Think Again: Menimbang Ulang Proses Berpikir Kita

0
Share
Think Again M-Book Club

Belakangan ini, satu kata yang marak diucapkan para praktisi dan akademisi yang mempelajari manajemen organisasi adalah “VUCA”. Kata ini sendiri sebenarnya adalah akronim dari volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity. Akronim ini adalah turunan dari gagasan-gagasan kepemimpinan dari dua “suhu”, yakni Warren Bennis (1925—2014) dan Burton “Burt” Nanus (1936—sekarang). Keduanya menciptakan akronim ini pada 1987 dalam konteks pendidikan militer Amerika Serikat. Maklum saja, pada masa itu, Negeri Paman Sam sedang ada dalam gejolak Perang Dingin.

Selang lebih dari tiga dekade setelah Perang Dingin, akronim VUCA kembali banyak bergulir. Konteks dekatnya adalah perkembangan teknologi—jika ingin lebih spesifik, kita bisa menyebut teknologi informasi—dan dampaknya bagi organisasi, baik yang berorientasi pada bisnis maupun non-bisnis. Kemampuan untuk merumuskan VUCA yang dihadapi suatu organisasi akan berdampak pada eksistensi organisasi tersebut.  Belum lagi, belakangan ini kita berhadapan dengan situasi pasca COVID-19 yang membuat banyak hal berubah begitu cepat. Perubahan yang begitu cepat menuntut respon yang bukan sekadar main-main. Orang perlu memiliki kecakapan dalam berpikir dan menentukan langkah terbaik untuk merespon perubahan yang terjadi dengan cepat.

Think Again (2021), karya Adam Grant yang adalah psikolog organisasional sekaligus seorang dosen, menantang kita untuk kembali menyelisik cara berpikir dan hal-hal yang kita yakini sebagai kebenaran. Selama ini, akal budi diyakini sebagai faktor penentu utama kemampuan berpikir dan belajar. Namun, belakangan ini hadir gagasan bahwa ada keterampilan kognitif lain yang diperlukan. Keterampilan tersebut adalah kemampuan untuk rethink dan unlearn. Kedua kemampuan inilah yang dieksplorasi dalam Think Again, sehingga kita dapat menjadi pribadi yang memiliki fleksibilitas, kesederhanaan, dan keingintahuan yang membuat kita belajar lebih luas dan mendalam.

Proses Rethinking dan Unlearn

Proses rethinking yang digaungkan Grant sendiri meliputi tiga ruang cakupan. Cakupan pertama adalah individual rethinking. Di sini, kita akan diajak untuk bersama mengeksplorasi Bagaimana proses rethinking sejatinya terjadi di dalam pikiran (mind) kita. Bagian ini menggali cara untuk membuat pikiran seluas-luasnya. Cakupan kedua adalah interpersonal rethinking. Setelah mulai dari diri sendiri, kita hendak ditantang untuk mampu mendorong orang lain berani melakukan proses rethinking. Cakupan terakhir adalah collective rethinking. Pada level ini, kita perlu berkomunikasi tentang isu dan permasalahan mendasar yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Cakupan ini mendorong kita untuk bersama-sama membangun sebuah komunitas yang berisi orang-orang yang tidak berhenti membuka cakrawala pengetahuan mereka.

Pada intinya, tawaran yang diajukan Adam Grant dalam Think Again adalah kemampuan untuk menimbang ulang proses berpikir kita. Apa yang kita ketahui akan menjadi lahan bagi apa yang kita percayai. Melalui tawaran teoretis dan praktis dari Grant, kita akan berlatih untuk “berevolusi” secara berkesinambungan sejak dalam pikiran. Karya ini adalah undangan untuk melepaskan pengetahuan dan gagaan yang tidak lagi relevan. Selain itu, kita juga akan diajak untuk lebih berpijak pada fleksibilitas, alih-alih konsistensi, dalam ranah kemampuan untuk mencecap pengetahuan. Lebih jauh lagi, inilah “seni” untuk meraih posisi yang lebih baik dalam pekerjaan dan kebahagiaan dalam hidup.

Bincang Buku M-Periplus Book Club

Periplus bekerja sama dengan MarkPlus Institute membuka ruang untuk memperbincangkan bukubuku dengan tema Pengembangan Diri, Bisnis, Manajerial, Tren Dunia, sampai topik-topik Kepemimpinan. Kami menyebut ruang itu sebagai M-Periplus Book Club. Pada edisi kali ini, melanjutkan perjalanan pada 2023, kami mengajak para insan pembelajar dan BiblioBesties untuk bergabung dalam acara Bincang Buku dengan tajuk: Think Again: Menimbang Ulang Proses Berpikir Kita.

Pengisi Acara Buku M-Periplus Book Club

M-Periplus Book Club kali ini akan mengundang, utamanya, para pencerita utama sekaligus pembaca yang tekun juga praktisi dalam dunia kerja:

Purwoningsih

Purwoningsih atau yang lebih akrab disapa Mimo merupakan professional psychology counselor di Yogaatma Consulting. Beliau telah berkecimpung dalam dunia konseling kurang lebih selama 5 tahun ini, selain merupakan founder dari @thema_mama, sebuah komunitas aktualisasi diri untuk para ibu. Pada 2020, Mimo telah mengambil program sertifikasi Fundamental Neuro Linguistic Programming (CF.NLP). Selain itu, di dalam era media sosial, Mimo juga berfokus membuat konten-konten edukatif dan membuka konseling sesuai kebutuhan audiens, khususnya terkait hubungan (relationship) dan mental health di akun Instagram @sharing_saring.

Dian Yosi

Dian Yosi adalah seorang “mompreneur”. Ibu dari empat orang anak ini juga seorang Account Manager di sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang penyediaan aspal. Sisi “mompreneur” Dian disalurkan dalam sebuah bisnis yang dirintisnya sejak bangku kuliah. Usaha yang sudah berjalan sekitar 15 tahun ini hadir melalui jenama bengkel sepatu Vlarishoes. Alumna FISIP Universitas Pasundan ini sekarang tinggal di Lippo Karawaci dan bisa ditemui di akun Instagram @dianyosihw.

***

Lewat buku Think Again, para pencerita diharapkan untuk berbagi pengalaman membaca dan merefleksikan insight yang ditawarkan oleh Adam Grant ke dalam tiga hal, yakni:

1. Melihat betapa pentingnya kemampuan untuk rethink dan unlearn dalam bidang pekerjaan;

2. Menimbang bersama situasi zaman yang banjir informasi tapi tanpa kedalaman, situasi ini membuat kita cenderung memercayai apa saja yang ingin kita percayai tanpa melakukan proses rethinking;

3. Mencoba mendiskusikan langkah-langkah strategis untuk melakukan rethinking terhadap asumsi-asumsi dan kepercayaan-kepercayaan yang kita pegang.