Mewajarkan Mbak Taylor Swift sebagai Media Sambat Netijen

0
Share
Taylor Swift
Potret “Mbak” Taylor Swift, sumber: majalahtime.com.

Di antara hampir delapan miliar manusia yang menghuni Bumi, kok bisa-bisanya para editor TIME memilih “Mbak” Taylor Swift menjadi manusia dengan atribut “Person of the Year” pada 2023 ini. Lho, kok bisa!

Meskipun dalam hati merasa biasa saja, namun nyatanya “Mbak” Taylor Swift yang stunningly georgeous pun lumayan membuat saya meluangkan waktu untuk ber-kepo-ria. Ya, saya yang merasa lebih senang hati memilih sandal jepit Swallow alih-alih punya seribu pengikut di media sosial untuk melalui hari pun tergerak untuk menikmati pesona beliau. Setidak-tidaknya, saya tahu warganet yang budiman-budiwati sering menyematkan frasa “Mbak Taylor” bernada curahan hati dalam kalimat-kalimat yang mereka unggah.

Sejauh pengetahuan saya yang pendek, “Mbak” Taylor Swift adalah seorang penyanyi. Sejujurnya, saya tidak mendengarkan karyanya. Menurut saya, mendengarkan Pink Floyd pun sudah mencukupi dosis musik yang saya perlukan. Musik paling kekinian yang sungguh saya dengarkan cuma mentok pada Coldplay. Itu pun berhenti pada tiga album pertama mereka, Parachutes (2000), A Rush of Blood to the Head (2002),dan X&Y (2005). Menjadi updated memang bukan kebutuhan pokok saya dalam menjalani hidup.

Tapi, justru di situlah kabar “Mbak” Taylor Swift menjadi menarik. Lumayan menarik. Atau, malahan sangat menarik.

Setelah meluangkan waktu untuk menyiapkan tulisan ini, saya jadi lebih takjub dengan karya Taylor Swift. Dia bukan sekadar penyanyi wanita. “Mbak” Taylor Swift adalah sosok. Kesadaran ini muncul setelah membaca ulasan di TIME sekaligus menonton video konser beliau yang bertajuk “The 1989 World Tour Live” dari kanal EAS Music Channel di Youtube.

Memang, itu video jadul, tapi ya sudah lah, ya. “Mbak” Taylor Swift yang sendiri saja sudah gemerlap dan memikat di atas panggung, masih mengajak “teman-teman” sesama musisi kondang. Sebut saja beberapa nama seperti Wiz Khalifa, Justin Timberlake, Mary J. Blige, Dan Reynolds dari Imagine Dragons, Sydney Sierota dari Echosmith, Lorde, Jason Derulo, Nick Jonas, Alanis Morisette, John Legend hingga para legenda seperti Joan Baez, Steven Tyler, dan Mick Jagger. Belum lagi Swift “squad” yang anggotanya adalah para model, yakni Martha Hunt, Kendall Jenner, Karlie Kloss, Gigi Hadid, dan Cara Delevigne. Mungkin saja, jika “Mbak” Taylor tahu Pak RT-nya ikut nonton  konser, bisa jadi turut diajak naik panggung untuk jadi teman duet atau sekadar joget-joget gemoy.

Tapi, pada dasarnya, “Mbak” Taylor adalah pencerita. Lebih jauh, beliau adalah pencerita ulung, bukan kaleng-kaleng. “Taylor Swift memberiku sebuah cerita, dan ketika Taylor Swift memberimu sebuah cerita, kamu mau mendengarkan, karena kamu tahu ceritanya bagus—bukan hanya karena dia punya kehidupan yang luar biasa, namun karena dia adalah pencerita yang luar biasa,” begitu kata Sam Lansky dari time.com.

Taylor Swift di benak seorang yang pernah membaca Nietzsche

Tentu kita tak membantah bahwa “Mbak” Taylor adalah seorang pencerita yang luar biasa. Ia menjadi penyanyi perempuan paling prestisius di era internet ini. Dua belas Grammy Award yang diraihnya tentu menjadi bukti. Kita tidak bisa menyangkal, bahwa begitu “Mbak” Taylor patah hati, maka akan terlahir lagu hits yang kita dengar sambil manggut-manggut. Cerita-cerita “Mbak” Taylor melalui lagu-lagu beliau selalu membawa semangat, mengungkap tema bahwa kejatuhan dalam hidup itu pasti terjadi dan bisa dilalui. “Mbak” Taylor sendiri mengakui bahwa dua puluh tahun belakangan, ia merasa sering disanjung sekaligus dihujat oleh publik. Kondisi naik-turun inilah yang membuat “Mbak” Taylor memiliki mental yang teruji. Semakin kemari, semakin matanglah karya-karya dan kepribadiannya.

Sampai di titik ini, entah bagaimana, “Mbak” Taylor mengingatkan saya pada dua aforisme yang pernah ditulis Friedrich Nietzsche. Kedua aforisme tersebut kebetulan berasal dari teks yang sama, Twillight of the Idols. Yang pertama, adalah aforisme tentang hidup. Nietzsche menulis demikian, “From life’s school of war. – What doesn’t kill me makes me stronger.”

Rasanya, ada benarnya bahwa hidup itu seolah “sekolah peperangan.” Sari pati peperangan adalah pertentangan, perbedaan cara pandang yang berujung pada konflik. Bukankah hal seperti ini sering kita jumpai dalam hidup harian? Gaya kita berpakaian, misalnya, bisa saja mengundang sindiran atau cibiran dari orang sekitar. Padahal, bisa dipastikan bahwa cara inilah yang membuat diri kita nyaman.

Sering kali, kenyinyiran orang lain membuat kita tak berdaya, bahkan—pada tingkat yang paling ekstrem—ingin menyudahi hidup. Saat ini terjadi, kita sering melupakan bahwa hidup jauh lebih besar dari apa kata orang lain atas diri kita. Kita kadang lupa bahwa kata-kata orang lain toh tidak membuat kita meninggal. Asal kita bisa makan-minum dan beristirahat cukup, tanpa menaruh hati pada kenyinyiran orang, kita bisa melanjutkan hidup, kok!

Aforisme kedua dari Nietzsche berbunyi demikian, “How little is required for happiness! The sound of bagpipe. – Without music, life would be a mistake.” Kebahagiaan itu sejatinya sederhana, menurut Nietzsche. Kita hanya perlu bagpipe, alat musik khas Skotlandia itu! Ringkasnya, kita hanya perlu dosis musik yang tepat agar bisa mencecap kebahagiaan dalam hidup.

Tidak banyak orang tahu, kecuali mereka yang mempelajari filsafatnya secara sungguh-sungguh, bahwa Nietzsche, selain seorang filolog, juga seorang musisi. Sebagai musisi, menurut catatan Benjamin Moritz, Nietzsche menghasilkan lima belas lagu, sembilan aransemen untuk piano, sebuah aransemen untuk paduan suara dan orchestra, beberapa aransemen musik untuk piano yang dimainkan dengan empat tangan, dan banyak sketsa musik dan komposisi yang setengah jadi. Sebagai musisi, musik adalah denyut nadi. Tanpa denyut nadi, kehidupan menjadi mustahil.

“Mbak” Taylor pesohor perempuan paling moncer

Kembali ke pribadi “Mbak” Taylor. Beliau adalah bintang, baik dalam konteks budaya pop, di mata para kritikus, dan secara komersial. Sebagai musisi, “Mbak” Taylor sudah bisa disejajarkan dengan Elvis Presley, Michael Jackson, dan Madonna. Sebagai penulis lirik, kemampuan beliau sudah sepantar Bob Dylan atau Paul McCartney. Dan, sebagai perempuan yang menggeluti bisnis, nilainya sudah melebihi 1 milyar dollar AS.

Belum lagi, sebagai seorang pesohor perempuan paling moncer, apa pun yang dikerjakannya, pasti ada dalam sorotan publik. Siapa yang dia pacari, apa yang dia kenakan, akan selalu dibicarakan. Dan, jangan salah, “Mbak” Taylor paham cara memanfaatkan perhatian itu. Konon, muncul anekdot, saat sekarang berpacaran dengan Travis Kelce, pemain bisbol Kansas City Chiefs, “Mbak” Taylor membuat bisbol, salah satu olah raga terpopuler di AS, menjadi semakin populer.

Pesona “Mbak” Taylor memang menciptakan medan magnet. Bukan hanya soal perhatian dan sorot mata yang seolah terpaku pada keberadaan beliau, tapi juga soal cuan. Saat membuat tur konser Eras, beliau bisa memutar roda perekonomian setempat. Rata-rata mereka yang hadir di konser Eras menghabiskan uang hingga 1.300 dolar AS (lebih dari 20 juta rupiah) untuk akomodasi dan pernak-pernik dagangan konser. Entah, ada berapa banyak pesohor atau seniman yang bisa membawa efek sedahsyat “Mbak” Taylor ini. Mungkin, hanya “Mbak” Taylor seorang yang mampu! Melihat efek “Mbak” Taylor yang sedemikian dahsyat, beberapa kajian di universitas, seperti New York University, University of Texas, Stanford University, University of Arizona, hingga University of Ghent.

***

Itulah sekelumit catatan soal “Mbak” Taylor yang tahun ini terpilih menjadi salah satu Person of the Year dari majalah TIME. Tradisi yang lahir sejak 1927 ini beranjak dari teori yang menyatakan bahwa dalam sejarah pasti muncul individu-individu yang memiliki kekuatan transformatif terhadap masyarakatnya. “Mbak” Taylor sendiri mencatat rekor sebagai perempuan pertama yang nongol pada edisi Person of the Year. Kali pertamanya muncul pada 2017 saat ia menjadi pemecah kebisuan yang menginspirasi perempuan lain bersuara atas pelecehan seksual yang dialami.

Tahun ini memang tahunnya “Mbak” Taylor. Sampai-sampai, netizen Indonesia yang terkenal sangar, gahar, dengan jemari yang siap nyinyir kiri-kanan-atas-bawah-depan-belakang pun pada kolom komentar membagikan keluh-kesahnya pada “Mbak” Taylor yang tiada duanya. Oh, “Mbak” Taylor, semoga namamu wangi dan karyamu abadi! Vita brevis, ars longa.