantika ini tidak hanya terbatas pada ruang, waktu, dan jenis kelamin saja. Ini tidak hanya soal dua larap. Maka, tentu saja, tulisan ini tidak akan menyudutkan martabat dan jatidiri para lajang yang kerap dijadikan bahan candaan di linimasa media sosial. Marilah kita berduyun-duyun menyegarkan ingatan kepada cuitan soal buku yang lintas usia, lintas status KTP, dan lintas batas di bawah ini.

Najwa Shihab Sang Tuan Ruma Mata Najwa pernah bercuit di Twitter, “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu, mari jatuh cinta!” Nyatanya, cuitan Duta Baca Indonesia 2016-2020 pada Mei 2019 terasa abadi dan bergaung hingga hari ini. Mbak Najwa yang terkenal tegas dan tak kenal ampun terhadap banalita kejahatan pejabat publik di Indonesia ini ternyata romantis, ya.

Suksesor Duta Baca Indonesia, Heri Hendrayana Harris atau yang lebih akrab dipanggil Gol A Gong, menegaskan pula, “ Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat Indonesia menyadari bahwa kemajuan diawali dari merubah pemikiran-pemikiran lama menjadi pemikiran baru melalui buku-buku baru yang tentunya dapat menciptakan inovasi.” Dalam hari pengukuhannya pula, ia mengajak semua orang untuk membangun komunitas-komunitas literasi sebagai usaha makin mencintai buku (yang bisa jadi untuk pertama kalinya pula bagi beberapa orang).

Menurut perimin, komunitas literasi bisa jadi ruang bagi makin banyak orang untuk jatuh cinta pada buku. Yang paling sederhana adalah usaha banyak orang untuk membuat perpustakaan keliling, bahkan hanya bermodalkan sepeda kayuh. Misi utama mereka adalah menggiatkan anak-anak, remaja, dan orang dewasa untuk setia baca buku. Apa saja, mulai dari komik, novel, buku pengetahuan populer, ensiklopedi, sampai biografi. Semua bisa dicintai tanpa alasan, karena cinta tak butuh alasan~

image : Najwa Shihab: "Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca"
Sumber Gambar: prestigeonline.com

Hal prinsip dan dasariah untuk jatuh cinta adalah mulailah membaca. Kamu tidak akan pernah jatuh cinta dan berlanjut mencintai kalau tidak segera memulai membuka halaman demi halaman.

Mencintai to the bone

Nah, kalau kalian sudah atau baru bersiap untuk jatuh cinta, ada beberapa hal yang kudu diperhatikan, nih Periplusetiawan dan Periplusetiawati. Pertama, bersiaplah untuk terluka. Yak, sakit tetapi tidak berdarah. Bisa jadi, kalian akan dihadapkan pada harga buku yang kalian inginkan itu tidak sefrekuensi dengan nominal harta, tahta, dan gaji. Tenang, meminjam dahulu bukanlah dosa kok, yang penting dikembalikan. Selain itu, kadang kala hasrat dan ragat udah klop, tetapi stoknya berbanding terbalik. Perlu nunggu itu juga menguji besaran cinta kalian. Yang terakhir, teman meminjam koleksi kita tetapi ia tiba-tiba terkena “amnesia ringan”, kalaupun kembali wujudnya tidak seperti semula. Ini sedih parah, sih!

Hal kedua adalah menyadur sajak Sapardi Djoko Damono. Aku ingin mencintai buku dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat disampaikan lembar soal Ujian Nasional yang dijadikan bungkus gorengan. Cintailah bukumu, jangan sampai menyesal kemudian karena cinta itu juga tanggung jawab.

Poin ini selaras dengan hemat pemikiran oleh seorang rekan yang adalah copywriter sekaligus curriculum spescialist Periplus Education yang sudah sering colabs bersama sekolah-sekolah di pelbagai daerah, sebut saja Noegy atau Nugie. Kalimatnya sungguh trengginas dan jleb to the bone, kalau mau meminjam istilah Pamungkas. “Kalau beli buku, tanggung jawablah! Dibaca, jangan cuma ditumpuk di sudut ruang. Ketika tidak dibaca, itu sama saja merampas hak orang lain yang sebenarnya ingin membaca buku tersebut namun tidak dapat memiliki karena satu atau dua hal.”

Tidak perlu takut untuk jatuh cinta, “Perihal cinta, kita semua pemula” (Mohammad Ali Ma’ruf).


Bagikan Artikel