The Comfort Book

Bagikan Artikel
The Comfort Book - 9781786898326

Matt Haig datang lagi membawa kenyamanan melalui The Comfort Book (2022). Penulis buku laris The Midnight Library (2020) mencoba membagikan pengalamannya dalam menjalani masa kelamnya. Buku kecil yang ringkas baik fisik maupun isinya yang setiap subbabnya hanya sepanjang 1-3 halaman sehingga mudah dibaca lalu dicerna oleh pembaca.

Sebaik, sekaya, sesukses dan sesucinya seseorang, pasti pernah memiliki masa kelam dalam hidupnya. Ada yang mampu jatuh lalu bangun untuk melewatinya, namun banyak juga yang jatuh tanpa pernah terbangun lagi. Kegagalan bertubi, kekecewaan, konflik dan perang adalah beberapa dari banyak sebab munculnya ketidakberdayaan dalam hidup manusia yang akhirnya membawa mereka mengalami masa kekelaman.

Masa kelam tersebut yang bagi beberapa orang menyebutnya “luka-luka masa lalu” bisa menghantui sepanjang hidup. “Luka-luka”  tersebut bisa sembuh, namun akan membutuhkan waktu yang lama atau bahkan akan terus terbawa sampai akhir hayat.

Persoalan pribadi Matt Haig

Matt Haig adalah seorang penulis buku laris. Ia menulis buku untuk orang-orang dewasa pun buku untuk anak-anak. Ia adalah seorang jurnalis kelahiran Sheffield, Yorkshire Selatan, Inggris. Ia pernah belajar bahasa Inggris dan sejarah di Universitas Hull, Inggris.

Lalu, apa yang menarik dari kehidupan Matt Haig? Pribadi yang kini dikenal sebagai guru kehidupan ini konon pada umur 24 tahun pernah mencoba bunuh diri. Kala itu Haig sedang berada di Ibiza, salah satu pulau di Spanyol yang menjadi tujuan wisata di wilayah Laut Mediterania. Ia sedang berjalan menuju salah satu tebing yang ada di Ibiza. Udara yang beraroma laut dan pinus bercampur dengan keinginan dan gagasan Matt untuk bunuh diri. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti. Ia tidak jadi bunuh diri.

Haig lalu menuangkan semua pergulatan batinnya dalam Reasons to Stay Alive (2015). Di buku itulah ia berkisah bagaimana selama itu dirinya hidup dalam “neraka” depresi dan kecemasan. Dalam satu wawancaranya dengan theguardian.com, Haig mengaku bahwa ia perlu waktu 10 tahun untuk berani mendiskusikan gangguan mental yang dialaminya di luar istri dan orang tuanya.

Akan tetapi, bagi Haig, ia “kadang kala menulis untuk membuat dirinya sendiri merasa nyaman.”

Haig sendiri, lompatan keyakinan dia alami ketika mengambil keputusan untuk menjadi orang tua. Istrinya, Andrea, ingin memiliki anak sementara dirinya masih bergelut dengan persoalan gangguan mental yang dialaminya. Namun demikian, Haig bisa menjadi ayah yang baik karena ia perlahan-lahan mengendalikan gangguan mentalnya melalui kombinasi antara waktu, cinta dan kasih sayang, membaca, dan berlatih olah raga. Akan tetapi, bagi Haig, ia “kadang kala menulis untuk membuat dirinya sendiri merasa nyaman.” (hlm. vii)

Baca Juga :  The Captain Class

Ringkas namun bernas

Apa yang berbeda di dalam buku ini? Selain potongan-potongan kecil kisah hidupnya, buku ini memuat nukilan kalimat bijaksana dari beberapa tokoh dengan berbagai latar belakang dan disiplin ilmu. Ada juga daftar lagu, kutipan dari penyair, bahkan juga resep makanan. Buku ini memang terkesan seperti reremahan gagasan. Namun, bicara soal reremahan, siapa dapat tahan untuk tidak mencomot reremahan rengginang di dasar kaleng biskuit seusai masa Lebaran?

Tulisan-tulisan singkat yang terdapat dalam buku ini membuat kita bisa memilih satu atau beberapa yang paling cocok untuk kita. Misalnya saja, bagi para pembaca yang saat ini sedang mengalami krisis kepercayaan diri, Haig memberi nasihat. “Menjadi diri sendiri bukanlah persoalan yang harus kita usahakan. Sebab, kita ini dilahirkan sebagai diri kita, dan bahkan kita tidak perlu mencoba menjadi diri sendiri. Kenyataannya, persoalannya ada pada usaha dan percobaan kita. Anda tidak bisa mencoba untuk menjadi diri sendiri. Hal yang bisa dilakukan adalah membiarkan diri kita [berproses].” (hlm. 171)

Buku ini bisa dibaca sesuka hati tanpa harus ada rasa bersalah karena melewati atau mengabaikan sisanya. Buku ini adalah kumpulan kalimat atau kisah-kisah inspiratif, lagu serta tulisan penulis sendiri saat menghadapi kekelaman dalam hidupnya. Dia mengumpulkan lalu menyatukannya dalam sebuah buku untuk membantu orang lain yang mungkin akan ikut terbantu. Melalui The Comfort Book, Haig juga hendak menekankan sebuah harapan kalau orang-orang tersebut tidak sendirian, masih banyak yang memiliki nasib yang sama atau mungkin lebih dalam daripada masalah yang mereka alami.

“Menjadi diri sendiri bukanlah persoalan yang harus kita usahakan. Sebab, kita ini dilahirkan sebagai diri kita, dan bahkan kita tidak perlu mencoba menjadi diri sendiri. Kenyataannya, persoalannya ada pada usaha dan percobaan kita. Anda tidak bisa mencoba untuk menjadi diri sendiri. Hal yang bisa dilakukan adalah membiarkan diri kita [berproses].”

Adalah hal normal kita membutuhkan penghiburan saat kita merasakan kesedihan, keputusasaan, kekecewaan dan perasaan sendirian. Bentuk-bentuk penghiburan itu bisa bermacam. Ada yang memasak, menenun, jalan-jalan atau bepergian sendirian, mendengarkan musik atau mungkin hanya dengan duduk di sebuah cafeteria, menikmati secangkir kopi dan mengamati orang berlalu lalang di jalanan. Dalam bukunya, Haig memiliki cara tersendiri antara lain membaca kalimat atau bacaan penyemangat dan mendengarkan musik. Masing-masing dari kita pun pasti memilikinya.

Tiga macam pembaca

Tentunya, akan ada orang yang setuju dan tidak setuju dengan gagasan Haig dalam The Comfort Book.  Akan ada yang terinspirasi meskipun akan ada pula yang merasa tulisan dalam buku ini tidak beda jauh atau bahkan lebih buruk dibanding karya yang lain. Namun, rasanya kita bisa mengelompokkan para pembaca menjadi tiga golongan pembaca.

Baca Juga :  Seni Mengoreksi Kekeliruan Anak (Usia Dini)

Kelompok pertama adalah yang terinspirasi dengan buku ini. Mereka bisa menemukan kekuatan dan harapan saat membaca buku ini baik sebagian atau keseluruhan lalu mencoba bangkit dan berjuang walau mungkin hanya sejenak. Buku ini bisa menjadi teman saat perasaan jatuh itu kembali. Mungkin, kita bisa menemukan juga setelah beberapa kali membaca, orang tersebut bangkit total dari kejatuhan dan terus melangkah.

Orang yang menganggap buku ini biasa dan cenderung negatif masuk dalam kelompok kedua. Mereka akan melihat bahwa buku ini tidak sesuai harapan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan mereka menganggap banyak buku yang lebih baik daripada buku ini. Saat atau setelah membaca, orang dari kelompok ini justru semakin tenggelam dalam keputusasaan dan terhanyut oleh bayang-bayang masa lalu atau masalah yang sedang dihadapi sehingga semakin memperparah keputusasaan yang sedang dihadapi.

Kelompok ketiga adalah orang yang tidak merasakan efek apa-apa setelah membaca buku ini. Kelompok ini cenderung menganggap perasaan berat yang mereka alami sudah cukup dalam sehingga bacaan, seminar atau bimbingan yang sudah mereka dapatkan tidak ada yang berpengaruh untuk mereka. Atau bisa juga, mereka hanya menganggap buku ini sebagai bacaan di waktu luang.

Di hadapan ketiga kelompok orang ini—yang mungkin salah satunya Anda juga—Haig memberikan nasihat. Ia memberi judul menarik: “Sebuah pengingat menjalani masa-masa sulit”. Beginilah yang ditulis Haig, “Suatu hari nanti, masa sulit pasti berlalu. Dan, kita akan bersyukur atas hidup dengan cara yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan”. (hlm. 103)

***

Apapun yang didapat oleh pembaca, semua akan kembali kepada keputusan pembaca sendiri. Semua luka-luka masa lalu, pengalaman kelam dan apapun juga yang kita alami, kita sendiri yang mengetahui, menanggung dan merasakannya. Kita sendiri juga yang bisa menyembuhkannya. Walaupun butuh waktu yang lama, maukah kita menyembuhkan dan membangkitkan kembali hidup kita sendiri hanya karena saat ini kita merasa tidak sanggup? Tentang hal ini, Haig memberikan nasihat yang cukup bijak. “Kita butuh kebaikan. Kita butuh cara membedakan antara siapakah orang itu dan apa yang terkadang dilakukannya. Dan, cara itu juga digunakan terhadap diri kita sendiri.” (hlm. 143) Jadi, selamat membaca The Comfort Book dan menjadi nyaman dengan diri kita sendiri.