Perempuan Penulis Asia “Bicara” Lewat Karya

0
Share
Perempuan Penulis Asia

Perempuan, Asia, dan penulis tiga kata yang dalam arti tertentu mengandung nuansa minor. Sepanjang sejarah manusia, oleh pemikir eksistensialisme Prancis, Simone de Beauvoir, “perempuan” diperlakukan sebagai “jenis kelamin kedua.” Artinya, perempuan diperlakukan sebagai yang lain dalam pandangan umum masyarakat. Sebagai yang lain, maka mereka secara otomatis menjadi subordinat bagi laki-laki.

“Asia” barangkali diasosiasikan dengan mata sipit, makan mie tiap hari, atau pintar di bidang matematika. Belum lagi, kenyataan bahwa negara-negara Asia masih kalah maju dari negara-negara Eropa Barat atau Amerika Utara. Sementara itu, “penulis” juga bukan profesi yang menggiurkan.

Bahkan, Oom Putut EA yang adalah juga penulis yang tulisannya ciamik pernah berpesan untuk jangan pernah bercita-cita menjadi seorang penulis. Berat, katanya, belum tentu kalian sanggup. Sebab, ekosistem kepenulisan di negeri ini sungguh tidak memihak penulis. Bayangkan saja jika kalian para lelaki muda datang ke rumah perempuan yang kalian incar dan bertemu dengan orang tua mereka. Tiket kencan mungkin tidak mudah kalian dapatkan.

Penulis dan karyanya bisa dibilang seperti bayi kembar siam. Atau, dalam semesta Wizarding World, karya seorang penulis adalah sebentuk horcrux. Tentu, dalam arti bahwa di dalam karya seorang penulis, ada sebagian jiwa mereka di sana. Selain jiwa, serpihan yang lebih “receh” seperti pengalaman hidup tentu akan tercermin dalam karya penulis.

Jenny Han - Perempuan Penulis Asia

Perempuan penulis berdarah Asia pun membawa kekhasan pengalaman mereka sebagai keturunan Asia. Jenny Han, misalnya, dalam sebuah wawancara dengan Harper’s Bazaar, berkisah sedikit tentang karya dan kaitan latar belakang dirinya. To All the Boys I’ve Loved Before adalah novel kisah cinta remaja putri pemalu berdarah Asia, Lara Jean. Jenny sendiri lahir dari orang tua berdarah Korea-Amerika dan lahir di Richmond, sebuah kota kecil di wilayah negara bagian Virginia, AS.

Lewat kisah cinta remaja ini, Jenny ingin berbicara tentang rasa canggung, kesepian, dan perasaan terasing yang tinggal di sebuah kota kecil yang sepi. Suasana yang seperti itu makin kuat dengan kenyataan tidak hadirnya sosok ibu dalam kehidupan Lara. Apalagi, keluarga Lara adalah satu-satunya keluarga berdarah Asia di kota itu.

Di mata Jenny, To All the Boys I’ve Loved Before ingin mengupas seluk-beluk kehidupan (remaja) Asia. Dan, hal ini bermuara pada perjuangan untuk menerima identitas mereka. Jenny pun mengakui bahwa pada awalnya ia tidak benar-benar ingin bercerita tentang kisah Lara. Jenny memandang bahwa 15 tahun lalu rasanya tidak ada pembaca yang benar-benar tertarik pada buku yang berbicara tentang kehidupan orang Asia atau keturunan Asia di Amerika.

Farah A. Ibrahim, mantan pengajar psikologi dari University of Colorado Denver, pernah menulis sebuah makalah untuk Women’s Studies Quarterly tentang para perempuan berdarah Asia-Amerika. Di sana, ia menyatakan bahwa para perempuan berdarah Asia-Amerika cenderung dipandang sekadar sebagai bagian dari sebuah komunitas Asia yang asing, bukan bagian dari komunitas yang “umum”. Artinya, mereka dipahami bukan sebagai seorang individu. (Ibrahim, 1992: 49)

Pages: 1 2