Fiction Festival 2022

Bagikan Artikel
Fiction Festival Periplus

Begitu mendengar istilah ‘fiksi’, pemahaman kita akan mengarah ke hal-hal yang imajinatif, bermuatan fantasi, mendekati atau meniru apa yang nyata, atau rekaan belaka. Tentunya, hal yang sama berlaku saat mendengar istilah cerita fiksi atau juga buku fiksi. Artinya, sebuah karya yang menarasikan kisah yang terdengar seolah nyata dan ada tak kasat mata. Muatan imajinatif inilah yang menjadikan buku fiksi menjadi salah satu buku populer dan yang paling dicari di antara para pembaca buku, termasuk banyak yang mencari promo novel juga. Kami menyapanya, BiblioBesties.

Promo Novel Fiction Festival

Kali ini, Periplus menyuguhkan promo novel dengan koleksi buku-buku fiksi dari penulis-penulis kenamaan dengan beragam latar belakang dan genre yang lebih spesifik. Ada yang menarasikan tema romansa, misteri, teka-teki, sejarah; dari yang indah-indah sampai yang benar-benar distopia. Tidak lupa juga, koleksi yang ditawarkan oleh Periplus terbuka bagi pembaca dengan rentang usia yang luas, mulai dari remaja belasan sampai yang sudah beranjak di usia pensiunan, bahkan lebih.

Para pembaca menyandarkan ‘me time’ atau ‘waktu merenung-gnoti seauton’ mereka pada karya-karya fiksi tentunya dengan beragam alasan. Setidaknya, ada 2 dimensi yang menjadi pertimbangan utama. Pertama, soal karakter itu sendiri. Karakter yang dipilih oleh para penulis untuk menjadi lakon, baik yang protagonis maupun yang antagonis, diyakini menjadi media pesan moral atau ‘kata-di-balik’kata’ sang pencerita. Semakin kuat sebuah karakter, maka semakin kuat pula daya tarik karya fiksi. Bahkan, tak jarang ada pembaca yang sampai tersegregasi saat ada kisah cinta segitiga di dalam ceritanya (baca: Kamu tim Ryle atau tim Atlas, hayoooh?!).

Kedua, soal alur atau plot. Dimensi ini menampilkan peran penting dari aspek waktu yang begitu berpengaruh dalam dunia tafsir teks. Anggaplah demikian, bahwa si karakter A ini memiliki watak seperti saat ini bukan karena tiba-tiba ‘turun dari langit’, melainkan ada pengalaman masa lalu yang membuatnya menjadi seperti itu. Alangkah menarik jika sang pencerita mampu menggambarkan lewat kata, alur waktu yang berkaitan dengan watak para karakter. Misalnya, karakter Credence dalam Fantastic Beasts dianggap pada awalnya adalah pemangku peran antagonis yang gelap, dingin, kaku, dan selalu berkehendak untuk meniadakan. Nah, watak ini tidak serta merta dilekatkan oleh J. K. Rowling pada detik itu juga. Jika para pembaca menikmati alur yang disajikan penggagas Wizarding World ini, tentunya, para pembaca akan tahu, mengapa Credence memiliki watak sedemikian ‘dingin’.

Baca Juga :  Novel kok Grafis? - Rekomendasi Novel Grafis

Menyadari begitu kaya dan bermaknanya karya-karya fiksi, maka Periplus mengajak para BiblioBesties untuk selalu punya akses ke buku-buku bermutu dengan harga terjangkau dan beragam promo dengan potongan harga yang tidak kalah menggiurkan. Mari terus menimba kekayaan yang tersimpan di balik kata-kata dan imajinasi-fantasi para penulis. Di dalamnya, tidak akan pernah ada habisnya keseruan, keceriaan, rasa penasaran, bahkan ketagihan dari halaman ke halaman: Buku adalah Keajaiban yang Menakjubkan!

Mari, BiblioBesties, mampir dan lihat koleksi promo novel dengan harga yang paling menarik!

Tekan di sini Periplus FICTION FESTIVAL