
Jumat pagi di kantor, kami biasanya punya waktu berkumpul untuk berbagi hal-hal inspiratif. Misalnya, bisa dari bacaan yang kami baca, atau video inspiratif yang relevan dengan industri yang kami geluti, atau sharing bahan kuliah atau tugas akhir—untuk mereka yang sedang menempuh studi. Tema-tema yang terkait dengan teknologi dan pemasaran belakangan ini sering muncul di ruang diskusi tersebut. Salah satu yang paling seksi adalah tentang kemampuan akal imitasi (artificial intelligence, AI). Namun, percakapan lalu bergulir ke arah bagaimana kami merasakan bahwa yang berubah bukan hanya teknologi yang kami gunakan, melainkan juga cara kami memahami kenyataan.
Salah seorang kawan bercerita bagaimana dirinya merasa “diawasi” oleh mesin pintar ini. Suatu saat, ia membicarakan sebuah produk dengan kerabatnya di aplikasi perbincangan. Tidak lama setelah percakapan daring terjadi, muncul rekomendasi tentang produk yang sedang dibicarakan dari akun lokapasar (marketplace) yang dia bahas. Ini agak ironis, karena kawan tersebut adalah manajer tim web—ia memahami cara kerja algoritma akal imitasi dan fabrikasi data. Persoalan muncul ketika merenungkan bahwa teknologi tidak hanya merekam apa yang kita percakapkan tetapi memasukkan kita ke dalam kenyataan yang tidak sepenuhnya kita pahami. Bagaimana mungkin perbincangan di aplikasi percakapan berbuah pada rekomendasi produk di aplikasi belanja, tanpa melibatkan persetujuan kita sebagai subjek pengguna? Aneh.
Masalah lain yang juga dibicarakan dalam forum tersebut adalah bagaimana konten-konten di media sosial yang bergulir ketika pemilihan presiden banyak mengandung kampanye hitam. Tidak jarang ditemui satu konten menjelekkan kubu A dan C, seraya menyanjung kubu B, dan seterusnya. Demikian seterusnya, hingga kita merasa bingung manakah kebenaran yang sebenarnya? Manakah kubu yang benar-benar baik untuk memimpin negara? Wallahualam. Kalau diamat-amati lebih dalam, yang beredar bukan hanya informasi yang saling bertolak belakang, tetapi juga bahasa halus yang mengarahkan kita untuk menolak atau memercayai suatu isu.
Dalam sebuah tulisan daring berjudul ”Cognitive manipulation and AI will shape disinformation in 2026. Here’s how to build resilience” yang diunggah pada 12 Maret 2026, World Economic Forum menyebut bahwa saat ini teknologi—seperti media sosial, aplikasi percakapan daring, dan akal imitasi—digunakan untuk memengaruhi orang. Tulisan tersebut menyebut satu hal yang akan terbaca cukup mengerikan: manipulasi kognitif (cognitive manipulation), ketika konten-konten media sosial diproduksi dengan teknik bercerita dan eksekusi yang menawan, sehingga mengarahkan perhatian kita ke satu titik tertentu tanpa kita sadari. Akal imitasi sangat membantu para pembuat konten melakukan hal ini. Masalahnya, apa yang dilihat di media sosial justru sering kali menjerumuskan kita ke dalam gelembung (bubble). Kita hanya mau melihat, mendengar, dan percaya apa yang kita mau saja. Dengan demikian, kebenaran yang nyata akan menjadi kabur. Ini tentu saja bisa berdampak pada kepercayaan kita terhadap mereka yang tak sepaham dengan kita.
Keprihatinan George Orwell
Apa akibat dari ini semua? Masyarakat dengan mudah terpecah belah. Kita lalu dengan mudah menganut kebenaran masing-masing. Hal ini dengan mudah melunturkan kepercayaan kita pada media yang membawa pesan, pada pemerintah yang mengatur hidup bersama, hingga pada informasi itu sendiri. Kita hanya akan menemukan kebingungan bersama, bukan kebenaran bersama. Kondisi ini diperparah dengan penggunaan akal imitasi yang menyulitkan penerima informasi membedakan antara disinformasi dan informasi nyata.
Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru bagi manusia. Apakah ada hal yang benar-benar baru di bawah kolong langit? Hampir tidak ada. Keprihatinan ini sesungguhnya telah dilihat oleh George Orwell sejak paruh awal abad ke-20. Jauh sebelum para ahli matematika dan komputasi bersepakat melahirkan akal imitasi, Orwell telah melihat bagaimana “penyakit” manusia modern bukan melulu soal kekuasaan. Ia maju dengan menyodorkan hal yang lebih subtil dan halus: bahasa telah digunakan untuk menyamarkan kenyataan. Dan, itu semua dijabarkannya melalui sebuah fabel satir dengan olok-olok yang tajam, Animal Farm (1945).
Jika memperhatikan dengan sungguh aspek tradisi dan konteks zaman, Animal Farm adalah sebuah alegori politik. Orwell menulis novel ini untuk memberikan kritik pedas pada rezim sosialis-komunis yang melingkupi Uni Soviet, khususnya pada era Perang Dunia II. Para penafsir Orwell dengan mudah melihat tokoh-tokoh dalam novel tersebut dengan para elite Uni Soviet pada waktu itu. Old Major si babi tua disejajarkan dengan Karl Marx dan Vladimir Lenin, pencetus ideologi yang menggerakkan massa. Mr. Jones pemilik Manor Farm melambangkan kekuasaan Tsar Nicholas II yang korup dan digulingkan. Lalu, Napoleon adalah lambang untuk Joseph Stalin yang pragmatis. Pun ada Snowball, simbol bagi kehadiran Leon Trotsky, sang intelektual yang kalah dari pertarungan kuasa. Dan seterusnya, dan seterusnya. Namun, saya tidak ingin mengulang tafsir dan informasi itu, karena dengan mudah kita mencarinya di internet. Maka, saya beranjak pada sebuah pertanyaan, Apa yang sebenarnya ingin diungkapkan Orwell melalui Animal Farm, tanpa jatuh pada tafsir yang seperti itu lagi? Apa yang menjadi pokok kegelisahan Orwell dan masih relevan hingga detik ini?
Pada tahap ini, Animal Farm ternyata lebih menarik jika kita masuk melalui tiga tulisan Orwell yang lain. Ketiga tulisan itu adalah “Politics and the English Language”, “Why I Write”, dan “Preface to the Ukrainian Edition of Animal Farm”. Langkah ini mungkin saja terkesan memutar, karena ketiga esai tersebut terbit beberapa tahun setelah Orwell menerbitkan Animal Farm. “Politics and the English Language” pertama kali diterbitkan dalam jurnal sastra Inggris, Horizon, pada April 1946. Esai “Why I Write” terbit dalam majalah Gangrel pada edisi musim panas 1946. Yang terakhir, “Preface to the Ukrainian Edition of Animal Farm”, khusus ditulis untuk terjemahan Ukraina pada Maret 1947. Esai ini ditujukan bagi para pengungsi Ukraina yang tinggal di Jerman pasca-PD II. Mari kita bahas satu per satu esai-esai sezaman yang ditulis oleh Orwell sendiri sehingga keprihatinan dasar ketika menulis Animal Farm semakin terang.
Pembusukan bahasa
Mari kita melihat lebih detail apa yang ditawarkan Orwell dari ketiga tulisan tersebut. “Politics and the English Language” adalah sebuah analisis terhadap pembusukan (dekadensi) yang terjadi dalam bahasa—dalam hal ini adalah bahasa Inggris. Orwell bahkan menyajikan beberapa contoh yang digunakan oleh ahli dan media besar. Ia tidak main recehan. Melalui analisisnya, Orwell melihat bahwa penggunaan bahasa yang buruk akan memperburuk cara berpikir, sekaligus menciptakan kesan kepakaran yang semu melalui kalimat yang berbelit dan penuh jargon. Padahal, menurut Orwell, hal itu justru merupakan pembusukan bahasa.
Secara gamblang, Orwell mengacungkan jarinya pada bahasa politik. Para politisi tidak segan menggunakan bahasa yang terkesan teknis. Menurut Orwell, hal ini sengaja ditempuh agar orang terperangah dengan kemampuan si pembicara atau penulisnya. Bahasa, bagi Orwell, adalah sebuah instrumen untuk mengekspresikan gagasan. Namun, di tangan para politisi yang ingin terlihat cerdik, pandai, dan berwibawa, bahasa digunakan untuk menyembunyikan kehendak menguasai, hingga kebohongan dapat tampil sebagai kebenaran. Orwell sendiri menulis bahwa musuh besar bahasa yang jernih adalah ketidakjujuran (The great enemy of clear language is insincerity). Dengan pernyataan ini, Orwell hendak menunjukkan jurang kesenjangan antara apa yang dikatakan dan maksud pernyataan tersebut. Kebohongan tidak lain merupakan perbedaan dari apa yang dinyatakan dengan maksud pernyataannya. Seorang pembohong tidak akan menyebut koin emas sebagai sesuatu yang menyerupai emas. Sebaliknya, orang yang jujur akan mengatakan bahwa emas adalah emas, bukan sesuatu yang menyerupai emas.
Masalah timbul ketika bahasa dengan sengaja digunakan untuk menjadikan kebenaran itu kabur. Orwell menggunakan perumpamaan yang menarik di sini: seperti sotong menyemburkan tinta (like a cuttlefish spurting out ink). Tinta sotong memang digunakan untuk mengaburkan jejak, agar predator kehilangan arah. Sama seperti yang dilakukan para politisi-pembohong, kata dan kalimat digunakan sebagai pengalih, sehingga kebenaran—apa yang senyatanya—menjadi lamat-lamat dan sulit dipahami. Dalam Animal Farm, Orwell menyajikan gagasan tersebut dengan perubahan Tujuh Perintah binatang.
Mari kita kembali ke awal kisah agar perubahan Tujuh Perintah ini bisa kita lihat bersama. Setelah para hewan berhasil mengusir Mr. Jones, Old Major memperkenalkan prinsip Animalisme dan menggubah lagu perjuangan “Beast of England” untuk menaikkan semangat perjuangan para binatang. Tiga ekor babi yang cerdas kemudian mengkristalkan ajaran Old Major—yang wafat karena umur—menjadi Tujuh Perintah yang berbunyi:
1). Apapun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh.
2). Apapun yang berjalan dengan empat kaki, atau memiliki sayap, adalah teman.
3). Tidak ada hewan yang boleh mengenakan pakaian.
4). Tidak ada hewan yang boleh tidur di atas tempat tidur.
5). Tidak ada hewan yang boleh minum alkohol.
6). Tidak ada hewan yang boleh membunuh hewan yang lain.
7). Semua hewan adalah setara.
Ketujuh perintah tersebut membawa persatuan dan kehidupan yang layak bagi para binatang. Mereka lalu mendirikan “Animal Farm” untuk menggantikan “Manor Farm”. Sayangnya, kondisi berubah ketika terjadi persaingan kekuasaan antara Napoleon dan Snowball. Napoleon adalah babi culas dengan ambisi kekuasaan dan ego seluas lapangan sepak bola. Sementara itu, Snowball adalah babi cerdas dan orator andal yang mampu menggerakkan peternakan. Pada akhirnya, Snowball menjadi korban ambisi kekuasaan Napoleon berkat strategi kekerasan dan manipulasi yang dijalankannya. Napoleon berhasil menyingkirkan Snowball dan menjadi pemimpin “Animal Farm” dengan tangan besinya yang dingin dan keras.
Sebagai diktator, Napoleon mengubah Tujuh Perintah. Bersama dengan lingkaran elite yang dibangunnya, Napoleon juga melarang para binatang menyanyikan mars “Beast of England”. Napoleon memodifikasi beberapa perintah. Misalnya, larangan tidur di tempat tidur diubah menjadi: “Tidak ada hewan yang boleh tidur di atas tempat tidur dengan sprei.” Larangan minum alkohol juga diubah menjadi: “Tidak ada hewan yang boleh minum alkohol secara berlebihan.” Atau, larangan untuk saling membunuh dimodifikasi sehingga berbunyi: “Tidak ada hewan yang boleh membunuh hewan yang lain tanpa alasan.” Puncaknya, Napoleon mengubah ide soal kesetaraan hewan menjadi: “Semua hewan adalah setara, tetapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain.”
Orwell tidak percaya bahwa bahasa itu buruk. Apa yang menjadi keyakinannya adalah bahwa bahasa telah dengan sengaja dipakai untuk menutup-nutupi ketidakjujuran. Ketidakjujuran yang ditutup-tutupi akan membuat orang kehilangan pegangan. Namun, ketika rezim yang melanggengkan situasi tersebut digerakkan oleh penguasa lalim, ketidakjujuran justru menjadi kebenaran. Pada titik ini, kebenaran tidak dihapus. Ia hanya ditutupi oleh sesuatu yang seolah-olah benar.
Menulis sebagai tindakan politis
Animal Farm adalah narasi yang sengaja digunakan George Orwell sebagai kritik ideologi. Pernyataan ini dapat dilacak dalam esai “Why I Write”. Di dalam esai biografis tersebut, Orwell menceritakan bagaimana ia menjadi penulis. Ia merefleksikan beberapa fase yang selaras dengan pertumbuhan dan perkembangannya sebagai penulis. Terlahir dengan nama Eric Arthur Blair—George Orwell adalah nama pena—ia tumbuh sebagai anak tengah yang kesepian dan tidak populer di sekolah, sehingga mulai mengarang dan membangun dunia imajinatifnya sendiri. Kebiasaan ini mengasah kemampuannya menyusun kata-kata sekaligus menjadi cara untuk menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan. Memasuki masa remaja, Orwell mulai menulis secara formal dalam bentuk puisi dan drama pendek, meskipun ia mengakui bahwa tulisannya masih berupa tiruan dan belum menemukan “suara”-nya sendiri. Pada tahap ini, dorongan untuk menulis lebih merupakan kesadaran untuk menjadi penulis daripada kebutuhan untuk menyampaikan gagasan.
Perubahan signifikan terjadi ketika Orwell memasuki usia duapuluhan dan bekerja sebagai polisi kerajaan India di Burma—Orwell lahir di India. Pengalaman ini memberinya pemahaman yang tajam tentang struktur kekuasaan, yang kemudian diperkuat ketika ia menyaksikan langsung pergolakan politik di Eropa, termasuk perang saudara di Spanyol. Dari titik inilah Orwell menegaskan posisinya sebagai penulis yang berpihak: setiap karya serius yang ia tulis diarahkan untuk melawan totalitarianisme dan membela sosialisme demokratis (Every line of serious work that I have written since 1936 has been written, directly or indirectly, against totalitarianism and for democratic socialism, as I understand it). Dengan demikian, Animal Farm bukan lagi sekadar fabel tentang binatang, melainkan penegasan politis yang lahir dari pengalaman historis dan kesadaran ideologis. Kesederhanaan bentuknya justru menjadi kekuatannya. Melalui narasi yang tidak ruwet dan penokohan yang tidak berlapis, Orwell mampu menyampaikan kritik tajam terhadap penggunaan bahasa sebagai alat untuk membentuk realitas yang diinginkan oleh penguasa.
Kita bisa menarik garis di antara kedua karya Orwell ini. Dalam Animal Farm, Orwell memperlihatkan bagaimana bahasa digunakan untuk mengaburkan kenyataan, sementara “Why I Write” adalah antitoksin untuk situasi tersebut. Ia menganjurkan agar kita menyadari betapa seorang penulis akan selalu memiliki keterlibatan politis melalui tulisannya. Itulah yang dialaminya sebagai seorang penulis. Menulis, menurut Orwell, bukan lagi sekadar menyalurkan gagasan dan ekspresi keindahan, namun juga mengambil posisi. Tindakan ini adalah tentang keberpihakan—pada kebenaran yang dikaburkan oleh penyelewengan bahasa propaganda penguasa. Keberpihakan tersebut harus terwujud dalam penggunaan bahasa yang sederhana, jernih, dan tidak bersayap. Orwell terlihat jijik dengan bahasa-bahasa rumit, pun jargon-jargon politik. Menurutnya, bahasa yang demikian adalah ruang untuk menyamarkan kebenaran.
Animal Farm sendiri ia maksudkan sebagai cara mengemas tulisan politis dengan citarasa seni (to make political writing into art). Inilah pilihan strategis Orwell. Ia sadar bahwa pengalaman estetis juga diperlukan agar tulisannya dibaca semakin banyak orang. Meskipun dikenal sebagai novelis berkat Animal Farm dan Nineteen Eighty-Four (1949), Orwell pun produktif dalam menulis nonfiksi dan esai-esai, misalnya saja The Road to Wigan Pier (1937) yang berisi laporan tentang kemiskinan para pekerja tambang batu bara di Inggris utara atau Homage to Catalonia (1938) yang merupakan catatan pribadinya saat terlibat Perang Saudara Spanyol dan ekspresi kekecewaan terhadap komunisme Uni Soviet.
Kembali ke Animal Farm, kita dapat melihat bahwa penguasa cenderung mengubah gagasan mulia menjadi slogan. Akibatnya, makna orisinal menjadi kabur, sehingga kebenaran kehilangan pijakannya. Hal inilah yang terjadi ketika banyak binatang yang kesulitan menghafal Tujuh Perintah, khususnya untuk domba, ayam, dan bebek. Snowball menyarikan semangat Animalisme menjadi slogan: “Empat kaki baik, dua kaki jahat” agar mudah diingat. Namun persoalan tidak berhenti di situ. Slogan tersebut sering digunakan untuk membungkam perselisihan dalam debat atau menenggelamkan gagasan kompleks ketika rapat antarbinatang berlangsung. Puncaknya terjadi ketika di akhir kisah Squealer secara diam-diam melatih para domba menyerukan slogan baru: “Empat kaki baik, dua kaki lebih baik”, karena para babi telah mampu berjalan menggunakan dua kaki layaknya para manusia.
Pada bagian lain dalam teks, kita bisa menemukan episode tentang pelarangan lagu “Beasts of England”oleh rezim Napoleon. Squealer, sang juru bicara rezim, menegaskan kepada para binatang bahwa lagu tersebut adalah lagu pemberontakan. Pemberontakan yang terjadi di awal kisah adalah sebuah impian untuk membangun kesejahteraan dan kesetaraan. Pemberontakan sudah paripurna, karena rezim Napoleon telah membangun stabilitas dan kesejahteraan di Animal Farm. Pada akhirnya, lagu “Beasts of England”diganti dengan lagu ciptaan Minimus, babi yang mengambil tugas sebagai “seniman rezim”. Lagu gubahan Minimus diawali dengan: “Animal Farm, Animal Farm, Tak pernah engkau celaka karena diriku!” (Animal Farm, Animal Farm, Never through me shalt thou come to harm).
Dua hal di atas tentu saja digunakan Orwell untuk menggambarkan pengaburan realitas. Bahasa slogan hanya menuntut satu hal: kepatuhan. Dengan demikian imajinasi dan daya kritis yang ada di dalam bahasa dikerdilkan, bahkan sengaja dimatikan. Menulis, sebagaimana Orwell mengalaminya, adalah usaha untuk menjaga hubungan yang jernih antara bahasa dan kenyataan. Para binatang tidak bisa menulis. Kebanyakan dari mereka cuma tahu satu huruf, “A” saja. Tidak lebih, tidak kurang. Mereka tidak bisa menggunakan bahasa secara optimal. Pada titik ini, menulis dapat dilihat sebagai praktik produksi bahasa yang sadar dan bertanggung jawab. Menulis, pada titik ini, tidak lagi sekadar mengungkap gagasan, tetapi juga berhadapan dengan kenyataan bahwa bahasa kini diproduksi secara masif untuk memengaruhi perhatian, membentuk respons, dan mengarahkan preferensi.
Dalam situasi seperti ini, kita bisa mengajukan pertanyaan yang tidak pernah dibayangkan Orwell: Apa arti menulis secara politis ketika bahasa dapat diproduksi tanpa intensi manusia yang jelas? Dalam Animal Farm, kita tahu bahwa bahasa yang mengaburkan kenyataan dipropagandakan oleh rezim Napoleon. Saat ini, kita berhadapan dengan dengungan dari media sosial yang anonim. Bahkan, produksi konten dipercepat lagi melalui penggunaan mesin akal imitasi. Kita semakin sulit mengidentifikasi sumber pengaburan kebenaran. Jika sebelum ini kita dengan mudah bisa menunjuk pelaku propaganda, sekarang kita sudah tidak bisa lagi tahu siapa pelakunya. Kecanggihan teknologi justru membuat subjektivitas menjadi tak terlihat. Ketika subjektivitas tidak bisa terlihat, kita akan sangat kesulitan menuntut pertanggungjawaban.
Di sinilah gagasan Orwell menemukan relevansinya yang baru. Menulis, dalam pengertian yang ia maksud, bukan hanya tentang apa yang dikatakan, tetapi juga tentang kesadaran dalam mengatakan sesuatu. Menulis menjadi tindakan untuk memilih kata dengan sengaja. Dengan demikian, kita mampu menjaga kejernihan makna, dan menolak menyerahkan bahasa sepenuhnya pada mekanisme otomatis. Jika pada abad ke-20 menulis adalah perlawanan terhadap distorsi ideologis, maka pada era akal imitasi inilah usaha terakhir untuk menjaga agar bahasa tidak sepenuhnya lepas dari kesadaran manusia.
Penyingkapan yang nyaring
Setelah menyadari bahwa dengan menulis serius Orwell hendak menegaskan posisi politisnya, semakin terang maksud penulisan Animal Farm. Orwell ingin orang tahu keresahan dan di mana posisi politisnya. Perlu diingat, bahwa sebagai orang Inggris, ia adalah liyan. Orwell lahir di India, tanah koloni, pernah bekerja sebagai perwira kepolisian India-Britania selama tinggal di Burma. Pengalaman ini membuatnya muak terhadap imperialisme Inggris. Ia lalu masuk sebagai simpatisan ideologi sosial-demokratis. Dalam “Preface to the Ukrainian Edition of Animal Farm”, Orwell sendiri mengulas secuil sejarah hidup yang berujung pada simpul diri sebagai agensi politis. Orwell mengamati betapa Uni Soviet pada 1930 berbeda dari Rusia pada 1917. Ia melihat bagaimana masyarakat sosialis lahir, tumbuh, dan berkembang; hingga diterpa pembusukan karena rezim totalitarian. Tepat pada titik inilah Orwell bereaksi.
Intensi sebenarnya sudah dimiliki Orwell begitu kembali ke Inggris dari Spanyol. Orwell ingin mengungkapkan mitos soal Uni Soviet dalam sebuah cerita yang mudah dipahami. Inspirasi itu pada akhirnya datang ketika di pedesaan kecil tempat tinggalnya Orwell melihat seorang bocah laki-laki, kira-kira berumur sepuluh tahun, sedang mengendalikan kuda penarik gerobak yang besar. Karena jalan yang dilalui sempit, bocah itu akan mencambuk kuda penarik gerobak. Pengalaman ini direfleksikan Orwell sebagai sebentuk eksploitasi. Orwell berandai-andai: Seandainya saja hewan-hewan itu menyadari kekuatannya, manusia tidak akan memiliki kekuasaan atas mereka. Pengandaian ini lalu berujung pada gagasan bahwa cara inilah yang terjadi dengan eksploitasi para kapitalis terhadap kaum pekerja. Ia lalu melanjutkan gagasan dengan membuat analisis terhadap teori kelas Karl Marx dari sudut pandang binatang. Bagi para binatang, perjuangan antarkelas yang diusahakan oleh manusia tidak lebih dari ilusi. Sebab, ketika eksploitasi terhadap binatang dibutuhkan, para manusia akan berkolaborasi ([T]he concept of a class struggle between humans was pure illusion, since whenever it was necessary to exploit animals, all humans united against them: the true struggle is between animals and humans). Orwell ingin menunjukkan bahwa sebagaimana manusia menindas para binatang, para penguasa mengeksploitasi kaum pekerja.
Inspirasi ini tentu saja terjadi dalam konteks. Ketika menulis Animal Farm, Orwell juga mengikuti perkembangan politik global. Ia menyebut Konferensi Teheran, yang berlangsung pada 28 November—1 Desember 1943 dalam teks “Preface to the Ukrainian Edition of Animal Farm”. Konferensi itu adalah pertemuan tiga negara besar semasa Perang Dunia II, antara Joseph Stalin (Uni Soviet), Franklin D. Roosevelt (Amerika Serikat), dan Winston Churchill (Inggris). Mereka berkumpul untuk mengoordinasikan strategi militer melawan pemerintahan Nazi Jerman, membuka kemungkinan front baru di Eropa Barat, hingga membagi zona pengaruh setelah perang usai.
Lalu, apa yang menarik dengan Konferensi Teheran sehingga disebut oleh Orwell dalam pengantar Animal Farm untuk edisi Ukraina? Ternyata, Orwell dengan sengaja menutup Animal Farm dengan sindiran langsung untuk Konferensi Teheran, sebagai lambang kemunafikan paling nyata. Orwell menggambarkannya dengan sebuah perjamuan makan dan permainan kartu antara para babi—dipimpin oleh Napoleon—dengan manusia—yang dipimpin oleh Mr. Pilkington. Pada kesempatan itu, para babi dan manusia memutuskan untuk bekerja sama. Mereka melihat bahwa pertikaian antara kedua pihak tidak akan menguntungkan secara ekonomi untuk kedua belah pihak. Para babi berjalan dengan dua kaki, mengenakan pakaian manusia, seraya minum minuman beralkohol. Melalui pidato, keduanya melempar puji-pujian untuk kedua pihak. Napoleon hanya punya sedikit keberatan dan ingin meluruskan pidato Mr. Pilkington. Napoleon tidak lagi menyebut peternakannya sebagai “Animal Farm”. Ia menyebutnya “The Manor Farm”, karena ingin mengembalikan ke nama awal peternakannya (Henceforward the farm was to be known as ‘The Manor Farm’—which, he believed, was its correct and original name).
Di ujung akhir kisah, Orwell menyelipkan sepenggal ironi. Para binatang yang ada di peternakan hanya bisa melihat adegan itu dari luar. Mereka menyaksikan satu keanehan. Entah mengapa, mereka melihat wajah para babi berubah menjadi mirip manusia, sehingga mereka kesusahan membedakan mana babi dan mana manusia. Kemudian, para binatang juga dikagetkan ketika suara teriakan, gebrakan meja, dan umpatan dari dalam rumah peternakan. Dalam permainan kartu yang berlanjut, Napoleon dan Mr. Pilkington sama-sama mengeluarkan kartu as sekop. Pihak babi dan manusia saling curiga dan ini memicu pertikaian lebih lanjut karena kecurangan telah terjadi dalam permainan.
Dengan mudah kita bisa menerka bahwa Orwell tidak ingin menyajikan rekonsiliasi antara para binatang dan manusia. Meskipun keduanya berbagi meja hidangan, minum minuman alkohol, saling melempar pujian, dan menempuh kesepakatan untuk bekerja sama, tidak ada ketulusan. Logika kekuasaan dan eksploitasi tetap saja menjadi akar cara kedua pihak bertindak. Mereka justru menyempurnakannya. Tindakan dan kata-kata yang manis tidak lebih dari sekadar kedok untuk nafsu kuasa dan eksploitasi. Peristiwa permainan kartu yang memuncak pada kartu as yang sama-sama dikeluarkan oleh Napoleon dan Mr. Pilkington adalah kritik paling tajam yang ditawarkan Orwell sepanjang kisah Animal Farm. Ketika kekuasaan berada dalam genggaman, penindasan dan eksploitasi akan terus langgeng. Ia akan terus-menerus diwariskan dan disempurnakan! Logika kekuasaan dan eksploitasi inilah yang terpancar dari wajah para babi dan manusia, sehingga para binatang yang ada di luar arena permainan tidak lagi bisa membedakan keduanya.
Ketika menyadari ini, kalimat Orwell dalam “Preface to the Ukrainian Edition of Animal Farm” menjadi semakin tajam dan nyaring. Dari sudut pandang para binatang, perjuangan kelas yang mereka usahakan adalah sekadar ilusi. Dengan menyajikan argumen tersebut, Orwell tidak dalam posisi menolak konflik kelas. Ia mencoba menyederhanakannya, sebagai sebuah strategi. Ia justru ingin menunjukkan lapisan yang lebih dalam dan mengerikan: kekuasaan akan secara otomatis menggalang kekuatan bersama ketika ada pihak yang bisa dieksploitasi. Para babi dan manusia di akhir kisah tidak lagi dibedakan!
Animal Farm, dengan demikian, tidak hanya bisa dibaca sebagai alegori situasi politis pada akhir PDII. Lebih dari itu, novel pendek ini sesungguhnya kritik tajam dan nyaring soal ambisi para penguasa yang eksploitatif. Mereka yang sebelumnya menjadi objek penghisapan para penguasa akan berubah menjadi penguasa yang lebih canggih mengeksploitasi objeknya karena mampu menguasai bahasa, alat produksi, dan struktur organisasi kekuasaan. Dengan demikian, struktur penindasan sudah mengalir dalam nadi struktur kekuasaan. Ironisnya, posisi kaum yang dieksploitasi akan selalu sama: mereka hanya bisa melihat dari luar gelanggang kekuasaan yang gemerlap dan riuh-rendah oleh kesenangan.
Pada dasarnya kemanusiaan
Sekarang kita sudah melihat bersama bahwa Animal Farm tidak melulu bisa dipahami sebagai fabel politik yang digunakan Orwell untuk mengkritik situasi politik pada zamannya. Melalui pembacaan dari tiga esai yang lain kita bisa melihat lapis-lapis makna yang jauh lebih kaya dari novel sederhana ini. Dalam “Politics and the English Language”, Orwell juga menegaskan bagaimana bahasa adalah alat untuk pengausa. Oleh para penguasa, bahasa dibusukkan demi menyamarkan kenyataan sehingga kekuasaan menjadi langgeng. Sementara itu, “Why I Write” adalah pengingat bagaimana menulis adalah tindakan untuk memihak. Para penulis yang baik akan memihak kebenaran, memelihara hubungan ideal antara bahasa dan kebenaran. Para penulis bisa menjadi suar di tengah lautan kebusukan yang ditebar para penguasa lalim. Pada akhirnya, melalui teks “Preface to the Ukrainian Edition of Animal Farm” menunjukkan bahwa penindasan tidak berhenti pada siapa yang menjadi penindas. Penindasan akan terus hidup dalam struktur kekuasaan yang mampu menciptakan dirinya sendiri dengan lebih canggih. Ketiga gagasan yang ditawarkan Orwell ini bermuara pada satu kesadaran: bahasa bukan sekadar alat komunikasi, namun sebuah medan tempat kebenaran bisa dipertahankan atau dikaburkan.
Di awal tulisan, saya mengawali dengan obrolan tentang akal imitasi. Kita bersama yang hidup dalam era akal imitasi tentu bisa menarik benang merah ketika membaca tafsiran Animal Farm dalam tulisan ini. Jika pada masa Orwell bahasa dipakai untuk menutup-nutupi ketidakjujuran oleh rezim kekuasaan, maka hari ini kemungkinan itu hadir dalam bentuk yang lebih halus dan lebih luas. Bahasa diproduksi, disebarkan, dan diulang dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya—cukup untuk membentuk persepsi, tanpa selalu memberi kesempatan untuk memeriksa kebenarannya.
Namun, seperti halnya bahasa, akal imitasi pada dirinya sendiri tidak memiliki kehendak. Ia bukan subjek moral. Ia adalah alat—dan seperti semua alat, ia dapat digunakan untuk membangun atau merusak. Yang menentukan bukanlah teknologinya, melainkan manusia yang menggunakannya: sejauh mana ia memilih kejernihan atau kabut, tanggung jawab atau manipulasi, kebenaran atau sekadar kenyamanan. Dalam dunia yang dipenuhi oleh produksi bahasa otomatis, justru kesadaran manusialah yang menjadi semakin penting—kesadaran untuk memilih kata, untuk menimbang makna, dan untuk tidak menyerahkan seluruh proses berpikir pada mekanisme yang bekerja tanpa refleksi. Pada akhirnya, manusia perlu selalu menyadari bahwa akal imitasi—juga bahasa, dalam kesadaran arkeologis tertentu—adalah peranti yang diciptakannya untuk membantunya menjadi lebih manusiawi. Kita, manusia adalah, orang tua akal imitasi!
Pertanyaan yang diajukan Orwell tidak pernah benar-benar usang: Bagaimana kita menggunakan bahasa, dan untuk siapa bahasa itu bekerja? Jika bahasa dapat menjadi alat penindasan, ia juga dapat menjadi ruang pembebasan. Dan, jika hari ini kita hidup di tengah dunia yang dipenuhi oleh kata-kata yang bergerak tanpa henti, maka tugas kita bukan sekadar mengonsumsi, melainkan menjaga agar bahasa tetap berpijak pada kesadaran manusia. Sebab di sanalah, mungkin, kemanusiaan kita dipertaruhkan—bukan dalam teknologi yang kita ciptakan, tetapi dalam pilihan-pilihan kecil yang kita ambil setiap kali kita berbicara, menulis, dan memahami dunia. Rasa-rasanya, kita perlu belajar berani menyuarakan apa yang diyakininya sebagai kebenaran yang bertanggung jawab. Jika keberanian itu hilang, jangan-jangan kita hanya akan menjelma seperti para binatang di akhir kisah: diam, sesekali mengeluh, sambil menyaksikan kekuasaan berpesta dan melanggengkan eksploitasi.
Jika Bibliobesties hendak membaca ulasan buku lainnya, temukan di sini!

