Closer to Love

0
Share

Closer to Love, buku terbaru dari penulis dan pemengaruh, Vex King, akan secara spesifik dan mendalam bicara soal cinta. Cinta, apa pun bentuk, rasa, dan baunya, merupakan entitas yang ruwet. Bagaimana tidak ruwet? Cinta adalah bahan obrolan yang meresap sampai ke sudut-sudut cafe hingga warung angkringan. Tidak peduli tua-muda, kaya-kere, atau ganteng-mblenyek, semua berhak bicara cinta. Bicara cinta adalah hak setiap insan dan ini termaktub di dalam lubuk sanubari kita semua. Masalahnya, apakah cinta hanya sekadar persoalan bicara saja? Cukup bilang “aku cinta kamu” dan semua masalah selesai, begitu? Atau, ada hal lain dari cinta yang tidak cukup kita ungkapkan lewat bicara dan kita jadikan bahan pembicaraan?

Vex King, pemengaruh dan pribadi besar dalam media sosial yang berkampanye soal mencintai diri sendiri dan menebar pengaruh positif. Ia menulis banyak hal dan mendalam soal cinta dalam Closer to Love (2023). Di mata King, cinta yang sesungguhnya akan ditemukan dalam sebuah perjalanan. Perjalanan apa? Tidak lain dan tidak bukan, perjalanan “mengobati” diri sendiri.

Pengertian “mengobati” diri sendiri tentu saja akan membuat kita bertanya-tanya, “Apakah diriku sesakit itu, maka harus diobati?” Sabar dulu, kawan. Tidak usah menaruh curiga, apalagi rindu dendam. Proses “mengobati” diri sendiri yang dibicarakan King didasarkan pada pengalaman pribadinya. Kisah patah hati King sudah dituliskan dalam pengantar buku keduanya, Healing is the New High (2021).

Dari pengalaman pribadinya, King merasakan bahwa untuk mencintai, kita perlu mempersiapkan diri. Persiapan itu diawali dengan merestorasi hati, berdamai dengan masa lalu, dan pada akhirnya menarik perhatian dia yang kehadirannya akan membuat diri kita bahagia dalam hidup. (hlm. 4) Inilah intensi King ketika menulis Closer to Love. Buku ini hendak mengajak kita masuk dalam sebuah perjalanan mawas diri seraya mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru dalam proses menyembuhkan diri, mencintai, dan menjalin hubungan.

Buku ini adalah satu di antara ribuan buku lain soal cinta dan hubungan percintaan. Jika kita merasa perlu begitu banyak nasihat dan arahan, jelas bahwa hubungan dengan orang yang kita cintai bukan perkara sepele atau akan bertahan lestari tanpa usaha yang signifikan.

Vex KIng, Closer to Love

Mitos soal cinta sejati

Bicara soal cinta, ada satu hal yang selalu segar, yakni soal cinta sejati. Menemukan cinta sejati menjadi model ideal dalam urusan cinta-cintaan. Segala kisah cinta melekat dalam ingatan sebagian besar adalah soal menemukan cinta sejati. Kita bisa menyebut beberapa pasangan, Romeo-Juliet, Sam Pek-Eng Tay, hingga Jack-Rose dalam Titanic—maafkan referensi saya yang kurang bisa dibanggakan.  Namun, perkara cinta sejati adalah sebentuk idealisme. Jika benar cinta sejati ada, akankah Fajar “Sadboy” menjadi seterkenal sekarang ini?

Kalau kata Vex King, kita sudah membangun gambaran ideal tentang cinta sejati. Seolah-olah, rumus percinta-cintaan adalah: temukanlah cinta sejati, maka seluruh permasalahan cinta bakal sirna. Namun, tentu saja kenyataannya berkata sebaliknya. Perceraian masih saja terjadi, orang pacaran masih saja banyak yang bubar, atau masih ada kekasih yang tali jodohnya nyangkut entah di mana.

Mungkin saja, ini persoalan terbesar yang kita punya saat memiliki hubungan cinta-cintaan. Kita sudah telanjur terlalu banyak menumpuk asa pada seseorang yang katanya kita cintai. Kepada pasangan, kita menumpuk harapan bahwa merekalah pertama-tama yang nantinya akan membereskan kekhawatiran sekaligus membuat impian kita sendiri jadi kenyataan. Padahal, jika kita mau jujur dan melihat ke dalam diri yang lebih dalam, kita memerlukan fondasi yang kuat dalam hubungan dengan diri kita sendiri dulu. Setelahnya, barulah kita bisa mengandaikan untuk mencintai orang lain dengan lebih tulus.

Mengapa ketulusan menjadi utama dalam menjalin hubungan alih-alih “iman” kita pada konsep cinta sejati? King menunjukkan bahwa sesungguhnya ciri cinta sejati adalah kebebasan, membuat kita merdeka secara emosional. Merasakan cinta yang sejati bukanlah membuat emosi-emosi kita tergantung pada orang yang kita cintai. Kita tidak perlu berpura-pura senang demi menyenangkan perasaan orang yang kita cintai. Kata King, cinta yang sejati adalah “sebuah peluang untuk dicintai tepat seperti adanya dirimu dan mencintai orang lain sebagaimana adanya mereka.” (h. 29)

Dekatilah dirimu sendiri dahulu

Mencintai seseorang, bagi beberapa kekasih, justru membuat ia kehilangan dirinya sendiri. Identitas pribadi seolah-olah lenyap ditelan hubungan cinta-kasih. Proses ini umumnya berlangsung pelan-pelan dan dalam waktu yang panjang. Kita bisa merasakan bebas melakukan hal-hal yang kita senangi. Akan tetapi, tak lama kemudian, kita bisa merasa sangat bersalah saat akan berkumpul bersama kawan-kawan dekat tanpa mengajak pasangan kita. Jika hal ini terjadi secara berkelanjutan dalam masa yang panjang, bisa muncul pertanyaan dalam diri sendiri: pasangan macam apa aku ini, yang tega meninggalkan pasanganku demi bersenang-senang dengan kawan dekat kita? Lalu setelahnya bisa muncul perasaan dibatasi, dikekang, bahkan rasa marah yang diiringi dendam.

Bagi King, hubungan cinta kasih tidak lain adalah sebuah perjalanan. Dalam perjalanan untuk saling mencintai dan dicintai, tidak ada istilah benar salah. Perjalanan ini bukanlah sebuah persamaan matematis yang bekerja berdasarkan rumus-rumus yang baku dan saklek. Sebagai sebuah perjalanan yang harus ditapaki bersama, sepasang kekasih hanya perlu “menghidupinya, mempelajarinya, dan bertumbuh—bersama.” (h. 30) Hanya ketika kita memiliki kesadaran terhadap diri sendiri, kita bisa menjadi pasangan yang lebih stabil dalam perjalanan mencintai-dicintai.

Hubungan cinta-mencinta selalu terentang antara kita dan orang lain. Namun demikian, dalam pandangan King, kebersamaan yang toksik sering terjadi dalam hubungan percintaan. Hal ini tidak lain dikarenakan karena dua hal. Pertama, karena diri kita belum sempat menetapkan batasan-batasan yang sehat bagi kapasitas diri kita sendiri. Kedua, kita hanya mengikuti pola hubungan yang sudah biasa kita tahu.

Betul, bahwa menjalin hubungan cinta kasih itu ternyata rumit. Mungkin saja, Anda baru menyadarinya sekarang ini. Tapi, tidak masalah, karena King memberikan rambu-rambu untuk membangun hubungan cinta kasih yang lebih sehat dan saling mengembangkan. Pada titik ini, menurut King, menguasai “peta batin” (inner map) dalam diri adalah krusial ketika kita hendak menjalani hubungan yang sehat dan menyenangkan di masa depan. (h. 31)

Hubungan cinta kasih perlu kerja keras

Hubungan cinta kasih yang terajut adalah buah dari kerja keras. Kadang kala, kita sering terjebak dalam gagasan bahwa hubungan percintaan yang manis bisa bergulir begitu saja. Masalahnya, kehidupan nyata kita kadang kala situasinya berkebalikan dengan kisah romansa yang berlumuran “gula-gula.” Tidak semua kisah cinta adalah tentang menanti pangeran tampan yang membuat hidup kita bahagia sampai akhir nanti.

Mencintai dan dicintai adalah soal pergulatan setiap hari, bahkan setiap jam, menit, dan detik. Mencintai adalah bentuk kata kerja, maka mencintai bukan hanya soal berkata-kata manis di depan pasangan. Mencintai adalah kerja, bahkan kerja yang cukup keras. Kalau kata King, “hubungan dengan orang yang kita cintai bukan perkara sepele atau akan bertahan lestari tanpa usaha yang signifikan.” (h. 262) Lebih jauh lagi, di mata King, momentum menjalin cinta antara dua insan adalah saat untuk bersyukur. Bagaimana tidak? Sepasang anak manusia yang jatuh cinta tidak lain merupakan “dua orang yang hadir bersama untuk menciptakan sesuatu yang indah.” (h. 263)

Jika kita berpikir bahwa dengan membuat pasangan kita merasa bahagia adalah cara mencintai paling sempurna, bisa jadi kita keliru. Sikap ini justru bisa jadi membuat kita menyamakan tindakan mencintai semata-mata sebagai kebiasaan. Kedalaman perasaan yang hadir dalam percintaan justru terabaikan. Misalnya, dalam pernikahan seorang istri terbiasa membuatkan teh manis untuk suaminya. Jika tidak hati-hati, membuatkan teh manis hanya akan jatuh pada rutinitas. Membuat teh yang sebetulnya juga bentuk ungkapan cinta hanya menjadi setara dengan pekerjaan rumah lainnya, seperti menyapu lantai, mencuci perabotan dapur, dan sebagainya.

 ***

Perkara percintaan memang tidak sesederhana bermain gim video seperti Sim City atau Harvest Moon. Closer to Love mencoba mengupas seluk-beluk hubungan percintaan. Titik pijak yang ditawarkan oleh King sangatlah jelas. Bagi King, hubungan cinta kasih yang terjalin antara dua insan yang sedang mabuk cinta haruslah didasarkan pada kesadaran diri yang rasional. Titik mula dari perjalanan cinta yang mendalam dan mengembangkan adalah diri sendiri. Seorang kekasih akan mampu memberikan dirinya bagi orang yang dikasihi ketika dia berani masuk ke dalam dirinya sendiri. Perjalanan menemukan diri adalah awal dari perjalanan cinta kasih yang subur dan berbuah baik.

Buku yang ditulis dengan renyah dan banyak menceritakan pengalaman pribadi Vex King dan belahan jiwanya, Kaushal, ini layak dibaca bagi mereka yang mencari keseimbangan dalam perjalanan mencinta. Perpaduan pendekatan psikologis dan spiritual membuat bobot buku ini semakin terpercaya. Meskipun demikian, hal-hal praktis yang dibagikan King melalui pengalamannya layak pula diterapkan. Ibarat hidangan, Closer to Love adalah set hidangan lengkap yang kaya nutrisi, namun tetap memanjakan lidah dan menggugah selera. Voila!