The Psychology of Money: Memaknai Kembali Maksud dari ‘Memiliki’

Bagikan Artikel
The Psychology of Money Periplus Book Club

Periplus bekerja sama dengan Markplus Institute membangun M-Periplus Book Club sebagai wadah untuk menimba insight dari bacaan terlaris terkait Pengembangan Diri dan Bisnis. Sebagai sebuah awal, M-Periplus Book Club mengajak para pembaca untuk merefleksikan buku The Psychology of Money.

Generasi Y atau The Gen-Why Millenials ini hadir di tengah-tengah brand yang menawarkan beragam added value, mulai dari produk makanan cepat saji sampai trustworthy jasa konsultansi. Mereka punya banyak pilihan untuk manifesting impian lewat beragam jalur pendidikan. Meski masih ada generasi Y yang makan bangku sekolah model tradisional, tapi setidaknya angkatan milenial-akhir ini sempat mencicipi sistem pendidikan yang lebih terbuka. Tidak heran, mereka dituntun menjadi generasi yang—boleh dikata, open mind.

Hal tersebut tentunya terasa pada bagaimana cara mereka memandang dan menata kehidupan, khususnya secara finansial. Platform untuk menata uang tidak hanya melulu setor tunai, mengisi blanko, dan musti antri dan berbaris rapi di sela-sela jam kerja. Artinya, cara memperlakukan uang pun berbeda. Tidak melulu, untuk dibelanjakan. Malahan, sudah muncul teori-teori pembagian dalam penggunaan. Sekian persen untuk pendidikan. Sekian untuk belanja habis-habisan. Sebagian untuk jalan-jalan. Bahkan, sekian persen untuk diputar demi mendapat cuan. Perubahan cara pandang terhadap uang pun pada akhirnya mengubah cara berlaku terhadap uang, dan dengan uang.

Soal Kepemilikan

Dari sini, kita mulai bicara soal kepemilikan terhadap sesuatu. Makna ‘Kepemilikan’ selalu terikat dengan faktor uang. Untuk memiliki sesuatu atau mewujudkan ke-BM-an, uang menjadi alat tukar yang paling efektif dan efisien. Sebagai alat tukar pun, Nilai (atau Jumlah) dan Waktu menjadi relatif sejak muncul gagasan Pay Later atau Cicilan 0%. Gagasan ini membuka ruang baru: untuk memiliki sesuatu, tidak harus memiliki uang terlebih dahulu. Jika dulu, orang diajak untuk gemar menabung sebelum memiliki sebuah barang, kali ini konsumen diajak untuk meyakinkan diri sendiri, menguatkan harapan dan kesanggupan untuk mencicil dengan ukuran tenor dan pagu yang (agak kurang) rasional.

Baca Juga :  Menumbuhkan Budaya Membaca Sedari Dini

Dalam salah satu buku terlaris tahun 2021, The Psychology of Money, sang penulis, Morgan Housel mengubah paradigma soal relasi antara manusia dan uang. Uang yang punya beberapa jenis nilai berpotensi untuk selalu menjadi rujukan dan alasan. Dimungkinkannya kartu kredit dan cicilian menjadi alasan untuk membeli barang-barang bakal modal jadian atau tiket pesawat ke pulau impian. Perlunya uang untuk membayar iuran ini dan itu menjadi alasan untuk mengurungkan niat membeli beberapa perabotan. Di sinilah, muncul perintah “Waspada!” Bisa jadi, hidupmu dikendalikan oleh keberadaan uang.

Ajakan Refleksi

Morgan mengangkat banyak kisah yang mencerminkan relasi antara manusia dan uang itu soal kejiwaan. Bahwasanya, ada yang butuh memiliki suatu itu bukan soal barangnya, melainkan soal ‘pengalaman memiliki’–kepemilikan. Bahwasanya, ada yang menginvestasikan sekian persen untuk investasi di pasar saham pun bukan soal banyaknya uang yang akan dimiliki di hari nanti. Namun, soal kepastian masa depan, kestablian, dan kenyamanan.

Di sinilah, ada pergeseran pandangan yang ditulis dalam The Psychology of Money. Saat kita bisa melihat sisi psikologis dari relasi antara kita dan uang, kita cenderung lebih mampu mengendalikan uang, alih-alih dikendalikan uang. Sebab, hanya kita yang paling paham apa yang kita butuhkan. Hanya kita yang paham apa yang paling membuat kita nyaman, baik kini, nanti, dan sampai seterusnya. Di sinilah, kita baru bisa berbincang tentang literasi finansial.

Pengisi Acara Buku M-Periplus Book Club

Anggita Veronica Marthin

Anggita Veronica Marthin atau yang lebih dikenal, Anggie Marthin, adalah seorang bookstagram yang menekuni beragam naskah genre, termasuk di dalamnya novel-novel terlaris yang lahir dari tangan penulis besar, seperti Joan Didion, Marie Lu, Jennifer Niven, Hanya Yanagihara, dll. Tidak luput juga bacaan-bacaan nonfiksi pengembangan diri yang terkait dengan pemberdayaan perempuan dalam dunia pendidikan dan karir, seperti Mishal Husain, Mary Ann Sieghart, Isabel Wilkerson, Natasha Lunn. Saat ini, alumna Hubungan Internasional, Fisipol Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini bekerja di Bank Rakyat Indonesia. Di bagiannya saat ini, BRILiaN Scholarsip Awardee Management Trainee, Anggie Marthin bertanggung jawab untuk membuat konten-konten edukatif, tentunya untuk pengembangan diri.

Baca Juga :  Macmillan Webinar: Eureka!

Hestia Istiviani

Hestia Istiviani yang lebih dikenal melalui akun media sosialnya: Hzboy1906 ini adalah seorang bookstagram dan inisiator ekosistem Baca Bareng. Bersama rekannya dalam Bookish Couple dan PodLuck Podcast, Hestia aktif membuat konten-konten edukasi dan rekomendasi terkait dunia buku dan pengembangan diri yang ditawarkan oleh buku-buku yang dibacanya. Dalam dunia karir, Hesti bertanggung jawab sebagai Marketing Program Officer di Harian Kompas. Ketertarikannya dalam dunia buku terbilang begitu luas. Hesti membaca tuntas karya-karya Michio Kaku sampai Seishi Yokomizo. Melalui akun Goodreads, Hesti juga begitu terbuka untuk membagikan rekomendasi-rekomendasi buku.

***

Lewat buku Psychology of Money, para pencerita diharapkan untuk berbagi pengalaman membaca dan merefleksikan insight yang ditawarkan oleh Morgan Housel dalam 3 hal:

  1. Relasi antara manusia dan uang dalam konteks ‘hasrat’ dan ‘konsumsi’
  2. Memaknai kembali arti kepemilikan atas barang yang didasarkan pada kepemilikan (atau malah ketidak-memilki-an uang)
  3. Merencanakan masa depan lewat keputusan-keputusan kecil harian lewat menata relasi antara diri dan uang