
Generasi Z—kita singkat saja dengan Gen Z—itulah label yang saat ini ditempelkan pada mereka yang lahir dari 1997 hingga 2012. Menariknya, Gen Z punya banyak sekali kosakata untuk menjelaskan apa yang terjadi di dalam dirinya. Overthinking, burnout, toxic relationship, FOMO, doomscrolling, hingga healing adalah sebagian kecil istilah yang berseliweran dalam percakapan sehari-hari. Internet dan media sosial membuat pengetahuan mengenai kesehatan mental, relasi, hingga pengembangan diri jauh lebih mudah ditemukan dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.
Namun, mengetahui belum tentu sama dengan memahami. Mengenali istilah burnout tidak otomatis membuat kita tahu kapan harus berhenti bekerja. Menyadari bahwa kita sedang overthinking juga tidak serta-merta membuat pikiran menjadi lebih jernih. Di tengah arus informasi yang nyaris tanpa henti, tantangannya bukan lagi sekadar mengetahui lebih banyak, melainkan memahami apa yang sedang terjadi pada pikiran, perhatian, hubungan, dan kehidupan kita sendiri.
Di sinilah gagasan tentang The Mindful Generation menjadi menarik. Menjadi mindful tidak harus berarti menjauh dari teknologi atau menjalani kehidupan yang serba tenang. Sebaliknya, ia bisa dimulai dengan keberanian memperhatikan kembali bagaimana kita menggunakan teknologi, memberikan perhatian, menghabiskan waktu, membangun hubungan, mengejar keberhasilan, hingga menentukan kehidupan seperti apa yang ingin dijalani. Sembilan buku pilihan Perimin berikut menawarkan sembilan jalan berbeda untuk memulai percakapan tersebut.

The Anxious Generation: How the Great Rewiring of Childhood Is Causing an Epidemic of Mental Illness
ISBN-13: 9798217059201
Kapan terakhir kali kita melewati satu hari tanpa gawai pintar? Jonathan Haidt melihat perubahan besar pada kehidupan anak dan remaja sejak awal 2010-an. Menurutnya, aktivitas bermain dan interaksi langsung semakin bergeser menuju kehidupan berbasis layar. The Anxious Generation mencoba menarik benang merah antara perubahan di atas dengan meningkatnya kecemasan dan berbagai persoalan kesehatan mental pada generasi muda. Tesis Haidt memang memicu perdebatan dan justru itulah buku ini perlu dibaca secara kritis. Namun demikian, bagi Gen Z yang tumbuh bersama internet, buku ini bisa menjadi pintu masuk untuk memeriksa kembali hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.

Stolen Focus: why You Can’t Pay Attention
ISBN-13: 9781526620217
Tidak jarang kita menyalahkan diri sendiri karena kesulitan berkonsentrasi. Notifikasi pada layar ponsel atau laptop, selain keriuhan media sosial, tidak jarang membuat kita menjadi kurang disiplin. Kita semakin mudah terdistraksi dari apa yang sedang kita kerjakan. Johan Hari melalui Stolen Focus mengajak kita lebih dalam melihat fenomena ini dari arah yang khas. Ia menelusuri faktor-faktor apa saja yang memengaruhi perhatian manusia, mulai dari teknologi, pola kerja, hingga pengaruh tekanan dan gaya hidup. Pada dasarnya, buku ini mengajukan satu pertanyaan: kepada siapa dan apakah kita ingin memberikan perhatian sepenuhnya?

Four Thousand Weeks: Time and How to Use It
ISBN-13: 9781250849359
Ada pandangan bahwa manusia sekarang ini pada umumnya bisa memiliki harapan hidup hingga umur 80 tahun—kira-kira empat ribu minggu. Oliver Burkeman justru menggunakan kenyataan tersebut untuk menggugat obsesi terhadap produktivitas. Kesadaran yang hendak dibangun oleh Burkeman adalah bahwa kita tidak akan bisa melakukan segala hal dalam hidup karena waktu kita terbatas. Berhadapan dengan segala macam tekanan untuk mengembangkan diri dan mengikuti tren terkini, buku ini justru membuat kita berpikir ulang. Alih-alih mencari cara untuk melakukan segalanya demi “ilusi produktivitas”, kita justru diajak merefleksikan apa yang sesungguhnya layak dilakukan agar mampu menjalani hidup dengan kepenuhan sejati.

The Good Life: Lessons from the World’s Longest Scientific Study of Happiness | Robert Waldinger, Marc Schulz
ISBN-13: 9781982166700
Kekayaan, karier, prestasi, atau ketenaran acap kali dipercaya mendatangkan kebaikan yang akan membuat kita bahagia. Dalam The Good Life, Robert Waldinger dan Marc Schulz mencari keabsahan pernyataan di atas melalui berbagai temuan Harvard Study of Adult Development. Apa yang ditawarkan Waldinger dan Schulz cukup menarik, karena mereka melihat betapa kualitas hubungan dengan orang lain selalu berkaitan secara erat dengan kualitas kehidupan yang dijalani seseorang. Persahabatan, hubungan baik dengan keluarga, pasangan, dan orang-orang yang mucul dalam keseharian kita patut diperhatikan sebagai support system kebahagiaan kita. Membangun hubungan yang baik bersama orang lain menjadi masuk akal demi kehidupan yang baik pula.

The Age of Magical Overthinking: Notes on Modern Irrationality
ISBN-13: 9781668007976
Overthinking menjadi kata yang umum dipakai oleh generasi muda saat ini. Kita bisa melihat kata ini bertebaran di media sosial. Maklum saja, di era sekarang ini kita semakin cepat terpapar oleh informasi, entah apa pun itu. Berhadapan dengan situasi sedemikian, Amanda Montell menawarkan cara membentuk magical thinking yang berguna untuk menciptakan rasa kendali di tengah ketidakpastian akibat informasi yang membanjiri benak kita. The Age of Magical Overthinking membawa gagasan yang mengingatkan kita agar berani untuk membatasi dan membedakan antara mengetahui dan memikirkan banyak hal. Kerap kali, menetapkan batas-batas pikiran sendiri adalah awal untuk mampu berpikir lebih jernih.

No One Is Talking About This
ISBN-13: 9781526629777
Patricia Lockwood menyajikan cerita seorang perempuan yang terkenal karena aktivitasnya di dunia daring. Lelucon, komentar, meme, percakapan, dan kekesalan memenuhi hari-harinya hingga satu kejadian di dalam hidupnya membuat perempuan tersebut keluar pada kehidupan di luar layar. Dalam novel No One Is Talking About This, kita dibawa untuk masuk ke dalam kesadaran yang membentuk dunia internet: terfragmentasi, cepat, absurd, sekaligus melelahkan. Novel ini bisa dibaca sebagai potret sastra tentang bagaimana internet telah mengubah cara manusia berpikir dan hidup dalam dunia.

Tomorrow, and Tomorrow, and Tomorrow
ISBN-13: 9781529115543
Sam Masur dan Sadie Green bertemu sebagai anak-anak melalui video game, lalu bertahun-tahun kemudian membangun kembali persahabatan mereka melalui penciptaan game. Ketika karya mereka meraih kesuksesan, persahabatan dan kolaborasi tersebut harus berhadapan dengan ambisi, kecemburuan, kegagalan, dan berbagai kerumitan kehidupan dewasa. Gabrielle Zevin menggunakan video game bukan sekadar sebagai latar, melainkan sebagai ruang untuk membicarakan kreativitas, identitas, pekerjaan, dan hubungan antarmanusia. Perspektif ini membuatnya menarik bagi Gen Z karena teknologi tidak selalu ditempatkan sebagai sumber masalah. Teknologi juga menjadi tempat manusia bermain, berkarya, bekerja, dan membangun hubungan.

Welcome to the Hyunam-dong Bookshop
ISBN-13: 9781526662286
Yeongju telah menjalani banyak hal yang seharusnya membuat seseorang dianggap berhasil, tetapi kehidupan tersebut justru membuatnya kelelahan. Ia meninggalkan kehidupan lamanya dan membuka sebuah toko buku di lingkungan Hyunam-dong. Perlahan, toko tersebut mempertemukannya dengan orang-orang yang juga sedang mencari pekerjaan yang bermakna, komunitas, arah hidup, atau sekadar tempat untuk bernapas. Hwang Bo-reum tidak menggambarkan perubahan hidup sebagai satu peristiwa besar, melainkan melalui membaca, bekerja, berbicara, dan membangun hubungan dengan orang lain.

Convenience Store Woman
ISBN-13: 9781846276842
Keiko Furukura berusia tiga puluh enam tahun dan telah bekerja selama delapan belas tahun sebagai pegawai paruh waktu di sebuah convenience store. Bagi orang-orang di sekelilingnya, kehidupannya terasa tidak sesuai dengan gambaran tentang orang dewasa yang “normal”. Ia seharusnya memiliki pekerjaan yang lebih mapan, menikah, dan menjalani tahapan kehidupan sebagaimana orang lain. Masalahnya, Keiko justru merasa dunia minimarket jauh lebih mudah dipahami daripada tuntutan masyarakat. Melalui premis sederhana tersebut, Sayaka Murata mempertanyakan siapa yang sebenarnya berhak menentukan bentuk kehidupan yang dianggap normal. Convenience Store Woman layak dikoleksi karena semakin dewasa pembacanya, bisa jadi semakin berbeda pula jawaban yang diberikan kepada Keiko.
***
Menjadi generasi yang mindful barangkali bukan tentang memiliki jawaban untuk segala sesuatu. Justru, sembilan buku di atas menunjukkan bahwa hidup dengan lebih sadar bisa dimulai dari pertanyaan-pertanyaan sederhana: ke mana perhatian kita diberikan, bagaimana waktu digunakan, hubungan seperti apa yang ingin dibangun, dan kehidupan macam apa yang sesungguhnya ingin dijalani. Di tengah dunia yang terus bergerak dan meminta kita ikut bergerak bersamanya, sesekali berhenti untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan berarti tertinggal. Semoga sembilan pilihan Editor’s Pick kali ini bisa menemani BiblioBesties mengenali diri dan dunia dengan lebih jernih. Sebab, pada akhirnya, menjadi The Mindful Generation bukan tentang mengetahui lebih banyak, melainkan tentang semakin sadar terhadap apa yang kita pilih untuk dijalani.
Jika Bibliobesties hendak membaca rekomendasi buku lainnya, temukan di sini!
