
“So you may know he is safe and will be here shortly; he is close at hand and cannot remain away from home much longer,”(p.237) ujar Odysseus kepada Penelope sambil menyembunyikan identitasnya. Dalam The Odyssey—ada banyak terjemahan bahasa Inggris karya ini, tetapi saya membaca versi Illustrated Odyssey oleh Union Square and Co yang terbit pada 2026. Kalimat ini sengaja saya ambil untuk membuka resensi ini, karena kalimat itu merupakan kabar tentang seorang suami yang akhirnya akan kembali setelah perjalanan panjang. Namun, dalam The Odyssey, seseorang belum tentu benar-benar pulang hanya karena telah berada dekat dengan rumah. Odysseus masih harus menghadapi akibat dari berbagai keputusan, godaan untuk melupakan tujuan, dan kenyataan bahwa Ithaca serta orang-orang yang menunggunya tidak lagi sama. Karena itu, wiracarita Homer tidak sekadar mempertanyakan bagaimana seseorang menemukan jalan pulang, tetapi bagaimana ia dapat kembali dikenali setelah perjalanan mengubah segalanya.

Setelah Perang, Perjalanan Pulang Dimulai
Kisah peperangan biasanya berhenti ketika para pahlawan memenangkan pertempuran. Namun, kemenangan tidak otomatis mengembalikan seseorang kepada kehidupan semula mereka. Setelah perang usai, masih tersisa perjalanan lain yang barangkali lebih panjang. Para pejuang masih harus berusaha kembali kepada keluarga dan masyarakat. The Odyssey bercerita tentang usaha kembali itu. Jika The Iliad berpusat pada Achilles dan berakhir dengan pemakaman Hector, The Odyssey menggelar kisah setelah perang usai. Troya telah jatuh dan para pejuang Yunani berusaha kembali ke negeri masing-masing. Bagi Odysseus, raja Ithaca yang cerdik, kemenangan tersebut justru menjadi awal dari perjalanan pulang yang lama.
Menariknya, pulang bukanlah usaha menemukan sesuatu yang tetap utuh, melainkan keberanian untuk kembali setelah perjalanan mengubah segalanya dan membangun kembali hubungan dengan orang-orang yang telah berubah. Homer memulai cerita ketika perjalanan Odysseus hampir mencapai tahun kesepuluh, sementara tokoh utamanya justru belum terlihat. Pembaca terlebih dahulu dibawa ke Ithaca untuk bertemu Telemachus, putra yang berusaha mencari ayahnya, dan Penelope, istri yang terus didesak untuk menerima bahwa suaminya telah mati. Sebelum memperlihatkan petualangan Odysseus, Homer terlebih dahulu menunjukkan ruang kosong yang ditinggalkannya.
Pilihan alur tersebut membuat The Odyssey berbeda dari catatan perjalanan yang bergerak lurus. Homer memulai kisahnya dari tengah peristiwa, lalu membiarkan masa lalu muncul secara bertahap melalui ingatan, percakapan, nyanyian, dan cerita Odysseus sendiri. Sebagian besar petualangan yang paling dikenal pembaca baru disampaikan ketika Odysseus menceritakan pengalamannya. Dalam struktur penceritaannya, perjalanan pulang Odysseus dibangun melalui proses mengingat dan menyusun ulang pengalaman menjadi sebuah cerita.
Yang Membuat Manusia Menjauh dari Rumah
Cara bercerita ini membuka pertanyaan penting: apakah pulang hanya berarti memperpendek jarak menuju rumah? Dalam kisah Odysseus, jarak justru kerap bertambah bukan hanya karena badai, monster, atau kemarahan para dewa, tetapi juga akibat keputusan manusia. Ia dan para pengikutnya beberapa kali hampir mencapai keselamatan, lalu kembali tersesat karena kecurigaan, keserakahan, ketidaktaatan, atau kesombongan.
Ketika Aeolus memberikan kantong berisi angin agar kapal mereka dapat bergerak menuju Ithaca, daratan asal bahkan sudah tampak dari kejauhan. Namun, para pengikut Odysseus mengira kantong itu menyimpan harta yang sengaja disembunyikan dari mereka. Mereka membukanya ketika Odysseus tertidur, membebaskan seluruh angin, dan membuat kapal kembali terlempar menjauhi rumah. Pada kesempatan lain, mereka menyembelih ternak Helios sekalipun telah menerima larangan yang jelas. Dua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pulang bukan sepenuhnya perjalanan individual. Odysseus boleh memiliki arah dan keinginan yang kuat, tetapi keselamatannya tetap bergantung pada orang-orang yang melakukan perjalanan bersamanya. Sebuah rombongan dapat tersesat bukan karena tidak punya tujuan, melainkan karena gagal menjaga kepercayaan, disiplin, dan kesepakatan yang memungkinkan mereka mencapainya. Rumah sudah dekat, tetapi rasa curiga membuat mereka kembali kehilangan arah.
Homer tidak menjadikan Odysseus sebagai pemimpin bijaksana yang selalu dirugikan oleh kebodohan para pengikutnya. Sang pahlawan juga turut memperpanjang perjalanannya sendiri. Setelah berhasil lolos dari Polyphemus sang Cyclops, Odysseus tidak mampu menahan dirinya untuk tetap senyap. Kebanggaan tersebut memungkinkan Cyclops memohon kepada ayahnya, Poseidon, agar Odysseus dipersulit mencapai Ithaca. Kecerdikan menyelamatkannya, tetapi kesombongan kembali menempatkannya dalam bahaya. Perjalanan itu juga menjadi pertarungan melawan kesombongan dalam diri Odysseus sendiri menjauhkannya dari tujuan. Sering kali, kita kehilangan arah bukan karena tidak tahu tujuan, melainkan karena terlalu sibuk membuktikan kehebatan atau mempertahankan gengsi.
Di sepanjang perjalanan, Odysseus berhadapan dengan godaan dalam bentuk lain. Bangsa pemakan lotus tidak menyerangnya dengan kekerasan. Lotus justru membuat orang merasa nyaman dan perlahan kehilangan keinginan untuk kembali. Mereka bukan sekadar lupa arah menuju Ithaca; mereka berhenti peduli bahwa rumah pernah ada. Di kediaman Circe, Odysseus tinggal dalam kenyamanan hingga perjalanannya tertunda. Calypso menawarkan bentuk godaan yang lebih besar: kehidupan abadi apabila Odysseus bersamanya dan melepaskan dunia fana. Ketiga persinggahan tersebut menghadirkan bentuk godaan yang berbeda: melupakan rumah, menunda perjalanan, atau meninggalkan kehidupan fana demi keabadian. Odysseus tetap memilih kehidupan fana bersama Penelope dan Telemachus di Ithaca, karena memiliki makna yang tak tergantikan oleh keabadian dan jarak yang jauh dari rumah
Pulang kepada Dunia yang Telah Berubah
Di tengah perjuangan Odysseus, rumah tidak tinggal diam. Telemachus bertumbuh tanpa ayah. Penelope harus menjaga rumah dan kedudukannya dengan siasat dan kesabaran. Ithaca berubah menjadi ruang perebutan kekuasaan. Dengan memulai cerita dari sudut pandang orang-orang yang ditinggalkan, Homer menunjukkan bahwa kepulangan bukan hanya urusan orang yang pergi. Mereka yang menunggu juga menempuh perjalanan sendiri.
Itulah sebabnya Odysseus belum sepenuhnya pulang ketika mencapai Ithaca. Ia harus menyamar untuk melihat kondisi rumahnya. Kepulangannya belum utuh selama para pelamar masih menguasai istananya. Bagi Odysseus, pulang juga berarti merebut kembali kedudukannya sebagai raja, suami, ayah, dan penguasa rumah. Kepulangannya tidak sepenuhnya lembut; ia juga mengandung pemulihan kekuasaan melalui kekerasan. Namun, setelah merebut kembali istananya Odysseus masih harus membuktikan identitas kepada Penelope, istrinya. Puncaknya terjadi ketika Penelope menguji Odysseus melalui rahasia tempat tidur mereka, yang dibuat dari batang pohon zaitun yang masih berakar sehingga tidak mudah dipindahkan. Rahasia tersebut menjadi bukti bahwa kepulangan tidak hanya ditentukan oleh wajah atau nama, melainkan oleh ingatan yang hanya dimiliki dua orang. Rumah mereka tetap dapat dikenali karena masih ada sesuatu yang berakar di bawah segala perubahan.
Itulah alasan The Odyssey masih relevan meskipun berasal dari konteks yang jauh. Barangkali, kita semua pernah berusaha kembali kepada tempat, orang, atau diri yang dahulu kita kenal. Namun, setelah dunia berubah, pulang tidak berarti menemukan kembali kehidupan yang sama. Ia berarti menerima bahwa kita dan mereka yang menunggu telah menjadi manusia berbeda, lalu memilih untuk sekali lagi mengenal satu sama lain dan membangun kembali tempat pulang yang baru.
Jika Bibliobesties hendak membaca ulasan lainnya temukan di sini!
