Wellbeing: Mengakomodasi Dinamika Batin

Bagikan Artikel
Collins Becky Goddard-Hill

Dalam dunia pendidikan, dinamika batin tentunya dialami baik oleh baik oleh peserta didik, guru, serta orang tua atau wali. Lebih lagi, ancang-ancang dari kebijakan pemerintah terkait Pembelajaran Tatap Muka terbatas. Seberapa siapkah orangtua atau peserta didik, atau bahkan guru untuk itu sendiri? Bagaimanakah mengolah dan mengkomunikasikan gejolak perasaan yang muncul?

Satu pertanyaan untuk Anda

Mengawali tulisan ini, saya hendak mengajukan satu pertanyaan:

Bagaimana reaksi Anda ketika tiba-tiba mendengar bahwa Sekolah Anda akan menjalankan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas?

Bayangkan sebuah skala angka, dari 1 – 10. Angka 1 (satu) berarti sangat tertekan dan tidak setuju, sedangkan angka 10 (sepuluh) sebagai sangat setuju dan merasa excited. Di posisi angka berapa Anda?

Bila ada sejenak waktu, coba tanyakan pada diri sendiri: Mengapa di angka tersebut?

Jawaban tersebut bisa sangat personal. Tergantung konteks masing-masing. Dan, itu pun tidak hanya berlaku untuk para guru. Para murid maupun orang tua juga memiliki reaksi yang beraneka ragam.

Wacana PTM terbatas

Mungkin, anak-anak yang pernah mengalami PTM sebelum pandemi akan merasa excited. Mereka akan bertemu kembali teman-teman lama dan guru. Mungkin, juga ada yang nervous karena belum pernah mengalami PTM, utamanya yang baru masuk Kelas 1 SD.

Bahkan, tidak sedikit juga orang tua juga merasa was-was bila harus memberikan izin anak-anak ikut PTM. Karena, anak-anak mereka belum divaksin atau masih di bawah usia 12 tahun. Terlalu riskan. Namanya anak kecil, prokes bisa saja “tanpa sengaja” menjadi kendur atau teledor. Jangan lupa, tanpa diketahui, anak-anak bisa saja bersua dan terpapar dengan orang tanpa gejala (OTG). OTG bisa siapa saja, termasuk teman sekelas.

Baca Juga :  Literasi Digital & Etika Komunikasi (16 April 2021)

Maka ada sederet pertanyaan. Semuanya diawali dengan bagaimana agar …

  • Aneka ragam pengalaman dan reaksi personal tersebut tetap “didengarkan”?
  • Rasa-perasaan dalam hati mereka bisa diungkapkan secara wajar dan aman?
  • Masing-masing mendapatkan atmosfir yang nyaman bahwa mereka tidak sendirian?
  • Terbentuk komunitas pembelajaran yang kondusif dan suportif?

Dan, seterusnya.

Di sini, kita tidak bermaksud sedang mencari jawaban absolut dan final–kalau pernah ada. Tetapi, pertanyaan-pertanyaan tersebut pantas untuk kita pikirkan bersama. Lalu, kita carikan solusi seturut konteks di sekitar kita. Sebab, wacana PTM terbatas tentu sangat berpengaruh pada dinamika batin selama masa pandemi.

Belajar dari Becky, yuk!

Becky Goddard-Hill, seorang therapist anak dan sekaligus pengarang serial buku well-being, akan membagikan tips. Titik-tolaknya adalah well-being. Intinya, bagaimana agar Murid maupun Guru merasa aman dan nyaman dalam proses pembelajaran bersama, termasuk dalam konteks kelas fisik (PTM).

Salam,

Periplus Education Team

teacher-academy@periplus.co.id