495 Tahun Jakarta: Sejarah Dalam Visual

Bagikan Artikel

Dalam rangka memperingati 495 tahun Jakarta, Periplus akan mengadakan diskusi sejarah Jakarta secara visual: fotografi dan jejak visual Sejarah Jakarta, seperti kartu pos, lukisan, dan dokumen. Dalam diskusi 495 Tahun Jakarta: Sejarah Dalam Visual ini, para peserta akan ditemani oleh para penulis buku: Sven Verbeek Wolthuys, Scott Merrillees, dan Raditya Darian S. Dan, akan dimoderatori oleh Yerry Wirawan, seorang akademisi yang berfokus pada bidang sejarah.

Diskusi Sejarah Jakarta dalam Visual ini tentu akan menghadirkan kisah-kisah kaum Jakartan dengan gaya hidup dan kebiasaan yang sudah terbentuk dalam paduan konteks Jakarta sebagai sebuah kota tempat bertemuanya beragam kebudayaan, bahkan adat istiadat. Misalnya, dalam pengantara Faces of Indonesia, Scott sendiri berbicara tentang keberagaman yang luar biasa dalam masyarakat Indonesia sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang sayangnya barangkali tidak lagi mudah untuk dijumpai saat kini. Padahal, keragaman inilah yang memberikan dasar semboyan nasional ‘Bineka Tunggal Ika’ atau ‘Persatuan dalam Keberagaman’.

Jakarta sendiri tidaklah cukup jika dikaitkan sebagai sebuah tempat secara geografis dan geopolitis. Isilah ‘Jakarta’ sudah melekat sebagai identitas, katakanlah, ‘orang Jakarta’, ‘bahasa Jakarta’, ‘musik Jakarta’, termasuk salah satu lagu Slank, ‘Anak Menteng’. Dalam teori psikologi modern, seseorang perlu memahami tempat di mana dia tinggal untuk memahami identitasnya, Layaknya tumbuhan, orang membutuhkan “akar”. “Akar” di sini tentu tidak dipahami sebagai harafiah. “Akar” adalah keterhubungan seseorang dengan tempatnya tumbuh. Semakin kuat “akar” seseorang, bisa diandaikan semakin luas pengetahuan orang itu akan diri dan lingkungannya.

Tepat pada titik inilah, pengetahuan akan lingkup geografis dan historis seseorang, bisa turut membentuk siapa dirinya. Semakin orang mengetahu kekhasan geografis dan historis lingkungannya, semakin tandas mengetahui siapa dirinya. Semakin seseorang mengetahui siapa dirinya, semakin besar kemungkinan ia memberi kontribusi pada lingkungannya. Secara ringkas, kaitan ini kita sebut sebagai literasi.

Baca Juga :  Reading and Listening à la Macmillan

Rasanya pertanyaan, “Jakarta punya apa?” patut digaungkan. Harapannya, kita menyediakan jawab yang pantas. Jakarta punya tempat-tempat penting bagi sejarah dan peradaban di Indonesia (juga dunia). Jauh lebih dalam lagi, seharusnya Jakarta punya penduduk yang kemampuan literasi tentang diri dan lingkungannya semakin dalam. Semoga.

Selain untuk memperingati 495 tahun Jakarta, Periplus juga ingin menjalin hubungan dengan komunitas Sejarah dan Pustakawan. Maka dari itu, Periplus mengajak kerjasama Perpustakaan Nasional yang akan menjadi tuan rumah acara diskusi sejarah ini.