The Poppy War: Kemenangan yang Merenggut Kemanusiaan Sang Pahlawan

0
Share
The Poppy War Kemenangan yang merenggut kemanusiaan Sang Pahlawan

Bicara soal kisah pahlawan, pembaca biasanya mengikuti dipertemukan dengan petualangan seorang tokoh yang memiliki keterbatasan. Dari keterbatasan tersebut, sang tokoh menemukan kekuatan unik, dan tumbuh menjadi pahlawan. Akan tetapi, apa jadinya bila kekuatan yang diyakini membawa keselamatan bagi seluruh bangsa malah mengikis kemanusiaan pemiliknya? “I have become something wonderful, she thought. I have become something terrible. Was she now a goddess or a monster? Perhaps neither. Perhaps both.”(P.447). Pikiran Rin ini mungkin terdengar seperti pengakuan atas kekuatan luar biasa yang baru ditemukannya. Namun, kalimat tersebut juga merangkum paradoks terbesar dalam The Poppy War (2019). Hal inilah yang menggerakkan The Poppy War, novel fantasi militer karya RF. Kuang yang menggunakan mitologi dan sejarah perang untuk membongkar gagasan bahwa kekuatan, kemenangan, dan kepahlawanan selalu selaras.

Ketika Sinegard Menjadi Medan Perang      

Diterbitkan pertama kali pada Mei 2018, The Poppy War merupakan novel debut RF. Kuang sekaligus volume pembuka trilogi yang disusul oleh The Dragon Republic (2020) dan The Burning God (2021). Cerita dimulai dengan Fang Runin (Rin) yang hendak dinikahkan dengan seorang saudagar setempat demi memperbaiki ekonomi keluarga. Karena tidak menyukai nasibnya ditentukan orang lain, Fang Runin berencana melarikan diri dengan mengikuti ujian kekaisaran untuk menjadi calon murid akademi terbaik kekaisaran Nikan. Secara mengejutkan, Rin berhasil mendapatkan peringkat pertama di provinsinya dan diterima di Sinegard, ibu kota dan akademi militer kekaisaran.

Sebagai perempuan miskin berkulit gelap dari wilayah selatan, Rin menjadi sosok yang unik di tengah-tengah para bangsawan, cendekiawan, dan saudagar Sinegard. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menjadi sasaran diskriminasi dan penghinaan karena gender, warna kulit, dan kelas sosial. Di tengah lingkungan yang dipenuhi persaingan dan hierarki sosial, Rin menyadari bahwa kerja keras saja tidak selalu cukup untuk melawan prasangka yang sudah tertanam dalam sebuah sistem sosial, tidak terkecuali struktur pendidikan yang membentuknya. Ia harus bekerja lebih keras daripada para murid yang sejak lahir memiliki pendidikan dan koneksi politik. Dalam proses itu, ia bertemu dengan Altan Trengsin dan Master Jiang yang memiliki keahlian dalam ilmu syamanisme.

Pada bagian awal, The Poppy War tampak seperti kisah pendidikan dan mobilitas sosial. Namun, ketika perang pecah antara Nikan dan Federasi Mugen, Sinegard tidak lagi menjadi jalan keluar dari kemiskinan, melainkan persiapan menghadapi kekerasan nyata. Kemampuan syamanisme yang sebelumnya memberinya harapan perlahan berubah menjadi kekuatan yang menuntut harga moral yang besar. Melalui perubahan itu, Kuang membongkar struktur perjalanan pahlawan yang familier. Kemampuan luar biasa Rin tidak hadir begitu saja sebagai hadiah yang otomatis menjadikannya penyelamat kekaisaran. Hubungan Rin dengan para dewa memberinya kekuatan luar biasa, tetapi juga membuatnya semakin rentan kehilangan kendali atas dirinya. Kekuatan tersebut dapat digunakan untuk menyelamatkan bangsanya, tetapi juga dapat mengaburkan batas antara keberanian dan kebencian, serta keadilan dan balas dendam.

Fantasi yang Berakar pada Trauma Sejarah

Bicara soal latar, berbeda dari banyak karya fantasi epik yang kerap kali mengambil inspirasi dari sejarah dan mitologi Eropa abad pertengahan, The Poppy War membangun dunianya melalui sejarah, kebudayaan, dan konflik politik Asia Timur pada abad ke-19 dan ke-20, terutama sejarah perang Tiongkok modern. Kuang pernah menyatakan dalam sebuah podcast Reading Women bahwa novel tersebut lahir dari ketertarikannya pada sejarah Tiongkok modern serta cerita-cerita masa perang yang ia dengar dari kakek dan neneknya. Sekalipun Kekaisaran Nikan dan Federasi Mugen merupakan negeri fiktif, konflik di antara keduanya memiliki hubungan kuat dengan sejarah Perang Tiongkok-Jepang Kedua. Salah satu bagian paling berat dalam novel ini dibangun dengan merujuk kepada Pembantaian Nanjing pada tahun 1937.

Dalam wawancara dengan Sondheimer di Book Riot (2018), Kuang menyampaikan bahwa kisah fiktif ini bertujuan melawan pengabaian dan penyangkalan terhadap kekerasan sejarah. Melalui narasi pertempuran, pembaca tidak hanya berhadapan dengan tanggal, data, dan jumlah korban, tetapi juga diajak membayangkan pengalaman manusia yang hidup di dalam trauma tersebut. Kekerasan dalam The Poppy War hendak menunjukan bahwa perang merusak bahasa moral yang digunakan manusia untuk membedakan keberanian dari kebencian, keadilan dari pembalasan, serta pengorbanan dari penghancuran. Dalam keadaan ekstrem, manusia dihadapkan pada dilema moral untuk mempertahankan prinsip kemanusiaan atau membenarkan tindakan apa pun atas nama kemenangan, bangsa, keadilan, atau bahkan dendam.

Ketika Pahlawan Kehilangan Kemanusiaannya

Perjalanan Rin menjadi bentuk narasi dari dilema moral. Ia bukan tokoh yang mudah disukai apalagi diidealkan. Kemarahannya lahir dari pengalaman nyata menghadapi kemiskinan, diskriminasi, kehilangan, dan ketidakberdayaan dalam perang. Sekalipun tidak semua keputusan yang diambil Rin dapat diterima, pembaca dapat memahami alasan di balik kemarahan itu. Kuang pernah menjelaskan bahwa melalui sosok Rin, ia hendak merenungkan bagaimana seseorang yang memiliki itikad baik dapat berkembang menjadi sosok yang justru berlawanan. Dengan demikian, kisah Rin lebih dari sekadar cerita tentang bangkitnya seorang pahlawan, melainkan juga tentang kelahiran sosok pemimpin dengan kekuatan ilahi yang berbahaya.

Pada saat yang sama, The Poppy War juga mempertanyakan gagasan bahwa penderitaan dengan sendirinya membuat seseorang belajar tentang kehidupan dan dengan demikian menjadi lebih baik. Trauma dapat melahirkan empati, tetapi juga dapat menumbuhkan keinginan untuk balas dendam. Korban tidak selalu tumbuh menjadi penyelamat. Dalam kondisi tertentu, ia justru meneruskan siklus kekerasan yang pernah menghancurkan hidupnya. Novel ini tidak semata-mata menggunakan masa lalu Rin untuk membenarkan seluruh tindakan dan keputusannya. Kuang menunjukkan bagaimana luka pribadi dapat dimanfaatkan oleh nasionalisme dan kekuasaan militer, hingga keinginan untuk melindungi bangsa sulit dibedakan dari hasrat membalas dendam.

Pada akhirnya, The Poppy War menawarkan sosok pahlawan yang tidak mudah dikagumi. Perjalanan Rin memperlihatkan bahwa keberanian, kekuatan, dan nasionalisme tidak selalu membawa seseorang menuju kebajikan; ketika semuanya bertemu dengan trauma pribadi dan kekuasaan yang nyaris tanpa batas, seorang korban dapat perlahan berubah menjadi pelaku dari kekerasan yang dahulu hendak dilawannya. Di balik akademi militer dan pertempuran besar, novel ini mengajukan pertanyaan yang sangat manusiawi: seberapa mahal harga sebuah kemenangan? Melalui perjalanan Rin, R.F. Kuang memperlihatkan bahwa tragedi terbesar seorang pahlawan bukan selalu kegagalannya mengalahkan musuh, melainkan bagaimana dirinya menjadi pemenang justru setelah berubah menjadi sesuatu yang dahulu ia benci.

Jika Bibliobesties hendak membaca ulasan Perimin lainnya, temukan di sini!