Membahas Buku Print on Demand

0
Share
Memahami buku Print On Demand

Saat itu, saya sedang mempersiapkan penulisan tugas akhir akademis. Saya membutuhkan sebuah buku untuk dijadikan referensi. Saya mencarinya di perpustakaan kampus, tetapi hasilnya nihil. Setelah berselancar di internet, saya menemukan bahwa buku tersebut tersedia di toko buku daring tempat saya bekerja. Begitu perkiraan waktu pengirimannya muncul, saya pun langsung memesannya. Dua atau tiga minggu kemudian, buku itu akhirnya tiba di tangan saya.

Namun, sayang seribu sayang, buku tersebut justru jauh dari harapan. Sampulnya sangat sederhana, seperti hasil kliping tugas sekolah era 1980-an. Warnanya krem, dengan judul buku dan nama pengarang yang tampak seperti diketik memakai huruf mesin tik manual. Ketika saya membalik halaman demi halaman, isinya tampak seperti hasil reproduksi. Tata letaknya pun terasa seperti dokumen lama. Kualitas cetaknya “pecah”—bukan “pecah” dalam arti mengesankan, melainkan rendah resolusi. Kertas yang dipakai pun lebih mengingatkan saya pada kertas HVS yang biasa digunakan di kios fotokopi. Padahal, dari segi harga, buku tersebut tidak berbeda jauh dari buku-buku impor “biasa”: tetap relatif mahal.

Maka, secara spontan saya pun bertanya dalam hati: jangan-jangan ini buku bajakan?

Ketika saya bertanya kepada seorang kawan di divisi lain yang lebih sering berkontak dengan penerbit, ia menyebut satu frasa yang kemudian saya ingat terus: Print on Demand atau PoD. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan buku Print on Demand? Mengapa ada buku yang diterbitkan dengan sistem seperti itu? Bagaimana pula cara membedakannya dari buku impor lain yang dicetak secara lebih konvensional? Setelah mencoba mencari tahu sendiri dan bertanya ke sana-sini kepada beberapa rekan yang cukup akrab dengan penerbit internasional, saya merasa ada baiknya membagikan sedikit pengalaman sekaligus penjelasan tentang buku Print on Demand ini.

Praktik pencetakan berdasarkan permintaan ini—Print on Demand, atau selanjutnya kita ringkas menjadi PoD—lahir dari kebutuhan yang cukup nyata dalam dunia penerbitan. Salah satu persoalan paling penting dalam industri buku adalah biaya cetak. Logikanya sederhana: semakin banyak buku dicetak sekaligus, ongkos cetak per eksemplarnya biasanya menjadi semakin murah. Dalam banyak praktik percetakan offset, pencetakan baru terasa efisien bila dilakukan dalam jumlah ratusan hingga ribuan eksemplar.

Logika ini telah lama menopang industri buku. Namun, ia terutama cocok untuk judul-judul yang pasarnya besar: buku yang dapat terjual ribuan, puluhan ribu, bahkan jutaan kopi. Persoalannya, tidak semua buku memiliki nasib seperti itu. Ada buku-buku yang pembacanya terbatas, tetapi kebutuhannya tetap nyata: misalnya risalah akademis, buku-buku lama yang masih dicari, atau karya yang permintaannya datang sesekali dan tidak menentu. Bila judul-judul semacam itu tetap dipaksa mengikuti logika cetak massal, risikonya cukup besar. Penerbit harus mengeluarkan biaya cetak besar di muka, sementara tidak ada jaminan seluruh stok akan terserap pasar.

Di sinilah perkembangan teknologi digital memberi jalan keluar. Pada akhir abad ke-20, mesin cetak digital berkembang sedemikian rupa sehingga produksi buku dalam jumlah kecil menjadi semakin realistis, baik dari sisi teknis maupun ekonomis. Buku tidak lagi harus selalu dicetak ribuan eksemplar sekaligus. Ia dapat diproduksi sesuai kebutuhan, bahkan satuan. Perubahan dalam teknologi ini kemudian bertemu dengan perubahan dalam sistem distribusi. Distributor dan penyedia jasa cetak tidak harus lagi selalu menumpuk stok fisik dalam jumlah besar di gudang. Sebagian cukup menyimpan fail digital, lalu mencetaknya ketika ada pesanan masuk. Dari sinilah model yang kita kenal sebagai Print on Demand memperoleh bentuknya yang modern.

Jadi, apa sebenarnya buku PoD itu?

Secara sederhana, buku PoD adalah buku yang dicetak ketika ada pesanan, bukan dicetak massal terlebih dahulu untuk disimpan sebagai stok besar. Sistem ini memungkinkan sebuah judul tetap tersedia meskipun jumlah pembelinya tidak cukup besar untuk menopang cetak massal.

Bila dijelaskan dengan lebih praktis, begini: dalam sistem biasa, penerbit mencetak banyak buku sekaligus, lalu mendistribusikannya ke gudang, distributor, dan toko buku. Dalam sistem PoD, fail bukunya terlebih dahulu disimpan, lalu versi fisiknya baru diproduksi ketika ada pembelian atau pemesanan. Karena itu, PoD pada dasarnya adalah cara industri buku menjaga agar judul-judul tertentu tetap bisa diakses, meskipun pasarnya tidak besar.

Di titik ini, satu hal penting perlu ditegaskan: PoD bukan istilah untuk menyebut buku bajakan. Akan tetapi, kebingungan pembaca terhadap buku PoD juga sangat dapat dimengerti. Sebab, yang dihadapi pembeli bukanlah konsep industri, melainkan benda fisik yang mereka pegang sendiri. Ketika benda itu tampak jauh di bawah ekspektasi, kecurigaan pun mudah muncul.

Mengapa sistem PoD dibutuhkan?

Dunia buku tidak hanya terdiri atas judul-judul laris. Ada banyak buku yang pembacanya sedikit, tetapi tetap dibutuhkan. Buku akademis adalah contoh yang paling jelas. Sebuah monograf, kajian khusus, atau risalah teori tertentu mungkin hanya dicari oleh dosen, mahasiswa, peneliti, atau pembaca dengan minat yang sangat spesifik. Jumlah pembelinya memang tidak besar, tetapi kebutuhan terhadap buku itu tetap ada.

Hal yang sama berlaku untuk judul-judul lama. Banyak buku yang sudah tidak termasuk terbitan baru, tetapi masih dibutuhkan oleh pembaca. Dalam konteks seperti itulah PoD menjadi berguna. Sistem ini memungkinkan judul-judul tersebut tetap hidup di katalog tanpa memaksa penerbit mencetak ribuan eksemplar dan menanggung risiko stok mati.

Dengan kata lain, PoD adalah salah satu jalan tengah dalam industri buku. Ia tidak lahir untuk menghadirkan bentuk buku yang paling mewah, melainkan untuk menjaga agar judul-judul tertentu tetap tersedia secara resmi. Bagi penerbit, ini soal efisiensi. Bagi sebagian pembaca, terutama pembaca akademis atau pencari judul khusus, ini soal akses.

Lalu, mengapa buku PoD sering membuat pembaca kecewa?

Di sinilah letak ketegangannya. Apa yang efisien bagi sistem produksi belum tentu terasa memuaskan bagi pembaca.

Masalahnya bukan semata-mata pada gagasan PoD itu sendiri, melainkan pada hasil fisik yang diterima pembeli. Karena diproduksi dengan sistem yang berbeda dari cetak massal, buku PoD kerap hadir dengan penampilan fisik yang juga berbeda. Pada beberapa judul, sampulnya tampak lebih sederhana. Gambar atau desain sampulnya kadang kurang tajam. Tata letak isi bisa terasa seperti reproduksi dokumen lama. Jenis kertasnya pun kadang tidak memberikan pengalaman membaca yang sama seperti buku cetakan massal yang lebih rapi.

Bagi pembaca umum, perbedaan-perbedaan seperti ini sangat wajar menimbulkan kebingungan. Kita terbiasa membayangkan buku impor sebagai benda yang secara fisik matang: sampulnya bersih, tata letaknya rapi, kertasnya nyaman dipegang, dan hasil cetaknya tajam. Ketika yang datang justru buku yang tampak seadanya, pertanyaan seperti “apakah ini bajakan?” menjadi hampir tak terhindarkan.

Karena itu, persoalan PoD sering kali bukan pertama-tama soal legal atau ilegal, melainkan soal kesenjangan antara logika produksi dan ekspektasi pembaca. Sistemnya bisa sah dan resmi, tetapi bila tampilannya jauh di bawah harapan, pembeli tetap dapat merasa kecewa, bingung, atau bahkan curiga. Reaksi semacam itu tidak berlebihan. Ia justru sangat manusiawi.

Ciri-ciri buku PoD

Tidak semua buku PoD memiliki kualitas fisik yang buruk. Ada juga yang hasilnya cukup rapi dan tidak terlalu berbeda dari buku biasa. Namun, pada banyak kasus, ada beberapa tanda yang cukup sering muncul dan membuatnya lebih mudah dikenali.

Pertama, desain sampulnya cenderung sederhana. Pada beberapa judul, sampul PoD tampak generik, minim olahan visual, atau hanya mengandalkan teks dan elemen desain yang sangat dasar. Kadang-kadang kualitas gambar sampulnya juga kurang tajam.

Kedua, tata letak isinya sering kali terasa lebih kaku. Tidak sedikit buku PoD yang bagian dalamnya tampak seperti dokumen akademis, hasil pemindaian, atau reproduksi teks lama. Hurufnya kadang terlihat tidak setajam buku cetak offset. Pada judul-judul tertentu, kesan “hasil repro” memang cukup kuat.

Ketiga, kertas yang digunakan bisa terasa lebih biasa. Pembaca yang terbiasa dengan kertas buku impor reguler mungkin akan langsung merasakan perbedaannya. Ada buku PoD yang memakai kertas yang secara visual maupun tekstur terasa lebih dekat ke kertas kerja biasa.

Keempat, finishing-nya tidak selalu meyakinkan. Jilidan, ketebalan sampul, dan kesan keseluruhan sebagai benda fisik bisa terasa lebih sederhana.

Namun, ciri-ciri ini tidak selalu muncul sekaligus dan tidak berlaku mutlak untuk semua buku PoD. Yang perlu dipahami adalah bahwa PoD lebih berorientasi pada ketersediaan isi daripada kemewahan bentuk fisik. Ia hadir agar teksnya tetap bisa diakses, meskipun bendanya tidak selalu memberi pengalaman yang sama dengan buku cetakan massal.

Apakah buku PoD sama dengan buku bajakan?

Jawaban singkatnya: tidak.

Buku PoD pada dasarnya adalah buku yang diterbitkan dan diproduksi melalui jalur resmi, hanya saja menggunakan sistem cetak berdasarkan permintaan. Ia bisa berasal dari penerbit resmi, dari layanan penerbitan mandiri yang sah, atau dari jalur distribusi legal yang memang mengandalkan cetak digital satuan atau dalam jumlah kecil.

Buku bajakan berbeda. Ia diproduksi tanpa izin dari pemegang hak cipta atau tanpa hak distribusi yang sah. Masalah utama pada buku bajakan bukan hanya mutu fisiknya, melainkan status legalitasnya. Ia menyalin, menggandakan, dan menjual karya orang lain di luar jalur resmi.

Masalahnya, bagi pembaca awam, keduanya memang dapat tampak mirip. Buku PoD yang kualitas fisiknya rendah bisa terlihat mencurigakan. Sebaliknya, buku bajakan kadang justru berusaha meniru tampilan buku asli dengan cukup meyakinkan. Karena itu, perbedaan keduanya tidak bisa ditentukan semata-mata dari rupa luarnya, melainkan dari jalur produksi, identitas penerbit, distribusi, ISBN, dan legalitasnya.

Dengan kata lain, buku yang tampil sederhana atau kurang meyakinkan belum tentu bajakan, dan buku yang tampak rapi pun belum tentu otomatis resmi. Itulah sebabnya pembaca membutuhkan informasi yang lebih jernih, bukan sekadar diminta menebak dari tampilannya.

Lalu, bagaimana pembaca bisa lebih waspada?

Ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan sebelum membeli, terutama bila judul yang dicari termasuk buku akademis, buku lama, atau buku yang beredar terbatas.

Perhatikan nama penerbitnya. Cek apakah identitas penerbit tercantum dengan jelas. Periksa juga ISBN dan informasi bibliografis lainnya. Bila memungkinkan, lihat jumlah halaman dan deskripsi edisinya. Istilah seperti print on demand, independently published, facsimile, reproduction, abridged, atau excerpt patut diperhatikan karena dapat memberi petunjuk tentang karakter buku yang akan diterima.

Untuk pembelian daring, kewaspadaan ini perlu ditambah satu lapis lagi. Tidak semua halaman produk akan menyebut secara eksplisit bahwa sebuah judul dicetak dengan sistem PoD. Karena itu, pembeli sebaiknya mencermati beberapa tanda tidak langsung. Lihat deskripsi produk dengan saksama: bila keterangannya sangat minim, generik, atau tidak memberi cukup informasi tentang edisi, pembeli patut lebih waspada. Perhatikan pula nama penerbit, tahun terbit, dan jumlah halaman. Pada beberapa kasus, kombinasi antara judul akademis atau judul lama, penerbit yang kurang familier, serta deskripsi yang sangat singkat dapat menjadi petunjuk bahwa buku tersebut tidak diproduksi seperti buku impor reguler pada umumnya.

Tampilan sampul pada halaman produk juga layak diperhatikan. Bila desainnya sangat sederhana, resolusinya tampak rendah, atau memberi kesan seperti reproduksi seadanya, pembeli sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan, tetapi patut menaruh perhatian lebih. Bila toko menyediakan pratinjau isi, lihatlah beberapa halaman awal. Tata letak yang terlalu kaku, hasil cetak yang tampak seperti hasil pemindaian, atau kualitas visual yang kurang bersih dapat membantu pembeli mengenali karakter buku tersebut sebelum memesan.

Bila informasi pada halaman produk terasa terlalu sedikit, langkah paling aman adalah bertanya lebih dulu kepada penjual. Pembeli dapat meminta kejelasan tentang penerbit, jenis edisi, jumlah halaman, atau apakah judul tersebut dicetak berdasarkan pesanan (print on demand). Dalam belanja daring, kejelasan sebelum membeli sering kali jauh lebih berharga daripada penjelasan sesudah barang tiba.

Yang tak kalah penting, pembeli juga berhak berharap ada informasi produk yang lebih jelas dari penjual atau toko buku. Di sinilah titik pentingnya: edukasi pelanggan tidak boleh berhenti pada kalimat “ini resmi, jadi tidak masalah.” Bila sebuah buku secara fisik berpotensi berbeda jauh dari ekspektasi umum, pembeli idealnya diberi keterangan yang cukup sejak awal.

Dalam perkara buku PoD, pembaca tidak seharusnya dibiarkan menanggung seluruh beban pemahaman sendirian. Toko buku dan penjual pun memiliki tanggung jawab etis untuk menghadirkan informasi yang memadai, terutama ketika sebuah judul berpotensi berbeda secara fisik dari buku impor reguler yang lazim dibayangkan pembaca. Keterangan mengenai sistem cetaknya, kualitas fisik yang mungkin menyertainya, atau karakter edisi yang ditawarkan, bukanlah tambahan yang remeh, melainkan bagian dari kejujuran dalam berniaga buku. Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya ketepatan informasi produk, tetapi juga kepercayaan pembaca—sesuatu yang, dalam dunia buku, tidak kalah penting dari buku itu sendiri.

Jadi, bagaimana kita sebaiknya memandang buku PoD?

Buku PoD perlu dipandang dengan kepala dingin dan ukuran yang adil. Dalam banyak kasus, PoD adalah solusi yang sah, masuk akal, dan penting agar buku-buku tertentu tetap sampai ke tangan pembaca. Namun, itu tidak berarti semua keluhan terhadap buku PoD harus dipandang sebagai salah paham. Kekecewaan semacam itu tetap masuk akal. Bila seseorang membayar cukup mahal, menunggu cukup lama, lalu menerima buku yang secara fisik jauh di bawah harapan, rasa curiga dan marah adalah reaksi yang wajar.

Karena itu, persoalan utama di sekitar buku PoD bukan hanya soal legalitas, tetapi juga soal transparansi, ekspektasi, dan pengalaman pelanggan. PoD mungkin lahir dari kebutuhan industri. Akan tetapi, pelanggan tidak berhadapan dengan “sistem”; mereka berhadapan dengan benda nyata yang mereka pegang, bayar, dan baca. Di titik inilah penjelasan yang jernih menjadi penting. Pembaca berhak tahu apakah sebuah buku dicetak massal atau dicetak berdasarkan pesanan. Pembaca juga berhak memperoleh gambaran yang lebih fair mengenai kualitas fisik yang mungkin mereka terima.

Pada akhirnya, buku PoD bukanlah buku bajakan hanya karena tampilannya terasa berbeda atau kurang meyakinkan. Namun, justru karena tampilannya dapat membingungkan, kita perlu membicarakannya secara lebih terbuka. Dalam dunia buku yang makin beragam, edukasi dan keterbukaan menjadi sama pentingnya dengan ketersediaan judul. Pembaca tidak hanya membutuhkan akses terhadap buku, tetapi juga kejelasan tentang apa yang sebenarnya mereka beli.

Semoga, tulisan ini membantu melihat buku PoD dengan lebih jernih: tidak dengan kecurigaan yang serba tergesa, tetapi juga tidak tanpa sikap kritis.

Jika Bibliobesties hendak mambaca ulasan lainnya, temukan di sini!