Tulisan Tangan Masih Perlu Diajarkan?

Bagikan Artikel

Baru-baru ini, saya menemukan selembar kertas A4. Di sana, tertera tulisan tangan anak saya. Dengan pensil, dia menuliskan theme song dari Lego Friends: Girlz 4 Life (animasi berdasarkan karakter Friends dari LEGO, yang ditayangkan pertama kalinya tahun 2016). Ada tulisan tangannya sepanjang 21 baris pada halaman yang satu dan 23 baris di halaman sebaliknya.

Sedikit kilas balik. Sore itu saya baru pulang dari kantor. Dengan mata berbinar, anak saya memberikan surprise. Saya diminta duduk dulu di sofa tamu sebagai audiens. Dia mau pentas. Dia menyanyikan satu lagu utuh (lebih tepatnya: sing along dengan lagu dari Youtube). Penuh percaya diri! Sesekali, dia melirik ke kertas yang sudah dia tulisi. Dia mengakhiri lagu dengan memberikan gestur hormat, lalu menyerahkan lembaran kertas tadi kepada saya.

Tentu, ada rasa haru dan bangga dalam hati saya. Saya kecup keningnya. Saya terkesima mengamati tulisan tangannya. Sudah cukup rapi dan mudah dibaca. Kala itu dia baru kelas 1 SD. Saya sangat berterima kasih kepada guru-gurunya yang telaten mengajarkan tulisan-tangan kepadanya.

Perlukah Tulisan Tangan?

J. Richard Gentry, PhD menekankan pentingnya mengajarkan tulisan tangan anak sejak dini.

Masih perlukah menulis-tangan diajarkan di sekolah? Hampir delapan tahun silam, pertanyaan ini diajukan kepada J. Richard Gentry, PhD. Ia adalah peneliti, konsultan pendidikan, dan penulis di Amerika Serikat. Wawancara itu dimuat di Psychology Today (Januari, 2014).

Tanpa ragu, Richard Gentry mengiakan pentingnya mengajarkan tulisan tangan anak sejak dini. Merunut pada beberapa riset melalui pemindaian aktivitas otak ketika menulis, ia menekankan bahwa keterampilan menulis tangan sejak dini akan sangat membantu kemampuan anak membaca. Menurut riset tersebut, keyboard kurang memiliki efek serupa. 

Amerika Serikat, menurut Richard, bukanlah contoh yang baik. Persekolahan di Amerika kurang memberikan perhatian khusus pada keterampilan mendasar menulis tangan. Sekolah lebih berorientasi pada keberhasilan pada ujian semata. Baik sekolah maupun orang tua lebih was-was dengan hasil ujian anak ketimbang keterampilan hidup yang dibutuhkan.

Richard turut berkomentar terhadap kecenderungan di atas. Pada kesempatan lain ia mengatakan, “Schools should meet the needs of children rather than expect children to meet the test score needs of the school. When you meet the needs of the children score rise.” (Semestinya, sekolah memenuhi kebutuhan anak daripada menuntut mereka untuk memenuhi kebutuhan skor dari sekolah. Sebab, kalau kita pertama-tama memenuhi kebutuhan anak maka dengan sendirinya skor mereka akan naik). Masuk akal.

Baca Juga :  KBM Daring: Untung atau Buntung?

Saya sulit memahami pandangan yang meremehkan tulisan tangan. Seolah ada sikap ini: jika anak bisa menulis tangan, ya syukur, kalaupun tidak juga tak apa. Toh jika tidak, masih ada komputer dan gawai canggih lain yang akan membantunya. Si anak cukup berbicara saja lewat mikrofon. Lalu, bum! Gawai canggih akan mengetik kata-katanya secara verbatim. Efisien, bukan? Mungkin.

Keuntungan Tulisan Tangan

Kiranya, bukan tanpa alasan apabila para ahli pendidikan menekankan perlunya menulis tangan sebagai keterampilan dasar.

Otot motorik, baik kasar maupun halus, yang dimiliki anak harus dilatih sejak dini. Di banyak sekolah TK (Taman Kanak-kanak), anak-anak dibiasakan untuk menggunakan gunting. Mereka juga mewarnai dengan krayon, atau makan sendiri dengan menggunakan sendok. Tujuannya sama, yakni agar otot-otot jemari mereka yang masih mungil itu semakin kuat.

Lalu, pelan-pelan mereka mulai diajari bagaimana memegang pensil dengan jemari. Salah satu cara latihannya adalah dengan menghubungkan garis-garis putus (tracing). Pada mulanya huruf atau angka yang di-tracing cukup besar ukurannya. Lalu, semuanya dibikin relatif lebih kecil. Spidol atau pensil warna-warni bisa menjadi salah satu cara untuk membuat latihan menulis tangan menjadi lebih menyenangkan. Dengan demikian, secara bertahap si anak akan mampu menulis dengan tangannya sendiri secara mandiri.

Secara pedagogis, ada lebih banyak keuntungan yang diperoleh dari pembiasaan tersebut sejak dini. Kita ambil beberapa saja dari antaranya:

1. Tulisan tangan membuat pikiran lebih fokus

Tulisan tangan membuat pikiran lebih fokus

Kita tahu, rentang waktu konsetrasi anak pada satu hal itu sangat terbatas. Justru karena belajar menulis tangan membutuhkan waktu, mereka dilatih untuk memerpanjang rentang waktu perhatian pada satu hal. Semakin hari, semakin panjang rentang waktu untuk berkosentrasi.

2. Tulisan tangan memperkuat kemampuan memori

Tulisan tangan memperkuat kemampuan memori

Menurut penelitian para neurolog, menulis tangan membuat otak beraktivitas secara berbeda bila dibandingkan dengan mengetik menggunakan keyboard atau layar sentuh. Beberapa penelitian mengafirmasi bahwa anak akan lebih lama mengingat sesuatu apabila dia menuliskan sesuatu tersebut dengan tangannya. Ini mirip dengan metode TPR (Total Physical Response). Anak diajak membuat gerakan fisik tertentu untuk mengingat kata atau istilah baru. Menulis tangan merupakan aktivitas holistik yang memermudah proses belajar dan mengingat sesuatu.

3. Tulisan tangan membantu pikiran kita lebih tertata

Pikiran kita bergerak sangat cepat. Ibarat aliran air, semakin cepat geraknya, semakin tidak meresap ke tanah. Pikiran kita menjadi sepotong-sepotong. Ia tidak utuh, runtut, dan mendalam. Menulis tangan merupakan cara yang sederhana untuk agak “memerlambat” pikiran, sehingga alirannya lebih meresap. Gagasan menjadi lebih dalam. Dengan belajar menata kata, anak pun belajar menggunakan logika secara runut.

Baca Juga :  Memaklumkan Ki Hadjar Dewantara sebagai Pahlawan

4. Tulisan tangan mencerminkan kepribadian si penulis

Tulisan tangan mencerminkan kepribadian si penulis

Berbeda dengan fon komputer, gawai, atau mesin ketik, tulisan tangan bersifat unik. Tulisan tangan mencerminkan kepribadian penulisnya. Lepas dari seberapa akurat analisis seorang grafolog, kiranya tetap benar bahwa tulisan tangan merupakan ekspresi personal dari seorang pribadi. Justru karena bersifat personal, maka guru bisa menerapkan pendampingan yang bersifat personal pula (cura personalis) .

Kiranya keuntungan pedagogis seperti di atas (dan kiranya masih banyak lagi) sungguh menjadi pegangan dan dorongan positif untuk kita.

Britania Raya contohnya

Menurut Richard Gentry, Britania Raya (Inggris, Skotlandia, dan Wales) jauh lebih baik daripada Amerika Serikat dalam hal budaya menulis tangan. Menulis tangan tetap wajib diajarkan di sekolah. Karena, secara pedagogis, menulis tangan akan turut mengembangkan kapasitas-kapasitas lain secara lebih menyeluruh dan utuh.

Saya sempat penasaran dengan pernyataan Gentry yang terlontar hampir 8 tahun silam itu. Barangkali, kebijakan sudah berubah. Saya mencari-cari informasi di internet. Ternyata, di Inggris, pelajaran menulis tangan masih diwajibkan oleh Kurikulum Nasional. Ada tiga fase utama, yaitu Foundation Stage (usia 4-5 tahun), Key Stage 1 (usia 5-7 tahun), dan Key Stage 2 (usia 7-11 tahun). Setiap tahap juga meliliki ukuran pencapaiannya sendiri.

Maka, tidak mengherankan apabila penerbit besar sekelas Collins (di Inggris) pun masih bersedia menginvestasikan waktu dan dana dengan menyiapkan serial baru khusus mengenai menulis-tangan ini. Judul serialnya adalah Happy Handwriting” yang akan terbit sekitar bulan Oktober 2021. Saya juga penasaran bagaimana persisnya kurikulum tadi diterapkan di kelas.

Belajar lagi

Di awal tulisan saya katakan bahwa ada rasa haru dan bangga. Saya terharu memperoleh surprise. Saya bangga atas kerja keras anak saya. Rupanya, sembari menyanyi dia membaca subtitle lagu video di Youtube. Ia pun menuliskan lirik lagunya. Kata demi kata! Konon, kata Mbak yang menemaninya di rumah, ia memutar ulang lagu itu berkali-kali. Bahkan, ia butuh lebih dari dua jam untuk merampungkannya.

Selain itu, sebenarnya saya juga merasa iri. Ada saat di mana tulisan tangan saya ternyata tidak mudah dibaca. Orang mungkin akan bilang: mirip steno, sandi rumput, atau malahan grafik eletrokardiogram (EKG). Artinya, orang lain tidak bisa membacanya. Malunya, tidak jarang saya pun kesulitan membaca tulisan saya sendiri! Rasanya, saya pun perlu kembali belajar menulis tangan bersama (atau, dari) anak saya. Duh!