Inilah 6 Buku Finalis The Booker Prize 2026

0
Share
Finalis The Booker Prize 2026

The Booker Prize 2026 telah mengumumkan enam buku yang masuk dalam daftar finalis tahun ini. Keenamnya dipilih setelah melalui proses penilaian terhadap berbagai karya fiksi yang terbit dalam bahasa Inggris. Setiap buku membawa cerita, tema, dan pendekatan yang berbeda, sekaligus menunjukkan beragam arah dalam perkembangan sastra kontemporer. Bagi pembaca yang sedang mencari bacaan baru, daftar finalis ini bisa menjadi salah satu referensi untuk menemukan karya-karya yang mendapat perhatian tahun ini. Berikut enam buku yang masuk dalam daftar finalis The Booker Prize 2026.

1. The End of Everything

Keywords: Literary Fiction, The End Of Everything, M. John Harrison, Booker Prize 2026, Booker Prize Longlist, Post-Apocalyptic Novel, Speculative Fiction, Literary Science Fiction, Dystopian Fiction, Contemporary Fiction, British Fiction, Apocalyptic Fiction 

Dunia sudah banyak berubah sejak sebuah krisis besar terjadi bertahun-tahun lalu, meski tak seorang pun benar-benar dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Di tengah keadaan tersebut, Phillip Tennent menjalani hidup dengan menyusuri garis pantai dan mengumpulkan benda-benda yang terbawa arus dari Selat Inggris. Pemerintahan nyaris tak lagi berfungsi, makhluk-makhluk asing mulai memenuhi lautan, dan Eropa bahkan seperti lenyap begitu saja. Rutinitas Phillip berubah ketika ia menemukan sesuatu yang jauh berbeda dari benda-benda yang biasa terdampar di pantai: sesosok makhluk yang terus berubah bentuk. Ia kemudian membawanya menuju pedalaman, sebuah perjalanan yang perlahan membuat segala hal yang selama ini ia pahami tentang dunia terasa semakin tidak pasti. Melalui The End of Everything, M. John Harrison membangun kisah pascaapokaliptik yang aneh, muram, dan sesekali menyelipkan humor gelap untuk menggambarkan dunia yang sedang kehilangan keteraturannya. Di balik perjalanan Phillip, novel ini mengangkat pertanyaan tentang ingatan, teknologi, pengetahuan, serta kemampuan manusia memahami perubahan yang berlangsung terlalu cepat di sekelilingnya. Dunia yang digambarkan Harrison memang terasa ganjil, tetapi banyak kegelisahan di dalamnya justru terasa dekat dengan kehidupan manusia hari ini. Masuk dalam longlist Booker Prize 2026 dan menjadi bestseller The Times, novel ini layak dibaca oleh penggemar fiksi spekulatif yang menyukai cerita tidak biasa, penuh teka-teki, dan meninggalkan banyak hal untuk direnungkan setelah halaman terakhir. 

2. The Disappearers

Keywords: Literary Fiction, Booker Prize Longlist 2026, Jamaican Literature, Jamaica, Kingston Jamaica, LGBTQ+ Fiction, Queer Fiction, Gay Fiction, Literary Fiction, Historical Fiction, Social Issues, Homophobia, Discrimination, Identity, Trauma

Kingston, Jamaika, pada 1988 bukanlah tempat yang aman bagi delapan laki-laki gay yang memutuskan untuk mengikuti audisi sebuah pertunjukan teater queer. Mereka sadar bahwa keputusan tersebut berisiko, tetapi tak seorang pun menduga sebuah sesi latihan akan berakhir dengan serangan massa yang menewaskan satu orang, melukai beberapa lainnya, dan membuat dua orang kemudian menghilang. The Disappearers mengikuti kehidupan mereka setelah malam itu, ketika luka yang tersisa jauh lebih sulit disembuhkan daripada yang mereka bayangkan. Ada yang berusaha melupakan kejadian tersebut, ada yang menyimpan kemarahan, sementara sebagian lainnya memilih menjauh dan menghilang dari kehidupan yang pernah mereka kenal. Perlahan, pertanyaan tentang dua orang yang hilang dan siapa yang bertanggung jawab atas serangan itu membawa cerita ke dalam pencarian yang panjang dan penuh ketidakpastian. Marlon James menempatkan perjalanan tersebut di tengah masyarakat Jamaika yang masih menyimpan prasangka kuat terhadap mereka yang hidup di luar norma heteroseksual. Melalui pengalaman para karakternya, pembaca diajak melihat bagaimana diskriminasi dan kekerasan dapat terus memengaruhi seseorang bahkan setelah peristiwanya berlalu. 

3. Black Bag

Keywords: Literary Fiction, Booker Prize Long List 2026, Black Bag, Luke Kennard, Literary Fiction, Contemporary Fiction, Satirical Novel, Campus Novel, Dark Comedy, British Fiction, Experimental Fiction, Psychological Fiction, Social Satire 

Ketika sedang menganggur dan hampir kehabisan uang, pekerjaan seaneh apa pun mungkin terasa layak untuk dicoba. Seorang aktor yang berada dalam situasi tersebut akhirnya menerima tawaran dari Dr Blend, profesor universitas yang tengah melakukan eksperimen psikologis terhadap para mahasiswanya. Pekerjaannya cukup ganjil: ia harus masuk ke dalam sebuah tas hitam berukuran besar dan duduk di belakang ruang kuliah selama beberapa pertemuan. Apa yang awalnya sekadar pekerjaan untuk mendapatkan uang kemudian berkembang menjadi situasi yang semakin rumit ketika keberadaannya mulai mengusik rasa ingin tahu orang-orang di kampus. Seorang profesor posthumanisme bahkan menjadikannya bahan penelitian baru dengan sebuah pertanyaan yang terdengar absurd: mungkinkah seseorang jatuh cinta kepada manusia yang terus bersembunyi di dalam tas? Sementara itu, sahabat masa kecil sekaligus teman serumah sang aktor justru melihat keanehan tersebut sebagai peluang yang bisa menghasilkan uang. Melalui Black Bag, Luke Kennard membawa pembaca menyusuri kehidupan kampus yang aneh dan kacau sembari menyinggung persoalan maskulinitas, kesepian, persahabatan, cinta, dan kehidupan modern. Kelucuan yang muncul dari berbagai situasi absurd perlahan membuka sisi rapuh para karakternya serta kebutuhan mereka untuk dipahami dan diterima oleh orang lain. Masuk dalam daftar panjang Booker Prize 2026, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai satire cerdas, humor gelap, dan cerita unik yang mampu mengundang tawa sekaligus meninggalkan bahan renungan. 

4. May We Feed the King

Keywords: Literary Fiction, Medieval History, Forgotten King, Royal Court, Reluctant Ruler, Historical Curator, Medieval Palace, British History, Historical Storytelling, Identity And Memory, Past And Present, Power And Leadership, Royal Intrigue

Ada kalanya ketertarikan pada masa lalu berkembang begitu jauh hingga membuat seseorang perlahan menjauh dari kehidupannya sendiri. Hal itulah yang dialami seorang kurator ketika pekerjaannya membawanya ke ruang-ruang pribadi sebuah istana abad pertengahan dan memperkenalkannya pada kisah seorang raja yang nyaris dilupakan sejarah. Dalam May We Feed the King, Rebecca Perry mempertemukan kehidupannya dengan sang raja, seorang penguasa yang sebenarnya tidak menginginkan takhta dan harus memimpin setelah kedua kakaknya meninggal dunia. Ketika keraguan terhadap kemampuan sang raja mulai beredar di lingkungan istana, muncul pula anggapan bahwa kerajaan mungkin akan lebih baik jika dipimpin oleh orang lain. Sementara itu, sang kurator semakin larut dalam sejarah yang ditelitinya dan menjadikan masa lalu sebagai tempat untuk menghindari persoalan dalam hidupnya sendiri. Dua kisah yang terpisah oleh waktu ini perlahan saling bercermin, terutama dalam persoalan mengenai identitas, kekuasaan, kerinduan, dan bagaimana seseorang memaknai hidupnya. Perry juga mengajak pembaca melihat sejarah sebagai sesuatu yang terus dibentuk melalui cerita, ingatan, dan cara manusia menafsirkan orang-orang yang pernah hidup sebelumnya. Hasilnya adalah novel historis yang tenang dan reflektif, dengan perpaduan antara drama istana dan pergulatan personal yang membuat ceritanya terasa dekat dengan kehidupan masa kini. 

5. The Things We Never Say

Keywords: Literary Fiction, Elizabeth Strout, The Things We Never Say, Booker Prize 2026, Barack Obama Summer Reading List, Literary Fiction, Contemporary Fiction, Family Relationships, Human Relationships, Marriage, Loneliness 

Ada banyak hal yang tidak pernah benar-benar kita ketahui tentang orang lain, bahkan ketika kita telah hidup bersama mereka selama bertahun-tahun. Artie Dam merasakan hal itu di tengah kehidupannya yang sekilas tampak baik-baik saja: ia mengajar sejarah di sekolah menengah, telah menikah selama tiga dekade, bergaul dengan para tetangga, dan sesekali membawa perahu layarnya ke Massachusetts Bay. Di balik keseharian tersebut, Artie menyimpan rasa sepi yang membuatnya terus mempertanyakan seberapa jauh seseorang dapat mengenal orang-orang terdekatnya. Pertanyaan itu menjadi semakin rumit ketika sebuah rahasia terungkap dan mengubah cara Artie memandang kehidupan serta hubungan yang selama ini ia anggap telah dipahaminya. Melalui The Things We Never Say, Elizabeth Strout membawa pembaca mengikuti perjalanan Artie dalam menghadapi kehilangan, persahabatan, keluarga, dan kesempatan untuk memulai kembali hidupnya. Strout menuturkan kisah ini dengan tenang dan penuh kepekaan, terutama ketika menggambarkan emosi yang sering kali sulit diucapkan secara terbuka. Persoalan tentang duka yang bertahan selama bertahun-tahun, kenyamanan dalam persahabatan, hingga beban dari rahasia keluarga hadir melalui pengalaman sehari-hari yang terasa dekat dan manusiawi. 

6. John of John

Keywords: Literary Fiction, Booker Prize 2026, John Of John, Douglas Stuart, Literary Fiction, Scottish Literature, Scottish Fiction, Family Drama, Family Relationships, Father And Son, LGBTQ+ Fiction, Queer Fiction, Identity, Homecoming, Faith And Religion, Presbyterian Community, Isle Of Harris, Hebrides 

Ada kalanya pulang justru membuat seseorang semakin sadar bahwa dirinya sudah jauh berubah. Setelah kehabisan uang dan merasa pendidikan seninya belum menghasilkan banyak hal, John-Calum Macleod memutuskan kembali ke Pulau Harris, Skotlandia, tempat ia dibesarkan. Di sana, Cal kembali menjalani keseharian bersama ayahnya, John, seorang peternak domba, penenun, sekaligus sosok yang disegani di gereja Presbiterian setempat, serta neneknya, Ella, yang selama puluhan tahun berusaha menjaga kedamaian di tengah keluarga mereka. Namun, kehidupan yang dahulu begitu dikenalnya kini terasa berbeda karena Cal pulang dengan pandangan, pengalaman, dan pertanyaan-pertanyaan baru tentang dirinya sendiri. Hubungannya dengan sang ayah pun perlahan memanas, terutama ketika pilihan hidup Cal berhadapan dengan keyakinan dan tradisi yang selama ini dipegang teguh oleh John. Lewat John of John, Douglas Stuart membawa pembaca menyelami hubungan ayah dan anak yang rumit, sekaligus kehidupan sebuah komunitas kecil yang mulai bersinggungan dengan perubahan zaman. Pulau Harris dengan perbukitan yang sunyi, cuaca yang keras, dan kehidupan masyarakatnya yang erat menjadi latar yang kuat bagi cerita tentang keluarga, iman, identitas, kesepian, dan keinginan untuk diterima. Stuart menuturkan semuanya dengan prosa yang peka dan dekat, membuat pergulatan para tokohnya terasa sangat manusiawi tanpa kehilangan kedalaman persoalan yang mereka hadapi. Masuk dalam daftar panjang Booker Prize 2026 dan daftar pendek Orwell Prize for Fiction, novel ini layak dibaca bagi siapa pun yang menyukai kisah keluarga yang emosional dan reflektif tentang arti rumah serta keberanian untuk menjalani hidup sebagai diri sendiri. 

***

Nah, di atas tadi adalah Enam Finalis The Booker Prize 2026. Semoga, daftar ini dapat menjadi referensi bagi Bibliobesties yang ingin memperkaya bacaaan tentang sastra di tahun ini.

Jika Bibliobesties hendak membaca rekomendasi buku lainnya, temukan di sini!