The Founders

Bagikan Artikel

The Founders (2022)adalah buku yang membuat kita bedecak kagum, setidaknya dalam hati. Satu kata yang rasnya bisa mewakili perasaan para pembaca: wow! Bagi pembaca yang akrab dengan Silicon Valley terutama dari dunia informatika tidak akan asing dengan tokoh-tokoh dalam buku ini. Berbeda jika pembaca hanya mengenal PayPal dan Elon Musk, tentu akan terkejut ternyata banyak tokoh di dalam proses terbentuknya sebuah startup raksasa yang banyak dimanfaatkan orang dan belakangan ini “heboh” karena diblokir menkominfo. Akan lebih mengejutkan kalau kita mengetahui kalau para “alumni” PayPal ini bukan hanyaElon Musk yang masih aktif dan melanjutkan petualangannya di berbagai perusahaan rintisan (startup) yang membentuk Silicon Valley.

Elon bukan kreator PayPal?

Jika selama ini Anda meyakini bahwa kreator PayPal adalah Elon Musk seorang, maka The Founders sungguh layak Anda baca. Memang betul bahwa PayPal adalah penggabungan dua perusahaan, yaitu X.com dan Confinity. Nah, X.com inilah yang “sesungguhnya” perusahaan perbankan daring yang didirikan oleh Musk pada 1999. Sementara itu, Confinity adalah perusahaan perangkat lunak yang membuat platform pembayaran secara digital. Confinity sendiri didirikan oleh Max Levchin, Peter Thiel, dan Luke Nosek pada 1998.

Jimmy Soni akan membawa kita pada fase-fase awal kisah bagaimana PayPal berdiri hingga fase saat eBay mengakuisisinya pada 2002. Namun, lanskap dekat narasi berdirinya PayPal ini harus juga ditempatkan dalam lanskap yang lebih luas. Dekade 1970-an hingga 1980-an bisa dibaca sebagai masa booming komputer. Pada era itu, setidaknya kita bisa menunjuk dua eksponen: Bill Gates dengan Microsoft dan Steve Jobs dengan Macintosh. Sementara itu, dekade 1990-an hingga awal 2000-an ditandai dengan pesatnya perkembangan jaringan internet. Kondisi ini bisa dibaca sebagai fase awal kemunculan perusahaan-perusahaan rintisan yang imbasnya berlangsung hingga saat ini.

Para pendiri beberapa perusahaan yang memberi pengaruh era kita—pendiri YouTube, yelp, Tesla, SpaceX, LinkedIn, dan Palantir, antara lain—adalah karyawan pada tahap awal berdirinya PayPal; dan beberapa di antaranya menempati posisi teratas di Google, Facebook, dan perusahaan penyertaan modal terkemuka lainnya di wilayah Silicon Valey.

Jimmy Soni, The Founders

Selain beberapa perusahaan besar seperti Yahoo, Altavista, Amazon atau eBay, PayPal adalah salah satu dari ratusan perusahaan rintisan yang lahir pada masa ini dan mampu bertahan dari dotcom bubble yang terjadi sekitar tahun 2000. Lebih lagi, Soni memandang bahwa ada yang khas dari fase-fase awal berdirinya PayPal. “Para pendiri beberapa perusahaan yang memberi pengaruh era kita—pendiri YouTube, yelp, Tesla, SpaceX, LinkedIn, dan Palantir, antara lain—adalah karyawan pada tahap awal berdirinya PayPal; dan beberapa di antaranya menempati posisi teratas di Google, Facebook, dan perusahaan penyertaan modal terkemuka lainnya di wilayah Silicon Valey.” (h. xii)

Baca Juga :  12 Rules for Life: Antidote to Chaos

Kisah tentang inovasi

The Founders sungguh tepat untuk disematkan menjadi judul buku ini. Buku ini mengajak kita untuk menyelami awal berdirinya PayPal sebagai pionir ebanking dan layanan keuangan berbasis internet. Kisah diawali oleh masa lalu Max Levchin, yang mungkin saja asing bagi kita. Tapi tanpa Levchin, PayPal tidak akan pernah lahir karena dialah salah satu anggota awal “PayPal Mafia” bersama Peter Thiel dan Luke Nosek.

Saat bank masih berkutat dengan transaksi konvensional, PayPal sudah melangkah jauh dengan membuat sistem pembayaran daring yang melampaui zaman.  Pada masa itu, PayPal sudah  mengembangkan transaksi keuangan melalui ponsel. Diawali oleh pertemuan Levchin dan Thiel, keduanya mengumpulkan para jenius yang rata-rata saling kenal melalui lingkaran kampus dan lingkungan keluarga. Dengan modal yang dikumpulkan dari keluarga dan teman-teman dan berbekal manajemen super a la Thiel disertai kejeniusan Levchin dalam pemrograman, mereka menciptakan perusahaan rintisan bernama Confinity pada 1998. PayPal hadir sebagai produk andalan dari perusahaan baru itu.

Di sisi lain, setelah menjual Zip2, Musk mendirikan X.com untuk melanjutkan ambisinya yang besar. Berbekal pengalaman tak mengenakkan saat mengembangkan Zip2, Musk menerapkan gaya manajerialnya sendiri. Ia menjabat sebagai CEO sehingga memiliki keputusan besar atas X.com. X.com sendiri bisa dibilang telah mendobrak sistem dan literasi keuangan masa itu. Transaksi keuangan dipadukan dengan pialang saham masuk ke dunia internet.

Lika-liku PayPal

Seiring berkembangnya Confinity dan X.com, persaingan langsung di antara keduanya semakin hari jadi semakin ketat. Kantor mereka yang bersebelahan turut memanaskan persaingan tersebut. Namun, setelah negosiasi yang panjang dan penuh liku, PayPal dan X.com sepakat melebur menjadi satu perusahaan pada 2000.

Setelah akuisisi selesai, PayPal semakin kuat. Karena para pengguna eBay adalah pelanggan pertama PayPal. Secara otomatis,  ekspansi eBay ke pasar global membuat PayPal ikut serta juga. Dalam perkembangannya, sistem PayPal bukan hanya berjalan simultan di dalam sistem eBay. Pasar keduanya pun meluas ke Eropa dan Asia. Mata uang dan bahasa yang digunakan pun disesuaikan dengan masing-masing negara tempat pelanggan berada. Perkembangan ini secara alami menaikkan jumlah pengguna dan pendapatan mereka.

Perkembangan PayPal tentu membuat banyak pihak tertarik untuk berinvestasi atau mengakuisisi dengan eBay sebagai peminat utama. Disertai bayang-bayang dotcom bubble dan kejatuhan beberapa perusahaan rintisan pasca IPO, PayPal pun melantai ke bursa pada 15 Februari 2002. Keputusan IPO yang sangat menguntungkan untuk investor awal namun tidak untuk eBay karena mereka harus membayar minimal 50% lebih mahal untuk mengakuisisi dibandingkan harga yang dipatok sebelum IPO dengan jarak hanya beberapa bulan.

Etos para “alumni”

Apa yang membuat “alumni” PayPal ini begitu dihargai, dihormati, dan dikenang sampai hari ini? Dalam buku ini, Soni menyebut beberapa kualitas, seperti: kerja keras, kemampuan menalar di luar pakem (think out of the box), optimistis, keterbukaan, dan komitmen untuk pantang menyerah. Namun demikian, PayPal memiliki pramodal paling fundamental dalam membangun bisnis, yakni kepercayaan (trust).

Baca Juga :  Jokowi: Optimisme Masa Mendatang dan Duka Mendalam

Kepercayaan kepada rekan sungguh menjadi budaya awal mereka. Santosh Janardhan, seorang teknisi yang bergabung dengan PayPal pada 2001, mengenang bahwa pimpinan perusahaan dengan cepat memberi kepercayaan, bahkan pada karyawan yang beru direkrut. Hanya butuh beberapa jam saja dalam hari pertama Janardhan bekerja untuk mendapatkan password untuk membuka semua basis data PayPal. David Wallace yang kini mengelola WDWallace Consulting memandang bahwa kepercayaan membuahkan kecepatan. Wallace yang merupakan karyawan di fase-fase awal PayPal, menambahkan bahwa ia ada pada siklus yang jauh lebih cepat dibandingkan perusahaan lain. Ia tak perlu waktu lama untuk mengungkapkan gagasan yang dimiliki demi kemajuan perusahaannya. (h. 73)

PayPal dibangun oleh anak-anak muda yang melihat peluang dari perkembangan dunia internet saat itu. Saat anak-anak muda lain bergelut dengan dunia kampus, mereka sudah berpikiran jauh ke depan untuk membangun bisnis, bahkan pandangan teknologi dan bisnis mereka jauh melebihi apa yang ditawarkan institusi yang memiliki sumber daya besar baik dalam bentuk dana maupun manusia. Mereka tidak cepat berpuas diri dengan keberhasilan bahkan mencari inovasi-inovasi yang lain.

YouTube, LinkedIn, Facebook, Uber, dan Zynga adalah beberapa dari keterlibatan para “alumni” PayPal. Dalam perkembangan perusahaan-perusahaan rintisan skala global yang berkembang hingga saat ini, tersebarlah para “alumni” PayPal. Para “alumni” PayPal memberikan warna melalui perusahaan-perusahaan rintisan yang mewarnai keseharian kita saat ini.

Hanya butuh beberapa jam saja dalam hari pertama Janardhan bekerja untuk mendapatkan password untuk membuka semua basis data PayPal. David Wallace yang kini mengelola WDWallace Consulting memandang bahwa kepercayaan membuahkan kecepatan.

Jimmy Soni, The Founders

Penutup

The Founders benar-benar sebuah buku yang setia dengan judul yang digunakannya. Buku ini memang berisi kisah para pendiri PayPal, dan ini yang membuatnya luar biasa: kisah para wirausahawan “alumni” PayPal yang membentuk Silicon Valley saat ini. Gaya menulis Soni sungguh menghibur. Ia mencoba mengupas semua drama dengan tensi tinggi di seputar proses lahirnya PayPal.

Dalam sebuah wawancara, Soni mengatakan bahwa berkas wawancara yang dilakukannya dengan orang-orang di balik berdirinya PayPal bisa mencapai tiga kali tebal The Founders. Wawancara yang dilakukan Soni menggambarkan dengan jelas apa yang terjadi di lingkungan PayPal: kadang kejam, kadang kacau, pun sering kali fitnah di sana-sini. The Founders, pada akhirnya, adalah kisah tentang sekelompok jenius tekno-utopis yang berusaha membentuk masa depan berdasarkan kabel-kabel data dan teknologi. Membaca sepak terjang mereka, kita hanya akan bisa berdiri dalam satu sisi kubu—mereka bisa jadi pahlawan atau malah para bajingan.