Membaca Sastra Tanpa Bikin Kening Berkerut

Bagikan Artikel

Membaca sastra (atau buku apa pun) sering kali membuat kening berkerut. Kata-kata sulit, tema-tema tidak umum, atau plot yang maju-mundur. Setidak-tidaknya, hal-hal itulah yang membuat membaca karya sastra, meskipun karya tersebut digolongkan pada jenis sastra kontemporer, terasa sulit. Sastrawan layaknya pacar yang sulit dimengerti apa maunya. Duh!

Tapi, membaca buku sastra tidak perlu membuat kening berkerut, kok! Jadi, tidak perlu repot-repot memikirkan anggaran untuk membeli krim penuaan dini. Ngirit!

Caranya?

Gampang! Ikut saja komunitas pecinta buku. Kita jadi bisa punya rekan diskusi. Jadi, tidak perlu lagi bingung kalau bertemu kata-kata sulit plot yang ruwet, atau hubungan antartokoh yang njelimet.

Lit & Coffee

Komunitas pecinta buku Lit and Coffee! Dengan mengupas buku bersama, membaca sastra tidak perlu membuat kening berkerut. Foto diambil dari Instagram @litandcoffee.

Salah satu komunitas pembaca buku yang cukup hits adalah Lit & Coffee. Komunitas ini resmi dibentuk sejak Oktober 2018. Lit & Coffee adalah komunitas pembaca buku yang diprakarsai oleh empat orang pecinta buku. Mereka adalah Lina Kartasasmita, Devina Gunawan, Rey Kamal, dan Febi Ramadhan Syam. Lit & Coffee kemudian berkembang sebagai komunitas yang mencoba mendorong para pecinta buku membaca sebanyak mungkin buku. Tidak hanya itu, Lit & Coffee juga menantang pecinta buku membaca genre yang melampaui “zona nyaman” mereka. Asyiknya, kegiatan ini dilakukan bersama-sama! Lit & Coffee bertemu secara daring pada masa pandemi ini setiap Selasa. Pembahasan pun dibuat berselang-seling antara buku dan film.

Selasa, 14 September 2021 kemarin Lit & Coffee mengadakan diskusi buku secara daring. Topik yang diangkat adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014) karya Eka Kurniawan. Lit & Coffee sengaja mengangkat karya ini karena telah diangkat ke layar lebar. Film yang judul internasionalnya Vengeance is Mine, All Others Pay Cash (2021) ini telah menyabet penghargaan Golden Leopard. Ini merupakah hadiah utama sesi kompetisi internasional yang diadakan oleh Locarno International Film Festival 2021.

Baca Juga :  Disinfektan Dulu, Kirim Kemudian!

Sebagai catatan, Edwin, sutradara Vengeance is Mine, All Others Pay Cash ini mengukir sejarah sebagai sutradara Indonesia pertama yang menyabet penghargaan Golden Leopard. Hal ini cukup membanggakan karena prestasi Edwin bisa disejajarkan dengan Stanley Kubrick, Mike Leigh, Jafar Panahi, dan Jim Jarmush. Luar biasa bukan?

Mari kita kembali pada diskusi Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang diprakarsai Lit & Coffee. Adalah Maria Rianty yang memandu jalannya obrolan. Maria Rianty membuka obrolan santai dengan mempersilakan Amelia untuk membagikan pengalamannya membaca. Menurut Amelia, gaya bahasa Eka Kurniawan sangatlah vulgar. Ini membuatnya agak kaget. Namun demikian, Amelia memahami bahwa dirinya bisa belajar dari Iwan Angsa sebagai orang tua. Seburuk-buruknya orang tua, mereka pasti tidak akan membiarkan anak-anak mereka turut dalam keburukan orang tua. Itulah tugas berat yang diemban orang tua, yakni mendidik anak agar memahami dan memegang nilai keutamaan dalam kehidupan. “Ini vulgar! Vulgar! Saya juga melihat adanya kondisi sosial di mana orang kecil itu ditindas,” ungkap Amelia.

Kesan vulgar terucap dari hampir semua anggota diskusi Lit & Coffee malam itu. “Tidak cuma vulgar. Saya juga terkesan dengan nama-nama tokoh yang lucu bagi saya, seperti Ajo Kawir, Rona Merah, Budi Baik, atau Iwan Angsa. Saya jadi senyum-senyum sendiri,” ungkap Vina Tan yang sempat dicandai oleh anggota yang lain soal keluar dari zona nyaman karena sudah mau membaca buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

sepertidendamfilm
Grafis karakter dalam film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Gambir diambil dari Instagram @sepertidendamfilm.

Seluruhnya, ada 21 orang yang mengikuti obrolan daring ini. Dalam obrolan buku yang berlangsung lebih dari satu jam, hampir semua orang ambil bagian secara aktif. Sebagian besar peserta memang kaget dengan gaya bahasa Eka yang cenderung vulgar, tanpa tedeng aling-aling. Selain itu, banyak yang takjub dengan pemilihan nama-nama tokohnya. Meskipun demikian, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas juga menawarkan perspektif lain kepada para peserta. Ada yang merasa jadi lebih tahu situasi sosial masyarakat Indonesia di pesisir Jawa sekitar tahun 1980-an. Ada pula yang melihat betapa trauma memengaruhi pilihan-pilihan hidup seseorang. Bahkan, ada yang merasa bahwa jika Tuhan tidak membuat “burung” Ajo Kawir “tidur”, Ajo Kawir tidak akan pernah bertemu Iteung, perempuan yang menawan hatinya. “Tuhan kasih timing yang baik agar burungnya tertidur,” kata Milla.

Baca Juga :  ELTea Time: yang lokal, yang global

Membaca buku bisa dilakukan dengan sangat menyenangkan. Apalagi, jika kita juga bisa membahas buku-buku yang kita baca bersama rekan-rekan pembaca. Pasti ada proses bertukar gagasan dan pendapat. Dari proses bertukar gagasan ini, kita akan saling memperkaya gagasan yang dimiliki sebelumnya. Nah, yang menarik dari Lit & Coffee, Milla Nurjanati, seorang peserta membuat puisi yang terinspirasi dari Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Jika berminat bergabung dengan Lit & Coffe, sila terhubung melalui akun Instagram: litandcoffee.