12 Rules for Life: Antidote to Chaos

0
Share

Dalam bukunya, 12 Rules For Life: Antidote to Chaos, Jordan B. Peterson menawarkan 12 aturan hidup—atau lebih tepatnya kalimat-kalimat nasihat—yang diringkas dari puluhan bahkan ratusan yang telah dia kumpulkan melalui interaksinya dalam media sosial. Kedua belas aturan tersebut diharapkan mampu meminimalisasi konflik yang terjadi, baik yang terjadi di dalam diri, dalam hubungan pribadi dengan suatu kelompok, maupun konflik antarkelompok.

Menurut Peterson, terdapat dua unsur utama penyusun dunia, yakni chaos (kekacauan) dan order (tatanan, keteraturan). Chaos terjadi karena adanya konflik entah dalam diri seseorang sebagai pribadi, antara dua individu, antara individu dengan kelompok, atau antarkelompok. Lawan dari chaos adalah order di mana konflik dapat dihindari atau diminimalisasi karena adanya aturan yang sudah disepakati bersama. Chaos dan order layaknya yin dan yang dalam simbol Taoisme. Keduanya selalu ada dalam beragam aspek kehidupan kita.

Secara gamblang, buku ini menjelaskan setiap bagian-bagian aturan tersebut sesuai apa yang ia pahami melalui pengalamannya sebagai psikolog klinis. Selain itu, Peterson meyisipkan pula pelbagai studi kasus, entah melalui pengalamannya sendiri maupun orang lain. Harapannya, pembaca dapat terbantu untuk memahami apa yang ia maksud dan tawarkan. Latar belakangnya sebagai psikolog klinis bukan hanya membantu pembaca membaca suatu kasus melalui sisi psikologi semata, namun juga menggabungkannya dengan ilmu kesehatan yang kompleks, seperti peredaran darah, pernafasan, serta efeknya terhadap organ dalam tubuh.

Hal paling pokok yang ditawarkan buku ini adalah tentang bagaimana seorang secara pribadi menyiapkan diri menghadapi konflik dalam hidupnya. Secara sederhana, buku ini mengajarkan proses terjadinya konflik dan memberi pandangan untuk membaca konflik yang terjadi dan akibat yang ditimbulkannya. Hal ini ditampilkan melalui beragam studi kasus. Penulis juga memberi refleksi pribadi dari kasus yang ada dalam buku ini. Namun, hal paling dasar adalah buku ini mengajak pembaca untuk menghadapi dan menghindari konflik secara pribadi. Tawaran buku ini adalah menanamkan sikap positif dalam mental pribadi. Kepercayaan diri, motivasi yang kuat, dan menanamkan nilai kejujuran adalah beberapa hal yang penting untuk menghadapi dan menghindari chaos yang dapat dilakukan dan dilatih secara pribadi.

Hal kedua adalah mencoba menghindari atau meminimalisasi konflik dalam hal dan lingkup sederhana seperti keluarga dan pergaulan sehari-hari. Peterson membahas tentang mencari pertemanan dalam satu bab sebagai contoh. Baginya, teman yang baik akan membawa kita menjauhi konflik atau membantu kita saat konflik terjadi. Teman yang baik juga mampu membantu kita menjadi versi terbaik diri kita.

Meskipun aspirasi yang ditawarkan oleh Peterson mampu membuat kita cukup termotivasi, ada beberapa hal yang menurut saya menjadi catatan. Pertama, gaya menulis Peterson cenderung menggunakan “jalur melingkar” (detour) untuk mengupas kedua belas aturan yang ditawarkannya. Rasanya, dibutuhkan “stamina” yang cukup banyak untuk mengikuti penjelasan yang dijabarkan oleh Peterson. Kedua, Peterson tidak ragu mengutip dari tradisi iman Kristiani dan Taoisme. Hal ini dilakukan bukan karena Peterson memiliki komitmen pada satu agama tertentu. Rasanya, jauh lebih imbang menempatkan teks Injil—atau juga Taoisme—bukan sebagai teks iman agama tertentu. Teks-teks tersebut rasanya lebih dipahami Peterson sebagai teks kebijaksanaan agar kita mampu menjalani hidup dalam tatanan keteraturan.

Pandemi Covid-19 layaknya godam yang meluluhlantakkan keteraturan yang selama ini terbangun. Sistem kesehatan, perekonomian, hingga institusi keagamaan, juga semua aspek kehidupan terdampak olehnya. Berhadapan dengan kekacauan yang dibawa oleh Covid-19, sebagai manusia, kita hanya dapat memelihara harapan. Tentunya, kita semua berharap akan datang masa yang lebih baik, yakni saat muncul tata keteraturan yang baru.

Dalam masa seperti sekarang ini, banyak orang menyukai unggahan status berisi motivasi, kalimat menguatkan, kalimat nasihat dan hal semacamnya baik yang mereka dapatkan dari buku, cerpen maupun status di berbagai media sosial, seperti Facebook, Instagram, atau Whatsapp Story. Banyak juga yang menghadiri seminar-seminar pengembangan diri, retret dan semacamnya walau biaya yang harus dikeluarkan bisa berjumlah ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Belum lagi, lamanya waktu yang dikorbankan untuk mendapatkan kesegaran batin yang kadarnya kurang lebih sama saat membaca dan merenungkan kalimat motivasi yang mereka dapatnya melalui media sosial.

Hal menarik yang bisa kita dapatkan dari fenomena ini adalah banyak orang, jika tidak dapat dikatakan semua orang, ternyata menyadari mereka memiliki kerapuhan dalam menghadapi hidup harian atau kehidupan karir mereka. Kerapuhan tersebut muncul karena adanya tekanan dalam pekerjaan, konflik dalam pekerjaan atau keluarga dan lingkungan, jam kerja yang tidak teratur, masalah kesehatan, dan banyak lagi. Bentuk kerapuhan yang dirasakan lebih banyak secara psikis daripada fisik walaupun beberapa akhirnya menjalar menjadi kerapuhan fisik seperti gampang lelah, susah berkonsentrasi, dan sering terkena penyakit.