Kota Semarang, Periplus Datang!

Bagikan Artikel
image: Periplus Semarang

Kota Semarang, itulah nama yang belakangan muncul di “ruang dapur” Periplus. Menyongsong 2022, Periplus ingin merawat rasa syukur tanpa tepi dengan menambah gerai. Mengapa Periplus perlu hadir di Semarang? Kira-kira, apa yang membuat Semarang menjadi ladang bagi Periplus untuk menumbuhkan benih literasi? Berikut ini kami coba ulas.

Kota kenangan dan imaji Opa Daniel

Jika seorang penyair mengenang kota tempatnya tumbuh dan dewasa sebagai terbuat dari “rindu, pulang, dan angkringan” lalu bagaimana dengan saya yang lahir dan tumbuh di Semarang? Beruntunglah suatu ketika seorang kawan mengirimkan file-file lagu Daniel Sahuleka. Sebab, di dalamnya saya menemukan lagu berjudul “Semarang” yang membuat saya mampu merawat kenangan akan kota kelahiran.

Kawan-kawan millennials akhir dan generasi setelahnya barang tentu tidak akrab dengan penyanyi berdarah Ambon kelahiran Semarang 6 Desember 1950 ini. Maklum saja, Opa Daniel sejak 1970-an sudah tinggal dan ngetop di Belanda sebagai musisi. Salah satu nomor hits yang dinyanyikan Opa Daniel adalah “Don’t Sleep Away the Night” yang populer di akhir 1970-an.

image: Periplus Semarang Daniel Sahuleka

Semarang adalah kota yang menarik. Setidak-tidaknya, bagi saya dan Opa Daniel. Tentu saja, saya bukan golongan “diaspora” kelahiran Semarang sekondang Daniel Sahuleka. Tapi, coba simak lirik Opa Daniel tentang Semarang, tentang imajinya terhadap kota kelahirannya.

Take me there / To the place where I was born, Captain//

Take me there / To the place where I first saw the light//

Don’t wake me up if I’m only just dreamin’/ Or something I couldn’t believe in//

At last after so many stories / I breathe the air of Semarang//

Di bagian lain lirik lagu “Semarang”, Opa Daniel menggambarkan situasi penuh warna. Ia hanya mendengar saja kisah kota kelahirannya. Maka, ia hanya mampu merangkum kotanya sebagai fiksi. Hingga, pada akhirnya setelah dewasa ia berkunjung ke Semarang dan menghirup sendiri udara kota itu. Sungguh, sisi lain suatu kota (mana pun) adalah kenangan dan imaji.

Semarang, kota tua

image: Periplus Semarang

Dari sisi sejarah, Semarang juga merupakan sebuah kota tua. Kota ini berawal dari daerah pesisir utara Laut Jawa yang pada abad ke-8 M disebut Pragota, sebuah wilayah di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Daerah inilah yang sekarang dikenal sebagai Bergota.  

Baca Juga :  Periplus Hanoman Ubud

Babad Nagri Semarang mengisahkan Ki Made Pandan, seorang putra Raden Patah, Raja Demak, Bersama dengan putranya, ki Pandanaran I menyebarkan agama Islam di wilayah pantai utara Jawa. Mereka membuka pemukiman di wilayah yang dinamai Pulau Tirang pada abad ke-15. Daerah inilah yang kemudian dikenal sebagai perbukitan Mugas dan Bergota.

Pada perjalanannya, Ki Pandanaran I mangkat. Ia lalu digantikan oleh cucunya sendiri, Pangeran Kasepuhan. Pangeran Kasepuhan kemudian diangkat menjadi penguasa wilayah itu. Lalu, pada 2 Mei 1547, disahkan oleh Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Demak. Pangeran Kasepuhan dianugerahi gelar Ki Pandanaran II dan diangkat menjadi Bupati Semarang. Sejak saat itulah 2 Mei dijadikan sebagai peringatan kelahiran Kota Semarang.

Kota ini sendiri merupakan sebuah kota pelabuhan, ditilik dari sisi geografis. Pada masa Hindia-Belanda, Semarang memiliki peran penting sebagai salah satu pelabuhan pusat di Jawa, bersama dengan Batavia dan Surabaya. Karena memiliki peran sebagai kota pelabuhan pada masa Hindia-Belanda, maka memiliki topangan pada kegiatan perdagangan. Semarang berada pada jalur strategis distribusi barang dan jasa.

Selain itu, Semarang pada masa Hindia-Belanda disokong beberapa sungai yang mengalir di wilayah pusat kota. Oleh karena itu, orang-orang Belanda pada masa lalu menjuluki Semarang sebagai Venetië van Java, Venezia dari Jawa. Tentu saja, ini merujuk kondisi kota Venezia di Italia yang wilayahnya terdiri kanal-kanal.

Kota Semarang menyongsong masa depan

image: Periplus Semarang

Kota yang memiliki wilayah seluas 373,67 km2 ini hingga sekarang dikenal sebagai satu dari lima metropolitan yang dimiliki oleh Indonesia. Semarang berada di urutan kelima setelah Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung. Fungsi administratif Semarang sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah juga menjadikannya salah satu kota paling menonjol di Pulau Jawa.

Semarang, dalam satu dasawarsa terakhir, tengah mempersiapkan diri menyongsong masa depan yang cerah. Hal ini bisa dibuktikan melalui indeks pembangunan manusianya. Menurut data BPS, indeks pembangunan manusia (IPM) pada 2020 mencapai angka 83,05. Artinya, status IPM Semarang “sangat tinggi”. Bahkan, tercatat bahwa Semarang menjadi daerah dengan pembangunan manusia terbaik di Jawa Tengah selama lima tahun berturut-turut sejak 2016—2020.

Baca Juga :  Lengkapi Koleksi BTS

Pencapaian IPM yang tinggi ini juga tercermin dari aspek Pendidikan. Rerata penduduk Semarang yang berusia 25 tahun ke atas telah menempuh 10,53 tahun masa sekolah. Artinya, rerata penduduk Semarang telah menyelesaikan kelas 11 (kelas 2 SMA/MA). Selain itu, mereka yang berusia 7 tahun memiliki harapan untuk mengenyam Pendidikan selama 15,52 tahun. Artinya, mereka ini diharpkan menyelesaikan pendidikan hingga tingkat diploma tiga atau semester keenam di perguruan tinggi.

Sementara, dari aspek ekonomi—khususnya pada sektor industri—wilayah Semarang memiliki 446 industri besar dan sedang. Potensi di sektor industri ini disebabkan masuknya Semarang menjadi Kawasan Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, Purwodadi) yang merupakan Pusat Kegiatan Nasional berskala global. Kawasan inilah yang ditetapkan sebagai koridor ekonomi Jawa sebagai pendorong industri dan jasa nasional.

Periplus ada untukmu, siap membantu

image: Periplus Semarang

Mengingat peran pentingnya, sudah sepantasnya Periplus hadir untuk masyarakat kota Semarang. Periplus berharap dapat membantu untuk memberi warna pada aspek pembangunan manusia, khususnya pada dunia literasi dan pendidikan. Komitmen Periplus untuk menyediakan buku dan majalah bermutu akan diwujudkan dengan kehadiran gerai baru di kota Semarang. Periplus ada untuk Semarang dan siap membantu para pecinta buku kota Semarang.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini, Periplus ingin mengadakan jajak pendapat bagi Periplusetiawati dan Periplusetiawan yang tinggal di wilayah Semarang, sekitarnya, dan juga di luar Semarang. Periode jajak pendapat ini dilaksanakan pada Sabtu, 15 Januari 2022 dan berakhir pada 31 Januari 2022. Periplus menyediakan bingkisan menarik selama persediaan masih ada. Caranya mudah, cukup dengan memberikan like dan komentar di akun Instagram @periplus_semarang dan mengisi Google Form di bawah ini.

Kami akan menjaga kerahasiaan informasi pribadi yang kamu ketik melalui formulir jajak pendapat. Kami pastikan data yang kamu berikan tidak akan kami bocorkan atau kami serahkan ke pihak di luar Periplus.