Sylvia Plath: Kehidupan sebagai Bahan Sastra

0
Share
Sylvia Plath Kehidupan sebagai Bahan Sastra

…everything in life is writable about if you have the outgoing guts to do it, and the imagination to improvise. The worst enemy to creativity is self-doubt.

Sylvia Plath, dalam surat yang ditulis untuk dirinya sendiri, Juni-Juli 1953

Terlepas dari segala ketragisan dan pilihannya, Sylvia Plath (1932—1963) adalah penulis yang melihat kehidupan sebagai sumber utama karya-karyanya. Sebab, di dalam kehidupan itu, ia bisa bertemu dengan banyak orang. Setiap orang membawa cerita; selalu ada peristiwa, selalu ada percakapan. Bagi Plath, semua itu adalah bahan mentah sastra—sesuatu yang dapat diramu kembali menjadi karya. Ia menggambarkan kecintaannya berjumpa dengan orang-orang di dalam kehidupannya seperti kecintaan seorang filatelis pada perangko.

Kecenderungan untuk menjadikan pengalaman hidup sebagai bahan sastra inilah yang kemudian menempatkan Plath dalam arus penting puisi Amerika pada pertengahan abad ke-20. Dalam khasanah puisi Amerika Serikat pada masa itu, kiprah Sylvia Plath sering disandingkan dengan Robert Lowell dan Anne Sexton. Puisi tidak lagi bicara dari jarak estetis tertentu yang dingin, namun justru menawarkan kedalaman pengalaman personal hingga ke relung yang paling rapuh dan gelap.

Gagasan Awal, Masa Muda, dan Bakat Sastra Sejak Dini

Gagasan di atas bisa ditemukan di awal kumpulan jurnal milik Sylvia Plath yang diterbitkan sebagai The Unabridged Journals of Sylvia Plath (2000) yang diedit oleh Karen V. Kukil. Plath menulis gagasan tentang kehidupan dan bagaimana dunia kreatif adalah bagian dari hidupnya saat belum genap 18 tahun.

Sedari kecil, Plath bisa dibilang adalah “bocah ajaib” dalam dunia sastra. Puisinya yang berjudul “Poem” dimuat pada rubrik anak Boston Herald pada 1941. Sementara anak-anak seumurannya tertarik pada boneka atau rumah-rumahan, Plath lebih tertarik pada kata dan rima. Plath muda sering terlihat akrab dengan kamus atau tesaurus. Ketekunan inilah yang kemudian membentuk Plath menjadi penyair yang memiliki ketajaman diksi luar biasa.

Dalam bidang akademis, Plath juga memiliki bakat yang di atas rata-rata. Ia berhasil mendapatkan beasiswa penuh untuk belajar di Smith College, kampus khusus perempuan paling bergengsi di Amerika Serikat. Menginjak tahun ketiganya, Plath mendapatkan kesempatan untuk magang di majalah Mademoiselle di New York selama sebulan. Pengalaman inilah yang kemudian dijadikan bahan dasar untuk menulis novelnya, The Bell Jar. Pada Juni 1955, Plath lulus dari Smith College dengan predikat summa cum laude.

Sylvia Plath bersama anggota Smith College Honor Board, Hamper, 1953. Duduk dari kiri ke kanan: Sylvia Plath, Dr. Marion Frances Booth, Helen Whitcomb Randall, dan Alison L. Cook. Berdiri dari kiri ke kanan: Maria Canellakis dan Holly Stair. Foto ini diambil dari The Unabridged Journals of Sylvia Plath suntingan Karen V. Kukil, terbitan Anchor Books, 2000.

Selain itu, ketika menjalani masa studi, Plath berada dalam lingkungan sastra yang tengah mengalami pergeseran penting. Setelah lulus dari Smith College, Plath mendapatkan Beasiswa Fulbright untuk menempuh Newnham College di Cambridge University, Inggris. Salah satu figur yang memberi pengaruh besar adalah Robert Lowell. Melalui kumpulan puisi Life Studies (1959) serta seminar yang dipimpinnya, Plath menemukan kemungkinan baru bagi puisinya. Ia mulai menulis dengan suara yang lebih personal dan intim—menyentuh persoalan keluarga, trauma, kegagalan, hingga kerentanan psikologis. Dari sinilah muncul gaya yang kemudian dikenal sebagai confessional poetry.

Pertemuan dengan Ted Hughes dan Perluasan Dunia Imajinasi

Ted Hughes dan Sylvia Plath di Paris, Agustus 1956. Foto ini diambil dari The Unabridged Journals of Sylvia Plath suntingan Karen V. Kukil, terbitan Anchor Books, 2000.
Ted Hughes dan Sylvia Plath di Paris, Agustus 1956. Foto ini diambil dari The Unabridged Journals of Sylvia Plath suntingan Karen V. Kukil, terbitan Anchor Books, 2000.

Di Inggris, Plath bertemu dengan penyair asal Yorkshire, Ted Hughes, yang kemudian dinikahinya setelah masa perkenalan yang singkat. Dalam catatannya, Plath menggambarkan Hughes sebagai sosok yang liar dan penuh energi—penyanyi, pencerita, sekaligus pengembara dengan suara menggelegar layaknya guntur. Bersama Hughes, dunia intelektual Plath yang sebelumnya sangat rasional mulai bersentuhan dengan minat pada mitologi, astrologi, dan okultisme.

Salah satu bentuknya adalah permainan papan Ouija yang mereka gunakan bukan untuk memanggil roh, melainkan sebagai semacam pemicu imajinasi ketika mengalami kebuntuan menulis. Pengalaman ini bahkan diabadikan Plath dalam puisinya yang berjudul “Ouija”, yang menggambarkan bagaimana manusia sering merasa berada di bawah pengaruh kekuatan yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan.

Pernikahan, Keretakan Hubungan, dan Memburuknya Kondisi Mental

Di awal pernikahan, Plath dan Hughes hidup sebagai pasangan yang bahagia. Plath bahkan banyak menopang kesuksesan suaminya sebagai penyair. Plath mengirim naskah-naskah karya Ted ke penerbit dan media sastra. Hughes juga melengkapi kreativitas Plath yang cenderung sistematis dan akademis dengan letupan energi kehidupan yang liar, kasar, dan tak teratur. Namun, sinergi kreatif ini remuk ketika Plath menemukan bahwa Hughes telah berselingkuh. Inilah yang memperburuk persoalan mental Plath.

Sylvia Plath di Jackson Lake
Sylvia Plath di Jackson Lake, Grand Teton National Park, Wyoming, Juli 1959. Foto ini diambil dari The Unabridged Journals of Sylvia Plath suntingan Karen V. Kukil, terbitan Anchor Books, 2000.

Memang benar bahwa Plath memiliki persoalan depresi hingga level yang klinis. Seiring waktu, pernikahan itu justru menjerumuskannya ke dalam labirin persoalan yang semakin rumit. Plath dan Hughes pada akhirnya memutuskan untuk berpisah. Perpisahan ini membuat Plath memasuki periode paling gelap dalam hidupnya. Pengalaman-pengalaman berat ini rupanya meresapi karya-karya Plath.

The Bell Jar, The Colossus, dan Ariel

The Bell Jar adalah satu-satunya novel karya Sylvia Plath. Novel ini pertama kali terbit di Inggris pada awal 1963. Pada mulanya, Plath menggunakan nama samaran Victoria Lucas demi melindungi identitas orang-orang dekatnya. Esther Greenwood dipilih sebagai alter-ego Plath. Esther adalah mahasiswi berbakat yang terjebak di antara keinginannya menjadi seorang penulis dan menjadi istri yang patuh sekaligus ibu yang bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Konflik batin Esther membawanya pada titik krisis yang ekstrem, hingga ia harus menjalani terapi medis untuk pulih. Selain The Bell Jar, karya lain juga memperlihatkan rentang artistik Plath. Kita bisa memasukkan kumpulan puisi The Colossus (1960) dan Ariel (1965) ke dalam daftar bacaan.

Sylvia Plath membaca puisi-puisinya di The New Yorker
Sylvia Plath membaca puisi-puisinya di The New Yorker, Agustus 1958. Foto ini diambil dari The Unabridged Journals of Sylvia Plath suntingan Karen V. Kukil, terbitan Anchor Books, 2000.

Dalam The Colossus, kita bertemu penyair dengan disiplin bentuk yang ketat. Di sini Plath tampil sebagai teknisi bahasa yang presisi, hampir seperti seorang murid rajin yang patuh pada aturan bentuk. Namun Ariel bergerak ke arah yang berlawanan. Dalam kumpulan puisi ini, Plath seolah mengempaskan topeng teknikal dan formalitas yang sebelumnya mengekang suaranya. Jika dalam The Colossus ia tampak berhati-hati dan terukur, maka dalam Ariel ia menjelma singa betina yang tak segan mengaum dan meraung. Tidak mengherankan jika banyak kritikus melihat kumpulan puisi ini sebagai momen ketika suara puitik Plath mencapai intensitasnya yang paling penuh.

Kekhasan Diksi dan Plathian Adjectives

Banyak kritikus sastra kemudian menggunakan istilah Plathian adjectives untuk menyebut cara khas Plath menggunakan kata sifat. Melalui diksi semacam ini, Plath mampu menciptakan citra yang sangat tajam, menebalkan atmosfer emosional, sekaligus mempercepat intensitas ritme puisinya. Kata-kata sifat itu dilekatkan pada objek sehari-hari seperti sepatu, ikan, mata, atau asetilena—gas yang mudah terbakar. Misalnya saja pada puisi berjudul “Mirror”, Plath menulis bait: “In me she has drowned a young girl, and in me an old woman / Rises toward her day after day, like a terrible fish.” Dengan bait ini, Plath hendak bicara bagaimana seorang perempuan yang menua. Ia tidak menggunakan kata “sad” (sedih) atau “wrinkled” (berkeriput), namun justru menyandingkan kata terrible (mengerikan) dengan fish (ikan).

Kepergian Sylvia Plath pada usia tiga puluh tahun mengejutkan dunia sastra. Depresi yang bekepanjangan, perpisahan dalam perkawinan, serta musim dingin di London pada 1962—1963 yang berat memperburuk kondisi mental Plath. Para pengamat sastra juga melihat bahwa karya-karya menjelang kepergiannya justru menjadi penanda kegemilangan Plath sebagai penyair. Bagi Plath, kehidupan itu sendiri adalah laboratorium kesusastraan—tempat pengalaman, luka, dan keberanian diolah kembali menjadi bahasa. Apa yang tadinya hanya milik pribadi, sekarang memiliki resonansi dengan semua orang.

Surat untuk Diri Sendiri, Keberanian, dan Kreativitas

Dalam sebuah surat yang ditulis pada periode Juni—Juli 1953, Plath menulis bahwa: “…segala sesuatu dalam hidup bisa ditulis jikalau dirimu punya keberanian untuk melakukannya, dan imajinasi untuk melakukan improvisasi.” Surat yang ditulis Plath untuk dirinya sendiri ini adalah teguran untuk berani menghadapi hidup yang penuh imajinasi. Sebab, ia cenderung terlalu analitis dalam menjalani kehidupan.

Hambatan terbesar kreativitas—energi dasar seorang penulis—selalu datang dari keraguan diri. Perjalanan hidup Sylvia Plath, dengan demikian, adalah sebuah proses untuk mewujudkan keberanian dan menyingkirkan keraguan dalam hidupnya. Dan, pada akhirnya Plath berhasil menunjukkan hal itu melalui karya-karyanya.

Jika Bibliobesties hendak membaca ulasan perimin lainnya, temukan di sini!