Atita, Wartamana, Anagata: Ubud Writers & Readers Festival 2023

Atita, Wartamana, Anagata: Ubud Writers & Readers Festival 2023
Gambar ini diambil dari akun instagram @ubudwritersfest

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) merupakan sebuah festival sastra di wilayah Asia Tenggara. Dari tahun ke tahun, festival sastra yang lahir pada 2004 ini selalu dinantikan perhelatannya sebab selalu berhasil menggundang decak kagum para peserta yang setia mendengarkan, juga narasumber yang hadir untuk berbagi cerita. Tahun ini, Yayasan Mudra Swari Saraswat mengumumkan akan mengadakan kembali UWRF untuk memperingati perayaan 20 tahun berlangsungnya festival. Festival ini akan berlangsung dari tanggal 18-22 Oktober 2023 dengan tema Atita, Wartamana, Anagata: Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan.

Konsep kearifan lokal Bali Tri Semaya mengenai waktu menjadi ilhami perumusan tema besar UWRF 2023 ini. Masyarakat Bali meyakini konsep waktu dalam Bali Tri Semaya sebagai suatu hal yang bersifat non-linear, sirkular dan kolektif. Tema ini mengandung gagasan tentang Atita, Wartamana, Anagata (Masa Lalu, Masa Kini, Masa Depan) sebagai tiga hal yang bukan hanya tidak terpisahkan antar satu sama lain, namun juga berlangsung secara bersamaan. Konsep ini membangkitkan representasi metafisik sebuah ‘makhluk’ yang cakupannya jauh melampaui daur hidup seorang manusia individual. Sebuah konsep yang awalnya menekankan pentingnya keseimbangan dan keselarasan, kemudian merajut sebuah benang rapuh yang mengikatkan takdir umat manusia melintasi batasan waktu dan ruang. Pandangan ini membantu kita untuk melampaui individualisme dan mulai berpikir tentang cara untuk bersama-sama merawat satu sama lain sebagai umat manusia, dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Mengenal Ubud Writers & Readers Festival

Ubud Writers & Readers Festival yang lahir pada tahun 2004 ini merupakan tanggapan atas peristiwa bom Bali pertama. Berdirinya festival ini didasari oleh pepatah “pena lebih tajam daripada pedang.” Sejak berdirinya UWRF, festival ini juga telah melewati berbagai gejolak. Pada 2020, sebagai bentuk respon atas Covid-19, UWRF menyelenggarakan acara daring bertajuk Kembali 2020: A Rebuild Bali Festival. Kemudian pada 2021, UWRF kembali unjuk gigi melalui acara luring di Ubud, yang digabungkan dengan sesi daring. Melalui lensa kesusastraan, kesenian, aktivisme dan wacana intelektual, UWRF mencatat bagaimana pandemi berdampak terhadap kehidupan manusia.

Program emerging writers (penulis awal karir) UWRF yang diluncurkan pada 2008 adalah salah satu sumbangan paling penting terhadap perkembangan sastra lokal. Banyak alumni program emerging writers festival telah membangun karir yang sukses di dunia sastra setelah tampil di UWRF. Beberapa di antara mereka telah mendapat pengakuan mancanegara setelah karya-karyanya diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan bahasa-bahasa asing lainnya. Salah satunya adalah Norman Erikson Pasaribu dengan kumpulan puisinya Sergius Mencari Bacchus dan kumpulan cerita pendeknya Cerita-Cerita Bahagia. Diterjemahkan oleh Tiffany Tsao, kedua karya tersebut telah mendapat pujian dari kalangan pembaca berbahasa Inggris.

Baca Juga :  Marketing 6.0: Babak Baru dalam Dunia Pemasaran

Program emerging writers ini telah membuktikan komitmen UWRF untuk memberikan peluang bagi para penulis muda Indonesia. Setiap tahunnya, sebuah dewan kuratorial independen memilih setidaknya 12 karya sastra, berupa esai, cerita pendek, nukilan novel, puisi dan naskah drama dari berbagai penjuru nusantara. Tulisan-tulisan ini kemudian diterbitkan dalam antologi tahunan UWRF dan diterjemahkan ke bahasa Inggris. Para penulis terpilih menerima undangan ke Ubud untuk tampil dalam program UWRF.

Program utama internasional UWRF 2023

Program utama internasional UWRF 2023 ini kali benar-benar mengundang rasa penasaran para pendaftar, terlebih dengan hadirnya penulis kawakan dan lejen skala internasional. Di bawah ini, BiblioBesties bisa melihat 3 program utama tersebut.

1. Perjalanan menulis Bernardine Evaristo

Bernardine Evaristo adalah penulis produktif dan perempuan kulit hitam pertama yang memenangi Booker Prize dengan novelnya Girl, Woman, Other. Bersama dengan Jenny Niven, Evaristo akan membagikan sudut pandangnya yang unik terkait sastra dan pengalaman menulisnya. Pendiskusian ini akan berfokus pada buku terbarunya, campuran memoir dan manual, yang mencatat kehidupannya hingga saat ini.

2. Vandana Shiva dalam 50 tahun perjuangan keadilan lingkungan

Pegiat lingkungan tangguh dari India, Vandana Shiva, akan membahas perjalanannya memperjuangkan keadilan lingkungan di India selama lima dasawarsa. Sosok yang sangat dihormati ini telah bekerja tak kenal lelah demi melindungi perhutanan, menutup lahan tambang yang mencemari lingkungan, menyibak bahaya pestisida, memicu kampanye global mendukung pertanian organik, menggalakkan ekofeminisme, dan melawan perusahaan-perusahaan kimia yang berkuasa. Bayangkan, ia memulai kampanyenya seorang diri, berjalan dari desa ke desa untuk menyelamatkan benih-benih warisan leluhur. Hingga saat ini, apa yang dilakukan oleh Shiva ini telah berkembang menjadi sebuah gerakan di berbagai belahan dunia!

3. Geraldine Brooks dengan novel terbarunya Horse

Geraldine Brooks adalah seorang novelis pemenang Pulitzer Prize 2006. Bersama dengan Leigh Sales, Brooks  akan membahas novel terbarunya Horse, sebuah novel fiksi sejarah berlapis-lapis berlatar Perang Sipil Amerika. Novel ini ditulis berdasarkan pada kisah nyata seekor kuda pacuan bernama Lexington, salah satu kuda ras murni paling terkenal dalam sejarah Amerika. Diceritakan melalui sudut pandang dunia pacuan kuda, novel ini menggabungkan masalah etnis, seni, percintaan, keserakahan, pengkhianatan dan ambisi, menjadi kisah yang megah.

Baca Juga :  BACK TO SCHOOL: Webinar Series for Teachers from Macmillan #2

Program utama Indonesia UWRF 2023

Ada 3 program utama Indonesia yang dirancang dalam Ubud Writers & Readers Festival 2023, yang mencakup:

1. Hilmar Farid dalam memelihara warisan budaya Indonesia

Membaktikan dirinya pada perlindungan warisan kebudayaan Indonesia, Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Indonesia, secara giat membina dan mendukung kegiatan-kegiatan kebudayaan di seantero nusantara. Sebagai seorang penulis, cendekiawan, dan pegiat kebudayaan, dirjen yang akrab dipanggil ‘Fay’ ini memainkan peranan penting dalam pengembalian artifak-artifak lokal yang dipegang Belanda. Dalam UWRF 2023 ini, Hilmar Farid akan membagikan wawasan dan kebijaksanaan yang digunakannya untuk memamerkan tradisi-tradisi bangsa yang khas, sekaligus pemikiran-pemikirannya tentang kebudayaan.

2. Apa kabar Indonesia? Menimba wawasan bersama Sujiwo Tejo

Sosok budayawan ternama ini akan membagikan sudut pandangnya terkait Indonesia, demokrasi, dan lintasannya di masa depan. Dengan pandangan seninya yang lihai dan pemahaman mendalam soal kerumitan negeri ini, Sujiwo Tejo akan memberi pencerahan mengenai tantangan dan peluang Indonesia di masa depan.

3. Transformasi melalui sastra bersama Putu Wijaya

Kehidupan Putu Wijaya merupakan bukti atas kekuatan transformasi sastra. Berasal dari Tabanan, Bali, ia dianggap salah satu tokoh sastra Indonesia terdepan yang telah menciptakan berbagai novel, naskah, cerita pendek, esai, dan drama. Pengaruhnya tidak terbatas pada kepengarangannya yang produktif, ia juga telah mengasuh dan membimbing para calon penulis dan penampil. Di samping itu, Putu Wijaya adalah sosok penerima UWRF Lifetime Achievement Award 2023.

Yayasan Mudra Swari Saraswati

Ubud Writers & Readers Festival menjadi bukti komitmen dari awak Yayasan Mudra Swari Saraswati dalam keinginan mulia mereka memperkaya kehidupan sekaligus penghidupan masyarakat Indonesia. Jalan yang ditempuh adalah jalan berkebudayaan melalui kegiatan seni, termasuk di dalamnya literasi. Yayasan ini berdiri sejak tahun 2004 sebagai yayasan swasata yang independan dan nirlaba.

Tujuan utama Yayasan Mudra Swari Saraswati adalah melahirkan wadah dan sarana bagi masyarakat Indonesia untuk mengekspresikan kreatifitas, baik untuk individu maupun komunitas. Selain itu, seraya menjadi panggung dalam mempertunjukan keragaman tradisi dan budaya nusantara kepada dunia. Yayasan Mudra Swari Saraswati berharap dapat mewujudkan hal tersebut melalui program Ubud Writers & Readers Festival, Ubud Food Festival, dan Ubud Artisan Market. Melalui ketiga festival tersebut, Yayasan Mudra Swari Saraswati mempromosikan Ubud sebagai pusat seni dan budaya pulau Bali, serta mengenalkan seniman, penulis, dan produsen Indonesia ke panggung internasional.

Baca juga: Fakta Menarik Nominasi International Booker Prize!