
Kita adalah generasi pasca-COVID-19. Dari berbagai kesuraman yang ditinggalkan pandemi, muncul pula satu kebiasaan baru: meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan aktivitas fisik. Sejumlah survei bahkan menunjukkan bahwa Generasi Z menjadi kelompok yang paling aktif berolahraga. Di akhir pekan, pemandangan anak-anak muda berjalan kaki atau berlari di taman kota kini terasa semakin akrab. Bagi banyak dari mereka, berlari bukan lagi sekadar olahraga, tetapi juga bagian dari gaya hidup—lengkap dengan outfit yang dirancang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Fenomena yang sering disebut sebagai “pelari kalcer” ini menunjukkan bahwa olahraga telah menjelma menjadi ruang ekspresi diri sekaligus budaya populer.
Namun di balik euforia gaya hidup sehat ini, ada satu pertanyaan yang jarang kita pikirkan: siapa sebenarnya yang menjadi standar dalam desain perlengkapan olahraga? Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak merek olahraga—baik internasional maupun lokal—mulai merancang sepatu lari yang secara khusus disesuaikan dengan tubuh perempuan. Perubahan ini sejalan dengan kritik yang diajukan oleh Caroline Criado Perez dalam bukunya Invisible Women (2019), yang mengungkap bagaimana dunia modern sering kali dirancang berdasarkan apa yang ia sebut sebagai “The Default Male.”
Perez mengangkat fenomena sosio-kultural yang membuat perempuan lesap sepanjang sejarah kemanusiaan. Ia memahami bahwa umat manusia memang dari sananya sudah diwakili oleh laki-laki. Sejak dari era manusia mengungkapkan diri dengan “lukisan” telapak tangan di dinding-dinding gua di Prancis dan Spanyol, lalu maju pada jawaban Oedipus untuk teka-teki Sphinx, penyebutan profesi, hingga pada pahlawan dalam film dan gim video, secara natural laki-laki digunakan sebagai standar umum. Belum lagi, banyak bahasa Eropa—khususnya turunan dari bahasa Latin—yang mengandung bias gender.
Lesapnya kehadiran perempuan dalam ruang dan rentang sejarah ini dipahami oleh Perez sebagai pola yang sistematis, bukan sekadar persoalan bahasa dan simbolisme belaka. Di era akal imitasi dan kemajuan teknologi informasi, lesapnya perempuan telah sampai pada rancangan teknologi dan kebijakan publik. Karena itu, dalam beberapa dekade terakhir semakin banyak penulis perempuan yang berusaha mengisi kekosongan tersebut: menghadirkan pengalaman yang selama ini luput dari perhatian, menantang asumsi lama, sekaligus memberi bahasa dan suara bagi keresahan yang selama ini sulit diungkapkan.
Nah, demi membantu Bibliobesties memenuhi kebutuhan untuk memahami persoalan-persoalan yang mengeksplorasi bias gender—sekaligus merayakan Hari Perempuan Internasional, Perimin mencoba memilah dan memilih sembilan buku. Di dalam daftar pendek ini, Perimin menyodorkan buku-buku fiksi dan nonfiksi dengan benang merah pada suara para puan tentang keresahan mereka. Kita semua mafhum, hal ini menjadi kebutuhan mendesak untuk saat ini. Semoga, rekomendasi ini membawa pencerahan dan pengertian yang mendalam untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Yellowface by R.F. Kuang

ISBN-13: 9780063250857
Keywords: Psychological Thriller, Racism, Cultural Appropriation, Unreliable Narrator, Publishing Industry, Identity Politics, Social Media Culture, Moral Ambiguity, Satirical Fiction, World War I History, Chinese Laborers, Ambition, Literary Scandal, Dark Humor, Bestseller Novel
Yellowface berkisah tentang June Hayward, seorang penulis muda yang kariernya berjalan biasa saja. Ketika Athena Liu—sahabat sekaligus saingannya yang tengah naik daun—meninggal secara mendadak, June mengambil naskah yang ditinggalkan Athena dan menerbitkannya sebagai karyanya sendiri. Buku tersebut langsung menuai pujian luas, tetapi keberhasilan itu justru menjerat June dalam pusaran kebohongan yang semakin sulit dikendalikan. Melalui kisah ini, R. F. Kuang membangun satir yang tajam tentang dunia penerbitan modern, identitas, dan politik representasi. Kita diajak melihat bagaimana suara perempuan—terutama dari latar budaya yang berbeda—sering kali harus berhadapan dengan sistem yang sarat prasangka dan perebutan legitimasi. Yellowface cocok dibaca oleh siapa pun yang tertarik pada dinamika industri perbukuan, sekaligus ingin memahami bagaimana suara perempuan dinegosiasikan dalam ekosistem budaya modern.
Lessons in Chemistry by Bonnie Garmus

ISBN-13: 9781804990926
Keywords: Literary Fiction, Feminist Fiction, Book Club Picks, Contemporary Classics
Women In Science, 1960s America, Female Protagonist, Feminism In Literature, Humorous Fiction, Strong Female Lead, Social Commentary, Workplace Discrimination
Bonnie Garmus menghadirkan kisah Elizabeth Zott, seorang ilmuwan perempuan pada dekade 1960-an yang harus menghadapi dunia riset yang masih sangat didominasi laki-laki. Ketika kariernya di laboratorium terhambat oleh berbagai prasangka, Elizabeth justru menemukan panggung tak terduga sebagai pembawa acara program memasak di televisi. Namun baginya, memasak bukan semata urusan dapur—melainkan cara menjelaskan ilmu pengetahuan sekaligus menantang batasan yang selama ini dilekatkan pada perempuan. Dengan nada yang hangat, cerdas, dan kadang jenaka, Lessons in Chemistry menggambarkan perjuangan perempuan untuk diakui bukan hanya sebagai pendamping, tetapi juga sebagai pemikir dan pencipta. Novel ini mengingatkan kita bahwa suara perempuan sering kali lahir dari keberanian untuk mempertanyakan aturan yang dianggap “biasa”. Buku ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah tentang ketekunan dan keberanian—terutama dalam suasana akhir pekan yang tenang ketika kita ingin menikmati cerita yang cerdas sekaligus menghangatkan hati.
The Bell Jar by Sylvia Plath

ISBN-13: 9780571081783
Keywords: Literary Fiction, The Bell Jar, Sylvia Plath, Psychological Fiction, Feminist Novel, Classic American Literature, Mental Health In Literature, Depression Narrative, Identity Crisis Novel, Women’s Literature, 20th Century Fiction, New York Setting, College Student Protagonist, Literary Classic Reissue
Esther Greenwood adalah seorang perempuan muda dengan masa depan cerah di bidang akademik dan peluang karier yang menjanjikan. Namun di balik semua itu, ia merasakan tekanan sosial tentang bagaimana perempuan Amerika pada era 1950-an diharapkan menjalani hidup dan menentukan masa depannya. Melalui The Bell Jar, penyair masyhur Sylvia Plath menggambarkan pergulatan batin seorang perempuan yang berusaha menemukan suara dan jati dirinya di tengah dunia yang sering kali membatasi pilihan hidupnya. Novel ini kemudian menjadi salah satu karya penting yang membuka percakapan tentang kesehatan mental, identitas, dan kebebasan perempuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Hingga hari ini, The Bell Jar tetap terasa relevan bagi pembaca yang ingin memahami kompleksitas pengalaman batin perempuan dalam masyarakat modern. Buku ini paling nikmat dibaca dalam suasana yang tenang dan reflektif—ketika kita ingin menyelami kisah yang lembut sekaligus menggugah.
A Different Kind of Power: A Memoir by Jacinda Ardern

ISBN-13: 9780593728697
Keywords: Jacinda Ardern, New Zealand Prime Minister, Political Leadership, Women Leaders, Inspirational Memoir, Compassionate Leadership, Global Politics, Christchurch Attack, Gun Control Reform, Crisis Management, Public Service, Female Head Of Government
A Different Kind of Power: A Memoir karya Jacinda Ardern mengajak pembaca menelusuri perjalanan pribadi seorang pemimpin yang dikenal karena pendekatannya yang hangat, empatik, dan berani. Dalam buku ini, Ardern merefleksikan masa kecilnya di Selandia Baru, perjalanan politiknya, hingga berbagai keputusan sulit yang ia hadapi saat memimpin negara di tengah krisis. Alih-alih menampilkan kekuasaan sebagai simbol dominasi, Ardern menunjukkan bahwa kepemimpinan juga dapat lahir dari empati, kerendahan hati, dan keberanian untuk tetap manusiawi. Kisah ini memperkaya percakapan tentang bagaimana perempuan memaknai kekuasaan dengan cara yang sering kali berbeda dari model kepemimpinan konvensional. Buku ini bisa menjadi bacaan yang menginspirasi bagi siapa pun yang ingin memahami wajah lain dari kepemimpinan di abad ke-21. Buku ini paling tepat dibaca ketika kita ingin merenungkan arti keberanian dan tanggung jawab dalam kehidupan publik.
Who’s Afraid of Gender? By Judith Butler

ISBN-13: 9781250371911
Keywords: Gender Studies, Authoritarianism, Anti-Gender Movement, Reproductive Justice, Feminist Theory, LGBTQ+ Rights, Political Philosophy, Critical Theory, Social Justice, Identity Politics, Nationalism, Xenophobia, Trans Rights
Who’s Afraid of Gender? karya Judith Butler mengajak pembaca menelusuri perdebatan global yang belakangan kian sering muncul seputar istilah “gender.” Dalam buku ini, Butler—salah satu pemikir paling berpengaruh dalam studi gender—menelaah bagaimana konsep gender kerap disalahpahami, dipolitisasi, bahkan dijadikan sasaran ketakutan dalam berbagai perdebatan sosial dan budaya. Dengan pendekatan yang reflektif namun tetap mudah diikuti, Butler menunjukkan bahwa perbincangan tentang gender sesungguhnya berkaitan erat dengan persoalan kebebasan, martabat manusia, dan hak untuk hidup tanpa diskriminasi. Buku ini membantu pembaca memahami mengapa isu gender sering memicu kontroversi, sekaligus mengapa percakapan yang terbuka tetap penting untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif. Bacaan ini terasa tepat dinikmati dalam suasana yang tenang dan reflektif—ketika kita ingin menimbang kembali berbagai gagasan yang membentuk kehidupan sosial kita hari ini.
Good for a Girl by Lauren Fleshman

ISBN-13: 9780349014418
Keywords: Memoir, Women’s Sports, Running Culture, Female Athletes, Sports Equality, Athletic Identity, Professional Running, Sports Biography, Feminist Manifesto, Gender Bias, Elite Competition, Sports Psychology, Women Empowerment, Collegiate Athletics, Coaching Women
Good for a Girl: A Woman Running in a Man’s World karya Lauren Fleshman menghadirkan kisah seorang pelari profesional yang tumbuh besar dengan mimpi sederhana: berlari secepat yang ia bisa. Namun perjalanan di dunia atletik justru memperlihatkan bagaimana tubuh dan ambisi perempuan sering kali dipandang melalui standar yang dirancang untuk laki-laki. Fleshman menuliskan pengalamannya sebagai atlet elite dengan kejujuran yang tajam—tentang tekanan kompetisi, budaya olahraga yang keras, serta perjuangan untuk memahami dan merawat tubuhnya sendiri. Dari pengalaman pribadi itu, ia mengajak pembaca melihat kembali bagaimana sistem olahraga dapat berubah menjadi ruang yang lebih adil dan manusiawi bagi perempuan. Good for a Girl menjadi refleksi yang kuat tentang ketahanan, keberanian, dan pentingnya mendengar pengalaman perempuan dalam dunia olahraga. Buku ini cocok dibaca oleh mereka yang menyukai kisah nyata tentang perjuangan dan ketekunan—terutama setelah berlari di pagi hari atau ketika kita ingin merenungkan arti kemenangan yang sesungguhnya.
Invisible Women by Caroline Criado Perez

ISBN-13: 9781784706289
Keywords: Gender Studies, Gender Bias, Invisible Women, Caroline Criado Perez, Feminist Literature, Social Inequality, Data Gap, Women’s Rights, Equality, Sociology Books, Political Science, Nonfiction Bestseller, Research-Based Book, Cultural Criticism, Technology And Gender, Medical Research Bias
Invisible Women: Data Bias in a World Designed for Men karya Caroline Criado Perez membuka mata pembaca pada sebuah kenyataan yang sering luput kita sadari: banyak sistem di dunia modern dirancang berdasarkan data yang menjadikan laki-laki sebagai standar utama. Melalui riset yang tajam dan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari—mulai dari desain kota, dunia kerja, hingga penelitian medis—Perez menunjukkan bagaimana pengalaman perempuan kerap tidak tercatat dalam pengambilan keputusan. Akibatnya, kebutuhan dan keselamatan perempuan sering kali terabaikan dalam kebijakan maupun desain produk. Buku ini tidak hanya mengungkap persoalan tersebut, tetapi juga mengajak pembaca memahami pentingnya data yang lebih inklusif untuk menciptakan dunia yang lebih adil. Invisible Women menjadi bacaan penting bagi siapa pun yang ingin melihat bagaimana ketimpangan gender dapat tersembunyi dalam hal-hal yang tampak netral.
A Room of One’s Own by Virginia Woolf

ISBN-13: 9780241436288
Keywords: Gender Studies, Virginia Woolf, A Room Of One’s Own, Penguin Modern Classics, Feminist Essay, Women And Fiction, Female Creativity, Gender Equality, Literary Theory, Modernist Literature, Classic Essay, Women Writers, Judith Shakespeare, Girton College Cambridge
A Room of One’s Own karya Virginia Woolf merupakan salah satu esai paling berpengaruh tentang posisi perempuan dalam dunia sastra dan intelektual. Berangkat dari pertanyaan sederhana—mengapa begitu sedikit perempuan yang dikenal sebagai penulis besar—Woolf menelusuri hambatan-hambatan sosial dan ekonomi yang selama berabad-abad membatasi ruang berkarya bagi perempuan. Ia mengemukakan gagasan yang kini terasa klasik: bahwa seorang perempuan membutuhkan “uang dan kamar sendiri” agar dapat menulis dengan bebas. Dengan gaya yang reflektif dan elegan, Woolf membuka percakapan tentang kebebasan berpikir, akses terhadap pendidikan, dan pentingnya ruang bagi suara perempuan dalam kebudayaan. Hingga hari ini, A Room of One’s Own tetap menjadi bacaan yang menginspirasi bagi siapa pun yang percaya bahwa kreativitas membutuhkan kebebasan dan kesempatan yang setara.
We Should All Be Feminists by Chimamanda Ngozi Adichie

ISBN-13: 9780008115272
Keywords: Gender Studies, Feminism Theory, Social Issues, Cultural Studies, Contemporary Essays, Feminist Manifesto, Gender Equality, Women Empowerment, Social Justice, Modern Feminism, TEDx Talk Adaptation, African Literature, Political Essay, Equality Advocacy, Intersectional Feminism
We Should All Be Feminists karya Chimamanda Ngozi Adichie berangkat dari pengalaman pribadi penulisnya dalam melihat bagaimana ketidaksetaraan gender hadir dalam kehidupan sehari-hari. Melalui esai yang jernih dan mudah diikuti, Adichie mengajak pembaca memahami feminisme bukan sebagai gagasan yang jauh atau rumit, melainkan sebagai upaya sederhana untuk memperjuangkan keadilan dan kesempatan yang setara bagi semua orang. Ia menuturkan kisah-kisah kecil yang memperlihatkan bagaimana stereotip dan harapan sosial kerap membatasi perempuan sejak usia dini. Dengan gaya yang hangat dan reflektif, buku ini membuka ruang percakapan tentang bagaimana masyarakat dapat membangun hubungan yang lebih adil antara laki-laki dan perempuan. We Should All Be Feminists menjadi bacaan yang tepat bagi mereka yang ingin memahami feminisme dari sudut pandang yang jernih dan manusiawi.
***
Nah, demikianlah rekomendasi sembilan buku tentang suara kaum perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan dari Perimin. Semoga bisa membantu BiblioBestie menjadi penuh sebagai pengarung samudra kehidupan bersama figur ayah yang suportif. Salam!
Jika Bibliobesties hendak membaca rekomendasi buku lainnya, temukan di sini!
