Berkhidmat pada Kaum Perempuan

Bagikan Artikel
Hari Ibu Menyusui Sedunia 2021
Sumber gambar: https://www.paho.org/en/campaigns/world-breastfeeding-week-campaign-2021

Agustus selalu keramat bagi bangsa Indonesia. Pertengahan bulan ini, bangsa kita merayakan hari kemerdekaannya. Akan tetapi, jika melihat kalendar internasional yang dilansir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kalendar nasional, ada hal yang menarik tentang perempuan. PBB, melalui World Health Organization (WHO), menetapkan tanggal 1–7 Agustus sebagai Minggu Ibu Menyusui Sedunia. Sementara itu, pemerintah menjadikan tanggal 1 Agustus sebagai Hari ASI Sedunia. Selain itu, pemerintah juga menetapkan tanggal 5 Agustus sebagai Hari Dharma Wanita.

Wanita, atau secara politis lebih tepatnya perempuan, tampak begitu memegang peran krusial dalam kehidupan. Namun demikian, acap kali perempuan sering dijadikan sekadar “pendamping” dari para pria. Padahal, pada fase awal pertumbuhan manusia, para perempuan yang memegang peran penting.

Gambaran seorang ibu digambarkan dengan bagus oleh W.S. Rendra (1935–2009) dalam puisi berjudul Ibunda. Rendra menggambarkan ibu layaknya bumi, tempat untuk dipijak dan memberikan penghidupan, yang selalu membuahkan restu bagi anak yang mengembara di dunia. Di lain sisi, sastrawati Nh. Dini (1936–2018) dapat dibilang selalu mengetengahkan eksplorasi dunia batin dan kehidupan kaum perempuan. Rasanya, tidak salah jika pada awal Agustus ini kita bersikap khidmat pada kaum perempuan.

Memeringati Innocenti Declaration

Minggu pertama Agustus oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diperingati sebagai Minggu Ibu Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week). Peringatan ini dimaklumkan oleh PBB berdasarkan peristiwa penandatanganan Innocenti Declaration pada Agustus 1990. Pada kesempatan tersebut, pemerintahan yang dapat membuat kebijakan, badan kesehatan dunia (WHO), dan badan dana anak PBB (UNICEF) hendak mempromosikan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif demi kesehatan anak.

ASI diyakini memiliki kandungan nutrisi lengkap yang dibutuhkan oleh para bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan mereka. Selanjutnya, ASI juga diperlukan untuk memenuhi separuh kebutuhan nutrisi pada paruh kedua dalam tahun pertama kehidupan seorang anak. Pada tahun kedua kehidupan seorang anak, ASI dapat memenuhi sepertiga kebutuhan nutrisi seorang anak. Anak yang diberi ASI secara eksklusif terbukti memiliki daya tahan berkat antibodi yang dapat melindungi anak-anak dari penyakit yang biasanya diderita anak-anak.

Selain itu, anak yang diberi ASI eksklusif memiliki kedekatan emosional dengan ibunya. Hal ini dinyatakan oleh penelitian yang dimuat dalam Jurnal Gizi Indonesia pada 2015 lalu. Anak yang diberi ASI eksklusif sebagian besar cenderung tidak memiliki masalah mental emosional. Sebaliknya, anak yang tidak mengkonsumsi ASI eksklusif cenderung memiliki masalah mental emosional. Dalam penelitian tersebut juga dinyatakan bahwa mental emosional anak cukup dipengaruhi oleh riwayat pemberian ASI, pengetahuan, sikap, dan tingkat pendidikan ibu.

Perempuan dalam hubungan ibu dan anak

Tentang hubungan ibu dan anak, rasanya tidak ada yang lebih mengagumkan dari apa yang digambarkan oleh W.S. Rendra. Puisi itu berjudul Ibunda, dimuat dalam Empat Kumpulan Sajak (1961). Saya sendiri membacanya sekitar dua dekade lalu. Buku itu sendiri saya pinjam dari perpustakaan sekolah.

Sajak Ibunda berbunyi begini:

Engkau adalah bumi, Mama/

aku adalah angin yang kembara/

Engkau adalah kesuburan/

atau restu atau kerbau bantaian//

Kuciumi wajahmu wangi kopi/

dan juga kuinjaki sambil pergi/

karena wajah bunda adalah bumi./

Cinta dan korban tak bisa dibagi./

Sajak yang tidak panjang. Dua bait, delapan baris. Setiap bait terdiri dari empat baris. Kedua baitnya mengandung enigma.

Bagi Rendra, ibu layaknya bumi, yang padanya terdapat kesuburan. Namun, ibu juga sumber restu. Dan, satu lagi, seperti kerbau bantaian. Apa yang hendak dikisahkan Rendra dengan baris-baris bait pertama? Ia bicara soal ibu yang mengayomi dan menjadi tempat bertumbuh, layaknya bumi. Ibu juga sumber restu, tempat anak-anaknya meminta doa dan perlindungan.

Baca Juga :  5 Rekomendasi Buku Terlaris Agustus 2021

Di sisi lain, ibu juga layaknya kerbau yang dikurbankan pada satu perayaan. Ia melambangkan penebusan bagi hal yang kudus. Dan Rendra si aku? Ia mendaku angin yang mengembara. Ia pergi dari satu tempat ke tempat yang lain, berpindah-pindah. Akan tetapi, si angin kembara tahu di mana tempatnya untuk kembali.

Pada bait kedua, enigma yang ditawarkan Rendra tidak melunak. Ia menciumi wajah ibunda yang wangi, seperti bau kopi. Meskipun demikian, karena ibu adalah juga bumi, ia menjejaknya ketika pergi. Meski beranjak pergi, wangi kopi tetap akan tercium, bukan? Dan, pada baris terakhir, Rendra memberi tawaran yang sublim, meskipun kental dengan unsur paradoks.

Bagi Rendra, hubungan ibu-anak adalah sejatinya hubungan cinta kasih. Yang satu mengasihi yang lain. Tapi, Rendra juga sadar. Cinta adalah hanya sebelah sisi mata uang. Sisi yang lain adalah pengorbanan. Mencintai berarti juga berkorban. Dan, hanya melalui pengorbanan cinta mewujud secara konkret.

Hubungan batin dengan ibu

Saya sendiri pun seorang anak yang memiliki hubungan yang dekat dengan ibu. Namun demikian, hubungan tersebut lalu berjarak. Apa sebabnya? Setelah lulus SMP, saya memutuskan untuk masuk ke SMA yang berjarak lebih dari 70 km. SMA tersebut memiliki asrama. Konsekuensi logisnya, saya harus meninggalkan keluarga untuk menempuh pendidikan di SMA tersebut.

Orang tua memang diizinkan melakukan kunjungan bulanan pada Minggu kedua di dalam bulan, tetap saja hubungan saya dan ibu menjadi berjarak. Saya tidak lagi bisa merasakan nikmatnya masakan ibu dan harus beradaptasi dengan masakan asrama yang sering kali tidak membangkitkan selera. Saya tidak lagi bisa merasakan perhatian ibu secara langsung. Kami hanya sesekali bicara melalui telepon itu pun jarang sekali sebab pada waktu itu ponsel adalah barang langka yang tidak murah. Sekali dua kali, ibu mengirim kartu ucapan hari raya atau ulang tahun.

Pada akhirnya, berkat wawasan dari pembimbing asrama juga, saya mencoba mengalihkan hubungan dekat dengan ibu menjadi hubungan batiniah. Jarak yang terentang coba dilampaui dengan doa dan harapan. Setiap kali berdoa, saya akan menyebut dan membayangkan wajah ibu seraya berharap hal-hal baik terjadi padanya. Sebab, meniru Rendra, saya menyadari bahwa “ibu adalah bumi” dan “aku angin yang kembara”.

Berkenalan dengan sastra dan para penulis perempuan

Satu hal penting dan berguna yang saya temukan selama menjalani masa asrama di SMA adalah bahwa senang membaca dan menulis. Sebagai anak asrama, kami memang dilatih terbiasa menulis jurnal harian. Dengan kebiasaan ini, saya sendiri menjadi terbiasa menulis. Pelan-pelan, dalam hati muncul keinginan untuk menjadi penulis.

Untuk menjadi penulis, katanya, kita harus banyak-banyak membaca. Maka dari itu, saya banyak meminjam buku dari perpustakaan. Dari sana, saya banyak berkenalan dengan para penulis dan karyanya. Semasa SMA, saya banyak membaca sastra, utamanya sastra Indonesia. Saya pun berkenalan dengan karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana, Abdul Moeis, Marah Roesli, Pramoedya Ananta Toer, Sindhunata, Mangunwijaya, Seno Gumira Ajidarma, Ayu Utami, Dewi Lestari, Djenar Mahesa Ayu, Fira Basuki, dan lainnya. Namun demikian, dari sekian banyak karya sastrawan dan sastrawati Indonesia, ada nama yang cukup spesial, Nh. Dini.

Persentuhan pertama dengan Nh. Dini sebenarnya sudah terjadi sejak SMP. Saya tipe siswa yang senang menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah. Beberapa novel Nh. Dini dipajang di rak perpustakaan bagian depan. Namun, saya belum tertarik membacanya, karena mungkin masih merasa belum cukup umur untuk membaca novel-novel tersebut.

Baca Juga :  Seorang Pembaca yang Jatuh Cinta pada Bukunya

Saya benar-benar membaca novel Nh. Dini saat duduk di bangku kelas 1 SMA. Seingat saya, Guru Sastra Indonesia memberi tugas untuk membaca sastra Indonesia. Ada banyak nama pengarang yang direkomendasikan oleh guru kami. Namun, hanya Nh. Dini satu-satunya nama pengarang perempuan yang disebut oleh guru kami. Entah kenapa, saya tertarik membaca salah satu karya Nh. Dini.

Ibu: Batin Penulisan

Satu hal penting dan berguna yang saya temukan selama menjalani masa asrama di SMA adalah bahwa senang membaca dan menulis. Sebagai anak asrama, kami memang dilatih terbiasa menulis jurnal harian. Dengan kebiasaan ini, saya sendiri menjadi terbiasa menulis. Pelan-pelan, dalam hati muncul keinginan untuk menekuni dunia tulis-menulis. Dan, dalam hal ini, saya merasa berutang pada Nh. Dini.

Penulis kelahiran Semarang, 29 Februari 1936 ini memiliki nama asli Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin. Ia tertarik masuk dalam dunia kepengarangan sejak SMP, sekitar tahun 1950-an. Cerpen pertamanya yang diberi judul Pendurhakaan disunting oleh H.B. Jassin dan dimuat dalam majalah Kisah, yang dipimpin oleh kritikus sastra besar Indonesia itu.

Dari karya-karya Nh. Dini, kita akan dibawa pada seluk-beluk dunia batin perempuan. Tokoh-tokoh yang ditawarkan Nh. Dini sebagian besar adalah perempuan. Semuanya memiliki pergulatan batin yang jujur dan mendalam. Sri (Pada Sebuah Kapal, 1972), Rina (La Barka, 1975), atau Hiroko (Namaku Hiroko, 1986), misalnya, menggambarkan tokoh-tokoh perempuan yang kehidupan batinnya penuh gejolak. Dia tidak jarang menggambarkan pilihan yang diambil para tokohnya bukan pilihan yang biasa-biasa saja. Kejujuran dan keterbukaan pergulatan batin dan kehidupan perempuan selalu mendapat tempat dalam karya-karyanya.

Misalnya saja, dalam Dari Fontenays ke Magallianes (2005), Nh. Dini terang-terangan menulis keresahannya tentang sikap buruk suami tokoh utama pengisahan. Ia menulis demikian, “Memang aku sudah mengenal betul sifat suamiku. Dia tidak pernah meluangkan kesempatan untuk memanfaatkan siapa saja. Apalagi mengambil keuntungan dari orang-orang yang dia anggap ‘pasti malu menolak’.” (h. 168)

Atau, di lain tempat, saat sang tokoh tengah beristirahat di klinik setelah melahirkan anak kedua, Nh. Dini menulis demikian: “Kegerahanku terhadap ayahnya kedua anakku semakin menjadi-jadi disebabkan setiap datang, tidak pernah terlewatkan dia menghamburkan keluhan-keluhannya. […] Dia mengeluh karena sepulang dari kantor masih harus mengurus makanan untuk dirinya dan Lintang. Lebih-lebih dia paling tidak suka mengerjakan cucian, baik piring dan alat dapur maupun pakaian. […] Semua keluhannya itu bernada seolah-olah memberi kesan menyalahkan aku mengapa melahirkan! Mengapa aku berada di klinik!” (h. 185)

Nh. Dini mampu dengan terbuka mengungkapkan dunia batin para tokohnya, yang sebagian besar perempuan. Hal ini mengajarkan pada saya hal kecil namun sangat penting: menulis pada dasarnya adalah berlatih jujur pada pikiran dan rasa-perasaan yang ada di dalam diri kita. Saya sendiri merasa bahwa kejujuran dan keterbukaan dalam menulis yang secara setia dijalani Nh. Dini mampu menyapa relung batin para pembaca. Maka dari itu, saya tidak ragu berkata bahwa Nh. Dini adalah ibu batin kepenulisan untuk saya.

Dalam seluruh perjuangan kepenulisannya, penulis perempuan yang berpulang pada 4 Desember 2018 ini secara konsisten memperjuangkan suara perempuan. Dalam sebuah wawancara, Nh. Dini mengemukakan bahwa ia memiliki maksud khusus dengan mengangkat persoalan-persoalan yang dihidupi kaum perempuan dalam karya-karyanya. Ia hanya ingin memperjuangkan keadilan bagi kaum perempuan melalui karya-karya tulisnya.