Zom 100: Meniti Jalan Kebebasan di Dunia Apokaliptik

0
Share
Zom 100
Foto diambil dari zom100.com

Zom 100: Bucket List of the Dead karya Haro Aso bercerita seorang pemuda bernama Akira Tendo, yang bekerja di sebuah perusahaan periklanan, Master Shot. Karena bekerja di perusahaan periklanan adalah cita-citanya, Akira sangat antusias ketika dipekerjakan oleh lembaga bergengsi tersebut. Namun, perasaan itu tidak bertahan lama, karena Akira segera menyadari bahwa perusahaannya tidak menjamin work-life balance. Bosnya, Kosugi, adalah tiran dan tidak manusiawi. Ia tidak akan berpikir dua kali sebelum membuat Tendo harus lembur. Dari mulutnya pun sering keluar hinaan tanpa alasan. Akibatnya, Akira jarang pulang, karena harus menyelesaikan pekerjaannya.

Setelah tiga tahun bekerja di Master Shot, Akira sedang bersiap berangkat ke kantor. Pagi itu terlihat   secara mengejutkan Jepang dilanda wabah zombi. Alih-alih putus asa, Akira melihatnya sebagai jalan menuju kebebasan. Terlintas di benak Akira untuk membuat seratus daftar keinginan yang selama ini tidak bisa dia lakukan, karena bekerja gila-gilaan.

Hustle culture, hatarakibachi, hingga karoshi

Hustle culture merupakan sebuah gaya hidup yang menganggap dirinya akan sukses jika terus melakukan pekerjaan dan memiliki sedikit waktu untuk beristirahat. Fenomena ini juga dikenal dengan workaholism yang pertama kali dikenalkan oleh Wayne Oates dalam bukunya Confession of a Workaholic (1971). Manusia cenderung memberikan energi, jiwa, dan waktu secara penuh untuk pekerjaan yang tengah dijalaninya. Menurut Wayne, workaholism menyebabkan manusia menjadi tidak sadar bahwa mereka dipaksa untuk bekerja keras.

Hustle culture ini sudah menjadi fenomena yang terjadi secara global. Salah satu negara yang menjadi sorotan dengan fenomena ini adalah Jepang. Di balik segala kemajuan yang diraihnya, Jepang memiliki budaya gila kerja. Istilah yang mereka gunakan adalah hatarakibachi. Istilah ini pertama kali muncul pada 1980-an, sebelum Jepang mengalami bubble of economy. Alih-alih kestabilan perekonomian negara bisa dicapai, hatarakibachi memberikan berbagai dampak buruk. Salah satu dampak buruknya adalah karoshi—kematian akibat bekerja terlalu keras. Sayangnya, kondisi ini masih berlanjut hingga saat ini.

Untuk menekan kasus karoshi, sebenarnya pemerintah Jepang telah membuat regulasi lembur. Akan tetapi, tidak sedikit perusahan mengakali peraturan tersebut. Misalnya, dengan meminta karyawannya bekerja dari rumah atau memaksa untuk pura-pura pulang. Akhirnya, kasus karoshi menjadi sesuatu yang lazim terjadi di Jepang.

Berbagai hal di atas terjadi di Master Shot, perusahaan fiktif tempat Akira bekerja. Budaya kerja di perusahaan Master Shot yang buruk menuntut Akira untuk memberikan jiwa, raga, dan waktunya secara penuh ke perusahaan. Hal ini membuat Akira tidak memiliki kebebasan untuk melakukan yang dia inginkan. Jangankan kebebasan, mengambil hak cuti saja Akira tidak diperbolehkan. Akhirnya, setelah tiga tahun bekerja, Akira mengalami krisis identitas dan sempat berkeinginan untuk bunuh diri.

Pekerjaan membunuh identitas

Dalam budaya kerja di Jepang, pekerjaan sering kali dianggap sebagai aspek terbesar dari identitas seseorang. Orang Jepang merasa bahwa prestasi yang didapat dari tempat kerja mampu mendefinisikan diri mereka. Selain menuntut komitmen total terhadap pekerjaan, budaya kerja di Jepang mengharapkan para pekerja untuk memberikan waktu yang lebih banyak untuk pekerjaan daripada kehidupan pribadi.  Terlebih lagi, dalam budaya kerja di jepang juga terdapat tekanan sosial yang kuat untuk tampil baik di tempat kerja dan mematuhi norma-norma sosial.

Tekanan ini dapat memaksa individu untuk berusaha keras bahkan jika itu merugikan kesejahteraan mereka sendiri. Pekerjaan yang melekat dalam budaya dan norma ini dapat memicu krisis identitas saat seseorang merasa terjebak dalam pola perilaku yang tidak sejalan dengan nilai-nilai atau aspirasi pribadi mereka.

Berbagai hal di atas terlihat begitu jelas pada sosok Akira dalam Zom 100. Budaya bekerja yang buruk membuat Akira kehilangan waktu untuk menjalani hobi, menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman, atau sekadar mengejar minat pribadi. Atas hal inilah, keseimbangan dalam hidup Akira terganggu sehingga membuatnya kehilangan identitas di luar pekerjaannya.

***

Melihat realitas hari ini, memang tak bisa dihindari lagi bahwa kita hidup dalam arus budaya kapitalisme. Dalam sistem ini, tak jarang para pemodal atau empunya suatu perusahaan berlaku semena-mena demi mendapatkan keuntungan atau pengakumulasian modal dengan lebih cepat. Seperti dalam Zom 100, cara yang paling jitu adalah memperkerjakan karyawan sedikit mungkin dengan pekerjaan sebanyak-banyaknya.

Pemodal tidak harus mengeluarkan uang lebih untuk menggaji karyawannya, berdasarkan semangat kapitalisme. Cara ini memang kejam, menyedot jiwa, raga, dan juga pikiran kita untuk secara penuh mengabdi pada kelas pemodal. Sialnya, di beberapa negara, sistem ini di dukung oleh para politisi, media, dan media sosial.

Kapitalisme mengharuskan kita bekerja untuk percepatan akumulasi modal mereka. Tidak ada yang salah jika semua berjalan seimbang. Kita bekerja dengan keras, kemudian mereka memberikan apa yang sudah menjadi hak kita. Namun, jika melihat apa yang terjadi dalam Zom 100, kapitalisme sudah kelewat batas. Bahkan, sampai membuat Akira tidak bisa berharap kehidupan yang lebih baik. Di saat harapan sudah tidak ada lagi, kehancuran Jepang akibat wabah zombie justru membuat Akira merasa hidup kembali. Sungguh miris dan ironis!