Michael Pettis Sebut Periplus Bandara Punya Koleksi Buku Ekonomi Terbaik

0
Share
Periplus Toko Buku Terbaik

Jakarta, 11 Februari 2026 – Ada kebahagiaan tersendiri ketika sebuah toko buku mendapat pujian dari pembacanya. Namun kali ini lebih spesial, apresiasi itu datang dari sosok yang terbiasa membaca ekonomi dunia secara mendalam. Michael Pettis, Senior Fellow di Carnegie Endowment for International Peace sekaligus profesor keuangan di Peking University, secara spontan menyampaikan kesannya terhadap gerai Periplus di Terminal Internasional Bandara Soekarno-Hatta. Dalam unggahan di akun X pribadinya saat transit di Jakarta, ia menulis bahwa sebuah toko buku di terminal internasional bandara Jakarta memiliki salah satu pilihan buku keuangan, ekonomi, dan sejarah ekonomi terbaik yang pernah ia temui di bandara mana pun.

Toko Buku Terbaik

Bagi kalangan finansial internasional, Michael Pettis dikenal sebagai akademisi dan praktisi dengan rekam jejak lintas benua. Ia pernah berkarir di Wall Street sebelum mengabdikan diri sebagai pengajar dan peneliti di Tsinghua serta Peking University, dengan fokus pada isu sovereign debt dan dinamika finansial global. Apresiasi dari figur dengan kedalaman intelektual seperti ini menghadirkan makna tersendiri bagi kami. Ia menunjukkan bahwa kurasi buku-buku Ekonomi, Keuangan, dan Sejarah Ekonomi yang tersedia bukan sekadar mengikuti arus pasar, melainkan menghadirkan bacaan yang relevan dengan perdebatan global dan refleksi akademik yang serius.

Sejak awal, Periplus berupaya menjadi toko buku terbaik dengan menghadirkan ruang bagi pembaca yang ingin memahami dunia secara lebih jernih. Pengakuan Michael Pettis ini menjadi pengingat bahwa setiap gerai Periplus dapat menjadi ruang perjumpaan ide, bahkan di tengah jadwal penerbangan yang padat. Bagi Bibliobesties yang tengah melakukan perjalanan melalui Bandara, sempatkanlah singgah sejenak di gerai Periplus sebelum keberangkatan. Mungkin saja Bibliobesties akan menemukan bacaan yang memperkaya perjalanan, sebagaimana yang dirasakan oleh seorang ekonom dunia saat melintas di Jakarta.