Reading and Listening à la Macmillan

Bagikan Artikel

Sebelum membahas sedaring Macmillan Education Asia 2022 Professional Development Programme, ada secuil kisah yang sungguh-sungguh terjadi tentang pembelajaran Bahasa Inggris yang “menular”.

Ketularan untuk ber-cas-cis-cus

Sekitar empat tahun yang lalu, saya mengobrol dengan seorang Ibu di kota Magelang (Jawa Tengah). Beliau berjualan minuman dan makanan kecil di halaman sebuah Sekolah Dasar. Salah satu hal yang menyentak saya adalah tekad dan kegembiraannya belajar Bahasa Inggris. Kepada siapakah beliau belajar? Kepada kedua anaknya yang belajar di sekolah tersebut.

Beberapa waktu sebelumnya, sekolah tersebut mengadopsi buku dari Macmillan Education yang berjudul Happy Campers. Dia begitu senang melihat kedua anaknya cas-cis-cus bernyanyi dan berbahasa Inggris di rumah. Tentu saja, perasaannya juga bangga ketika melihat mereka pede berbicara dengan turis bule yang plesir ke kota mereka.

Tanpa malu-malu, bahkan penuh semangat, setiap hari ibu tadi belajar Bahasa Inggris dari dan bersama anak-anaknya. Secara positip anak-anaknya “menulari” gairah untuk ber-cas-cis-cus dalam Bahasa Inggris.

Reading and Listening àla Macmillan

image: periplus macmillan how to series webinar buku bahasa inggurs untuk SD

Macmillan Education Asia 2022 Professional Development Programme adalah serangkaian sedaring yang relevan dan juga praktis untuk para pengajar dari segala jenjang. Hari JUmat (25 Maret 2022) yang lalu, kita telah mengikuti sedaring bersama Sarah Hillyard yang berbagi mengenai Seni Mengoreksi Kekeliruan Anak (Usia Dini). Kali ini, sedaring selanjutnya akna membahas tema yang masih sangat berkaitan dalam How to Series ini.

Kegembiraan bisa menular (dalam arti baik), seperti kisah di atas tadi. Sesuatu yang membuat gembira umumnya membuat orang lebih tertarik untuk ingin tahu dan terlibat di dalamnya. Cukup banyak riset telah dilakukan untuk melihat keterkaitan antara kegembiraan dan capaian akademis. Ketika hati gembira, otak kita lebih mudah menyerap hal-hal yang sedang dipelajari. Ini berlaku untuk proses pembelajaran untuk mata pelajaran apa pun–entah itu bahasa inggris, matematika, sains, dan lain-lain.

Sadar bahwa Bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu kita di Indonesia, maka telinga kita pun perlu di-sekolah-kan. Artinya, perlu diasah dan dibiasakan untuk mendengarkan Bahasa Inggris se-genuine mungkin. Makin sering mendengarkan Bahasa Inggris sebagaimana digunakan oleh native-speakers (sebagaimana halnya oleh Del & John yang berasal dar UK), makin baik.

Baca Juga :  Buku: Jendela Dunia, Jendela Petualang

Mari kita kerucutkan pada Bahasa Inggris dan pada topik reading maupun listening. Bagaimana caranya agar proses belajar membaca (reading) dan mendengarkan (listening) juga menjadi proses pembelajaran yang menggembirakan (fun)? Terlebih ketika proses pembelajaran dilakukan secara daring, adakah tips & tricks yang bisa membantu proses pembelajaran bisa lebih efektif dan tetap menggembirakan (fun)?

Macmillan mengajak kita mendalami pertanyaan itu dari sisi pedagogis maupun aspek teknis melalui dua sedaring yang akan di bawakan oleh duet Mr. Derek “Del” Spafford dan Mr. John Cruft. Berikut ini adalah jadwal sedaring:

How to approach reading in the digital classroom?

  • Hari: Selasa, 29 Maret 2022
  • Pukul: 17:00 WIB
image: periplus macmillan how to approach reading webinar Bahasa Inggris untuk SD

Del dan John akan membagikan cara-cara efektif untuk mendukung proses pembelajaran daring melalui reading. Nah, untuk melihat kembali rekaman sedaring kemarin, kalian dapat melihat tayangannya dengan menekan tombol di bawah ini:

Kembali duet Del dan John beraksi dengan melanjutkan pembahasan mereka dalam konteks digital classroom. Kali ini yang hendak didalami adalah kelanjutan dari sedaring pertama.

How to approach listening in the digital classroom?

  • Hari: Kamis, 31 Maret 2022
  • Pukul: 17:00 WIB
image: periplus macmillan education how to approach listening webinar Bahasa Inggris untuk SD

Registrasi bisa dilakukan di sini.

Menggali refleksi, menuai apresiasi

Kita semua juga sangat ingin belajar dari Anda, utamanya para Guru. Terkait kedua tema yang diulas-tuntas oleh para Narasumber melalui kedua webinar tersebut, bagaimana respons Anda?

Kami mengundang Anda untuk berbagi refleksi pribadi secara tertulis setelah mengikuti kedua webinar tersebut. Pertanyaan berikut ini dapat menjadi panduan dalam menulis.

  • Poin-poin mana yang relevan untuk konteks Anda?
  • Bagaimanakah bahasan dari para Narasumber bisa diterapkan dalam konteks Anda? Bagaimana hendak diterapkan?

Beberapa ketentuan:

  • Refleksi harus merupakan tulisan pribadi dan orisinil.
  • Panjang tulisan 500–800 kata saja.
  • Tulisan dibuat dalam bentuk Word (bukan PDF).
  • Keterangan atau identitas mengenai peserta ditulis pada akhir tulisan refleksi dengan format demikian:
    • Nama
    • Sekolah
    • Propinsi
    • Alamat email
    • Nomor telefon
  • Team Periplus Education berhak sepenuhnya untuk menyeleksi semua refleksi yang masuk
  • Refleksi dikirimkan melalui email ke: teacher-academy@periplus.co.id
  • Keputusan Team Periplus Education tidak bisa diganggu-gugat
  • Karangan/refleksi yang memenuhi syarat akan dimuat dalam Blog Periplus
Baca Juga :  English for Academic Purposes

Untuk 3 peserta terbaik, kami telah menyiapkan tiga (3) buah e-Voucher, masing-masing senilai Rp. 500,000. e-Voucher tersebut dapat dipergunakan untuk berbelanja buku dan/atau majalah pilihan di periplus.com

Kebo nusu gudel

Di Jawa ada pepatah yang berbunyi “kebo nyusu gudél”. Kebo adalah kerbau, sedangkan gudél adalah anak-kerbau. Maka secara harfiah pepatah tadi berarti “kerbau menyusu pada anaknya”. Artinya, orang dewasa belajar dari anak-anak atau yang jauh lebih muda.

Pada zaman dahulu atau di mana feodalisme masih kuat berakar, hal tersebut mungkin dianggap tabu. Untuk zaman kita sekarang, barangkali hal itu sudah bukan pemandangan aneh. Kalau sudah ada kaitannya dengan aneka aplikasi digital, medsos dan game, misalnya, anak biasanya lebih jagoan. Umumnya kita orang dewasa mesti kursus-singkat lebih dahulu kepada yang lebih muda, bahkan anak-anak kita. Rasanya itu bukan sesuatu yang tabu, meski kadang sebagai orang dewasa kita cenderung gengsi untuk bertanya.

image: periplus education tidak perlu malu belajar Bahasa Inggris untuk SD

Si Ibu di awal tulisan ini mengajarkan bahwa saya tidak perlu malu untuk bertanya-kepada dan/atau belajar dari anak-anak atau mereka yang jauh lebih muda. Singkat kata, saya tidak usah malu menjadi “kebo” yang kadang kala mesti “nusu gudel” untuk hal-hal yang baik dan mengembangkan. Termasuk pula kalau saya mesti belajar bersama dan dari anak saya (yang belum genap 8 tahun) mengenai lagu-lagu ber-Bahasa-Inggris, misalnya. Karena memang kemampuan listening-nya jauh lebih bagus daripada telinga saya yang terlanjur jadi telinga-Jawa. Saya tidak perlu gengsi. Gengsinya biar dimakan kerbau saja~

Untuk seri sedaring yang lain, silakan klik di sini.