Reading: What works (with Phonics)

Bagikan Artikel

Huruf juga merupakan simbol. Untuk huruf, biasanya dibutuhkan waktu dan latihan yang lebih lama sampai anak memahami keterkaitan antara bunyi, simbol (huruf) dan (akhirnya) dengan artinya. Maka phonics dibutuhkan.

image: Periplus Charllote Raby

Saya kadang masih merasa geli ketika mengenang “perdebatan” dengan istri mengenai kata pertama yang keluar dari mulut anak kami dahulu. “Kata pertamanya adalah Mama,” demikian istri saya waktu itu keukeuh mengatakan. Harfiah, memang itu benar. Istri saya begitu bangga, setidaknya untuk beberapa hari.

Suatu hari dari gendongan baby-sitter anak kami memanggil-manggil, “Mmamma! Mmamma!” Istri saya pun segera datang untuk ganti menggendongnya. Anak kami tidak mau. Dia masih terus memanggil-manggil, “Mmamma! Mmamma!” seraya minta saya gendong. Rupanya panggilan mama itu untuk saya, papanya.

Antara yang terdengar terucap dengan arti yang dimaksud rupanya bisa berbeda.

Phonics: belajar bicara

Anak manusia perlu melatih lidahnya untuk berbicara. Kalau kita amati, bayi pada usia tertentu senang sekali bermain-main dengan lidahnya. Ludahnya menjadi seperti buih di mulutnya. Dia juga mulai seneng mengeluarkan bunyi-bunyian. Biasanya di pagi hari ketika dia terbangun. Orang Jawa akan mengatakan bahwa si anak “sedang mengobrol dengan yang pamomong-nya” (maksudany bukan babby sitter atau si embak, tetapi makhluk-tak-kasat-mata yang bertugas menjaganya).

image: Periplus Reading Phonics

Secara perlahan, anak belajar berbicara dalam bahasa ibu atau yang sehari-hari dipergunakan di lingkungannya. Semula berawal dari satu kata, kemudian menjadi beberapa kata dan bahkan bisa merangkai kata sebagai kalimat sederhana. Memang, harus maklum lantaran tak jarang masih terbolak-balik.

Bisa berbicara tidak serta merta membuat anak langsung lihai membaca. Literasi gambar biasanya mendahului literasi simbol dan/atau huruf. Meski belum lancar membaca, anak dengan mudah bisa membedakan antara gambar sapi dan gajah atau antara gambar T-rex dengan Stegosaurus. Di sinilah peran kita, pendidik sekaligus orang tua, untuk menemani dan belajar bersama mereka.

Baca Juga :  February Romance

Demikian pula dengan logo. Coba kita berikan sebuah simbol huruf “M” berwarna kuning dengan desain khusus. Mereka langsung tahu bahwa itu nama tempat mereka biasa dibelikan burger dan ayam goreng krispi.

Phonics: belajar membaca

Huruf juga merupakan simbol. Untuk huruf, biasanya dibutuhkan waktu dan latihan yang lebih lama sampai Anak memahami keterkaitan antara bunyi, simbol (huruf) dan (akhirnya) dengan artinya. Maka phonics dibutuhkan.

Apa itu phonics? Menurut Collins COBUILD Advanced English Dictionary, Phonics adalah a method of teaching people to read by training them to associate written letters with their sounds. Dengan phonics si Anak mencocokan bunyi/suara yang dia ucapkan dengan simbol (berupa huruf) baik satu per satu maupun sebagai sebuah kelompok (kata).  

image: Periplus Collins Dictionary Phonics

Misalnya, bunyi [k] dalam bahasa Inggris dapat dieja dari kata-kata dengan huruf yang berbeda-beda, misalnya: c (cat), k (kiss), ck (back) atau bahkan ch (school). Atau bisa juga dibalik, dari simbol yang berbeda-beda (c, k, ck dan ch) bisa diperoleh bunyi yang sama.

Karena antara tulisan dan pelafalan dalam Bahasa Inggris terjadi perbedaan yang cukup signifikan, maka sangatlah perlu kita mendampingi anak-anak kita melalui phonics ini. Bagaimanakah cara yang efektif dan efisien? Mari kita belajar dari Charlotte Raby, salah seorang pakar phonics ternama.

Webinar Collins

Dalam webinar dengan tema Reading: What Works dari Collins ini, Charlotte Raby akan mengeksplorasi lebih lanjut cara-cara menggunakan phonics untuk mengajarkan simbol alfabet yang lumayan kompleks. Tujuannya untuk memastikan bahwa setiap anak dapat membaca dan mengeja, dan tentunya bisa mengerti artinya.

Charlotte juga akan membahas dampak kefasihan pada pemahaman anak terhadap bacaan. Dia juga akan membagikan berbagai cara mengajar anak-anak untuk membaca dengan lancar. Lancar di sini maksudnya mereka memahami setiap kata/kalimat dengan benar dan dapat membacanya dengan baik dan benar.

Baca Juga :  Notes on Grief: Ngozi Adichie

Untuk itu, mari belajar bersama melalui webinar pada

  • Hari Rabu, 9 Maret 2022
  • Pukul 17:00 WIB

Untuk bisa terlibat dalam sedaring ini, kita perlu mendaftarkan diri. Registrasi bisa dilakukan dengan menekan tombol berikut ini:

Webinar atau sedaring kali ini adalah bagian kedua. Nah, agar benang merahnya dapat utuh tersambung, kalian dapat melihatnya melalui pranala ini.

Momoy! Popoy!

Not so long time ago … pada suatu pagi di awal tahun 2022, saya mendengar anak kami (hampir 8 tahun usianya) memanggil-manggil, “Popoy ..! Momoy …! Let’s go for a walk!” Awalnya saya tidak merespon, demikian pula istri saya. Karena cara memanggilnya kok rada karikatural. Tetapi masih saja dia memanggil-manggil. Karena menduga yang dimaksud adalah kami, akhirnya saya pun datang mendekatinya: “Ya, Nak. Ada apa?”  

Kan Sushi yang memanggil, Papa!” jawabnya sambil mengelus-elus Sushi. Sushi adalah anjing blasteran Jack Russel Terrier yang baru saja kami adopsi. Rupanya dia sedang memerankan diri menjadi dubber (pengisi suara dalam animasi) untuk anjing kami. “Popoy itu panggilan Sushi untuk Papa. Kalau Momoy untuk Mama,” demikian dia menjelaskan. Saya pun tertawa geli. Ada-ada saja.

Jadi, kira-kira apa kata pertama yang keluar dari mulut Sushi?