Rekomendasyik Novel Berlatar Perang

Rekomendasyik Novel Berlatar Perang

Perang selalu menyisakan kisah. Sayangnya, peradaban banyak berutang pada perang. Teknologi mendapatkan dorongan percepatannya dari perang. Mau atau tidak, bangsa manusia harus mengaku bahwa perang adalah tungku dan tanur pembakaran yang menggerakkan peradaban mereka.

Perang juga menyisakan kepahlawanan. Akan tetapi, adalah lapisan lain di balik kepahlawanan itu: korban. Dalam peperangan, akan selalu ada anak yang kehilangan ayahnya. Ada ibu yang kehilangan anaknya. Ada suami yang kehilangan istri dan anaknya. Joseph Heller, dalam Catch-22 (1961), bahkan secara lugas mengatakan: “It doesn’t make a damned bit of difference who wins the war to someone who’s dead”—Sudah tak ada lagi bedanya siapa yang memenangkan perang bagi seseorang yang telah mati.

Sastra, atau lebih luasnya kesusastraan, adalah jalan anak-anak manusia bercermin tentang dirinya. Seorang guru di sekolah menengah dulu pernah menyebut dua dimensi yang melekat dalam kesusastraan: dulce et utile, manis dan berguna. Kesusastraan memberikan “kemanisan” dalam bentuk pembahasaan bagi pengalaman dan pemikiran si penulis. Kesusastraan juga bernilai “guna,” karena bisa dijadikan sarana untuk merefleksikan apa yang telah terjadi untuk membangun masa depan yang lebih baik. Lalu, apakah sastra berlatar perang memiliki dua dimensi yang disebut di awal?

Nah, demi menjawab pertanyaan yang sangat krusial ini, Perimin mencoba memilah dan memilih tujuh novel berlatar perang. Di dalam daftar pendek ini, Perimin berharap para Bibliobesties semua dapat mengambil manfaat. Tentu saja, kita tidak menghendaki perang. Sebab, kedamaian adalah salah satu perkara yang patut untuk selalu dipertahankan. Selain, cinta dan sayang bagi orang-orang terkasih, tentu saja.

Catch-22

Novel karya Joseph Heller ini berkisah tentang kehidupan Kapten John Yossarian, seorang berdarah Asiria dan bagian dari pasukan pegebom Amerika Serikat ketika berkecamuk Perang Dunia II. Ia ditempatkan di sebuah pulau di wilayah Mediterania. Novel yang dikerjakan selama delapan tahun dan terbit pada 1961 bukanlah novel yang “bagus” dalam arti konvensional. Yossarian, pahlawan dalam novel ini, percaya bahwa perang yang terjadi adalah upaya serangan pribadi terhadap dirinya. Ia sengaja dikirim ke medan perang agar segera menemui ajalnya sendiri. Novel yang sepenuhnya satir dan original ini menghadirkan secara simultan kengerian, kegetiran, sekaligus kejenakaan. Pembaca akan dibuat marah dan jengkel, sekaligus menyelipkan simpati pada perjalanan hidup Yossarian.

Empire of the Sun

Dalam novel ini, kita akan dibawa ke kehidupan James “Jim” Graham, seorang bocah lelaki menjelang remaja yang terdampar di Shanghai setelah serangan Jepang terhadap Pearl Harbour. James yang awalnya hidup nyaman sebagai bocah sebelas tahun biasa dari kalangan aristokrat Inggris harus menjadi tahanan perang dan menghabiskan hari-harinya di kamp tahanan. Kisah yang merupakan semibiografis J.G. Ballard ini ditulis dengan gaya reportase yang tajam dan mendetail. Selain itu, Ballard menetapkan arah moral yang jelas dalam Empire of the Sun. Dalam peperangan, tidak ada lagi pahlawan. Kepahlawanan justru sirna dalam kondisi perang, karena perjuangan untuk bertahan tetap hidup hanyalah kewajaran belaka. Maka, pantaslah pula Steven Spielberg mengangkat karya ini ke dalam layar perak pada 1987 dengan dibintangi oleh John Malkovich dan Christian Bale.

Baca Juga :  10 Buku Paling Dicari September 2021 (Part 2)

War and Peace

Sesuai dengan judulnya, karya salah satu sastrawan besar Rusia, Leo Tolstoy, ini berlatar situasi perang. Rusia sedang menghadapi invasi pasukan Napoleon Bonaparte dari Prancis. Ini semua terjadi pada 1812. Tolstoy menyajikan tiga tokoh yang nantinya menjadi sangat mashyur dalam konstelasi sastra dunia. Mereka adalah Pierre Bezukhov, seorang anak dari hubungan tidak sah seorang bangsawan. Pierre memperjuangkan warisan yang akan diterimanya sembari mendambakan kepenuhan spiritual. Lalu, ada Pangeran Andrei Bolkonsky yang turut melawan invasi Napoleon, sehingga harus meninggalkan keluarganya. Terakhir, adalah seorang putri bangsawan muda belia dengan kecantikan yang menawan, Natasha Rostov. Natasha berhasil memikat dua tokoh yang disebut sebelumnya. Seiring perkembangan kisah, Tolstoy menjadikan tiga tokoh yang ditawarkan kepada kita bergelut bersama tokoh-tokoh lain dari berbagai latar belakang, dari petani dan bangsawan hingga warga biasa dan para tantara, menghadapi perkembangan zaman dan sejarah.

The Iliad

Karya klasik dari abad ke-9 SM yang diciptakan oleh Homerus ini jelas harus masuk dalam rekomendasi kali ini. Dalam larik-larik puisi yang dirangkum dalam The Iliad, kita akan menemukan betapa hidup dan bergairahnya pertentangan antara para dewa dan manusia. Kisah yang diceritakan dalam The Iliad adalah kisah tentang masa-masa terakhir Perang Troya yang berlangsung selama sepuluh tahun antara orang Akhaea (Yunani) melawan orang Troya. Di dalam karya klasik ini, kita akan menemukan betapa angkuh, egois, dan liciknya manusia dan para dewa. Edisi terjemahan ahli sastra klasik, Robert Fagles, ini akan menghadirkan teks terjemahan yang sedekat mungkin dengan teks aslinya. Pada akhirnya, ini adalah buku tentang kekerasan yang suram berdampingan dengan hidup beradab dan harapan mulia akan perdamaian.

Billy Lynn’s Long Halftime Walk

Novel pertama Ben Fountain ini berfokus pada kisah hidup Billy Lynn, anggota Kompi Bravo yang terlibat dalam invasi militer Amerika Serikat di Irak. Apa pun yang dilakukan Kompi Bravo di Irak diliput difilmkan oleh jurnalis. Setelah misi selesai, mereka dipulangkan ke Amerika. Secara harafiah, benar-benar dipulangkan. Mereka adalah sekumpulan pahlawan untuk semalam, para pemuda itu. Mereka dirayakan, lengkap dengan kembang api, pertandingan football, sorak-sorai penonton, dan gadis-gadis pemandu sorak yang menawan. Bagi Billy, hal itu agak aneh. Sebab, mereka telah kehilangan beberapa anggota kompi lainnya, yang gugur dalam misi. Sungguh, dirayakan dan begitu dihormati untuk hari terburuk dalam hidup kita memang sungguh terasa aneh.

Baca Juga :  Rekomendasi Buku Business Management Bootopia

All Quiet on the Western Front

Adalah benar bahwa sebuah karya besar akan tetap relevan dan tak lekang oleh waktu. All Quiet on the Western Front adalah sebuah permisalan. Karya yang ditulis sebelum Perang Dunia II tentang kisah hidup Paul Bäumer dan beberapa kawan sekolahnya ini bicara soal betapa perang memberikan efek yang menghancurkan. Paul dan kawan-kawan, berkat usia dan darah muda yang bergejolak, hanya sempat membayangkan optimisme dan kegagahan saat mereka dengan sukarela mengajukan diri untuk maju berperang. Namun, senyatanya perang adalah monster yang menerkam mereka hidup-hidup—separuh pasukan mereka tewas! Karya Remarque ini telah menjadi promosi antiperang yang sangat efektif, sehingga Joseph Göbbels, Menteri Propaganda rezim Nazi memasuki Perang Dunia II pun melarang anak-anak muda Jerman membaca—juga menonton film yang dibuat berdasarkan—karya ini.

As Long As the Lemon Trees Grow

Novel debut karya Zoulfa Katouh ini secara sah “mengandung bawang.” Di dalam novel ini, kita akan bertemu dengan seorang pemudi yang bekerja seorang apoteker sekaligus perawat di sebuah rumah sakit dengan para pasien korban perang saudara yang terjadi di Suriah. Salama, begitu dia dipanggil, yang memiliki trauma sejak melihat ibunya tewas di pangkuannya akibat serangan bom pun sampai memiliki teman imajiner yang setiap saat selalu menyudutkannya, Khawft. Salama bimbang di antara 2 persimpangan: meninggalkan Suriah demi memastikan keselamatan kakak ipar dan bayi yang sedang dikandungnya dan merawat pasien korban tembak militer. Mampukah Salama mendengarkan suara hatinya atau justru sebaliknya, dengan dalih kemanusiaan justru menciderai nilai-nilai luhur?

***

Nah, demikianlah rekomendasi tujuh rekomendasi novel berlatar perang dari Perimin. Semoga bisa membantu BiblioBestie menjadi penuh sebagai manusia. Salam!